Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 108


__ADS_3

Pagi menepi, menyambut hari yang berseri. Namun mentari yang mulai melepas sinar ultravioletnya mengiringi batin Sammuel yang telah duduk gagah di atas sofa yang terletak di dalam sebuah ruang sederhana kediaman sahabatnya.


Di sana! Sammuel berbincang dengan rekannya.


"Sam lo yakin nolak saham gue?" Ucap Raymond berbasa-basi menyambut rekannya yang telah menghempas asap rokok dari mulutnya dengan kasarnya seolah sambutan tegas berseru pada kalimatnya.


"Hmm, kenapa?" Sahut Sammuel memancing. Nyatanya, ia yakin perbincangannya akan membuat hatinya bergejolak.


"Baguslah gue lega dengernya." Balas Raymond penuh kesungguhan hati membuat sahabat yang duduk besebrangan dengannya menatapnya penuh kepiluan.


"Lo yang maksa malah lo yang lega?" Seru Sammuel kian memancing maksud dari tatapan bersungguh yang menyorot tajam wajahnya.


"Gue punya rahasia di baliknya, apa lo mau tau?" Raymond melirih, terdengan dari nada bicaranya yang merancu membuat sang sahabat menatapnya tidak percaya jika lirihan itu akan tertutur dari seorang Raymond Syahputra yang terkenal dengan sikap cerianya.


"Ogah! Bukan urusan gue." Tolak Sammuel pekat, menyembunyikan suatu rahasia dalam benaknya namun rupanya membuat pria itu memaparkan wajah kecewanya.


"Kalo gue ngomongin soal cewenya kakak lo gimana?" Pinta Raymond berseru teguh kala sang hati masih menginginkan mendapat kemenangan dari calon anak tirinya.


"Siapa? Si Fiona?"


"Mantan LC the views." Sahut Raymond berhasil membuat jantung lawan bicaranya berkedut nyeri.


"Kenapa ngomong sama gue? Lo ngomong gih sama si Jack." Tolaknya tanpa basa-basi enggan orang lain mengetahui jika ia menginginkan sang istri hingga kerancuan meluncur dari hembusan asap rokoknya.


"Dia ga peduli sama cewenya, gue udah nyoba ngancem dia pake tuh cewe." Sahut Raymond memperjelas maksud hati yang sesungguhnya benar adanya jika ia telah meminta bantuan kakak dari sahabatnya sebelum pada pria yang kini menatapnya penuh cibiran.


"Lah si Jack aja ga peduli yang cowonya, kenapa gue harus peduli yang bukan siapa-siapanya?" Balas Sammuel mulai gelisah hingga tanpa terasa tangannya terulur meraih cangkir kopi yang tersedia bahkan meneguk isinya dengan tergesa berusaha menenangkan batinnya yang melirih membuat sang sahabat tersenyum miris melihat gerakan seruputan itu yang menyembunyikan kekhawatirannya di sana.


"Gue denger dia megang tender titanium?" Ujar Raymon di sambut sang sahabat dengan wajah tegasnya.


Hingga kini Sammuel masih memperhatikan gerakan matanya, mencari jawaban dari kejanggalannya. "Nyampe juga kabar itu sama lo?"


"Gue juga denger dia di paksa megang tender platinum." Sambung Raymond berhasil membuat sahabatnya kian menyorot tajam wajah gelisahnya.


"Tau dari mana lo?"


"Guo Ming Shen, mantannya si Tara itu orang paling licik yang pernah gue liat." Sahut Raymond berseru emosi hingga ia mengeratkan rahangnya di akhir kalimatnya membuat sahabatnya mendapat jawaban atas emosinya.


Sammuel menyibak jika pria yang masih meluncurkan wajah emosinya di sebrangnya menaruh dendam pada orang yang di sebutkannya.


