Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 160


__ADS_3

Udara pagi membelai lembut wajah cantiknya, dengan embusan perlahan yang menembus pori-pori kulitnya. Ia melangkahkan kaki jengjangnya begitu ceria, seraya kedamaian tak terkira didapatkannya.


Ruang bawah tanah menjadi tujuan utama penepian dirinya menghampiri kendaraan roda empat. Suasana tentram tercipta dari rasa lega dihatinya. Tepatnya hari kemarin, saat ia berhasil menghindari seorang pria bernama Jackson Jordan Charington.


Suara siulan lemah dari mulutnya memberikan pertanda jika ia sedang berbahagia, kunci kendaraan roda empat itu berputar mengitari jari telunjuknya.


Namun, seketika semuanya terhenti, siulan itu tak lagi terdengar menghiasi pagi, langkah kaki pun terhentak di tengah jalan saat sepasang netranya menangkap sosok Jackson telah berdiri di samping kendaraan roda empat miliknya.


Dengusan kasar dari kekesalan Tara terlihat menyebalkan bagi Jackson. Sudah bisa dipastikan jika ia akan menolak ajakan Jackson.


"Jengkel gitu kamu lihat aku Art." Jackson membalas senyum kecut dibibirnya dengan lengkungan manis penuh pesona.


"Emang!"


Sudah tidak ada waktu lagi untuk berkompromi, jika Tara tidak cepat-cepat, maka ia akan terlambat untuk tiba di tempat tujuan. Pada akhirnya, ia pun mengalah dan pasrah pada apa yang akan terjadi. Kakinya tetap melangkah menuju tempat kendaraan miliknya terparkir.


"Ngapain kamu ke sini? Tanyanya tepat saat berdiri di hadapan Jackson, sorotan matanya membahasakan sebuah dendam begitu teramat.


"Ngemban tugas," jawabnya sambil tersenyum penuh cibiran di akhir kalimatnya. Tangannya kemudian menarik pergelangan Tara, sehingga kaki sang empunya terpaksa melangkah mendekatinya. Pria ini hanya sedang berjaga takut bahwa dirinya akan mendapat penolakan.


"Ga usah repot-repot deh, kita udah putus." Tara kian kesal dengan tingkah itu, ia menepis kasar tangan Jackson dari pergelangan tangannya.


Jackson segera melepas genggaman tangannya mengetahui jika tindakannya membuahkan emosi bagi Tara.


"Melatinya juga belum aku terima sayang." Jackson meledek yang di pertegas dengan tawa kecil penuh cibiran.


Sebab ia tidak ingin meladeni gurauan yang akan membuatnya mengingat kejadian romantis kemarin, maka matanya mendelik tajam mengisyaratkan agar Jackson tidak melanjutkan perbincangan.


"Ya udahlah cepetan, nanti kesiangan." Tara bersungut-sungut tidak karuan di balas senyum penuh kemenangan oleh Jackson. "Parkirin mobilnya di mana?"


"Di sini." Jackson melentingkan telunjuknya menuju samping, di mana kendaraan itu terparkir.


Setelah mendapat persetujuan terucap dari kata isyarat itu, Jackson bergegas membukakan pintu kendaraan bagian penumpang.


Tanpa sepatah kata, Tara pun membawa tubuhnya memasuki kendaraan itu dengan tuntunan Jackson. Setelah ia duduk manis di dalamnya, Jackson memasukan setengah tubuhnya, menyeret sabuk pengaman itu untuk membatu memasangkannya.


Reaksi Tara begitu canggung saat pipi berlesung itu berada tepat di hadapan wajahnya. Seketika ia memalingkan wajahnya yang mulai meranum.


"Jack ... di kantor nanti jangan kaya gini ya." Tara memelas dengan nada lirihannya.


Jackson menggelengkan kepalanya, akan tetapi bukan untuk menepis permintaan itu. Melainkan ia tidak mengira jika wanita itu masih saja menolak hatinya.


Cup!


Rona wajah tergambar jelas hingga memunculkan rasa gemas. Perasaan itu semakin tumbuh menjadi tak tertahankan bagi Jackson. Ia tak kuasa menahan diri untuk segera mengecup bibir Tara.


