
Telolet.. telolet..
Suara samar alat media pertanda khusus dari seseorang itu, seketika menyenggal perbincangan tegang ini.
Tara selalu menanti suara itu terdengar olehnya, tanpa menghiraukan tawa sahabatnya, ia segera melangkahkan kaki untuk mengambil benda yang masih terletak di atas nakas. Lebih tepatnya terdapat di ruang tidurnya.
Setelah mendapatkannya, ia pun menjawab panggilan itu seraya kakinya kembali melangkah untuk menghampiri Fiona.
Paras yang telah dirindukan olehnya selama dua puluh sembilan jam itu tersenyum di balik layar alat medianya. Ia pun segera menyambutnya dengan keceriaan yang tergambar jelas dari lengkungan bibir itu.
Wajah itu selalu menjadi penenang batin yang haus akan kasih sayang, meskipun ada wajah lain yang nampak serupa dengannya. Namun tiada seorangpun mampu menggantikan dirinya menjadi belahan jiwa jauh dari lubuk hati yang terdalam.
******
“Di mana lo?” Sammuel langsung menghujam sang istri dengan pertanyaannya setelah beberapa saat lalu menilik dari rekaman CCTV keadaan rumahnya yang tiada wanita itu berada di sana.
“Kamu udah pulang gitu sam?” tanya Tara tanpa menjawab pertanyaan sang suami. Hingga kini ia masih berjalan menyusuri lantai berbalut marmer di sana, dan membuat rekaman pada alat medianya untuk memperlihatkan keadaan dimana ia berada.
Sammuel faham betul dengan langit-langit yang terlihat di balik layar itu, membuatnya tersenyum penuh rasa lega, bahwa sang istri tidak berkeliaran ke tempat lain selain kediaman miliknya.
“Gue nanya malah balik nanya oon.” Sammuel gemas dibuatnya hingga senyumannya sulit enyah dari wajah tampan itu.
“Kok kamu tau aku ga di rumah kamu?” Tanpa memberi jawaban untuk pertanyaan sebelumnya, Tara kembali menyerukan kalimat tanyanya.
Sammuel hanya bisa menggelengkan kepala menyikapinya, saat rasa gemas itu kian menelusup sang angan. “Di rumah banyak CCTV oneng.”
“Ah ... iya aku lupa, di rumah sultan mah pasti banyak benda begituan,” sahut Tara di balas tawa kecil oleh Fiona, saat ia berhasil duduk pada tempat semula membuat perbincangan itu terdengar jelas oleh Fiona.
Sementara itu Sammuel dibuatnya kian gemas, sehingga ia tidak bisa menahan tawa kecil yang pasti akan terihat sang istri. “Lo di Laseason kan?”
“Hmm ...” Tara hanya mendengung kala pandangannya berpusat pada wajah tampan suaminya. Rasa rindu yang sudah tak tertahankan telah menjatuhkan gengsinya untuk tidak menatap wajah itu.
Tatapan yang memancarkan binar kasihnya menjadi bahan bulanan rasa bahagia Sammuel di sana. “Ganteng kan?” Sammuel menggodanya membuat tatapan itu terlepas begitu saja.
“Narsis!” Tara berdecak di akhir kalimatnya, untuk menyembunyikan rasa malu akan persetujuan pada ucapan suaminya.
Kegiatan romantis yang terpisah jarak itu membuat Fiona bersusah payah menyembunyikan senyuman iri, iapun mengharapkan seseorang berlaku demikian terhadapnya. Namun, apalah daya jika garis cintanya telah ditentukan untuk diri yang hanya dapat mencintai seseorang tanpa mendapat balasan sedikitpun.
“Tumben kamu telpon aku?” tanya Tara kepada suaminya.
“Ga mau, ya udah bye.” Kesungguhan atas ucapan dari Sammuel itu terjadi begitu saja kala ia memutus panggilannya tiba-tiba.
“Idih dasar sengklek.” Tara menggerutu kesal, meski demikian ia berinisiatif untuk memanggil kembali sang suami melalui alat panggilan jarak jauh itu.
Sementara menunggu panggilan terjawab, Fiona menghentikan sejenak kegiatan menilik barang bukti itu untuk mengarahkan pandangannya pada wajah Tara.
“Laki lo?” tanya Fiona.
“Siapa lagi kalau bukan dia?” Emosi yang terpicu dari tingkah Sammuel itu terlampiaskan pada Fiona dengan menyerukan nada sebalnya.
“Kali aja si Jack,” cibir Fiona di akhiri dengan tawa gelinya.
Tara mengabaikan ucapan Fiona kala panggilannya telah terhubung.
“Kangen hmm?” ujar Sammuel untuk menggoda sang istri, akan tetapi berbalas dengusan keji dari empunya.
“Kamu yang nelpon duluan monyong!” Tara kian jengkel dengan ucapan penuh percaya diri itu, hingga menyingkirkan layar alat media itu dari hadapan wajahnya.
Namun, hal itu rupanya membuat Sammuel curiga di sana, kala ia melihat sebuah pakaian asing bertengger di atas penyandar sofa.
