Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 121


__ADS_3

Sammuel baru tiba di rumahnya, merci SL Class putih itu mendarat tepat di depan pintu masuk rumah mewahnya.


Selama perjalannya mereka membungkam mulutnya lantaran Sammuel yang masih berusaha meredam emosinya.


Ia turun dari kendaraannya, di lihatnya sang istri hanya tertegun di sana, iapun segera melangkahkan kakinya menuju pintu penumpang kendaraannya.


Di bukanya dengan kasarnya pintu itu lantas memasukkan separuh tubuhnya untuk melepaskan sabuk pengaman yang di kenakan istrinya.


"Kenapa! Lo ga mau masuk takut si Jack mergokin lo?" ujar Sammuel berseru ketus tat kala emosi belum berhasil enyah darinya hingga ia melampiaskannya pada istrinya.


Ia menyeret keluar tubuh istrinya dengan kasarnya hingga sang istri menatapnya dalam ketakutan akan tingkahnya.


"Sam kamu gila! Gimana aku ga syok kamu jalanin mobil kaya setan gitu," seru Tara penuh cibiran.


Sammuel menyiratkan senyum iblisnya yang selalu memancarkan aura kelam di dalamnya membalas ucapan istrinya. "Lo tau salah lo apa?" Kini ia membawa istrinya dalam pangkuan kasarnya pada sebelah bahunya bak karung beras.


Tara hanya mampu berdiam pasrah tanpa berontak sedikitpun atas kelakuan suaminya, sesungguhnya ia ingin menepis getaran tubuhnya yang ketakutan karna kembali mendapat aura kelam dari jiwa iblis suaminya.


Akhirnya Sammuel menghempas keras tubuh istrinya di atas lantai ruang tidur mewahnya hingga tubuh istrinya merengkuh di atas lantai marmer itu.


"Sammuel!" bentak Tara menatap kejam arah suaminya.


"Lo masih mau belain dia?" balas Sammuel, ia enggan membalas tatapan itu, lantas memutar tubuhnya membelakangi istrinya.


Dengan terpaksa Tara bangkit berdiri sendiri di belakang suaminya. "Kamu lupa aku harus pura-pura depan dia?" imbuhnya dalam ringisan pedih kala ia mengusap lututnya yang melebam akibat perbuatan suaminya.


"Harusnya lo tau niat dia!" Kembali Sammuel membentak dalam tubuh yang membelakangi istrinya.


"Dia ga akan punya niat busuk!" Sedikit meringis Tara merasakan sakit dari lutut serta hatinya.


"Art Tara!" Bentakan itu semakin terasa menyayat telinga Tara.


"Sam kamu ngapain peduli sama aku, dia mau bunuh aku juga apa peduli kamu, bukannya kamu sendiri yang bikin aku harus bales cinta dia? Kamu sendiri juga yang larang aku buat cinta sama kamu, tadi kesempatan bagus buat aku lupain kamu!" seru Tara berucap penuh emosi dalam ambisi yang melirih.


Air payau telah mendesak bendungannya hingga tak kuasa ia menahan deraiannya.


Sementara Sammuel mematung tidak berdaya kala mendengar pernyataan sang istri yang membuat batinnya merancu tiada terkira.


Ingin rasanya Sammuel memutar tubuhnya menghadap istrinya agar dapat melihat wajah yang di yakininya telah melepas air matanya.


"Atau_ kamu cemburu?" sahut Tara bertanya tanpa basa-basi dalam emosi kala ia berdiri tegak di belakang suaminya dalam kepalan tangannya menahan rasa takut atas ucapannya.


"Lo lupa sama janji lo?" Kini nada ucapan Sammuel melirih pedih.


"Kamu ga usah nyari alesan pake nyalahin aku." Tara masih mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh sedikitpun.


"Lo yang salah Art Tara!" Lagi dan lagi Sammuel membentak istrinya.


"Kamu cemburu Sam, kamu ngaku a_"


"Ya, gue emang cemburu, puas lo?" Jebol sudah suara pekikkan Sammuel hingga melenting nyaring mengisi ruang tidurnya.


