
Pagi yang seharusnya ceria terlihat dari pancaran sinar mentari yang masuk menyinari ruang kerja Tara, namun kali ini ia kembali merasakan kegundahan hatinya.
Berjam sudah dari mulai ia menumpukan tubuhnya di atas kursi kerjanya, suaminya tak kunjung datang memperlihatkan batang hidungnya.
Kembali ia harus mencerna seluruh pekerjaannya dengan hatinya yang mericuh. Namun kehadiran Presiden Direktur di hadapannya membuat suasana hatinya sedikit melega.
"Kok sendirian?" Tanya Jackson mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan adiknya.
"Kenyataannya begini." Sahut Tara berseru ledek lantas ia bangkit dari duduknya, melangkahkan kakinya menuju tempat di mana dispenser air berada untuk menyediakan jamuan bagi tamunya.
"Kamu keberatan ga kalo megang tender premium?" Tanya Jackson kala ia berhasil berdiri di balik tubuh wanita yang kini bersibuk diri menyediakan secangkir kopi.
"Bagian apa itu?" Sahut Tara menjanggal.
"Perhotelan." Balas Jackson singkat kala sang pikiran berkumandang ingin menggunakan kesempatan emasnya, mengumbar cinta kasihnya dengan merangkul tubuh sang kekasih dalam lirihan batinnya yang terkoyak akan sebuah rencana untuk segera melepas sang kekasih kepada adiknya. Kali ini, ia berharap bukan untuk yang terakhir kalinya ia mendapatkan kenangan manis bersama sang kekasih hati.
"Jack jangan gini, kalo tiba-tiba ada orang masuk gimana?" Tolak Tara tidak enak hati bahkan tidak mampu nenepis kedua tangan yang merangkul pada pinggangnya saat kedua tangannya masih bersibuk diri dengan kegiatannya.
"Mereka udah tau kok kalo kamu cewe aku." Sahut Jackson berseru puas membuat Tara mendengus lirih, lantas memutar tubuhnya yang membuat rangkulan itu terlepas begitu saja.
"Nih." Tara menyerahkan gelas itu pada sang kekasih. Sedari tadi, ia mempersiapkan jamuan itu yang membuatnya sulit menepis rangkulan pada tubuhnya. Beruntung saja sang kekasih berhati kapas hingga dengan mudah telah melepasnya.
"Gimana? Tender premiumnya?" Tanya Jackson memastikan tegas, setegas tangannya yang berhasil meraih cangkir kopi yang di ulurkan kekasihnya.
Sejenak Tara tertegun memikirkan perjanjian dengan suaminya. Menimang-nimang antara tawaran menggiurkan itu atau kekerasan hati suaminya yang harus di pilihnya. "A-aku harus atur itu dulu, bisa kan nunggu?" Ucapnya ragu-ragu, pasalnya ia sangat ingin menerima tawaran itu. Sekali saja ia membantu lelaki yang telah mengisi hatinya selama dua tahun lamanya itu.
"Kamu boleh pikirin dulu kok." Sahut Jackson berseru penuh rayuan kala ia berhasil menyeret sebuah kursi agar dapat duduk bersebelahan dengan kekasihnya yang kini telah menatapnya penuh kekaguman. “Aku tau pasti ga mudah buat kamu.” Imbuhnya kian menggoda dengan gerakan tangannya yang berhasil menusap puncak kepala sang kekasih.
Namun rupanya Tara melirih, menyesali sang hati yang selalu saja ingin berontak menepis perlakuan hangat itu. "Oke thanks."
“Hei, kamu masih aja sungkan sama pacar kamu ini?” Ujar Jackson menghibur, ia mencoba menerka-nerka lirihan yang terpampang dari wajah anggun itu. Lantas ia meraih alat medianya dari dalam saku celananya kala ucapannya terbalas hanya dengan senyuman pahit dari kekasihnya.
