
Senja membayang, awan jingga mulai menyelimuti langit, udara menyemburkan hawa hangatnya sengahat hati Tara yang telah berbahagia atas pertemuannya dengan seorang gadis cilik.
Di dalam ruang tamu kediaman seorang pengusaha Entertaint ternama dalam negri, Tara tengah duduk di atas sofa yang tersedia di dampingi sang suami tercinta yang duduk tepat di sampingnya.
Tara tersenyum riang kala meresapi keadaannya yang terasa seperti pasangan suami istri yang baru saja memiliki momongan.
"Kamu ga mau punya anak gitu?" tanya Tara kepada siaminya untuk memancing keinginan sang suami yang telah menatapnya penuh rasa heran itu.
"Nikah dulu kali." Sammuel menimpal tidak jelas kala sorotan tajam dari mata istrinya menusuk batinnya yang menyerukan rasa gemasnya terhadap dahi yang mengkerut itu.
"Kan udah!"
"Aihhhh.. nikah beneran lah." Masih saja Sammuel gemas di buatnya hingga ia sengaja menggoda istrinya.
Tara mendengus sebal menanggapi ucapan yang begitu menyinggungnya itu. "Emang yang kemaren bukan beneran apa?" ujarnya memekik lantang seolah menantang harimau yang telah siap menerkam.
Sammuel terkejut dengan tingkah sang istri yang kian berani meninggikan nada suaranya kala berbincang dengannya, namun bukan emosi yang di dapatinya, melainkan rasa takut yang mulai menggores angannya.
"Bu-bukan gitu manksudnya_" ucap Sammuel terbata-bata kala ia kesulitan mendapat alasan untuk menimpali ucapan sang istri.
Beruntung suara langkah kaki dari samping mereka terdengar nyaring hingga membuat mereka mengarahkan tatapannya pada asal suara tersebut di mana Jackson telah berjalan lamban di sana.
Jackson menyeringai miris menatap keadaan romantis yang tertangkap pasang matanya hingga membuat batinnya meringis merasakan pedih yang mendalam mengingat jika sang kekasih telah terlepas dari genggamannya.
"Kamu masih tinggal di sini Art?" tanya Jackson penasaran hingga menatap wajah kekasihnya dengan tatapan harapannya.
"Aku cuma mau ketemu anak kamu aja kok," balas Tara menjelaskan penuh kejujuran, namun membuat Jackson melenguh keras kala mengingat jika sang anak akan berpisah dengannya.
Batin Jackson meringis bahkan menyulut emosi yang terpicu dari rasa penyesalannya hingga membuatnya menghempaskan tubuhnya di atas sofa dengan gaya kasarnya tak lantas menghempas keras sebuah map yang telah di bawa sertanya saat lalu ke atas meja.
Sammuel serta Tara saling menatap kala melihat gerakan dari Jackson yang di rasa mereka begitu asing di pandang mata, mereka yakin sesuatu telah terjadi pada si periang yang kini melenguh di samping kiri Tara membuat wanita itu duduk terimput dua pria pengisi hatinya.
"Bohong kamu, bilang aja mau ketemu aku." Jackson tersenyum penuh kepalsuan dalam gurauannya untuk menghibur dirinya.
Plak!
Dengan mudahnya Sammuel memukul tempurung otak kakaknya dengan tangannya yang dapat menggapainya.
"Kenapa lo?" ujar Jackson berseru emosi tak lantas menghapus jejak pukulan itu dengan telapak tangannya. "Lo jangan lupa kalo dia cewe gue."
"Lo juga jangan lupa kalo dia bini gue!" balas Sammuel tidak kalah emosinya yang membuat nada bicaranya memekik indra pendengaran para insan yang berada di sekitarnya.
Tara terpaku di sana mendengar pernyataan suaminya, memang sebelumnya ia telah mendapat berita bahwa sang kekasih telah mengetahui status hubungannya namun ia tidak mengira jika sang suami akan mengtakan bahwa mereka telah resmi menikah kepada kakak iparnya.
Sementara Sammuel memperhatikan tingkah istrinya yang masih tertunduk di sampingnya. “Dia tau kalo lo bini gue.” Tanpa pertanyaan, Sammuel melontarkan jawabannya.