Namun hal ini membuat hati Tara mengharu hingga air payau itu meluncur dengan derasnya tanpa bisa di tahannya, sementara kepalan tangan itu melunglai, lantas Tara mendekap tubuh suaminya yang masih membelakanginya.


"Puas hiks, sangat puas hiks!" ucap Tara tersedu-sedu.


Tara masih meresapi rasa harunya yang di wakilkan pada air matanya yang mengalir semakin deras membasahi sweater putih suaminya.


Sementara Sammuel hanya berdiam diri dalam kedua tangannya yang mengepal di samping kiri kanan tubuhnya menahan penyesalan yang terpicu dari suara isak tangis istrinya.


Seharusnya ia mengumpat pada dirinya sendiri yang telah menjatuhkan gengsinya begitu saja dengan mengungkap perasaannya.


Namun mengapa, Sammuel malah melega, meski berusaha menyenggalnya dengan pikiran-pikiran buruknya tentang istrinya, tetap saja hati itu malah kian melega.


Tenang, seolah beban hidupnya yang paling berat terhempas begitu saja dari dalam benaknya.


Riang, seolah bocah cilik mendapat permainan barunya.


Haru, bahkan lebih mengharukan dari kehilangan ibu kandungnya.


Namun sesak napasnya sisa dari menahan amarahnya sesaat tadi, membuatnya tersadar dengan keadaan istrinya yang masih melantunkan isak tangisnya di belakangnya.


Tangan yang melingkar pada perutnya, terasa bergetar olehnya, membuat rasa cemas merangkak dari dalam asmanya.


Basahnya busananya yang terkena linangan air mata istrinya, membuat rasa iba meluncur dari dalam jiwanya.


Suara isak yang menyayat telinganya, membuat rasa sayang itu membuncah untuk segera meluapkan serta mencurahkannya pada wanita yang kini tengah mencengkram busananya dengan kedua tangannya.


Ia menunduk, menghempas napas kasarnya, memejamkan kedua matanya, mengepalkan kedua tangannya, meresapi penyesalannya.


Yah, ia baru menyadari, rasa lega itu berasal dari penyesalan yang sudah di akuinya.

__ADS_1


Iapun memutar tubuhnya, menatap lirih wajah istrinya yang tertunduk kaku lantas di ulurkannya sebelah tangannya merangkul pinggang istrinya, sebelah yang lainnya ia gunakan untuk meraih wajah istrinya agar menatapnya. "Lo tau salah lo apa?"


Tara hanya mengangguk seraya menghentikan paksa air matanya untuk membalas ucapan suaminya.


"Dia mau bikin lo mabok, pengen lo manjat ke ranjangnya." Kini tangan itu berhasil mengusap air mata istrinya.


"Ga mungkin, kalo niat udah dari dulu dia lakuin itu." Parau, suara sisa dari isak tangis Tara membuat suaminya kian melirih pedih.


Lekat, pandangan matanya yang sudah sembab, membuat Sammuel kian merasa bersalah.


"Oke gue salah sekarang, gue kepancing emosi sama dia." Sammuel mengecup puncak kepala istrinya, membubuhkan kata maaf dalam pejaman matanya. "Cuma_ kenapa lo ga pernah nurut sama gue?"


Tatapan Tara berubah, matanya menatap lirih wajah suaminya. "Kalo aku nurut sama kamu hari ini, apa aku bakal tau perasaan kamu?"


Kini Sammuel yang tertunduk memejamkan kedua matanya mengiringi lirihannya seraya membawa wajah istrinya ke dalam dadanya. "Gue lakuin itu karna ga mau nyakitin si Jack."


"Kamu ga sadar Sam, yang kamu lakuin selama ini udah nyakitin semua orang, bukan cuma Jackson tapi Hanson sama mami papi kamu juga."


Sammuel membeku, membatu, bahkan lidahnya kelu untuk mengucap katanya kembali.


Memang benar iapun mengakuinya, atas ulahnya seluruh keluarganya mendapatkan nasib naasnya.


Ia kini membawa istrinya dalam pangkuannya, membelitkan kaki istrinya pada pinggangnya.


