
Sesuai dengan apa yang telah di bicarakan semalam tadi, di pagi hari yang nampaknya tidak mendukung hari yang canggung itu, Jackson sudah menampakkan diri di dalam kediaman ayahnya untuk menjemput sang kekasih hati menuju tempatnya bekerja.
Di dalam kendaraan mewah milik pria perkasa bernama Jackson Jordan Charington itu, rasa canggung melanda kedua belah pihak hingga membuat mereka membungkam mulutnya selama perjalanan berlangsung.
Hingga pada saat Ferrari Portofino marun itu berhasil mendarat pada area parkir khusus untuk para petinggi, Jackson segera mengambil tugasnya, membukakan pintu kendaraan mewahnya untuk kekasihnya lantas memasukkan sebagian tubuhnya ke dalamnya.
"Jack please jangan gini." Lirih Tara menyenggal tangan yang tengah meraih sabuk pengaman yang menyegel tubuhnya, membuat sang pemilik tangan itu melepas kegiatannya tanpa pelantara.
"Sorry." Tanpa berpikir panjang, Jackson membawa keluar separuh tubuhnya itu menyambut ucapan penolakan wanita yang telah tersenyum kikuk ke padanya. Hingga ia berdiri di samping kendaraan yang masih terbuka pintu penumpangnya itu, senyuman itu masih terpampang dari wajah anggun kekasihnya.
"Maaf Jack bukan maksud gimana__ Ga enak sama karyawan lain kan?" Ujar Tara menghibur tat kala melihat wajah kekasihnya yang telah merancu di sana. Lantas ia melepas penyegel tubuhnya itu, hingga beranjak turun dari kendaraan mewah milik kekasihnya itu.
Tanpa di sadari mereka, sepasang mata tengah memperhatikan kegiatan mereka di balik kaca Merci SL Class putihnya.
"Lo_" Nicky menatap lekat penuh heran wajah atasannya yang masih berpusat pandangan ke arah luar jendela kendaraannya di mana sepasang insan berada pada jarak tujuh meternya masih terlihat layaknya sedang bermesraan di sana. "Cemburu?" Ia tergelak menertawai tingkah atasannya meski mendapat balasan tawa keji dari atasannya ia tidak menghentikan sama sekali tawa itu.
"Finally, mereka akur juga." Ungkap Sammuel berteguh diri meski sang hati berontak enggan menerima kenyataan pahitnya hingga membuat tatapannya tidak teralih sedikitpun.
Nicky menepuk pundak sang atasan membuatnya mengalihkan arah pandangnya menuju wajahnya. "Selamet lo udah berhasil." Sahutnya meledek atasannya yang telah menyeringai penuh kemenangan.
"Apapun rencana gue, ga akan pernah gagal." Sahutnya penuh percaya diri, namun terbalaskan gelengan kepala sahabatnya.
"Berhasil bikin diri lo hancur." Imbuh Nicky meledek hingga tawanya meledak di sana membuat sang atasan menatapnya penuh dendam.
"Bangke lo!" Protes Sammuel tidak terima bahkan menepuk keras kepala sahabatnya enggan tawa itu berlanjut yang akan membuat penyesalan menyeruak dalam angannya kala menanggapi pernyataan sahabatnya dengan pembenaran yang terungkap dalam batinnya. "Udah aman." Kilahnya berimbuh kala tidak lagi melihat pasangan itu di sana.
Nicky menerima isyarat perintah itu, segera ia mengeluarkan tubuhnya dari dalam ruang kendaraan mewah milik atasannya tak lantas di buntuti sang atasan beranjak dari dalam sana.
Saat langkah mereka menepi di dalam ruang kebangsaan milik General Manager itu, mereka melihat pemandangan memilukan di hadapannya di mana seorang sekertaris General Manager tengah bergelut dengan lembaran berkas di hadapannya.
Namun sesaat, Sammuel menghempas kepiluannya kala sang istri bangkit dari duduknya untuk menyapanya dengan rengkuhan tubuh menyertainya.
"Pagi pak." Sapa Tara di iringi kerancuan nada bicaranya. Percayalah, hatinya kini telah menggundah akibat mengingat kegiatannya semalam lalu bersama seorang pria yang di sebutkan sebagai ayah dari anaknya.
Sammuel terkekeh menerima sapaan istrinya yang begitu menggelikan baginya. “Tumben lo nyapa?" Cibirnya di sela kakinya yang mengayun ragu.