“Kapan?” tanya Tara dengan tatapan herannya menuju wajah suaminya.
“Entah, tanya aja sama cowo lo,” ujar Sammuel berseru ketus membuat kedua orang di sekitarnya melontarkan tawa kecilnya.
Kini Tara mengalihkan arah pandangannya menuju samping kirinya di mana Jackson duduk di sana. “Jack.. sejak kapan?”
“Sejak kamu nikah sirih sama dia, tepatnya sih setelah kamu mengundurkan diri dari The Views,” sahut Jackson tanpa acuh mengabaikan wajah kejutan dari wanita di sanpingnya.
Tara tidak percaya jika sang kekasih hati akan begitu menggali kisah kehidupannya hingga ia mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengannya.
“Jack kamu_”
Plak!
__ADS_1
Tanpa perasaan bahkan tanpa memberi aba-aba Tara memukul keras bahu Jackson membuat sang empunya menatapnya dalam pelototan matanya.
“Kalian pasutri b*ngke, masih aja jadiin gue korban.” Jackson berucap ketus, namun tujuan hatinya hanya untuk gurauan semata.
“Korban?” ulang Tara berteriak manja di iringi tawa ledekannya. “Aku di sini yang jadi korban, kamu biarin aku rayu-rayu kamu, padahal kamu udah tau kalo aku bersuami.”
Tara malu dengan tingkahnya sendiri hingga ia melampiaskannya pada pelototan murkanya menuju wajah Jackson.
Sementara Sammuel bergerutu keji di dalam benaknya melihat pemandangan di hadapannya yang berhasil menyentuh rasa cemburunya.
“Hei, aku cuma ngikutin kemauan kalian, kurang baik apa lagi coba?” ujar Jackson di sambut gelengan kepala oleh adik keduanya.
Plak!
Kedua kalinya Tara memukul sadis lengan kekasihnya yang membuahkan rasa sakit bagi korbannya hingga Jackson meringis tak menahan rasa sakit itu tak lantas mengelus jejaknya setelah tangan wanita itu tersingkir dari sana.
“Kamu terlalu sadis sayang,” ujar Jackson kini membuat Sammuel menatapnya penuh dendam.
Perbincangan terlerai kala pasang mata dari mereka menangkap penampakan tubuh Erick serta Celia yang telah berdiri di sekitar mereka, tidak ada yang menyadari kehadiran Erick di sana kala mereka berpusat pada kegiatannya.
“Ada apa ini Jack?” tanya Erick menyapa.
“Tau nih, pasutri gila ini demen banget nyakitin abangnya,” sahut Jackson menyeleneh namun berhasil membuat Erick serta Celia terperangah dalam kejutannya.
Hanya sejenak, Erick serta Celia mengakhiri rasa kejutnya lantaran mereka sibuk pada kegiatannya yang telah berhasil duduk di atas sofa besebrangan dengan anak-anaknya.
Setelah itu, Erick serta Celia membungkam rapat mulutnya tat kala merasa jika mereka memperpanjang kejanggalannya akan membuat anak keempat mereka murka, terbukti dari keadaannya kini di mana Sammuel tertegun menyembunyikan wajah emosinya.
“Ada apa kamu ke sini?” tanya Erick kepada Jackson.
Jackson menjawabnya dengan meraih sebuah map yang tergeletak di atas meja lalu menyerahkannya kepada ayahnya, lantas tanpa banyak bicara Erick menyambutnya dengan segera meraihnya tak lantas menilik isi di baliknya.
Setelah usai membacanya tanpa mencerna isi di dalamnya yang sudah dapat di ketahuinya jika barisan kalimat yang terdapat di sana adalah pernyataan status darah Jackson dengan cucunya, lantas Erick menutup lipatan map itu dan menaruhnya di atas pangkuannya.
“Pih.. dari mana tau_”
“Gimana papimu gak tau jika berhubungan dengan anak Dwiki,” sahut Erick penuh kejujuran yang di terima Jackson dengan gelengan kepalanya.
