
"10 juta semalam,” tawar Sammuel dengan bisikan suaranya tepat pada telinga wanita di sampingnya hingga membuyarkan lamunan sang wanita disertai matanya yang membelalak nyalang.
Tara terperangah dalam kejutannya mendapat sebuah tawaran pada hari yang sama dari dua pria yang dirasanya memiliki hubungan darah itu.
"Sinting!” sahut Tara yang mengumpat sebal. “Udah tau aku ga bisa," imbuhnya berprotes ria dalam delikan kerasnya. Beruntung, suara dari lagu yang melantun mampu meredam percakapan mereka hingga dengan leluasa ia memekikkan nada bicaranya.
"5 jam?!" seru Sammuel menggoda dengan bisikannya tepat pada telinga wanita yang kini mendelik dalam dengusannya.
"Ga bisa, silakan cari yang lain!” Tara berseru ketus tatala sang emosi mulai merangkak dari dalam asmanya. Itu adalah tawaran yang bagus menurut standar biasa, tapi dia tetap menolaknya.
Gelagat yang terlihat menggemaskan, Sammuel kian berhasrat menggoda wajah wanita yang telah memerah itu. "100 juta?" Kini sebelah tangannya berhasil mengelus pinggang wanita yang sudah menatapnya penuh dendam itu.
"Cari yang lain." Tara tetap menolak dengan tegas hingga menepuk keras tangan di pinggangnya, membuat sang empunya meringis tak lantas membuat rangkulan itu terlepas dengan mudahnya.
"200 juta!” seru Sammuel kian menggoda wanita di sampingnya yang telah mengeratkan rahangnya. Tampak jelas jika dia tak mau menyerah begitu saja.
"Cari yang lain."
"500 juta." Harganya makin naik berlipat seolah itu bukan sesuatu yang penting dan berharga. Terucap begitu mudahnya.
"Cari yang lain." Tara bersikukuh pada pendiriannya.
"1 milyar." Keterlaluan! Tara bangkit dalam emosinya membuat Sammuel segera menarik keras pergelangan tangannya, hal tersebut tentu membuat ia kembali duduk di samping pria yang telah menertawainya dengan puasnya.
"Ciuman lo mahal juga ya?" seru Sammuel kembali membisikan kalimatnya pada telinga wanitanya membuat sang empunya menatapnya penuh emosi.
"Sial*n!” umpat Tara menyembunyikan rasa malu atas kesalahpahaman pikirannya. “1 milyar buat ciuman, apa kamu gila?" Tara tak habis pikir dengan pria ini, sampai seperti itunya pria itu menginginkan dirinya?
"Harusnya gue yang nanya gitu, apa otak lo kegeser sampe masang tarif semahal itu?" ujar Sammuel menyahut datar, namun kembali membuat wanita di sampingnya jengah hingga memutar bola matanya mewakili emosinya yang terpendam. “So?" Kian menggoda, Sammuel menyiratkan tatapan sensualnya.
Tara tertegun mempertimbangkan upah yang akan diterimanya yang baru saja terucap dari pria itu. "O-oke deal 10 juta buat ciuman,” balasnya terbata-bata ketika rasa malu membuat wajahnya merona tanpa bisa dicegah, itu membuatnya memalingkan arah wajah ke sisi lain, ke mana saja asalkan bukan ke arah pria itu.
Sammuel terkekeh, tentu saja kekehannya tidak meninggalkan sisi kalemnya, dia menyahut persetujuan itu. Seusainya, tanpa berpikir lebih, ia segera meraih tubuh wanitanya hingga larut dalam dekapan sebelah tangannya. Sebelah tangan lainnya menekan bagian belakang kepala wanita itu hingga tanpa ragu ia membungkam bibirnya dengan mulutnya. Sepertinya dia sudah haus dan menahan untuk waktu yang sangat lama, kini dilepaskan semua seperti bendungan yang bocor.
Sentuhan kasar dari bibir Sammuel, rupanya tidak mampu membuat sang wanita larut dalam buaiannya, pasalnya selama proses berlangsung sang wanita memejamkan matanya bukan karena menikmatinya melainkan ia menahan kejengahannya.
Sorak ramai dari penghuni ruang tersebut melerai aksinya sejenak. Siapa sangka jika aksi mereka menjadi tontonan orang-orang berada satu ruangan dengan mereka, siapa sangka jika para penonton itu begitu kurang kerjaan menyaksikan apa yang mereka lakukan.
"Belum panas, bro," sindir Nicky dalam senyuman penyemangatnya.
