
Kala jam istirahat tiba, rupanya Jackson mengajak rekan-rekannya untuk melakukan santapan siang bersamanya. Sebuah restaurant yang memiliki mwnu masakan dari negara sakura yang terletak tidak jauh dari perusahaannya menjadi tempat perjamuannya.
Meja bundar yang di kelilingi 10 kursi itu menjadi penopang tubuh ke 10 orang pengunjungnya.
Sungguh keadaan ini membuat Tara merasakan kecanggungan yang hakiki, sedang Sammuel mencoba meredam api cemburunya. Katakan saja cemburu meski ia masih menyenggalnya.
Bagaimana tidak api cemburu Sammuel tersulut jika seluruh pengunjung berpasangan kecuali dirinya. Di mana Jackson berdampingan dengan Tara, Hanson dengan Fiona, Kelvin dengan Jesslyn, Maxson denan Destina sekertarisnya, sedang Sammuel bersama Nicky. Sungguh membuat keadaan Sammuel terasa ambigu bagi yang menatapnya.
Makanan yang telah di pesan Tara adalah beef teriyaki serta orange juice, kini santapan itu telah terhidang di hadapannya.
Melihat santapan Tara yang demikian, Jackson meraih piring hidangan milik kekasihnya, membantu memotong daging itu.
Tara hanya mampu membiarkannya agar sandiwaranya tidak terbongkar meski sesekali ia menatap lirih ke arah suaminya.
Beruntung Sammuel duduk di samping kiri Tara hingga ia tidak akan melihat dengan jelas kegiatan memilukan istrinya dengan kakaknya. Namun tetap saja ujung matanya dapat meraih pandangan itu.
"Sweaty, gimana rasanya seruangan sama atasan baru?" Tanya Jackson memecah lamunan wanitanya seraya menyerahkan daging yang sudah terpotong di atas piring itu kepada wanita itu.
"Lumayan." Jawab Tara asal, lantaran hati bergejolak penuh rasa takut jika tindakan kekasihnya membuat suaminya meluapkan emosimya. Ia segera menutupi tindakan kikuknha dengan meraih sumpitnya.
"Lumayan menyebalkan bukan?" Sindir Sammuel memancarkan nada ketusnya membuat wanita yang duduk di samping kanannya merancu dengan nada itu.
Jackson serta ke 8 penghuni lainnya terkekeh menertawai tingkah seorang General Manager yang terlihat begitu kaku itu.
"Udah bisa nalar berkasnya?" Tanya Jackson di sela menyibukkan dirinya, menyuapkan sushinya pada mulut kekasihnya yang di sambut wanitanya dengan membuka mulutnya, membuat api cemburu Sammuel kian menyebar dalam jiwanya.
"Tiwaal hikit" (tinggal dikit) dalam mulutnya yang penuh dengan santapannya, Tara berucap membuat Jackon tersenyum gemas melihat tingkahnya hingga mengucek kepala kekasihnya, membuat ujung mata Sammuel kembali memusatkan pandangannya.
Sementara Kelvin serta Jesslyn menyeringai tersenyum melihat perlakuan romantis dua insan di hadapannya. Begitupun dengan Maxson yang masih mengira bahwa mereka memang ingin mendekatkan diri untuk segera mengungkap pada anaknya.
"Jadi inget jaman lagi ngejar dia." Sambut Kelvin menatap wajah istrinya yang di balas istrinya dengan tatapan sadisnya.
Lain dengan Hanson yang menjengah setelah melihat Fiona yang menatap lirih wajah Jackson bergantian dengan Hanson seolah wanita yang duduk di aampingny ingin mendapat perlakuan itu darinya.
"Minta sana sama si Jack." Titah Hanson dalam nada ketusnya menyambut tatapan mata kekasihnya yang masih menatap kagum kegiatan romantis yang berada di hadapannya.
"Minta apaan?" Tanya Fiona heran.
__ADS_1
"Di suapin lah!" Pekik Hanson menyahut membuat Fiona mengeratkan rahangnya menahan emosinya.
Untuk Nicky, ia hanya mampu menggelengkan kepalanya serta menyembunyikan tawa ledekannya agar tidak terihat atasannya yang masih meredam amarahnya. Terlihat dari wajahnya yang memerah bahkan peluh kecil menggenang di atas pemukaan dahinya.
"Jangan mesraan di sini dong boss, kan gue jadi keliatan aneh." Protes Nikcy berusaha meredam amarah atasannya dengan menyenggal kegiatan Jackson di sana.
"Aneh apanya? Emang dia cewe lo?" Cibir Jackson menatap Nicky dengan lantangnya membuat Maxson mengangguk faham jika adiknya telah berhasil merebut hati wanita yang menjadi ibu dari anaknya itu.
"Kalian bisa mesra-mesraan, lah gue? Masa harus sama dia." Nicky menatap Sammuel seraya melepas tawanya yang membuat Sammuel terbelalak hingga menepuk kepalanya.
Sedang yang lainnya turut melepas tawanya dengan apa yang sudah terucap dari Nicky.
Heningpun mengambil alih kala seluruh penghuni meresapi santapannya. Setelah usai, Jackson merogoh saku celananya, meraih benda kotak berwarna merah dari dalam sana lantas menyerahkannya kepada wanita di sampingnya yang telah meraih benda itu.