Jackson melupakan jika sang ayah lebih pintar darinya, maka seluruh rahasianya tidak akan tertutup dengan rapatnya selama penguntit dari suruhan ayahnya mengikutinya ke manapun ia pergi.
“Apa ini lao gong?” tanya Celia penasaran tak lantas meraih map itu.
Celia pun membaca barisan kalimat yang tergores di atas kertas tak bergaris itu dengan seksama agar ia mampu menahami keseluruhannya.
Sementara Celia berpusat pada bacaannya, tiada satupun yang mampu mengucap katanya lantaran rasa penasaran Sammuel serta Tara terpampang jelas dari tatapan matanya menuju arah Celia.
Setelah usai membacanya, Celia membatin lirih hingga tanpa terasa map itu terjatuh begitu saja.
“Jack..” ucap Celia terpenggal kala getaran suaranya mengacaunya bahkan kini tangannya terprovokasi hingga menutup mulutnya dengan kedua telapaknya. “Queena..” kembali ucapannya terpenggal kala air payau berhasil mendobrak bendungan matanya hingga tanpa terasa mengalir membasahi pipinya.
Erick segera mengulurkan sebelah tangannya untuk merangkul tubuh istrinya lantas mengusap lengannya dengan telapaknya membuat sang empunya kian meluapkan tangisannya.
“Ga, ga mungkin kan Queena bukan anak kamu Jack, dia mirip begitu sama kamu,” ujar Celia di sela isak tangisnya hingga menbuat katanya terpenggal-penggal.”
“Hah!” seru Sammuel serta Tara secara bersamaan.
“Kalian tenang dulu, dengarkan alasan anak si*lan ini dulu,” tunjuk Erick menuju arah Jackson dengan sebelah tangannya yang senggang.
“Pih.. kamu yang mau jodohin anak kamu ini sama janda kaya demi uang warisan dari mantan istrimu itu, ya jelas lah aku ga mau, makanya aku nyari cewe biar bisa di bawa sandiwara,” jabar Jackson mengutarakan keluhannya penuh ketegasan diri tat kala angannya telah bergejolak ingin segera mengungkap rahasia yang telah terpendam selama dua tahun itu.
__ADS_1
Tara serta Sammuel membisu tanpa bisa berucap satu katapun untuk menimpalnya, di aamping itu Tara mencari makna dari perkataan lawan bicaranya, sedang Sammuel mengingat kegelisahan istrinya kemarin hari kala merasakan kekhawatiran terhadap si gadis cilik dan kini terpampang sudah jawabannya.
"Ya papi tau niat kamu memang baik, mau nolong mantan istrimu yang hamil di luar nikah, sedang ayah dari anaknya ga mau bertanggung jawab, tapi kamu tau, ulahmu udah bikin seseorang lari dari dosa," tutur Erick membuat Tara serta Sammuel mengangguk faham di sana.
"Bukan gitu pih." Tara menatap wajah Erick lantas mengalihkannya pada Jackson. "Jack kamu bikin Queena pisah sama mamanya, itu salah besar Jack, kamu ga tau gimana rasanya pisah sama anak?"
Tara mulai melirih yang nampak dari wajahnya yang tertunduk kaku, ia meresapi keadaannya kala sang hati bergeming mengingat keadaan dirinya yang telah tepisah bersama buah hatinya.
"Oke terserah kalian mau nganggap aku apaan, asal kamu tau dia yang minta aku cukup nikahin dia sama urus anaknya sampe dia berhasil jadi sukses," jelas Jackson menunjuk Tara dengan telunjuknya bahkan di iringi helaan napas rancunya kala sang amarah menyendat aliran pernapasannya hingga ia menjeda kalimatnya sesaat.
“Jack..” balas Tara terpenggal dengan suara Jackson yang kembali berkumandang.
"Dan kamu tau Art, uang dua milyard itu sebagai bayarannya, aku yang banyak bantu dia malah kamu nyalahin aku sekarang?" Kini nada bicara Jackson mulai memekik nyaring yang terpancing dari emosinya yang meluap tanpa tau sebabnya dari mana. "Aku rela jadi duda tanpa pernah tau rasanya punya istri, aku juga rela ngurus Queena yang bikin aku susah nyari ganti, malah aku juga ngerelain kolega buat bisnis dia, kamu masih bilang aku salah hah?"
