
Akhirnya Jackson telah berada di luar ruang itu, langkah kakinya menepi di hadapan Tara serta Nicky.
"Jack_" tanya Tara di iringi nada cemasnya.
"Art, dia nunggu kamu di dalem." Jackson membalasnya dengan senyuman menawannya untuk menutupi kepedihannya.
Tanpa bicara, Tara mengabaikan lirihan kekasihnya, ia segera melangkahkan kakinya memasuki ruang itu, dengan tergesa pula ia menutup pintu ruang itu.
Setelah ia mendarat di sana, ia melihat keadaan suaminya begitu semberaut membuatnya menggelengkan kepalanya.
Lantas di tatapnya rambut suaminya yang berantakan, kemeja putih keluar dari celananya bahkan kancingnya melepas di bagian atasnya serta tangannya yang melipat hingga batas sikutnya.
"Sam_ kenapa kamu bisa kaya gini, kamu stress gara-gara Fiona mau nikah sama si Jack?" Dengan cemasnya Tara berucap kala rasa khawatirannya lebih menonjol di bandingkan dengan genggsinya.
"Hah?!" Sammuel terperangah mendengar pertanyaan itu, namun otak piciknya berkumandang untuk menggoda wanita yang telah menjatuhkan gengsinya itu. "Oh hmm, gue minta bukti kalo lo udah ga sayang sama si Jack."
Tara mendengus sebal di sertai bola matanya yang memutar. “Harus gimana cara buktiinnya?”
“Sini!” Sammuel menepuk pahanya menyuruh agar sang istri mendaratkan tubuhnya di sana.
Tara tau betul dengan maksud suaminya yang ingin bermanja dengannya, lantas tanpa ragu ia melangkah menghampiri suaminya setelah melontarkan senyum riangnya.
Hingga pada akhirnya kegiatan panas itu berlangsung dengan paksaan kala kesadaran Sammuel telah di gerogoti alkohol yang berasal dari minumannya hingga membuat istrinya menahan rasa perih dari bagian tubuhnya yang tersembunyi.
Tiada pedih yang di rasa Tara setelah mendapat kenyataan hidupnya yang lebih menyakitkan dari pada lukanya dari sana.
Ia menjerit meringis, melekatkan pejaman matanya, menahan rasa sakit itu hanya untuk melakukan kewajibannya.
Ringisan itu begitu menyayat indra pendengaran Sammuel hingga ia mencoba melepas tubuh istrinya dari sana.
Sammuel faham, bahkan sejenak ia tertegun, meresapi penyesalannya yang telah melukai hati serta tubuh istrinya, namun ia tersenyum mengingat kegigihan hati istrinya yang selalu tidak menyerah untuk meraih cintanya.
Penyesalan itu, di wakilkan pada sebuah cumbuan yang memberikan kesan romantis di dalamnya meski tiada sambutan dari istrinya yang masih menahan rasa sakitnya hingga tidak mampu berpusat pada kegiatannya.
Bahkan kian mendalam saat menembus ubun-ubunnya yang sudah tersenggal dengan napasnya yang terengah.
"Thanks my wife." Lantas Sammuel mengecup kening itu dalam napasnya yang masih terpenggal penyesalannya.
Tara membalasnya dengan merekatkan hidungnya pada hidung suaminya. "I love you."
"Hmm, love you too." Sammuel tersenyum, lantas membawa kepala istrinya pada ceruk lehernya, membiarkannya terbenam di sana hingga saat meresapi dekapannya, sang istri tertidur di atas tubuhnya.
Hingga pada saat waktu menunjukan pukul 22:13, tara melepas rekatan kelopak matanya perlahan lantas mengerjapkannya beberapa kali untuk memperjernih pandangannya.
"Sam_" Ia mengelus pipi suaminya yang masih tertindih tubuhnya di bawah sana berrusaha membangunkan sang suami dengan cara lembutnya.
Benar adanya, Sammuel melepas rekatan kelopak matanya tanpa jeda hingga beringsut mundur dari dari duduknya tak lantas menarik tungkak kepakanya dari penyandar sofa agar dapat menatap dengan jeli wajah istrinya.
"Udah bangun?"