Hingga pada akhirnya, sebuah panggilan ia lakukan melalui alat media itu. Lantas, “Sam di mana lo?" Ucapnya menyapa lawan bicaranya di balik alat medianya membuat wanita yang masih setia menatapnya menundukkan wajahnya menyembunyikan senyumannya.
Baguslah! Pikir Tara, sedari tadi ia ingin menghubungi suaminya, namun ia mengurungkan niatnya yang telah mengetahui sikap dingin suaminya terhadapnya.
"Di Bandung." Sahut Sammuel di sebrang sana membuat bibir kakaknya terbungkam kala mendengar jawabannya.
"Ngapain di Bandung?" Seru Jackson bertanya hanya untuk menyampaikan ucapan adiknya yang tidak terdengar kekasihnya. Ia berharap ucapannya akan memberikan jawaban bagi janggalan sang kekasih yang kini kembali tersenyum yang hanya terlihatnya oleh ujung matanya saja.
Kembali Tara menyiratkan senyumannya dalam wajahnya yang masih tertunduk, dari perkataan pria yang masih setia merangkulnya ia mengetahui di mana suaminya kini berada.
"Ngurus perumahan."
"Bukannya perumahan itu tugas bokap lo?" Ujar Jackson berseru memekikan nada bicaranya agar sang kekasih dapat mendengarnya.
"Bukan yang itu."
__ADS_1
"Bukan yang itu maksudnya yang mana kadal?" Kini Jackaon terkekeh, namun matanya masih menatap wajah yang tertunduk di sampingnya itu. Masih sengaja ia mengulang perkataan adiknya agar sang kekasih mengetahui apa yang di katakan adiknya di balik selullernya.
"Udahlah lo ga akan tau." Sahut Sammuel terabaikan kala lawan bicaranya menyenggal ucapannya.
Tara mengangkat wajahnya melirik wajah sang kekasih sejenak membuat sang empunya menepiskan arah pandangnya, enggan pancingannya di ketahui wanita di sampingnya.
"Lo ga lupa undangan Celia tar malem kan?" Kini Jackson yang menundukkan wajahnya, menyembunyikan siasatnya di sana.
"Gak lah."
"Ya udah." Seru Jackson memutuskan panggilannya sepihak, merasa perbincangannya akan membuahkan petaka baginya jika saja sang kekasih mengetahui sesuatu tentangnya yang selalu membuntuti kegiatan wanita di sampingnya serta seluruh adiknya melalui pengintainya.
"Jack, aku harus beresin tender ini lusa kan?" Seru Tara menunjuk lembaran kertas yang berada di hadapannya seraya tersenyum manis seolah memberikan tanda terima kasih kepada kekasihnya yang telah memberitahukan keadaan suaminya.
"Ini aku kasih bocorannya, moga aja bantu kamu dikit." Jackson meraih lembar kertas yang telah di hempasnya sebelumnya, menyerahkannya pada wanita itu yang langsung di raih sang wanita.
"Oke aku pelajari dulu." Hati yang sudah melega, dengan mudahnya Tara menjangkau pekerjaannya, ia memusatkan pandangannya pada kertas yang berada pada genggamannya.
"Kamu mau liat dulu prospek tender premium ga?" Tanya Jackson merajuk, namun batinnya bergeming takut hingga ia meraih gelasnya lantas menyeruput isinya, menenangkan jantungnya yang sudah berdegup tidak karuan di dalam sana.
"Ga usah lah, nanti kalo aku udah beresin ini baru bisa liat yang lain." Balas Tara menatap sang kekasih penuh lirihan. Tidak enak hati ia untuk menolaknya setelah mengingat pengorbanan pria itu.
"Gitu caranya kamu nolak secara halus dong." Sambut Jackson berseru gemas hingga ia menyentil manja kening wanita itu.
"Ya ga nolak juga." Sahut Tara berpasrah diri, kembali ia menatap lekat wajah sang kekasih hati yang mendapatkan balasan dengan tatapan kagum dari pria itu.
