Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 132


__ADS_3

Tepat saat Tara berdiri di hadapan suaminya, ia memberikan sapaan senyumannya terhadap wanita yang kini telah memutar bola matanya.


Maudy geram dengan kehadiran wanita lain di sekitarnya yang akan membuat waktu pertemuan dengan lelaki pujaannya terhempas begitu saja.


**


"Pak, saya kembali, silahkan bapak lanjutkan pertemuannya," ujar Tara di iringi senyuman tanpa dosanya membuat emosi Sammuel membuncah seketika.


Sammuel menyorot bibir istrinya dengan tatapan kejinya, ia tidak percaya jika sang istri tidak cemburu barang sedikitpun. Keinginan hatinya jika istrinya membantunya mengusir wanita yang masih setia duduk di sana.


Maudy tersenyum simpul seolah mendapat kemenangannya kala melihat wajah emosi Sammuel.


"Kamu Tara kan?" tanya Maudy di balas anggukan sebal oleh Tara.


"Udah kenal pake nanya lagi," sahut Sammuel berseru ketus tak lantas menatap wajah Maudy dengan tatapan garangnya.


Sementara Tara berdecak nyaring menanggapi kelakuan sepasang insan yang menurutnya begitu menjijikan itu, lantas tanpa kembali berkata ia mengayunkan kakinya menuju ke dalam ruang tidurnya.


Sammuel gelisah dengan tingkah istrinya itu, ia menerka jika kesalah fahaman telah merasuki benak sang istri yang membuatnya tertegun di sela tatapannya pada punggung istrinya yang berjalan kian menjauhinya.


Hanya itulah yang dapat di lakukan Sammuel untuk mencari cara apa yang akan di lakukan selanjutnya terhadap istrinya.


Hal ini membuatnya melupakan keadaan Maudy di sana yang telah menjentikkan jari tangannya pada seseorang yang berdiri nun jauh di sana.


"Dia temen lo?" tanya Maudy memastikan hingga memecah lamunan Sammuel.


"Hm." Sammuel hanya berdengung tanpa melepas pandangannya yang masih menatap punggung istrinya.


"Lo sibuk ya? Gue balik deh," ujar Maudy seraya bangkit dari duduknya membuat Sammuel menepis pandangan dari punggung istrinya menuju ke arahnya.


"Balik lah, gue juga ga nyuruh lo ke sini," balas Sammuel memekik jengah.


Maudy menggeleng dalam senyumannya, ia meyakini jika usahanya kali ini akan mendapat keberhasilannya. Lantas, tanpa pamit ia berlalu begitu saja membawa senyuman licik yang tersembunyi di balik tubuhnya yang telah membelakangi Sammuel.


Tak acuh Sammuel membiarkannya karna memang itulah yang di inginkan hatinya, kini yang ia pikirkan adalah emosi sang istri yang sempat terlihatnya saat lalu, lantas ia beranjak menyusul istrinya.


Pemandangan mengerikan terpampang di hadapannya kala ia berhasil berdiri di samping tempat tidur yang tersedia di sana di mana istrinya tengah berbincang dengan seseorang memalui alat panggilan jarak jauhnya membuat emosinya tersulut tanpa jeda.


Lantas ia segera mendaratkan tubuhnya di samping istrinya agar dapt dengan mudah merekatkan jarak bibirnya dengan telinga istrinya. "Siapa?" bisiknya tepat pada telinga istrinya.


Sengaja Tara memperlihatkan layar benda itu kepada sang suami untuk memberitahukan sebuah nama yang tersirat di baliknya.


'Jack D' tulisan yang terlihat Sammuel di sana membuatnya memahami akan suatu hal jika nama itu adalah panggilan sayang sang istri terhadap kakak keduanya.


Dengan adanya demikian, Sammuel segera menekan tombol pengeras suara dari benda itu agar dirinya dapat mendengar seluruh icapan sang istri dengan lawan bicaranya di sebrang sana, lantas ia mendorong tangan istrinya yang menggenggam benda itu menuju arah telinganya bermaksud menyuruh istrinya melanjutkan perbincangannya.