"Apa ini Jack?" Tanya Tara penasaran dalam janggalannya, namun membuat emosi suaminya kembali merangkak dari dalam asmanya.
"Buka aja." Sahut Jackson di sambut kekasihnya dengan membuka lipatan kotak itu, nampak di baliknya sebuah kalung berbandul permata biru membentuk bulan separuh bertengger di dalamnya.
Tara menyiratkan senyum indahnya seraya menatap wajah Jackson yang mendapat balasan senyuman penuh pesona dari pria itu.
"Thanks Jack." Ucap Tara penuh kelembutan, kini membuat api cemburu suaminya menjalar menyusuri urat nadinya.
Tara sontak terperangah dalam kejutannya, bagaimana ia melakukannya di hadapan suaminya? Namun mengingat akan tugasnya ia pun melenguh, berkeluh akan kesahnya. Bagaimana ia harus mengucap rasa terimakasihnya kepada Jackson, apakah harus menyetujui permintaan Jackson?
Ia mulai menatap wajah Jackson penuh lirihan. Membayang akan hal masa lalu bersama lelaki di samping kanannya. Dahulu kala, jika Jackson meminta kecupan itu, dengan senang hati Tara memberikannya jika hanya sekedar kecupan. Namun kini...
Tara mengumpat dirinya, salahkan ia jika mencintai suaminya?
Lantas..
"Jack!" Pekik Tara malu-malu, menekan penolakannya. Hanya inilah caranya agar tidak menyinggung kedua pria pengisi hatinya.
"Kenapa? Malu ya?" Sahut Jackson di sambut Tara dengan anggukan antusiasnya menyembunyikan kepanikannya lantaran enggan membuat emosi suaminya semakin membludak.
Benar saja, Sammuel menaruh sumpitnya di atas piring yang masih terisi separuh santapannya, lantas ia bangkit berdiri di tempat. "Jack lo urus gawean gue sore kan?"
"Hmm, kenapa emangnya?" Jackson mendongkak melihat wajah Sammuel penuh heran.
__ADS_1
"Gue yakin lo tau, mulai sekarang kalau sore gue ada urusan lain." Lantas tanpa pamit ia melangkahkan kakinya di buntuti Nicky di belakangnya membuat seluruh rekannya menatapnya penuh janggalan.
"Anak sialan itu." Jackson melirih seraya menggelengkan kepalanya. Kini tatapannya menuju Kelvin yang di sambut Kelvin dengan seringai iblisnya.
Hanson si pemilik sipat buruk sangka itu dapat dengan mudah melihat seringai Kelvin, ia memutar kepalanya mencari makna dari seringai itu meski tidak mudah untuk menebaknya.
Sedang Maxson menggelengkan kepalanya, belum memahami situasinya hingga ia berasumsi bahwa Sammuel mengumbar emosinya atas ledekan perbincangannya sedari tadi.
Jam istirahatpun usai, Tara yang bangkit lebih dahulu dari duduknya. "Jack sorry aku harus ngampus." Pamitnya di balas sang kekasih dengan turut bangkit di sampingnya.
"Kamu bawa mobil kan?" Tanya Jackson berharap wanita itu mengatakan tidak.
"Bawa."
Jackson melenguh, namun sebisa mungkin menyiratkan senyuman leganya. "Pulang kuliah nanti aku harap kamu bisa ke rumah mertua kamu." Pintanya teguh hati, membubuhkan paksaannya dengan mengusap puncak kepala kekasihnya yang sudah menatapnya penuh kejutan.
"Mau ngapain?" Ucap Fiona menginterupsi di sambut gebrakan pada meja oleh sang tunangannya.
"Itu urusan mereka Fiona, lo ga usa ikut campur." Ketus Hanson membuat Fiona membeku, bahkan membuat Maxson si irit suara itu kembali menggelengkan kepalanya.
"Tapi aku juga penasaran, mau ngapain emangnya?" Tanya Tara penuh harapan untuk sebuah jawabannya.
"Nanti aja ngobrolnya di sana." Putus Jackson segera membawa kekasihnya dalam dekapannya lantas mengecup keningnya agar sang kekasih menghentikan mengintrogasinya. "Biar kamu fokus sama pelajaran dulu."
Tara tertegun, ia malu menerima perlakuan yang tidak di inginkan hatinya itu. "Oke kalo gitu aku pergi dulu." Pamitnya lantas menepis dekapan itu yang sudah ingin di hindarinya sedari tadi.
"Kalungnya ga mau di pake sekarang?" Tanya Jackson memberi perintah dalam isyaratnya, namun rupanya sang kekasih membalasnya dengan gelengan kepalanya.
"Nanti aja ya." Rajuk Tara memelas, lantas melirik jam tangannya. "Sekarang aku udah telat."
"Oke deh." Jackson berpasrah diri, tidak mendapat kepuasannya lantaran kekasihnya seolah mengabaikan pemberiannya. Iapun melambaikan tangannya penuh lirihan yang di balas kekasihnya dengan senyuman manisnya.
Sementara Tara berpamit diri, tidak lama dsri kepergian wanita itu, seluruh penghunipun membubarkan diri dari tempat yang telah membuat mereka merundung perasaan yang berbeda dari masing-masingnya.
•
•
__ADS_1
•
Tbc