
Udara pagi membaur mengantar kabut hari yang masih dini menelusup ke dalam ruang tidur bangunan mewah Apartemet bernama Laseason itu.
Sebuah kejutan menghampiri Tara, menyambut awal harinya kala ia baru saja melepas kelopak matanya, sang suami telah hilang dari sampingnya.
"Kabur lagi gitu?" Ia bermonolog, membawa kerancuan batinnya dengan segera beranjak dari atas tempat tidurnya.
Tanpa ingin mencari tau selebihnya yang sudah menjadi kebiasaannya jika sang suami kerap melarikan diri tanpa pamit, ia segera mengayunkan kakinya menuju ruang tempatnya membersihkan dirinya.
Kala pintu ruang tempat membersihkan diri itu terbuka lebar, sudut bibirnya tertarik jauh kala melihat sang suami berdiri di sana tanpa busana yang membalut tubuhnya membuat sang suami berprasangka lain jika senyuman itu tersirat untuk tubuh indahnya.
Memang benar adanya, meski bukan untuk yang pertama kalinya, tetap saja kelopak mata Tara terbuka lebar kala melihat tubuh suaminya yang masih terdapat tetesan air di sana membuat Sammuel sengaja menggodanya, ia membiarkan istrinya berlama-lama menatap tubuh berbentuknya.
Sammuel memaparkan senyum iblisnya kala sang istri menyudutkan pandangannya pada bibir tipisnya.
"Udah kenyang?" Ujar Sammuel memecah pandangan istrinya dengan melingkarkan handuk yang telah berada di tangannya pada pinggangnya, menggaitkannya di sana melerai aksi kejutan istrinya.
Tara malu hingga ia segera memutar tubuhnya, namun Sammuel meraih tangannya hingga membuatnya menghadapnya.
Kini sepasang mata itu saling menatap, memaparkan kekaguman pada setiap masing-masingnya.
Deru napas berbau mint itu, menyapu wajah Tara yang masih menikmati tatapannya membuat lidahnya kelu tanpa ingin berseru yang akan mengganggu penglihatannya yang di rasanya langka di dapatkannya.
"Mau ke mana?" Cegah Sammuel menyorot mata istrinya dengan aura sensualnya.
"Keluar." Balas Tara mengatasi rasa malunya dengan menundukan wajahnya enggan terintimidasi oleh tatapan suaminya yang kini suaminya malah meraih kedua tangannya, meletakkannya pada lehernya.
__ADS_1
"Semalem kurang ya?" Ujar Tara penuh godaan penyangkalan.
Namun, Sammuel mengabaikan perkataan istrinya lantaran gairah telah kembali menggores hasratnya hingga ia mendekap erat tubuh istrinya.
"Dia mau sentuhan bibir pedes lo ini." Pinta Sammuel penuh rayuan, di lengkapi dengan sang ibu jari yang menyentuh bibir istrinya.
Akhirnya Tara berserah diri, kembali mengabulkan keinginan sang suami.
Hingga pada akhirnya, sebuah kecupan mendarat dari bibir Sammuel pada bibir istrinya sebagai pelengkap rasa terimakasihnya, tak lantas Sammuel membawa istrinya untuk bangkit dan mendekapnya dengan eratnya. Namun rupanya Tara menepis dekapan itu dengan kasarnya.
"Art Tara." Kejut Sammuel semakin mengeratkan dekapannya, ia menerka jika istrinya berontak atas perlakuannya.
"Aku pengen kencing dodol." Sahut Tara membuat dekapan itu terlepas seketika. Lantas ia segera beranjak menuju closet yang tersedia di sana.
Bermenit kemudian, Tara sudah berdiri di samping ruang kaca itu. Sammuel yang melihatnya, ia segera membawa tubuh istrinya dalam pangkuannya. Membawanya menuju ruang kaca itu, lantas mengguyur Tara dengan air yang mengalir dari tempatnya itu meski Tara masih mengenakan pakaian tidurnya.
"Kamu gila Sam! Ga buka dulu bajunya apa?" Protes Tara bersungut-sungut namun tetap ia melepas satu persatu kancing piyamanya.
Sammuel terkekeh, lantas membantu istrinya melepas pakaiannya hingga seluruhnya menanggal dari tubuhnya.
Selepasnya, Tara mulai melakukan kegiatannya untuk mengoleskan sabun pewangi pada rambutnya, lantas iapun mengoleskan sabun pada tubuhnya.
"Sam tumben kamu bangun pagi gini?" Janggal Tara di sela kegiatan mandinya yang mendapat kekacauan dari gerakan tangan suaminya.
"Udah 3 bulan gue ga ke kantor, pasti banyak kerjaan." Sahut Sammuel tanpa melepas gerakan tangannya.
__ADS_1
"Ya udah kalo gitu sana kamu siap-siap dulu." Usir Tara tanpa ragu. Meski Sammuel mengganggunya, ia tidak menyenggalnya sedikitpun melainkan ia meresapinya penuh bayangan.
"Tar dulu ah, lagi asyik gini." Ujar Sammuel yang masih mempermainkan sesuatu di sana membuat sang istri menepuk keras tangannya, merasa malu sendiri dengan ucapan suaminya.
"Aku juga harus cepet-cepet siapin sarapan buat kamu."
Meski mendapat tepukan keras, tangan itu masih setia bermain di atas sana. "Gue sarapan di kantor aja, mending sisa waktu gue, gue pake buat dia." Sahutnya tak acuh mengabaikan titah istrinya.
Sammuel memutar tubuh istrinya hingga menghadapnya, lantas di seretnya selangkah mundur menuju di mana air mengalir di sana. Ia membantu istrinya membersihkan busa sabun dari rambutnya hingga tubuhnya.
Sesaat kemudian, tubuh Tara sudah kesat namun masih berdiri di bawah aliran air itu. Sammuel memang sengaja melakukannya untuk dapat mencumbu istrinya dengan mesranya di sana.
Suasana romantis di iringi aliran air itu, membuat Tara kembali bergejolak dalam hasratnya, bukan gairahnya yang merangkak, melainkan angannya yang selalu mengharap cinta kasihnya terbalaskan. Ia merasa jika perlakuan suaminya kini membuahkan balasan untuknya meski belum dapat di yakininya jika balasan itu dari hati terdalam suaminya.
Hanya sesaat, Sammuel menghentikan aksi cumbuannya.
Akhirnya kegiatannya berhenti sepenuhnya dengan sebuah kecupan dari Sammuel sebagai tandanya meluapkan rasa sayangnya.
•
•
•
Tbc
__ADS_1