Mata Tara terbelalak kaget menerima kecupan tanpa aba-aba ini. Seketika tangannya mendorong dada Jackson dan berkata, "Jack-"


"Yes." Jackson berucap tanpa dosa sambil menambahkan senyum penuh pesona. Hal ini lantas membuat Tara mengunci tatapan pada wajah tampan itu.


"A-awas kalau nanti kamu ga nyium cewe kamu." Tara tertunduk di sela ucapannya untuk menyembunyikan rasa canggungnya. "Udah perjanjian kita, jangan bikin alesan!" imbuhnya menegaskan, akan tetapi kembali mendapat balasan tawa kecil penuh ledekan.


Setelah puas menggoda Tara, Jackson segera mengambil posisi untuk menjadi seorang pengemudi.


Mobil mewah dengan julukan raja jalanan itupun melaju, menerobos kepadatan lalu lintas di pagi yang nampak berseri.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, mereka kini telah tiba di dalam bangunan sebuah perusahaan bernama PT. ZhanaZ Group.


Di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan Fiona yang baru tiba juga di sana.


Fiona tersenyum menyambut sepasang insan yang berjalan beriringan itu. "Akhirnya kalian bareng lagi."


Ucapan Fiona membuat Tara menghentikan langkah tepat di hadapannya. "Fi, lo rese ah, gue ga mau nyakitin laki gue kalau jabanin terus calon laki lo." Tara mendengus kesal di akhir kalimatnya. Ia tidak ingin melanjutkan perbincangan itu, hingga kembali melangkahkan kakinya tanpa melirik ke arah di mana Jackson berdiri di belakangnya.


"Kamu masih ngerasa bersalah sama suami kamu?" ucap Jackson mencoba menerka situasi. Sejak kejadian di dalam ruang itu, ia merasakan jika Tara berlaku tidak seperti biasanya. Bahkan kini di rasanya Tara kian menghindari kehadirannya.


"Bersalah karna apa?" Fiona melibatkan diri saat rasa penasaran menjadi pemicunya.


Tara kian gundah, ia tidak menemukan jalan keluar untuk mengatasi semua ini, selain menyiratkan tatapan penuh dendam pada jackson.

__ADS_1


"Tenang aja Art, yang nyakitin dia bukan kamu, tapi aku," seru Jackson.


Tara menghela napas panjang untuk menyikapi ucapannya barusan, ia merasa jika itu hanyalah sebuah cibiran semata.


"Kalian kenapa sih?" Fiona melirik ke arah Tara serta Jackson secara bergantian, matanya menerka kejanggalan di antara mereka.


"Ga ada apa-apa kok," jawab Jackson dengan nada lembutnya berbalas lenguhan lega dari Tara. Namun, rupanya ia salah menangkap sikap itu. Ia mengira lenguhan itu adalah usaha Tara untuk menahan rasa cemburunya.


Terlintas sebuah pikiran untuk memastikan perkiraannya itu, sehingga Jackson merangkul pundak Fiona tanpa ragu. Seketika Fiona menatapnya tak percaya, sementara Tara hanya menyikapinya dengan senyuman.


"Akhirnya kalian akur juga," ujar Tara hanya untuk membalas ucapan Fiona saat lalu. Ia menatap wajah Fiona dengan tatapan ledekannya.


"Ra lo rese ah, gue ga mau nyakitin ade ipar gue," balas Fiona tidak mau kalah, hingga membuat Jackson serta Tara tertawa kecil.


Cup!


Untuk kedua kalinya Jackson memberikan kecupan pada seorang wanita tanpa aba-aba, kini ia mengecup pipi Fiona. kemudian membuat sang empunya terperanjat mendapat sebuah kejutan hebat.


Kendati hati menginginkannya, Fiona menyembunyikannya dengan menghapus jejak itu dari pipinya dengan telapak tangannya. Ia merasa malu jika saja sang sahabat akan menertawai tingkah calon suaminya itu.


Namun, senyuman tersirat dari wajahnya saat ia melirik ke arah Tara yang sedang tersenyum kepadanya seolah menyetujui.


"Lunas!" ujar Jackson penuh ketegasan tertuju untuk menekankan Tara, jika dirinya telah memenuhi janjinya.