Sammuel hanya terkekeh menyikapinya dalam perasaannya yang masih merasakan manisnya bibir yang telah dicumbunya beberapa saat yang lalu.
"Kamu pengen aku panggil setan mesum apa?" seru Tara dengan suara melengking di sela menyembunyikan rasa canggungnya.
"Ga ada panggilan yang lebih sadis kah?" sahut Sammuel tak acuh dengan pekikan suara itu, saat asanya menggundam gemas menatap wajah yang mulai belingsatan di sampingnya membuatnya kian ingin menggodanya. Lantas, tanpa permisi ia membelai wajah ayu itu dengan punggung telunjuknya.
"Iblis cabul," jawab Tara meronta dengan menepis kasar tangan yang masih setia membelai wajahnya.
"Sweaty, lo tau gue bisa kabulin ucapan lo itu?" ujar Sammuel kembali meraih tubuh itu dalam dekapan sebelah tangannya, membawanya merekat dengan tubuhnya.
"Tau, hamba sangat tau itu, Tuan!" seru Tara meledek kala sang tubuh meronta mencoba menepis tangan nakal yang berhasil melingkar pada pinggangnya.
Namun, Sammuel malah beringsut menghadap wanita yang kini telah kembali bergerak kikuk di sampingnya. Ia gemas hingga mencengkeram kedua pergelangan tangan yang lebih kecil darinya dengan sebelah tangannya, di letakannya tangan itu di atas kepala sang wanita itu sendiri. Seutas kecupan berhasil mendarat dari bibirnya pada bibir mungil itu.
"Dasar iblis cabul!" seru Tara dengan memekik, ia sangat jengah ketika bibirnya terlepas dari sentuhan bibir itu. Ia sudah tidak mampu menepis gerakan pemompa aliran darahnya itu.
Sammuel kembali mengecup bibir mungil itu, meski hanya sekilas membuat empunya kian terkujur kaku tanpa mampu memberikan perlawannya. "Terus ngomong kayak gitu kalo mau gue nyosor lo terus."
"Iblis cabul iblis cabul iblis cabul," sahut Tara memekik keras membubuhkan nada jengahnya, seolah menantang ucapan pria yang masih mencengkeram tangannya dengan eratnya. Dan itu merupakan keputusan yang tak bagus dan tak tepat.
"Hoho, jadi lo suka gue cium hmm?" ujar Sammuel kian gemas dengan wanita yang kini telah menatapnya penuh emosi itu, terlihat dari raut wajahnya yang memerah. Namun tidak di ketahuinya jika rona wajah itu mengutarakan rasa malunya.
Kini Sammuel melepas genggamannya, merekatkan jarak wajahnya pada wajah jelita itu. Kali ini ia mencumbunya dengan mesranya, hal itu membuat sang empunya sejenak larut dalam hasratnya hingga membuka mulutnya memberi celah pada lidah yang berhasil menari di atas bibirnya.
Benar adanya, Sammuel melepas lidahnya dari sarangnya, lantas menelusupkannya ke dalam mulut berbau rose itu. Membiarkannya menari di dalam sana, mengaksen setiap rongga yang ada di dalamnya.
__ADS_1
Suara decakan dari bibir yang bersentuhan itu hanya terdengar oleh mereka berdua, namun berhasil membuat sang wanita larut dalam buaian sentuhan itu. Sammuel kian berani memperganas gerakannya, dengan lihainya ia memberikan kenikmatan pada wanitanya dengan lidahnya.
Hingga saat ia menariknya dengan lidah itu, ia pun kehilangan kendalinya akibat hasratnya yang meningkat hebat. Hasrat Sammuel merangkak menyentuh ubun-ubunnya, segera ia melepas cumbuannya membuat sang wanita merasakan kehilangan atas kelembutan sentuhannya.
Sammuel jengah atas hasrat yang tertahan itu, ia mengempaskan tubuhnya di samping wanitanya. Mengatur detak jantungnya dalam napasnya yang terengah-engah.
"Bener-bener deh kamu iblis cabul," cibir Tara berseru dengan nada yang ketus setelah berhasil menyeka bibirnya dengan punggung tangannya.
Sammuel tersenyum, menatap wajah jelita yang masih tertegun dalam kepanikannya yang tidak mampu mengendalikan dirinya.
"Mau lagi, hmmm?" Dengan santainya Sammuel kembali membawa wanita itu dalam dekapannya. Memberikan tawaran dengan senyumnya. Bukan Sammuel Nate Charington namanya jika kesulitan mengendalikan emosi dari hasratnya.