"Oke lain kali aku ga akan nyapa." Sewot Tara berprotes ria menimpal ucapan sindiran itu dengan sebalnya hingga ia mendaratkan tubuhnya di atas kursi kerjanya dengan gaya kasarnya.
"Gimana malem pertama tinggal di sana?" Ujar Sammuel kala ia berhasil menepikan tubuhnya di hadapan istrinya yang telah menatapnya penuh murka akibat ucapannya mengingatkan sang istri pada kesalahan hatinya.
"Menyebalkan!” Balas Tara tak acuh mengabaikan tawa gemas suaminya yang berada di hadapannya menyandarkan tubuhnya pada meja kerjanya.
"Keliatannya dia tulus suka sama lo." Tutur Sammuel membatin lirih hingga melampiaskannya pada helaan napas rancunya. Wajahnya tertunduk menyembunyikan kepedihannya dengan meraih bungkusan rokok dari dalam saku celananya.
"Apa harus aku bales?"
"Tentu."
-Saja tidak. Imbuhnya membatin seolah menyenggal ucapannya sejenak kala ia menghembuskan asap itu dengan kasarnya. Mengumandangkan penyesalannya yang telah di rasakannya semalam tadi.
"Demi dapat kepu_" Tara menyenggal katanya melirik arah sang asisstant Generar Manager yang berdiri tegap di hadapannya membuat Sammuel melirikkan wajahnya ke belakangnya.
Nicky yang menyadari tatapan isyarat itu, ia segera melangkahkan kakinya. Meninggalkan sepasang suami istri yang mulai meresapi suasana tegangnya.
"Kepuasan dari gue?" Terka Sammuel menyahut ucapan istrinya yang terpenggal saat lalu membuat sang istri menatapnya tidak percaya, namun membuatnya terkekeh meraih kemenangannya.
"Sam kamu_"
"Gue salah?" Tanya Sammuel memastikan hati sang istri yang telah menghempas napas kasarnya begitu bertubi.
"Sialan!" Tara meruntuk tidak mempercayai jika ia selalu kesulitan mendapat kemenangannya dari suaminya yang kini telah merunduk merekatkan jarak wajahnya dengan bibirnya.
"Selama lo nurut, ga usah bales dia juga gue pasti kasih yang lo mau." Putus Sammuel penuh misteri di sambut helaan napas lega oleh istrinya yang telah mendongkak menatap wajahnya penuh picingan.
__ADS_1
"Baguslah."
"Art Taraaaa, lo tau maksud gue?" Geram Sammuel hingga mengulurkan sebelah tangannya, menjepit dagu sekertarisnya dalam paparan tatapan begis menyertai aura kelamnya.
Tara membeku hingga membisu meresapi rasa takutnya yang selalu terintimidasi dari aura dingin itu hingga membuat mulutnya terbungkam rapat tanpa ingin menyerukan suaranya.
"Tolak tender itu!" Titah Sammuel sarat tanpa ingin mendapat penolakan dari wanita yang masih menatapnya ketakutan.
"Kamu takut aku bikin kerugian?" Balas Tara menerka-nerka tidak mampu berpusat ucapan kala manik matanya masih terintimidasi, sang dagupun masih terjepit keras, seolah melampiaskan amarahnya pada gerakan jemarinya yang kian merekat mencapit dagu itu.
"Hmm." Sammuel mengangguk antusias membalas tatapan mata kosong di hadapannya dengan tatapan tegasnya.
"Aku ganti sama penghasilan kostan kalau itu gagal." Sahut Tara yang masih terintimidasi tatapan itu, hingga sulit untuknya menepisnya bahkan membuat udara berserakan tidak karuan dari dalam paru-parunya.
"Ga semudah itu sayang." Tatapan Sammuel semakin bengis membuat wanita di hadapannya kian ketakutan.
"Atau, kamu ga usah kasih hasilnya kalau berhasil. Yang aku mau cuma lihat kemampuan aku bisa sampai mana aja." Ungkap Tara berteguh diri, menerka sang suami merasa takut mendapat kegagalan.
"Setuju!" Putus Sammuel meyakinkan, seyakin jemarinya terhempas dari dagu itu di iringi seringai penuh kemenangan terpajang dari raut wajahnya.
"Jadi itu alasan kamu sebenernya? Ga mau aku dapet hasil lebih?" Terka Tara melirih, namun berhasil membuat emosi suaminya kembali merangkak dari asanya.