"Sinting." Tara berdecak dalam delikan matanya saat rasa kesal kembali menembus angannya.


Waktu menunjukkan agar mereka segera meninggalkan tempat itu. Langkah kaki Jackson menarik tubuh Fiona yang masih dirangkulnya. Mereka kemudian berjalan beriringan sampai terpisah saat arah tujuannya berbeda.


Saat ini Jackson baru saja tiba di dalam ruang kebangsaannya. Kehadiran dirinya di sambut gelak tawa dari Kelvin.


Jackson menggelengkan kepala membalas tawa itu. Sepertinya, ia merasa jika sang kawan telah mengidap penyakit jiwa, saat ia melihat serangkai karangan bunga melati berada pada genggaman pria itu.


"Kiriman buat lo." Kelvin menyodorkan karangan bunga itu kepada Jackson.


Jackson pun meraihnya tanpa bertanya. "Pasti ulah si Tara."


"Ada wejangannya bro." Kelvin menyerahkan secarik kertas bertuliskan kalimat pesan yang sebelumnya berada di dalam karangan bunga itu. "Baca deh tulisannya."


Tanpa bicara, Jackson meraih potongan kertas itu. Dan tertawa geli saat melihat kalimat yang terdapat di baliknya.


Yaitu,


'Selamat malam Jum'atan mantan pacar, semoga bekal ini cukup untuk kencanmu dengan Nyi Blorong'


Hingga pada akhirnya, niat awal untuk meninggalkan ruang kebangsaannya telah urung begitu saja. Kini ia melangkah menuju sofa yang terdapat di tengah ruangan. Setelah tiba di samping sofa itu, ia melempar keras karangan bunga itu ke atas meja hingga sang bunga bertaburan sebagian.


"Lo udah urus masalah Tender Platinum?" tanya Jackson seraya melepas jasnya kemudian melemparkan pada penyandar sofa. Seikat bunga itu rupanya membuat tubuhnya memanas seketika.


"Masih ga ada solusi," jawab Kelvin mengeluh disertai lenguhan.


"Si Tara belum lo ajakin?"


"Belum ada waktu," jawaban singkat dari Kelvin itu berhasil menjangkau emosi Jackson.


"Lemot juga lo ya." Kendati amarah meluap, Jackson menyeringai penuh makna. Ia memutuskan untuk melakukan niat awalnya.


Lalu, ia meraih kembali karangan bunga itu untuk di bawanya kepada sang pengirim.


Sesampainya di tempat tujuan, tanpa ada sambutan Jackson melangkahkan kakinya penuh percaya diri. Hingga ia menepi di hadapan meja kerja Tara.


"Kamu Nyi Blorong nya kan?" Jackson melempar kasar karangan bunga itu ke hadapan Tara.


Tara mendongkak menatap pria yang masih berdiri di hadapannya. "Sorry-" ujarnya terpenggal kala tawa geli tidak dapat di tahannya. "Nyi Blorong kalah cantiknya sama aku."


Jackson hanya terkekeh gemas menanggapinya. Ia menyeret sebuah kursi yang berada di hadapan meja kebangsaan Sammuel, disimpannya kursi itu besebrangan dengan Tara.


"Ga puas kamu sama bunganya apa?" tanya Tara hanya untuk berbasa-basi yang ternyata di abaikan Jackson.


"Tender Premium gimana jadinya, kamu udah dapat jalan keluarnya belum?" Jackson berucap penuh ketegasan diri. Hal itu semakin di pertegas dengan nadanya yang menunjukkan keseriusan, membuat Tara bergidik ngeri.

__ADS_1


"Gimana?" tanya Jackson memastikan saat tidak mendengar jawaban setelah beberapa menit berlalu.


"Janji dulu sama aku kalau kamu udah mutusin hubungan kita.” Pinta Tara penuh waspada.


Jackson membungkam rapat mulutnya, akan tetapi jawaban penuh emosi terlihat dari wajah yang terihat sadis itu. Lenguhan yang begitu terdengar nyaring, membuat Tara tidak enak hati.


Bahkan rasa takut berhasil menerobos angannya kala Jackson bangkit berdiri dengan gaya kasarnya.