"Udah ah Sam aku cape tau." Buru-buru Tara menolak, memberikan protesannya sambil mendelik membuat Sammuel terkekeh namun tidak melepas dekapannya.
"Lo liat di depan lo ada yang manyun ga?" Sammuel menunjuk dengan dagunya menuju arah Paulin.
Tara segera mengalihkan arah pandangannya ke depannya, di dapatinya Paulin yang tengah memaparkan wajah jengahnya. Membuat Tara membalas tatapannya dengan senyuman sarkasmenya.
"Sam,”
"Hmmm?"
Tara menyeringai, menatap wajah Paulin penuh ledekan membuat Sammuel ikut menatap arah pandangnya. Lantas ia tersenyum miring.
Begitu pun dengan sang pria yang telah menatap seringai kejinya, Sammuel menyahut pikiran busuk yang terpampang dari raut wajah kesal wanita dalam dekapannya.
"Kita bikin bibir dia tambah manyun ke depan." Tanpa aba-aba Sammuel mengecup sekilas bibir wanitanya.
Sontak Tara terkejut namun masih menerima perlakuan yang membuatnya terbawa suasana itu. "Sam ... kamu breng*ek!" Omel Tara yang bersungut kesal tatkala rasa malu kembali menyeruak dari dalam jiwanya. Ia kesulitan menyembunyikan rona wajah yang begitu kasat mata, itu membuatnya tidak mampu menahan emosi atas tingkah pria di sampingnya.
"Emang gue breng*ek, gue praktekin sekarang betapa breng*eknya gue kaya apa oke!" seru Sammuel dengan seringai jahatnya, itu disambut wajah manja wanita di sampingnya. Entahlah, pria ini seperti merasa sangat bangga dicap sebagai berengsek, bahkan tak tahu malu dan tak ragu mempraktekan itu, benar-benar bermuka tebal.
"Sam, please," tegur Tara dengan lirih dan suara parau ciri khasnya, wajahnya memberengut mempertegas lirihan untuk permohonannya.
Tidak tahan dengan lirihan itu dalam suaranya yang parau hingga mampu menggoda hasratnya kembali merangkak, Sammuel kembali menyosor mulut mungil itu dengan mulutnya. Sedang sang wanita hanya mampu berdiam pasrah dengan tingkah seenaknya pria yang sudah membuat hatinya kalang-kabut itu. Benar-benar tak tahu malu, ini adalah penindasan yang terang-terangan dan tanpa ampun, benar-benar iblis cabul.
Bahkan mendebarkan detakan jantungnya hingga paru-parunya tersendat dengan napasnya yang tak beraturan. Sammuel membuka matanya di sela cumbuannya, lantas tersenyum ketika melihat wajah anggun yang sudah berpeluh kecil di dahinya. Untuk menggoda sang wanita, ia sengaja melepas cumbuannya.
Jangan lupakan kehadiran rekan Sammuel serta pendampingnya di sana, sebagian ada yang menertawakan tingkah romantis unik itu, sebagian hanya mengabaikannya, hanya seorang wanita yang mengerucutkan bibirnya. Benar-benar jengkel dan tak suka dengan apa yang dilakukan dua manusia itu, apalagi itu terjadi di hadapannya, rasanya benar-benar geram hingga dia mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan kekesalannya. Jika saja ada korban, maka dia ingin melampiaskan kekesalan yang dirasakannya dengan mencakar-cakar dan mencabik korban itu.
"Gimana aku ga manggil kamu setan mesum?!" ujar Tara menyerukan kekesalan dan ketidaksukaannya, rasanya sangat jengah setelah menyeka bibirnya dengan punggung tangannya. Ia masih berusaha mengatur napasnya, meraih puing-puing udara untuk kembali mengisi paru-parunya.
Sejenak Sammuel menahan tatapannya pada wajah yang telah meringis menahan rasa malu itu. “Tanggung disebut mesum mending sekalian lebih mesum bukan?"
Tara tertegun dalam kejengahannya yang tidak mampu menepis perlakuan pria tampan yang memiliki wajah serupa dengan seseorang itu. Benar-benar kulit muka tebal, tak tahu malu.
"Lo sinting, Sam. Nyerang cewek lo kaya gitu." Andre menginterupsi ketika sepasang insan di hadapannya saling termenung meresapi sisa cumbuannya.
"Sirik aja lo, suka-suka gue dong, cewek gue ini, bukan cewek lo!” balas Sammuel berseru gurau, namun rupanya membuat wanita di sampingnya keliru mengartikannya. Tara mengira jika ucapan itu adalah sebagai pengakuan hubungannya.