__ADS_1
“Sama siapa lo di sana?” Hawa emosi telah bergejolak dalam jiwa Sammuel hingga ia berucap penuh penekanan.
Tara kembali mengarahkan layar benda itu pada wajahnya saat rasa takut menjangkau sang angan. Jika nada itu tertutur dari mulut suaminya, maka ia sudah dapat menebaknya jika sang suami akan memakinya.
“Fiona.” Tidak cukup hanya dengan berkata, Tara mengarahkan alat perekam benda itu menuju wajah Fiona.
Fiona yang telah menyimak perbincangan itu sejak awal panggilan terhubung, dengan polosnya ia melambaikan tangan ke layar itu. “Hai buaya, santai aja kali, bini lo setia kok ga akan bawa cowo lain ke sini kecuali si Jack.”
“Berisik lo!” Sammuel berdesis kesal mendengar nama pria yang selalu menjadi pemicu rasa cemburunya itu terucap dari mulut Fiona. “Art, balikin lagi kameranya, enek gue lihat dia.”
“Siapa juga yang mau lihat lo kodok.” Fiona meruntuk kesal membalas cibiran itu, saat alat perekam masih menyorot pada wajahnya.
Setelahnya Tara segera mengabulkan permintaan sang suami, ia melepas alat perekam itu dari wajah Fiona, menggantikannya pada wajahnya.
“Tadi pagi lo di anter si Jack ke kantor?” Kembali lagi Sammuel menghujam sang istri dengan pertanyaan.
“Dia yang maksa. Kamu ga usah cemburu lah!” sambut Tara penuh penekanan dalam sebuah lirihan. Ia tidak ingin Sammuel salah faham terhadapnya, sehingga mengancam status pernikahan mereka.
Hingga kini kerancuan masih menyelimuti batinnya. Kejadian romantis dengan sang kakak ipar kembali terbayang dalam ingatannya. Membuat rasa bersalah itu kian menggerogoti jiwa.
“Ogah banget cemburu sama cowo br*ngsek kaya dia,” balas Sammuel dalam candaan yang membuat Tara menghela napas lega.
“Kamu lebih br*ngsek kali.” Perasaan lega semakin leluasa, saat Sammuel tersenyum penuh cinta. Terlihat aura yang begitu menceriakan, sehingga ia membalasnya dengan senyuman manis.
“Emang.”
Dunia mereka telah menjadi milik berdua hingga melupakan kehadiran seorang wanita yang masih berpikir keras untuk menentukan langkah yang akan di ambilnya saat nanti, bahkan kini rasa iri itu kian menusuk kepedihan hatinya.
Fiona sudah tidak mampu menyaksikan kegiatan romantis penuh suka cita itu, ia bangkit dari duduknya lalu meraih busananya yang masih bertengger di atas penyandar sofa.
“Ra, gue balik dulu deh, masih banyak kerjaan,” ucap Fiona berpamitan dengan lambaian tangan.
“Kenapa ga dari tadi kunyuk!” Sammuel menginterupsi ucapan itu membuat Tara tertawa kecil di sana.
Sementara Tara hanya tersenyum menyaksikan pertengkaran dalam candaan itu.
“Oke Ra bye, nanti gue kabarin lagi–” ucapannya terpotong dengan pelototan mata Tara. Ia menunjukkan isyarat yang membuat Sammuel mendapat kejanggalan di sana.
Seandainya Tara melihat wajah tampan itu, mungkin ia akan mengetahui bahwa Sammuel sudah menerka dusta yang di sembunyikannya.
“Ngabarin apaan?” tanya Sammuel bersunggung-sungguh ingin mendapat jawaban darinya. Namun, kebungkaman mulut sang istri memberikan kesempatan rasa penasaran itu kian bergejolak. “Lo ngapain sama dia Art?”
Sammuel bukan pria bodoh, ia sudah dapat menerkanya jika kedua wanita yang berada di dalan bangunan Apartement miliknya telah merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuannya. Ia mengira jika semua itu berhubungan dengan Jackson yang akan di jodohkan dengan sang istri.
“I-itu, ngomongin konsep pernikahan mereka.” Tara berucap terbata-bata membuat Sammuel kian curiga.
Sammuel mengangguk faham, sudah dapat di pastikan jika ucapan sang istri mengandung dusta di baliknya. Ia pun berniat membungkam mulut sebelum sang istri mengatakan dengan sendirinya.
“Ya udah ya, gue cabut.” Fiona kembali berpamitan di sertai lambaian tangan.
Tara hanya menggangguk tanpa mengantar kepergian sang tamu.
Setelah Fiona hilang dari hadapannya, ia kembali merebahkan tubuh di atas tempat tidur yang tersedia.
“Kapan pulang Sam?” Tara sudah tidak mampu memendam kerinduan, sehingga ia memberanikan diri mempertanyakan hal yang akan memicu emosi Sammuel.