Jackson mengunci tatapannya, sejenak meresapinya, menyimpannya di dalam angannya, lantas tanpa di sadarinya ia mendaratkan kecupannya di atas bibir itu membuat sang empunya terperangah hingga membelalakan bola matanya.
"Kamu bababna." Sahut Tara tersenggal kala jemari itu masih berada di atas bibirnya membuat Jackson terkekeh gemas hingga akhirnya ia menghempas tangannya dari bibir itu.
"Sorry." Seru Jackson penuh penyesalan, namun bukan untuk kegiatannya melainkan untuk hatinya yang tidak mampu berpaling dari wanita yang telah menjadi adik iparnya. Kini ia menyandarkan kepalanya pada bahu kekasihnya.
"Kamu daddynya, malah nanya sama aku."
"Kan kamu mommynya." Kini sebelah tangan Jackaon mengulur melingkar di depan perut kekasihnya. Memberikan perlakuan manjanya di sana. Kapan lagi ia akan mendapatkannya hingga sejenak meresapi kegiatan romantisnya.
Kegiatan romantis itu terpenggal kala pintu ruang itu terbuka yang menampakkan seorang Pengacara di baliknya membuat Tara terperangah dalam kejutannya, mengira suaminya yang telah datang mengunjungi ruang itu.
"Kalian bukannya gawe malah mesra-mesraan di sini." Cibir Hanson di sela langkah kakinya yang masih mengayun lamban.
"Ganggu aja lo kadal, ngapain ke sini?" Protes Jackson bersungut-sungut tidak terima jika kegiatan romantisnya terpecah begitu saja. Namun tetap saja ia tidak melepas rangkulan pada perut itu, hanya melepas kepalanya dari bahu itu untuk menatap tegak wajah adiknya.
"Mau ngasih laporan penyidikan soal si Tri__"
"Bangke lo berisik!" Tebas Jackson secepat angin, ia enggan pekerjaan adiknya di ketahui kekasihnya. Kini ia menatap ke arah sampingnya penuh kegelisahan membuat sang adik mengerti apa yang harus di lakukannya.
Akhirnya Hanson berdiri di hadapan kakaknya menyerahkan map biru itu kepadanya. "Gue butuh bantuan lo Jack."
"Ya udah tar kita bahas di ruang gue." Sahut Jackson berteguh hati, seperti sedia kala ia tidak akan menolak permintaan seluruh adiknya.
__ADS_1
"Kamu mau kopi Hans?" Tawar Tara menyambut tamunya dengan bangkit berdiri.
"Ga usah." Tolak Hanson di iringi lambaian tangannya, lantas ia melangkahkan kakinya hingga duduk di atas kursi kebangsaan adiknya.
"Kalian bisa balik ga? Yang punya tempat lagi ga di sini." Usir Tara penuh candaan namun rupanya di sambut kilat oleh sang kekasih yang langsung bengkit berdiri membuatnya turut bangkit hingga berdiri saling berhadapan.
"Baru kali ini aku di usir cewe." Seru Jackson mengumbar candanya bahkan di sertai godaannya kala ia berhasil mengecup pipi setengah cubby itu sebagai salam perpisahannya. "Kuliah nanti aku yang anter kan?"
"Hmm." Sahut Tara mengangguk ragu, pasalnya ia menyesali permintaan itu yang telah membuat suaminya pergi begitu saja untuk kesekian kalinya.
"Oke kalo gitu kencannya juga ga lupa kan?" Tanya Jackson seolah memastikan. Nyatanya, ia hanya menghibur wajah yang telah merancu di hadapannya membuat adiknya yang masih berada di sekitar menggelengkan kepalanya.
"Iya ga lupa, kamu mending balik kerja sana." Usir Tara tak lantas mendorong punggung kekasihnya dengan kedua tangannya membuat sang kekasih terkekeh gemas.