"Lo bikin gue meriang tau ga?" sahut Nicky, memberkan ledekan dan menggoda Sammuel dengan tawa kecilnya, itu membuat sang sahabat membalasnya dengan tawa kejinya.
"Nyari pasangan lah, cunguk!" sahut Sammuel sebal. Namun kini sebelah tangannya kembali merangkul pinggang wanita yang masih menatapnya penuh lirihan. "Kenapa lo liat gue kaya gitu?"
"Aku baru sadar, Tuan licik ini berani juga masukin aku ke room, ga takut duitnya masuk ke perusahaan apa?" sahut Tara yang kalimatnya jelas mencibir, namun mendapat balasan tawa kecil dari pria yang masih setia merangkulnya.
"Kali-kali lah gue bayar, jangan gratisan terus,” sahut Sammuel tak acuh mengabaikan decakan ledek dari wanita itu.
"Aku anggap ini candaan bukan sindirian."
"Ga seneng? Apa gue harus bawa lo ke tempat lain biar seneng?" rajuk Sammuel, ia menggunakan kesempatannya untuk mengajak keluar wanita yang di ketahuinya sulit berinteraksi dengan dunia luar itu.
"Alesan!” Tara mendengus tegas. “Bukan biar aku seneng, tapi biar kamu ga keluar duit banyak. Benerkan, Tuan licik?" Meski menyindir, nada bicaranya melembut membuat sang pria tidak tahan jika tidak menggodanya.
"Bener banget!” balas Sammuel tak kalah tegas, tanpa merasa malu sama sekali malah mengiyakan apa yang wanita itu katakan. “So mau di sini apa di luar?" imbuhnya merajuk dengan mencolek dagu wanitanya berharap persetujuan terlontar dari mulutnya.
__ADS_1
Tara tidak menjawabnya melainkan menatap tajam wajah Sammuel dalam pelototannya. Bahkan dia sama sekali tak berbicara dengan serius, apa-apaan pria ini?
Sammuel terkekeh pelan, menyembunyikan kekecewaan atas penolakan berulang itu seraya menatap jam tangannya. "Udah sejam lewat 4 menit 10 detik,” ucapnya mengingatkan sang wanita pada janjinya.
"Berisik ah, males aku ladenin candaan kamu!” pekik Tara, bersilat lidah mencari alasan yang tak bertuah membuat Sammuel mengembuskan napas kasarnya.
Rupanya ia telah kesulitan membujuk seorang wanita yang tidak pernah dilakukannya seumur hidupnya, lantaran biasanya sang wanitalah yang menyerahkan diri secara cuma-cuma padanya. Tak pernah sebelumnya dia melakukan bujukan pada seorang wanita, sesuatu yang biasanya dan selama ini secara langsung dianggap tabu.
Kehabisan cara, Sammuel menarik wajah jelita itu hingga menjepit dagunya dengan dua jari tangan kanannya.
"Art Tara, serah lo mau mikir apa, yang jelas gue mau lo keluar dari room ini sekarang juga!" seru Sammuel bersungguh-sungguh hingga ia memaparkan tatapan yang penuh aura kegelapan, tentu saja hal itu membuat wanitanya tertegun merasakan hawa asing darinya.
"Ka ... kamu, kamu mau aku ngehindar dari si Jasmin ya?" Seru Tara terbata-bata tatkala matanya berhasil terintimidasi tatapan kelam itu, hingga ia mencoba menepis tangan dari dagunya meski tidak membuahkan hasil agar ia mampu menepis tatapan menakutkan itu.
"Ga!" kata Sammuel tegas, setegas tatapannya yang kian ganas.
Tara melirih merasakan aura mencekam itu semakin menusuk sanubarinya hingga mendesak bulir bening yang membuat matanya berkaca-kaca.
Sammuel terkejut melihat mata bergenang air payau itu, ia segera melepas jepitan jemarinya pada dagu itu. “Makan aja oke? Si Nicky juga ikut, jadi lo ga usah takut," imbuhnya kian merajuk hingga membelai pipi setengah cubby itu dengan punggung telunjuknya, meredakan mata yang berkaca itu dengan penuh penyesalan.
Tara membisu, pasalnya saat ini sifat penakut serta pengecutnya menyeruak dari dalam benaknya, setelah mendapat aura mencekam dari pria yang masih setia mengelus pipinya membuat tubuhnya bergetar takut.