"Ga usah lo kasih tau juga gue udah tau." Balas Sammuel memahami batinnya yang telah mendapat jawaban atas pancingannya membuat pria yang kini menyeruput kopinya mulai merubah mimik wajah emosinya dengan sebuah lirihan.


"Gue saranin lo jangan terima saham dari si Steven, kakak kandung gue lo masih inget kan?"


"Biar lo yang dapet sahamnya gitu?" Terka Sammuel mencibir dengan tawa kecilnya namun mendapat balasan gelengan kepala oleh pria di hadapannya.


"Dari gue juga jangan, apa lagi kali si Tara megang tender platinum, bisa ancur tuh cewe." Balas Raymond penuh kesungguhan terlihat daei sorot matanya yang berpancar kejujuran.


"Apa hubungannya bangke?" Seru Sammuel bersahut menghibur kala sang hati mulai iba terhadap pria yang kini menyeruput kopinya.

__ADS_1


"Si Guo pengen bikin gue sama si Tara jadi kambing hitam, kalo lo terima saham dari gue atau dari si Steven dia pasti ancurin tender itu seolah si Tara yang bikin." Jelas Raymond menjabarkan sesuatu yang seharusnya menjadi rahasia ibunya membuat sang sahabat memicingkan matanya.


Sammuel telah mengetahui sikap dari pria yang selalu menjadi pelindungnya. Kini, ia telah merasakannya kembali jika sahabatnya masih berpihak kepadanya.


"Ngapain juga tuh orang mau ancurin cewe kaya si Tara?" Pancingan demi pancingan dalam picingan mata Sammuel semakin jelas terasa jika saja lawan bicaranya mampu menyibaknya.


"Karna dia masih nyimpen dendam sama si Tara, sampe sekarang aja dia masih nyuruh orang buat nguntit tuh cewe." Jawab Raymond membuat jantung Sammuel berkedut kejut, namun dengan sigap ia menyembunyikan rasa itu di balik senyuman bengisnya.


"Lo mending ngomong sama si Jack deh." Kilah Sammuel melepas tanggung jawabnya pada kakaknya saat hampir saja ia yang masuk dalam jebakannya sendiri.


"Udah gue bilang dia ga mau denger!” Sahut Raymond mengingatkan ucapannya saat lalu. “Kalo lo mau tau tiap rencana si Guo atau bokap gue, gue bisa kerja sama sama lo, cuma gue butuh dukungan biar ga ancur entarnya." Kembali tatapan tulus tanpa dusta itu terpampang darinya.


"Lo__ mau mancing gue?" Akhirnya setelah jawaban di dapatinya, dengan mudah Sammuel melepas kejanggalannya.


"Jujur emang iya, gue butuh si Tara ngurus tender villa gue. Kalo dia berhasil gue bisa lari dari si Guo, bisa batalin juga pernikahan sama nyokapnya." Seru Raymod bersungguh-sungguh kala ia menatap harap wajah sahabatnya dalam dengusan napas lirihannya. "Lo ga tau kan kalo gue di masukin pemegang saham sama dia biar si Cakra ga terlibat kasus korupsi di perusahaan lo?"


Sudahlah, Sammuel tidak melihat niat busuk darinya hingga iapun menyambut niat baik sahabatnya. "Yang ini gue tertarik, selama ga berhubungan sama cewe manapun."


"Oke gue bisa jadi partner lo, asal yang tadi, tender gue mau cewe itu yang megang." Pinta Raymond memaksakan sang hati hingga harapan kembali tersirat dari wajahnya.


"Setuju, tapi gue ga yakin lo ga nyimpen rencana busuk." Sesungguhnya Sammuel hanya berceloteh ringan, namun di balas kesungguhan oleh lawan bicaranya.


"Percaya sama gue, lo bisa selidiki gue suruh si Hans." Jawab Raymond penuh antusias yanng terdengar dari nada bicara tegasnya.