"Kita ketiduran di kantor, apa masih bisa keluar?" ujar Tara penuh rasa cemas jika saja seluruh ruang telah terkunci rapat hingga ia di haruskan bermalam di dalam sana bersama suaminya.
"Jam berapa sekarang?"
Tara mengulurkan tangannya melirik alat pengukur waktu yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. "10 lebih 13."
“Udah malem juga,” ucap Sammuel.
Tara menyahut ucapan itu dengan gerakan tubuhnya yang beranjak dari atas tubuh suaminya dengan gaya kasarnya saat rasa cemas bergejolak dari dalam asmanya.
__ADS_1
Namun..
"Akhhhhh!" Kembali Tara meringis menahan sakit dari arah sana.
Sammuel sontak terkejut hingga bangkit tak lantas meraih tubuh istrinya, kini ia meraih tubuh itu dalam pangkuannya yang di sambut sang istri dengan mengalungkan tangannya pada lehernya.
Telah mendapat posisi nyamannya, Sammuel mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruang tersebut.
"Lo masih sakit kenapa masih maksain hmm?" ujar Sammuel bernada manja seolah merayu sang istri yang telah tersenyum di dalam pangkuannya.
"Kalo cuma sekali ga sesakit ini, kemaren kamu inget di villa kamu maen kasar sama aku?" sahut Tara membuat Sammuel melirih dalam helaan napas panjangnya.
Penyesalan atas perlakuannya terhadap istrinya kembali menjadi beban batinnya yang selalu membuahkan pedih serta rasa iba pada istrinya.
"Sam.. masih bisa keluar kan?" tanya Tara.
"Ada satpam pasti bisa, bukain pintunya sayang," titah Sammuel saat ia berhasil berdiri di hadapan pintu ruang itu.
Tarapun melakukannya tanpa bicara.
"Kita ke mana sekarang, aku ga mau ke rumah papi,” ucap Tara penuh rasa khawatir yang terpikirkan olehnya adalah rasa malu serta tidak enak hati jika kembali ke rumah mertuanya pada hari yang telah larut.
"Gue juga ga akan biarin lo balik ke sana lagi, mulai besok lo tinggal di rumah gue!" ucap Sammuel tegas, setegas langkah kakinya yang memburu itu.
"Kalo si Jack tau gimana?"
"Udah tau."
"Kapan?"
"Kapannya gue juga ga tau, yang jelas mulai sekarang status lo bini gue bukan cewe si Jack!"
"Iya dari dulu." Sejenak Sammuel menatap wajah istrinya membuat istrinya belingsatan hingga menelusupkan wajahnya ke dalam dadanya.
Sammuel tersenyum gemas melihatnya dalam kakinya yang masih melangkah maju menuju pintu keluar bangunan itu, ingin sekali ia mencubit pipi istrinya jika saja kedua tangannya tidak menopang tubuh istrinya.
***********
Kisah ini berawal dari pagi yang cerah.
Tara membuka rekatan kelopak matanya, jiwanya mulai meninggalkan alam mimpi indahnya. Sambutan hangat terhidang di hadapannya tat kala ia melihat pemandangan menakjubkan yang selalu menghiasi awal harinya yang selalu membuat senyuman tersirat dari wajah cantiknya.
Wajah itu, wajah tampan bergaris asia milik suaminya selalu jadi sorotan matanya, bahkan emosinyapun mampu menjadi pemicu semangat hidupnya.
Ia menilik mata yang masih tertutup rapat itu, kemudian meresapi aroma napas dari hidung mancungnya, berlanjut menatap lekat bibir tipisnya.
Cup..
Sarapan pagipun di lakukan Tara dengan kecupan pada bibir suaminya membuat suaminya melenguh seraya menggeliatkan tubuhnya
"Morning Sam." Tara menyingkap selimutnya lantas bangkit hingga menepikan tubuhnya di tepi kasur itu kemudian di raihnya kepangnya untuk mengikat rambut hitam panjangnya.
"Morning honey." Sammuel beringsut memeluk perut istrinya dengan sebelah tangannya kala tubuhnya masih merebah di atas tempat tidurnya.
"Lanjutin tidurnya, aku mau siapin sarapan dulu." Tara menepis lembut tangan yang melingkar pada perutnya, namun pelukan itu semakin mengerat.