"Jack!" Sammuel faham dengan emosi yang terpampang jelas itu membuatnya bangkit lantas menyeret istrinya hingga menjauh dari kakaknha menuju sofa lain selain yang tengah di tumpanginya.
Sementara pihak lain hanya menyimak tanpa ingin melerai ataupun melontarkan suranya untuk menyenggal amarah dari seorang pria yang tidak pernah sama sekali menyerukannya seperti ini, mereka faham jika amarah Jackson meluap, maka sebuah bencana akan terjadi.
"Lo ga mau dia benci sama lo kan?” Lantas Sammuel menggantikan posisi istrinya duduk di samping Jackson. "Dengan lo nikahin si Fiona aja udah bikin dia muak."
"Gue nolak keras, dianya yang maksa, lo bisa tanya dia!" tepis Jackson menjelaskan lantang tat kala kejujuran menyertainya, kini wajahnya mulai memerah memendam amarahnya di sana. "Lo yang udah rebut cewe gue Sam."
"Ya emang, gue ngaku itu, cuma lo tanya dia cinta ga sama lo?"
"Dulu sebelum lo dateng dia cinta sama gue, cuma dia ga mau pacaran demi keluarganya."
Ucapan ini membuat bulir bening dari sudut mata Tara mengalir tanpa bisa di cegahnya, bahkan isak tangisnya mulai terdengar seluruh penghuni ruang.
Celia yang tersadar kini ia berinisiatif menghampiri menangunya tak lantas duduk di sampingnya.
"Aku ga cinta sama kamu Jack_, aku cuma mau pastiin sesuatu." Bersusah payah Tara berkata dalam isak tangisnya yang mulai meledak.
"Oke!" Jackson mulai menatap Tara penuh emosi. Ia tau wanita itu tidak mencintainya, namun ia enggan mendapat pengakuan langsung dari yang bersangkutan. "Aku mau nikahin si Fiona karna saling menguntungkan." Masih Jackson membela dirinya dengan kesungguhan kisahnya.
Namun rupanya Jackson merasa semua itu akan sia-sia saja kala tangisan Tara kian meluap di sana.
"Lo pasti nyakitin dia Jack kalo gitu caranya." Sammuel pun ikut bangkit, ia mengira jika Jackson akan menghampiri istrinya dan melampiaskan amarahnya pada sang istri.
"Dia yang mau, kenapa, kenapa cuma gue yang harus berkorban buat lo?" Jackson mulai mengayunkan kakinya menuju arah Tara membuat Sammuel kian gelisah jika saja sang kakak akan berani bertindak terhadap sang istri.
"JACK!" bentak Erick bergeming lantang membuat seluruh insan yang berada di sana membeku tanpa kata bahkan membuat langkah Jackson terhenti seketika. "Ga ada yang larang kamu mau mencintai siapapun, ga ada yang nyuruh juga kamu nikah sama Fiona, justru ayah brengs*kmu ini khawatir sama perasaan kamu."
Jackson melunglai menanggapinya hingga membuat wajahnya tertunduk kaku di tempat, matanya terpejam menahan perih di hatinya.
Tidak di pungkirinya, perkataan ayahnya menyentuh batinnya, mengatakan tentang perasaan terhadapnya seolah memgumbar penghinaan baginya, sudah sekian lama ia tidak mementingkan perasaannya hanya untuk adik-adiknya, berkorban diri demi mereka yang di sayangi.
"Besok Queena di ambil ibunya,” seru Jackson dengan nada lemahnya namun masih dapat terdengar seluruh penghuni.
Hening membaur kala sebuah kejutan menghampiri para insan penghuni ruang bertajuk langit itu, mereka mematung mendengar kabar yang begitu mengerikan itu.
Kabar berita yang begitu memilukan itu mengundang suara petir yang menyambar dari atas langit tanpa ada air hujan yang turun dari sana menembus hati para insan yang kini masih tertegun di tempat.
“Jack, apa itu benar?” tanya Celia memastikan.
Jackson bungkam tat kala sang hati berseru lirih mengingat akan hal itu.
•
•
__ADS_1
•
Tbc