Lantas ia duduk di tepi ranjang masih berada istrinya di atas pangkuannya. "Lo boleh benci sama gue_"


"Mana bisa?"


"Mianhe," ucapan permintaan maaf tulus dengan bahasa Korea itu terucap untuk pertama kalinya kepada sang istri.


Tara tersenyum riang, akhirnya ia mendapat perlakuan manis itu, mendapat kata maaf meski tidak terdengar tulus itu.


Namun demikian, hanya dengan mengucapnya mampu membuatnya rasa haru nenyeruak dari dalam asmanya.


Lantas ia merekatkan jarak wajahnya pada wajah suaminya, namun sang suami menggodanya yang malah memundurkan kepalanya.


"Sam!" teriak Tara memekik menyembunyikan rasa malunya.


"Hmmm?" dengung Sammuel dengan polosnya ia terkekeh.


Tara mengerucutkan bibirnya membuat sang suami menatapnya penuh gemas, dan kini dirinya lah yang meraih bibir tipis itu dengan bibirnya.


Kali ini cumbuan itu terasa berbeda dari sebelumnya oleh Tara, kini terasa lebih lembut nan mesra, namun masih belum mampu mengalahkan kelembutan cumbuan dari kekasihnya.


Lidah yang saling membelit itu kini melembut, suara decakan dari bibir yang saling bersentuhanpun terasa lagu syahdu yang merdu.


Tara melepas rekatan kelopak matanya di sela kegiatannya, ia menatap bulu mata panjang itu yang matanya telah terpejam lirih.


Pipi mereka membasah, entah siapa yang meluncurkan air matanya membuat Tara melepas cumbuannya.


"Sam, kamu nyesel ngungkapin perasaan kamu sampe kamu nangis?" Meski cumbuan terlepas, kedua tangannya masih mengalung pada leher suaminya.


"Hmmm.. gue nyesel!" Tatapan lirih dalam mata sayu itu membuat Tara kian menggundah. "Nyesel kenapa ga dari dulu gue ngomong jujur."


Tara menyambut ucapan itu dengan senyuman penuh cinta. "Itulah sikap egois kamu yang bikin kamu sendiri yang hancur."


Sammuel tersenyum sejenak, lantas menelusupkan wajahnya pada ceruk leher istrinya.


Bukan untuk membenamkannya di sana, melainkan lidahnya kini menari-nari di sepanjang ruas itu, memberikan tanda cinta di sana.


"Sam jangan gini posisinya," pinta Tara dalam penolakannya.


Sammuel tidak menyahut ucapan itu, namun dengan segera membawa istrinya merebah di atas kasur empuknya, mengukungnya di bawahnya.


Kini sebelah tangannya menyatukan jari-jarinya dengan jemari istrinya.


"Perjanjiannya, besok kita bakar!" ucap Sammuel penuh keteguhan, ia melekatkan keningnya dengan kening istrinya sebagai tanda ketulusan cintanya yang telah tercurah.


"Ga. Aku ga setuju!"


"Kenapa? Lo pengen gue selingkuh?"


"Hapus aja yang itu, aku ga mau syarat aku hilang."


Seharusnya Tara menerimanya, persyaratan yang tidak seimbang itu lebih menyakitkan untuknya.


Namun mengapa ia masih mempertahankannya?


Mungkinkah karna ia terlalu meresapi tatapan mata suaminya yang berjarak hanya sebuku jarinya itu?


Sammuel sudah tidak mampu membendung keinginannya, mata yang berseri itu membuat gairahnya terpancing begitu saja.

__ADS_1


Memburu, napas serta keinginannya sudah menyerbu hingga keteguhan berkumandang tidak ada yang boleh mencegah kegiatannya lagi.


Dengan lembutnya ia menanggalkan tubuh istrinya dari busananya tanpa ada penolakan dari istrinya yang hanya terpaku di sana.


Pasrah, seolah menyerahkan seluruh jiwa dan raganya pada pria yang kini tengah bersimpuh di sela pangkal pahanya tanpa berbusana.