"Di sini ada koki, lo ga usah repot-repot."
"Ya udah kalo gitu izinin aku ke toilet," sahut Tara membuat sang suami tertawa kecil dalam gelengan kepalanya tak lantas melepas tangannya dari perut istrinya.
__ADS_1
Mendapat persetujuan dari gerakan suaminya, Tara bangkit berdiri lalu mulai mengayunkan kakinya untuk menuju kamar mandi yang tersedia di dalam ruang itu.
"Akhhhhh!" Tara bersimpuh kasar di atas lantai marmer itu membuat Sammuel bergerak cepat menghampirinya.
"Kenapa lo?" Sammuel cemas tiada terkira hingga meraih tubuh sang istri tanpa aba-aba, membantunya agar bangkit berdiri kembali.
"Perih_ banget." Tara merekatkan kedua pahanya, sebelah tangannya menumpu pada perutnya menahan rasa sakit pada bagian tubuh intinya.
Sammuel menarik napas dalamnya lantas ia meraih tubuh istrinya membawanya dalam pangkuannya, kakinya mulai mengayun mengantarkan tubuh sang istri menuju tempatnya membersihkan dirinya.
Seusai sang istri melakukan rutinitas pagi di dalam ruang berair itu, Sammuel kembali membawa tubuh istrinya dalam pangkuannya hingga mendaratkannya di atas tempat tidur yang tersedia.
"Lo ga usah gawe dulu hari ini,” ucap Sammuel.
"Kerjaan ak_"
"Gue bawa ke sini semua,” tebas Sammuel secepat cahaya.
"Oke kalo gitu."
"Lo tau jadwal gue hari ini ga?" Sammuel menghampiri istrinya hingga duduk di tepi ranjang itu menghadap istrinya.
"Kayanya ada janji temu sama klient dari Medan."
"Itu bisa sama si Jack juga,” sahut Sammuel membuat sang istri mengangguk faham mengartikannya.
Tara mengerti jika sang suami ingin mengambil hari liburnya, namun alasan tepatnya belum dapat di tebaknya.
Sementara Sammuel mengulurkan tangannya pada kening istrinya agar mengetahui suhu tubuh istrinya yang terlihat mengkhawatirkannya kala wajah sang istri memucat.
"Kamu ga niat mau bolos kan?" tanya Tara.
"Gue mau nyari obat luka lo,” balas Sammuel dalam tatapan lirihannya setelah mengetahui suhu tubuh istrinya lebih tinggi dari biasanya.
Rasa sesal kembali mengaduk kalbu Sammuel, ia melepas tangannya dari kening istrinya lantas beranjak menjauhi sang istri menuju di mana lemari berdiri di balik dinding ruang tidur itu.
Di raihnya sebuah benda dari dalam laci lemari itu, lantas kembali menghampiri istrinya setelah mendapatkan keinginannya.
"Mulai sekarang penghasilan tender lo gue taroh di sini." Sammuel menyodorkan benda itu kepada istrinya.
"Kenapa harus gitu?" protes Tara tak sarat kala sebuah janggalan menepuk angannya, namun ia meraih benda itu lantas menyimpannya di atas nakas yang berada dalam jangkauan tangannya membuat Sammuel menggeleng tidak percaya.
Sammuel menerka jika sang istri menolak pemberiannya secara halus tanpa ingin menyinggungnya kala melihat senyuman manis tersirat dari wajah pucat itu.
"Lo nurut aja, tar duit yang dari gue lo taroh di ATM lo." Sammuel kembali meraih kartu itu, ia memasukkannya ke dalam kantong celana parasutnya berjaga jika saja akan kehilangannya lantaran sikap teledor istrinya itu terpaksa ia yang bertindak.
"Kamu mau tau pengeluaran aku ya?"
"Yah!" ujar Sammuel gemas hingga menyentil manja kening istrinya. "Ada orang ingkar janji terus, katanya mau ngomong kalo duitnya di pake."
Tara berdecak namun bukan sebal melainkan meledek dirinya sendiri kala mengingat ucapan suaminya tertuju untuknya.
•
•
•
Tbc
__ADS_1