"Makan kopi?" Tara melirih membuat tawa Sammuel meledak. Wanita itu merasa heran dengan perubahan itu, apanya yang lucu? Tapi pada akhirnya, rasa takut itu enyah darinya setelah mendengar tawa itu. "Hei, setan mesum, kenapa ketawa?!" seru Tara malu-malu hingga mengguncang tubuh pria yang masih tertawa itu dalam senyuman kikuknya.
"Makan kopi apa minum kopi? Kalo makan kopi berarti makan ampasnya atau buahnya, kalau makan buahnya gue ga sanggup, sayang. Masa harus ke kebun malem-malem gini?" seru Sammuel mencari kesempatan membujuk wanita penuh keteguhan hati itu dengan mengelus puncak kepalanya. Baru saat inilah Tara sadar kikuknya dia, karena terlalu takut dan gugup, dirinya malah salah bicara. Tak ada kata-kata yang menjadi pembelaan sehingga wanita itu tak membalas perkataan itu.
"A ... aku ganti baju dulu," sahut Tara terbata-bata, lantas tanpa berpikir ia beranjak untuk segera menghindari situasi canggung itu.
"Jadi ke kebun kah?" sindir Sammuel denan nada yang melengking saat tubuh wanita itu tengah sedikit menjauhinya dalam langkahnya. Tara mengabaikan ucapan itu, ia tergesa mengayunkan kakinya hingga hilang di balik pintu ruang tersebut. Sammuel hanya geleng-geleng saja dengan tingkah wanita itu.
Sedang Sammuel bangkit berdiri, ia merogoh saku celananya mengambil dompetnya dari dalam sana.
Di bukanya dompet itu lantas diambilnya sesuatu dari dalam sana. "Gue cabut duluan!" seru Sammuel tat kala ia berhasil melempar selembaran kertas berwarna merah ke atas meja. Lantas menatap isyarat wajah yang Nicky paparkan, itu segera mendapat anggukan dari empunya.
"Marahan lo sama cewek lo?" tanya Andre dengan tak acuh meraih selembaran uang itu tanpa ragu ataupun berbasa-busuk.
"Marahan apanya? Dia pengen nyari suasana baru," sahut Sammuel membalas dengan riangnya ketika hati berpikir jika ia telah berhasil melakukan tugasnya.
"Oke deh good luck." Adit tertawa di akhir kalimatnya, menyikapi perkataan Sammuel dengan pikiran ambigunya.
Sammuel menatap arah di mana Paulin berada, ia semakin ingin memancingnya setelah melihat wajah wanita itu yang memerah.
"Gue yakin kalian ngarep tuh cewek jadi cewek lo lo pada sekarang!” seru Sammuel, ia berucap mengancam menatap bergantian ke arah Daniel serta Andre.
"Tau aja lo," sahut Andre.
"Inget aja, kalian berani ngusik cewek gue, jangan nyesel kalau tiba-tiba nyawa lo melayang, bahkan kalian ga bakal tahu gimana caranya kalian mati," tutur Sammuel tegas, ancamannya menusuk, kini kembali menatap kejam wajah Paulin.
Paulin hanya mampu membisu dalam tubuhnya yang semakin membeku setelah melirik sejenak tatapan iblis yang memancarkan aura gelapnya itu.
"Lo beneran jalan sama dia?" tanya Daniel menatap teguh wajah Sammuel, mengharap jawaban pasti di dapatinya.
"Masih usaha," sahut Sammuel yang membuat seluruh rekan prianya menggelengkan kepalanya.
"Perlu bantuan ga bro? Dia tuh cewek paling susah di deketin,” ucap Adit.
"Emang, ga murahan kaya cewek kalian," sindir Sammuel yang kembali membuat Paulin tertegun.
Saat itu, perbincangan terhenti ketika Tara kembali dengan pakaian santainya, ia mengenakan celana jeans panjang serta kaos putih fresh body berlengan panjang di lengkapi sepatu putihnya, semua itu membuat seluruh pria yang berada di dalam ruang itu memusatkan pandangan pada lelukan tubuhnya yang tercetak di balik pakaiannya.
Tanpa banyak bicara, Sammuel segera berpamitan kepada rekannya untuk mengajak wanitanya keluar ruang tersebut. Begitu pula dengan Nicky yang langsung membuntuti langkah Sammuel.
Sementara seluruh rekan lelaki yang berada di ruang tersebut menyorakinya, lain dengan para wanita yang menjadi pasangan dari lelaki itu memaparkan wajah kejutannya di mana mereka baru pertama kali melihat Tara sudi bekerja di luar tempat tersebut. Mungkinkah Tara benar kekasihnya? Hanya Author dan mereka yang tahu itu.
•
__ADS_1
•
•