Di depan pintu sana, Jackson kembali menyiratkan rayuannya membuat mereka berlama di sana.
Dalam waktu senggangnya, Hanson rupanya tidak sengaja melihat secarik kertas bertuliskan surat perjanjian pernikahan adiknya dengan wanita yang kini tengah bermesraan dengan kakaknya di hadapannya.
Di cernanya barisan kalimat yang tersirat di atas lembar kertas itu hingga membuatnya menggelengkan kepalanya tidak percaya jika sang adik di terkanya tidak memiliki ketertarikan sama sekali terhadap wanita yang masih bermesraan di balik pintu ruang itu.
Sesungguhnya, Hanson telah keliru melihat lembar kertas itu. Pada kenyataannya, surat perjanjian yang tergeletak di atas meja kebangsaan adiknya adalah surat perjanjian awal mereka menempuh hidup bersama. Tidak di ketahuinya jika perjanjian pernikahan mereka telah berubah. Pasalnya Sammuel telah menyimpan rapat surat perjanjian baru itu pada sebuah tempat yang tidak pernah terjamah orang lain.
Kini, setelah membaca seluruh isinya, Hanson menyiratkan senyum lebarnya mendapatkan kemenangannya yang telah memiliki kesempatan emasnya. Lantas ia bangkit memburu langkahnya hingga menabrak dua insan yang masih bermesraan itu. Sekilas Hanson menatap harap wajah Tara dalam senyumannya yang melebar, lalu melanjutkan langkahnya hingga hilang dari hadapan dua insan itu.
Rupanya, langkahnya menepi di dalam ruang kebangsaannya hingga menghadap kekasihnya yang telah menyambut kehadirannya dengan senyumannya.
"Gue saranin lo mending putusin hubungan tunangan kita." Ujar Hanson berseru tegas, setegas tatapannya pada wanita yang di hadapannya yang telah menatapnya penuh kejutan. "Gue siap nanggung konpensasinya."
"Kenapa?" Sahut Fiona melirih, menggundam sejuta pedih yang di dapatinya dari ucapan yang selalu ingin di hindarinya.
"Gue udah jatuh cinta sama Tara." Ungkap Hanson di sambut sang kekasih dengan bangkit berdiri menopangkan kedua tangannya di atas meja tak lantas menatapnya tidak percaya.
"Dia ga cinta sama kamu Hans."
"Gue tau, itu sakit banget." Sahut Hanson bergeming nyeri hingga menghembuskan napas kasarnya, menyiratkan rasa sesalnya dalam helaannya. "Makanya gue ga mau nyakitin lo lebih dari ini."
"Hans_" sahut Fiona terpenggal kala bulir bening mulai mendesak mata indahnya hingga membuat tenggorokannya tercekat napas rancunya. "Aku ga akan putisin hubungan kita!"
"Oke tapi di atas materai, lo ga bisa dapetin hati gue sampe kapanpun." Sahut Hanson penuh ancaman di pertegas dengan telunjuk jenjangnya yang mengacung di depan hidung wanita di hadapannya. "Dan lagi, lo ga bisa larang gue kalo aja gue jadian sama dia." Putusnya mengakhiri pertemuan naasnya. Lantas tanpa acuh ia memutar tubuhnya, melangkahkan kakinya memunggungi wanita itu, mencegah hatinya agar tidak goyah setelah melihat mata yang berkaca-kaca itu.
"Oke aku setuju!" Putus Fiona terdengar tegas, namun bibirnya bergetar mengiringi air payau yang telah berhasil meluncur dari sudut mata indahnya.
Fiona menggundam asa yang terluka, menjerit pedih di dalam asmanya. Sungguh kisah cintanya membuatnya selalu mendapat goresan dalam hatinya. Namun ia masih tak gentar untuk tetap berusaha menggapai keinginannya.
•
•
•
__ADS_1
Tbc