"M*mpus!" Tara meruntuk ketakutan, membuat nada bicaranya melemah, sehingga Jackson tidak dapat mendengarnya.


"Asal kamu janji ga akan larang aku buat tetep bisa sayangin kamu. Aku terima apapun itu, sekalipun pikiran kamu berubah jadi suka sama aku." Putus Jackson seolah wejangan untuk terakhir kalinya, tatkala ia melangkahkan kakinya dengan tergesa.


Tara hanya mampu mengikuti tubuh itu dengan tatapannya. Tak sadar bibirnya terangkat manis melihat Jackson menepikan langkah di hadapan dispenser air berada.


"Haiss, dasar monkey." Tara kembali meruntuk, akan tetapi kini batinnya telah merasa lega. "Oke lah aku janji, asal kamu sama Fiona-"


"Iya iya oke, pasti ujungnya ke sana." Jackson memotong pembicaraan yang sudah dapat diketahui dimana akan berujung.


Tara hanya melenguh membalasnya. Sesungguhnya ia ingin sekali menyumpal mulut itu dengan sepatunya. Jika saja tidak mengingat bahwa pria itu adalah atasannya.


Bungkamnya mulut Tara terabaikan Jackson saat ia sibuk mencari sesuatu untuk jamuannya sendiri.


"Art kopinya di mana?" tanya Jackson tanpa mengalihkan arah pandang. Ia tetap berpusat pada laci nakas di mana dispenser air bertengger di atasnya.


"Laci kedua." Tara bangkit dari duduknya untuk menghampiri Jackson.


"Ga ada."


Kakinya melangkah menghampiri keberadaan Jackson. Ia masih membungkuk mencari sesuatu yang diinginkannya. Tepat setelah Tara berada di sampingnya, ia mendorong paksa tubuh Jackson sambil berkata, "Minggir."


Jackson melenguh emosi, hampir saja tubuhnya terdampar di atas balutan marmer itu.


Sementara keadaan Tara, tanpa mau tau dengan amarah yang hanya di wakilkan pada helaan napas dalam saja, ia segera meraih toples di sudut laci terdalam.


"Nih bukan kopi?" Tara menunjukan sebuah toples berisikan kopi di dalamnya dengan mengangkat benda itu.


"Itu mah toples." Jackson menyerengeh tanpa dosa, membuat Tara mendelik licik.


"Bikin sendiri ah." Tara menyerahkan toples itu dengan kasarnya kepada Jackson.


Bukan meraih toples itu, Jackson malah meraih tubuh Tara hingga larut dalam dekapan kedua tangannya.


"Apa-apaan sih kamu Jack!" Tara meronta sekuat tenaga, akan tetapi tenaga Jackson lebih besar darinya, hingga membuat usahanya tidak membuahkan hasil sedikitpun.


Tara pasrah di buatnya saat tatapan mata Jackson menyoroti miliknya dengan tegas. Terpancar aura kasih di baliknya yang berhasil menerobos angan untuk kembali menyayangi pria itu.


"Sekali aja-" ucap Jackson terputus dengan gerakan kepala menelusup kedalam ceruk leher sang wanita. "Buat terakhir kalinya."


Kalimat itu berhasil membuat Tara membeku, batinnya teriris pedih mendengar kata yang selalu tidak ingin didapatkannya. Rasa iba menusuk sanubari, lalu turut merasakan derita dari pria yang kian merekatkan dekapannya. Seolah melampiaskan rasa rindu di sana.


Sepesang mata Jackson tertutup rapat, meresapi pelukan yang di rasanya tidak akan di dapatkan kembali saat nanti.


Mata Tara mulai bergenang air payau, mengisahkan rasa haru di baliknya.


Brakk!


Tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka dengan kasar. Sepasang netra dari dua insan ini melirik ke arah sumber suara. Betapa tidak, sebab mereka mendapatkan sebuah kejutan dari suara yang melegam tersebut.


Sepasang netra mereka semakin terbelalak melihat seseorang muncul dari balik pintu itu.


"Kamu–" Tara tidak mampu memberikan alasan pada orang itu dikala perbuatan ini tertangkap basah. Tepat di hadapan mata yang kini menatapnya penuh murka.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2