"Lo masih bisa dapetin syarat itu tanpa materai,” ujar Sammuel sejenak melepas kegiatannya untuk menatap wajah istrinya yang telah berpeluh kecil di dahinya.


"Jangan Sam, kamu ganti aja yang pengen kamu ganti."


Mengapa Tara selalu menolak, ataukah karna terlalu meresapi penyatuan raganya yang sudah terlarut dalam buaian asmaranya.


"Oke gue setuju!" balas Sammuel tanpa berpikir lebih.


"Tapi aku juga minta syarat aku jadi sepuluh."


"Oke, seratuspun gue kasih asal jumlah syarat kita sama."


"Sorry, aku udah boongin kamu,” ujar tara di sela tawa kecilnya. Kedua tangannya sudah mencengkram erat bahu suaminya, melepas rasa nikmatnya kala tubuhnya terguncang oleh gerakan suaminya. "Aku cuma butuh 2 syarat."


"Apa?"


"Aku mau bebas_" ucapnya tersenggal kala napasnya kian memburu ricuh.


"Bebas selingkuh hmm?"


Mata sembab yang terpejam istrinya, memperdalam rasa gemasnya terhadap istrinya hingga ia menggodanya.


"Bebas ngambil hati kamu,” jawab Tara terengah.


"Lo harus tau Art." Sammuel masih menatap lekat wajah istrinya yang sudah memejamkan matanya, dahinya yang sudah berpeluh kecil semakin membuat gerakannya meliar membuahkan decitan dari suara ranjang yang bergoyang. "Syarat lo, berarti syarat gue juga."


"Setuju!"


Berakhir perbincangan itu, berakhir jua pencurahan rasa cinta mereka, maka berakhir pula kegiatan panas itu.


Sammuel mengecup puncak kepala istrinya, tak lantas melekatkan keningnya pada kening istrinya. "Selamat."


"Untuk?" Tara merasakan hembusan napas berbau cigarrete itu menyapu wajahnya membuat dadanya semakin naik turun dalam napasnya yang tak beraturan.


"Lo udah dapetin hati gue." Dan Sammuel menyatukan jemari tangannya dengan jemari tangan istrinya.


"Dan buat kamu, selamat_" Tara menyenggal katanya, menatap cinta mata yang berjarak satu senti meter itu. "Udah bikin aku jatuh."


"Lo yang bunuh diri Art."


"Kamu yang bawa aku ke jurangnya Sam."


Dalam sekali gerakan, Sammuel berhasil mengubah posisinya menjadikan istrinya yang berada di atasnya. "Jangan curang monyong, giliran lo usaha puasin gue."


Pecah sudah suasana romantis itu hanya dengan pernyataan konyol Sammuel.


Tara berdecak riang dalam senyumannya seraya memukul manja dada suaminya. "Moga kamu ga kecewa."


"Kapan sih lo mulai ga ingkar janji?" Sammuel menatap wajah istrinya yang sudah memejamkan matanya di sela guncangan tubuhnya.


"Kamu sendiri yang mau bakar kertasnya."


"Serah lo lah, yang penting malem ini lo harus_" Sammuel menyeret tangan istrinya agar mendekapnya.


"Harus?" Kini Tara berdiam pasrah menerima perlakuan suaminya.


"Kalah," balas Sammuel membuat sang istri tersenyum simpul. "****!" umpat Sammuel yang di rasanya ia akan mendapat kekalahannya.


Benih cinta yang menyembur menembus dinding rahim itu, membuat gengsinya terjatuh begitu mirisnya.


Tara menyambut ucapan itu dengan membenamkan wajahnya pada ceruk leher suaminya di sambut Sammuel dengan mengusap puncak kepalanya yang terbenam pada ceruk lehernya, lantas mengecupnya sekilas.


"Sam."


"Hmm?" Masih Sammuel mengelus puncak kepala itu.


"Si Jack_"


"Tidur, Jangan bahas soal dia lagi," tebas Sammuel membuat Tara membungkam mulutnya.


Malam yang terasa melelahkan dengan perkara yang di dapati mereka telah berakhir kala mereka memejamkan matanya untuk menuju alam mimpi indahnya.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2