"Lo yakin bisa lapor gue semua kegiatan si Guo?" Ini sesungguhnya yang ingin di katakan Sammuel sejak saat lalu.


"Oke gue setuju!" Putus Sammuel pekat sepekat batinnya yang telah membayang wajah istrinya di sana hingga sejenak ia tersenyum menyertai rasa kagum pada bayangan wajah itu.


"Buat tanda terimakasih gue, gue kasih tau satu hal, lo harus milih antara si Tara megang tender atau saham dari si Steven, gue saranin mending lo terima saham si Steve biar lo ga lengah kalo kalo dia nyari kandidat lain buat di jadiin kambing hitam kaya gue." Jabar Raymond penuh kejujuran hingga telunjuk jenjangnya mengacung ke arah sahabatnya seolah ancaman pekat tersirat di baliknya.


Sammuel hanya mengangguk seraya memutar isi kepalanya untuk segera mengatur siasat dari jawaban perbincangannya saat ini.



Ombak mengayun menyentuh pepohonan, mentari berpancar sinar menyengat dedaunan nyiur di tepi pantai Anyer sore itu. Jackson telah duduk di atas pasir putih setelah puas melepas penatnya dengan pertunjukannya di atas papan selancar satu jam yang lalu.


Kini ia telah berselonjor kaki dengan kedua tangan di belakang tubuhnya menumpu sandarannya, di sampingnya Kelvin yang selalu mengikuti kegiatannya tengah duduk bersila di sana.


"Barusan gue dapet informasi dari mata-mata lo, dua penguntit cowo itu udah mereka sekap di bescamp." Seru Kelvin di balas anggukan faham oleh sahabatnya.


"Masih belum tau siapa yang nyuruhnya?" Tanya Jackson memastikan terkaannya selama beberapa bulan ini yang tertuju pada seorang pria berwajah garang.


"Guo Ming Shen." Singkat Kelvin namun membuat Jackson menyeringai penuh cibiran.


"Udah ketebak__" Jackson menyenggal katanya, menatap wanita yang berdiri sampingnya yang telah menyodorkan minuman botol kepadanya. "Pasti dia pelakunya. Dia yang udah bikin cewe gue menderita." Imbuhnya penuh dendam mengingat rasa iba pada sang kekasih hati menyeruak dari dalam asanya. "Thanks Rena." Ucapnya untuk wanita yang telah nemberikan sebotol minuman kepadanya tak lantas mendapat balasan senyuman dari wanita yang telah berdiri tegap di sampingnya.


"Lo ga cape apa ngurusin ade-ade lo?" Seru Kelvin menatap lekat wajah sahabatnya, menggeleng tidak percaya atas tingkah pria yang masih meneguk minumannya tanpa jeda hingga air itu tandas dari dalam tempatnya.


"Mereka yang libatin gue, tanggung ya gue sambut aja sekalian. Gue juga harus tuntasin semuanya kan?" Sahut Jackson menyeringai keji membuat pria di sampingnya bergidik ngeri.

__ADS_1


"Apa lo masih berat lepasin bini ade lo?"


Jackson menyerukan jawabannya di dalam batinnya jika ia masih tidak mampu menerka sang hati yang masih menginginkan wanita yang kini memiliki status sebagai kekasihnya itu.


"Jangan bilang lo masih berat!" Tanya Kelvin menerka pekat setelah menilik dari raut wajah yang terlihat kacau di sampingnya.


"Rena, sorry ambilin rokok gue di tas gue, sama kricketnya juga ya." Kilah Jackson mengabaikan ucapan sahabatnya yang kian membuat hatinya melirih di dalam sana tak lantas mengarahkan pandangannya ke belakangnya di mana Rena berdiri tegap di sana, menepis pandangan sahabatnya yang masih menatapnya penuh heran.


"Eh cunguk, jangan-jangan beneran lo masih berat lepasin bini ade lo." Cetus Kelvin memastikan gemas seraya memukul bahu sahabatnya dengan botol minuman yang berada pada genggamannya sedari tadi.