“Belum tau, urusannya masih banyak,” sahut Sammuel di balas anggukan faham oleh Tara, saat terihat olehnya jika sang suami telah menyibukkan diri dengan lembaran kertas. “Baru juga sehari, udah kangen lagi hmm?
Nada lembut itu begitu menghangatkan hati Tara, ia tidak mengira jika Sammuel akan sudi memberikan perlakuan yang selalu di idamkannya.
__ADS_1
“Iya aneh aku juga.” Tanpa ragu Tara menyambutnya. “Kamu di sana ngurusin apaan sih Sam?”
“Ngurusin gawean lo.”
“Idih kapan aku nyuruh kamu?” Tidak pernah sedikitpun Tara merasa jika dirinya telah memberikan perintah itu pada Sammuel, hingga ia mengingat-ngingatnya kembali.
Sammuel mengabaikan pertanyaan itu. “Lo kapan balik ke rumah?”
“Selama kamu belum pulang, aku ga akan ke sana dulu. Aku males di gangguin si Jack, tadi aja pulang ngampus aku minta di anter ke rumah mami.”
Mendengar penjabaran alasan itu, Sammuel tersenyum penuh kemenangan. “Lah, terus dari sana lo di anter siapa?”
“Papi,” jawab Tara singkat sekaligus berhasil mengejutkan Sammuel.
“Hah! Kok bisa?” Sammuel mengingat-ngingat jika sang istri tidak pernah terlihat sedekat itu dengan ayahnya, karena sepengetahuanya sang ayah sulit beradaptasi dengan orang luar sekalipun menantunya.
“Dia punya tujuan, maksa aku megang Tender Platinum.”
Sammuel sudah dapat menerka, jika sang ayah akan bersikeras merepotkan istrinya. “Masih juga si kunyuk usaha.”
“Sam ... aku ga tega sama papi, bisa ga kamu terima aja?” Tara merajuk dengan nada manjanya membuat sang suami tidak enak hati jika menolak permintaan itu.
“Tar lah gue pikirin lagi,” jawab Sammuel berhasil membuat suasana hening melanda, kala ia berpikir untuk menentukan pilihannya.
Sementara Sammuel membungkam mulutnya, telapak tangan Tara menutup mulutnya yang tengah menguap.
“Lo kalau ngantuk tidur aja, telponnya jangan di matiin,” pinta Sammuel.
“Kalau abis batre gimana?”
Jawaban itu membuat Sammuel merasa gemas. “Ya tinggal carger lah!”
“Haissss.” Tara mendengus pekat mengingat benda itu tidak akan mampu melakukan apa yang di perintahkan Sammuel.
“Tambah ancur lah ini HP.”
Sammuel bungkam, ia tertegun mengingat sesuatu. Sejak pertama kali menjalin hubungan pernikahan dengan sang istri, belum pernah sama sekali ia menyentuh benda itu. Sehingga ia tidak pernah mengetahui keadaannya.
“Udah cepetan sana isi dulu batrenya!” titah Sammuel bertegas hati hanya untuk sekedar mengalihkan bahan perbincangannya. “Ga usah di matiin kalau lo tidur.”
“Iya iya bawal.” Meski menggerutu, Tara melakukan perintahnya, kemudian ia menaruh posisi benda itu pada yang seharusnya di mana tanpa ia menggenggamnya, alat perekam itu masih dapat memperlihatkan wajahnya pada Sammuel.
Saat sepasang matanya terpejam, sebelum sukma menelusup alam mimpinya, ia tersenyum menyambut hal yang dilakukan sang suami.
Kehangatan yang selalu dinanti dari sikap lembut itu kini telah dimilikinya, membuat jiwanya berbunga-bunga penuh rasa ceria. Hingga pada akhirnya ia tertidur dengan senyuman.
Sementara keadaan Sammuel kini telah menilik tajam wajah yang telah pulas dalam tidurnya itu. Nampak paras penuh kedamaian dilihatnya, akan tetapi kerutan dari dahinya menerka jika risalah kehidupan tersimpan di balik nasibnya.
Pandangan penuh cinta itu buyar kala sang istri mengigau dengan menyebutkan nama seseorang.
“Alev ... Alev ...” Berulang kali Tara menyebutkan nama itu dengan nada penuh kepedihan. Hal tersebut berhasil menembus batas rasa cemburu Sammuel di sana. Sehingga ia membanting alat panggilan jarak jauhnya itu dengan kasar, dan membuat panggilan terputus seketika, bersamaan dengan alat medianya yang mengalami kerusakan cukup parah.
Setelahnya Sammuel merenung untuk mengendalikan debaran jantung yang memompa begitu kencang. Seharusnya ia tidak melampiaskan amarah pada benda itu agar dapat membangunkan sang istri untuk segera mempertanyakan siapa pria yang menjadi bahan objek dalam mimpinya.
Kini, rasa sesal membuatnya tidak dapat berkonsentrasi pada pekerjaannya, hingga ia menunda hal itu untuk mencari bahan bulanan pelampiasan emosi yang kian membakar sang jiwa.
•
•
__ADS_1
•
Tbc