Mengapa pikirannya dapat dengan mudah di terka oleh seorang wanita polos di hadapannya? Batin Sammuel tidak terima hingga ia mengeratkan rahangnya lantas kembali menjepit dagu itu. "Ya! Gue ga mau lo jadi serakah!"
"Bukannya bagus kalau aku serakah?"
"ART TARA!" Sammuel membentak tanpa perasaan membuat tubuh sang istri bergetar hebat yang begitu kasat mata di pandangnya. “Apa yang lo pikirin sebenernya?" Imbuhnya merancu ingin menepis getaran tubuh itu hingga dengan mudahnya melepas jepitan jemari tangannya tak lantas memunggungi tubuh istrinya. “Lo yang mau ngejar gue, lo sendiri yang mau bikin gue menghindar dari lo." Ketus nya tidak terima.
Bentakan itu, membuat Tara menahan air payau yang sudah berhasil mendobrak bendungannga setelah kembali mengingat kejadian bersama kekasihnya semalam tadi. "Maaf aku udah ngecewain kamu."
"Sekali lagi lo bikin gue kecewa, gue robek surat perjanjian itu, biar lo tau kalo gue_" ungkap Sammuel terpenggal, enggan ucapannya terdengar jelas oleh sang istri hingga ia berjalan menjauhinya. “Butuh lo!" Meski nadanya lemah, namun sang istri masih dapat menangkap suaranya dengan jelasnya.
Tara menyiratkan senyum binarnya, dia faham dengan perasaan suaminya. Ia menyibak makna dari ungkapan yang hanya sepenggal itu jika sang suami telah mengakui perasaan sukanya terhadapnya. Namun lirihan kembali menyeruak dari dalam asmanya mengingat ia tengah menghianati suaminya kala suaminya tengah membuka hatinya saat ini.
"Izinkan Nicky bantu aku jelasin tender itu." Sahut Tara memekik kala sang suami telah duduk gagah di atas kursi kebangsaannya membuat jarak tubuhnya menjauh darinya.
"Lo bisa panggil dia langsung." Balas Sammuel di sahut dengan gerakan istrinya dengan meraih alat medianya, memanggil sang pria yang di sebutkannya saat lalu.
Tidak banyak memakan waktu, Nickypun menampakkan dirinya di hadapannya. Dan langsung saja Tara mengungkap tujuannya hingga merekapun melakukan kegiatannya.
*************
Batang pohon bercabang akan membuat daunnya rindang hingga buah manispun bertaburan, namun jika hati seseorang bercabang buah pahitlah yang akan di dapat.
Pedang bermata dua adalah kata kiasan yang pantas untuk dirinya kini, itulah yang menjadi lamunan Tara di tengah taman perusahaan tempatnya bekerja. Jam istirahat kali ini ia melarikan diri dari semuanya untuk meresapi kegundahannya.
Dosa kecil yang telah di perbuatnya, menjadikannya enggan menemui pria yang memiliki status hubungan special dengannya.
"Di sini lo rupanya." Suara berat Sammuel yang berdiri di samping istrinya melantun di sambut sang istri dengan melirikkan wajahnya sejenak kepadanya.
"Mau berangkat sekarang?" Tanya Tara seolah menyerukan ajakannya kala tubuhnya bangkit dari duduknya.
"Lo belom makan siang kan?" Tawar Sammuel penuh kecemasan mengingat sang istri menghilang seketika kala jam istirahat tiba saat lalu.
"Udah."
"Kapan? Di mana?"
"Tadi, di sini." Jawab Tara menunjuk tempat penumpu tubuhnya sebelumnya dengan dagunya.
"Di sini makan apaan?" Sammuel menyahut khawatir dalam nada tegasnya membuat sang istri keliru menanggapinya hingga sang istri melengos dalam delikan tajamnya.
"Roti!"
__ADS_1
"Lo mau lambung lo bermasalah lagi apa? Masuk rumah sakit lagi baru tau rasa." Sewot Sammuel bersungut lantang yang di maksudkan sang hati merajuk pada ajakannya.
"Yang masuk rumah sakit aku bukan kamu, kamu aja ga jengukin aku! Suami macam apa kamu?" Ungkapan Tara yang tertahan di dalam hatinya yang terdalam selama ini, akhirnya tercurah sudah meski kerancuan terpapar dari tatapan lekat pada wajah suaminya, namun nada bicaranya menjengah membuat sang suami tersenyum meledeknya.
"Lo aja yang ga tau."