"Bini ade gue yang mana? Si Fiona?" Dengan santainya Jackson menghapus jejak itu menyangkal ungkapan yang membuat sahabatnya tersenyum miris.


"An**r lo bangke juga, yang udah married cuma si Sam kan?" Balas Kelvin melenting namun mendapat balasan tawa geli dari sahabatnya yang masih berusaha menyangkal hatinya.


"Belom waktunya!" Jawab Jackson yang tidak memuaskan sama sekali bagi sahabatnya. "Gue pengen lepasin dia tanpa bikin dia sakit." Imbuhnya menyahut lirih hingga tatapannya berpencar entah ke mana.


"Lo tau kan dia ga mau sama lo, tinggal lo lepasin pasti dia langsung setuju. Ga akan bikin sakit hati dia." Paksa Kelvin terpenggal kala seorang wanita yang mendapat titah atasannya menghampirinya untuk menyerahkan apa yang di minta sahabatnya saat lalu.


"Ren suruh kakak lo gabung di sini." Titah Jackson yang mendapat anggukan keras dari wanita itu. "Soal lepasin_" Serunya untuk sahabat yang terpenggal kala mulutnya sibuk menyulut batang rokoknya. "Emang gampang, tapi gue mau nunggu sampe si bangke Sam ngungkapin perasaannya sama dia." Imbuhnya berakhir dengan hembusan kasar asap rokoknya yang mengiringi kerancuannya.


"Gue rasa soal si Sam lebih gampang banding si Hans." Ujar Kelvin berseru ledek mengingat sesuatu tentang apa yang di katakannya adalah sebuah titah dari sahabatnya yang selalu memantau kisah asmara mereka.


"Nah itu yang susah, ga ada harapan sama sekali." Sahut Jackson melirih dan berakhir begitu saja kala seorang pria menghampirinya.


"Boss, lo mau gue gabung buat nanyain soal si Hans?" Sapa Reno menginterupsi saat setelah ia menguping sejenak perbincangan dari dua pria yang telah menganggukkan kepalanya.


"Gimana perkembangannya?" Tanya Jackson menatap harap sebuah jawaban pasti pada wajah pengawalnya yang sudah mendaratkan tubuhnya di sampingnya.


"Kacau! Mending lo ga usah ikut campur masalah dia dulu deh." Seru Reno merancu membuat kedua pria yang duduk mengimpit tubuhnya menatapnya penuh janggalan.


"Kenapa emangnya?" Tanya Jackson penasaran hingga membuat pasang matanya menyorot tajam ke arah pengawalnya yang telah meraih bungkusan rokok miliknya.


"Rencana lo malah bikin si Fiona makin di jauhin si Hanson." Jelas Reno membuat sang atasan terpaku membisu meresapi kenyataan yang membuatnya di haruskan mengatur siasatnya kembali.


"Tanggung jauh lah, gue bikin jauh aja sekalian." Putus Jackson tegas setegas sebuah tangan yang berhasil mendaratkan pukulan ringannya pada tungkak kepalanya.


"Jack lo ga bisa lindungin semua, percaya sama gue, lo cukup sampe di sini aja bantuin mereka." Pinta Kelvin berteguh hati seteguh keinginannya agar sang sahabat mengabulkannya tanpa pelantara. Namun,


"Udah gue bilang tanggung gue terlibat!" Tepis Jackson di sela tangannya yang telah berhasil mengusap puncak kepalanya seolah menghapus jejak tamparan sahabatnya saat lalu. Nyatanya, ia meluapkan rasa frustasinya pada bagian tubuhnya.


Kelvin serta Reno hanya mampu menggelengkan kepalanya yang sudah dapat di terkanya bujukannya tidak akan pernah mendapat keberhasilan jika si keras kepala ini sebagai objeknya.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2