"Aku ngomong karna aku tau!" Ujar Tara kian emosi di luar kendali diri ia berhasil menyerukan amarahnya yang tidak pernah sama sekali di lakukannya. Namun kini, suami yang begitu di cintainya adalah orang yang pertama mendapatkannya.
"Tau bibir lo monyong." Balas Sammuel melengos meredakan emosi sang istri yang rupanya berhasil di lakukannya hingga wajah anggun itu bergerak kaku di sana.
"Jadi ka-kamu_" Ujar tara terbata-bata yang seharusnya berseru atas penyesalannya. “Dateng ke rumah sakit?" Imbuhnya dalam paparan wajah imutnya membuat sang suami gemas menatapnya.
"Segitunya lo mau tau?" Gemas Sammuel hingga mengucek puncak kepala istrinya membuat sang empunya segera menepisnya dalam anggukan jawabannya.
Sammuel mendengus, enggan ia memberitahukannya, namun demi tidak mendapat nada ketus itu, "yah, gue nungguin lo selama oprasi 25 menit." Jawabnya bersungguh-sungguh membuat senyuman sang istri melebar di sana. "Udah cepetan lo makan dulu." Tawarnya memaksa.
"Sejak kapan kamu perhatian sama aku?" Pancing Tara malu-malu menyembunyikan keceriaannya di balik wajah kakunya.
"Sejak sekarang!"
"Kamu_" ungkap Tara terpenggal kala matanya menatap jeli wajah tampan yang berseri di hadapannya. "Khawatir karna sayang sama aku kan?"
"Lo jangan mikir ketinggian deh, nanti jatuhnya sakit." Tepis Sammuel gemas, ia melepas genggaman itu, menggantikannya dengan menyentil kening istrinya.
"Oke aku tau." Kecewa dari jawaban suaminya, kembali Tara kehilangan kendalinya hingga ia beranjak melangkahkan kakinya dalam emosinya yang sudah menyeruak.
Sammuel yang tidak memahami arti dari sikap istrinya, ia hanya mampu membuntuti langkah pendek itu.
Dalam langkahnya mereka membungkam mulutnya hingga menepi pada tempat di mana kendaraan Sammuel terparkir rapih pada tempat khusus para petinggi di sana.
Setelah Sammuel menekan tombol pada remote kendaraannya untuk membuka akses pintunya, dengan tergesa tanpa kata Tara masuk ke dalamnya, mendaratkan bokongnya di atas jok penumpang tanpa bantuan sang suami yang telah menumpukan tubuhnya di atas jok pengemudi di iringi rasa heran dari sikap itu masih tersembunyi di balik picingan matanya.
Merci SL class putih itupun melaju menerobos jalan padat kala sore itu mengantar tubuh sang pengemudi yang masih terheran-heran di sana.
"Lo_ ngambek?" Tanya Sammuel merajuk memberanikan diri mengungkap kejanggalannya.
"Engga!" Sahut Tara tegas tanpa pelantara. "Aku cuma_" Bermenit ia menyenggal katanya membuat Sammuel kian menjanggal.
"Kenapa?" Tanya Sammuel memaksa sang istri agar mengungkap penggalan katanya.
"Kemarin malem_ a-aku, aku ciuman sama kakak kamu." Ucap Tara penuh rasa takut kala wajah tampan itu meliriknya dalam kejutannya.
Percayalah, Tara kini telah berusaha mencari celah agar dapat mengetahui dengan pasti perasaan suaminya terhadapnya. Cemburu atau tidak jika ia mengatakan kegiatan itu kepada suaminya?
Benar adanya, rencananya berhasil. Sammuel membisu, rahangnya mengeras dalam wajahnya yang memerah. Ia melampiaskan emosinya pada kendaraan di depannya yang tidak melaju saat lampu hijau lalu lintas telah menyala.
Ia menekan klakson dengan kerasnya dalam iramanya yang panjang melengking membuat Tara menyiratkan senyum kemenangannya.
Kemenangan di dapati Tara, menyibak sang suami meluapkan emosi yang tersulut atas dasar cemburu sebagai pemicunya.
Hingga pada akhirnya, kendaraan itu melaju dalam kecepatan penuh mengiringi hati pengemudinya yang ingin meluapkan emosinya.
Tara hanya mampu menahan rasa takutnya jika saja terjadi sesuatu dalam perjalanannya.
Namun rupanya rasa takut itu sirna setelah mereka tiba dengan selamat meski sejak itu Sammuel tetap membungkam mulutnya.
•
•
•
Tbc
__ADS_1