"Kamu sibuk Jack?" tanya Tara dalam senyumannya yang tersirat rasa gembira di dalamnya, sesungguhnya senyuman itu tertuju pada tingkah cemburu suaminya.


"Lumayan sih, awas kamu putusin telpon nya, aku udah bela-belain nunda kerjaan aku buat kamu," seru Jackson di sebrang sana yang terdengar Sammuel begitu menjengkelkan hingga ia berdecak menyertai rasa kesalnya.


Tara tertawa kicil menanggapi tingkah suaminya. "Iya sorry aku cuma mau ngabarin aja kayanya besok aku udah pulang."


"Nah gitu dong ngomong kalo ada apa-apa tuh, biar aku berasa punya cewe."

__ADS_1


Kini Sammuel terperangah dalam kejutannya, ia melupakan jika kakak keduanya masih mengejar istrinya, bahkan masih memiliki hubungan erat dengan istrinya.


Gaya bahasa sang istri dengan kakak keduanya yang terdengar romantis itu membuatnya kian menganga, ia tidak percaya jika istrinya akan tega melakukan hal itu di hadapannya.


"Iya iya siap tuan," ujar Tara menyahut ucapan Jackson.


Sammuel mulai geram, ia menyeret tubuh istrinya hingga terbaring di atas tempat tidur itu, lantas ia mengukungnya di atasnya, seusainya ia melepas paksa kancing kemeja yang di kenakan istrinya.


Sementara Tara hanya bisa pasrah menerima perlakuan kasar yang selalu di dapatinya itu, namun kali ini memang keinginannya untuk membuktikan jika sang sang suami merasa cemburu terhadapnya.


"Art, udah lama juga kita ga jalan bareng Queena," ujar Jackson masih di balik alat panggilan jarak jauh milik Tara.


"Kayanya bakal susah deh, soalnya aku udah mulai sibuk banget," ujar Tara terengah kala bersusah payah menahan sebuah tangan yang telah berhasil mempermainkan dadanya.


"Nyesel juga aku ngasih kerjaan sama kamu, kamu jadi ga punya waktu buat aku."


"Kan kita sering ketemu di kantor, kita punya banyak waktu di sana Jack," ujar Tara. 


Sammuel kian geram hingga melampiaskannya pada tubuh istrinya yang menjadi sasaran tangannya, menelusuri setiap lekukan tubuh itu.


Sementara Tara kian kesulitan menepis tangan suaminya kala ia berontak hanya dengan satu tangan saja, hingga pada akhirnya ia memukul keras punggung suaminya.


Namun naas, bukan terhenti kegiatan nakal itu malah kian meraja lela bahkan kini bibir Sammuel telah mendarat di atas dada istrinya.


"Beda lah, di kantor banyak gangguan."


Sejenak Tara menghentikan aksi pemberontakannya, ia mengulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala suaminya yang berada di atas perutnya.


"Kamu pengen ya?" seru Tara.


"Pengen!?" tanya Jackson penuh penasaran.


"Pe-pengen oh, pengen kencan maksud aku," sahut Tara terbata-bata lantaran tidak biasanya ia harus melakukan tindak inprovisasi itu.


Rupanya Sammuel yang masih emosi salah memahami maksud istrinya hingga ia meluapkan perasaan itu pada sesuatu tubuh istrinya yang di gigitnya dengan kerasnya.


"Akhhhhh!" ringis Tara memekik nyaring tak lantas memukul keras tungkak kepala suaminya.


Keberuntungan berpihak kepadanya kala ia tidak menyebutkan nama suaminya saat berteriak tadi, jika itu terjadi maka lawan bicaranya akan mengetahui keadaannya kini.


"Kamu kenapa Art?" Jackson cemas di sebrang sana terdengar dari nada bicaranya yang melirih oleh Tara.


"Jack sorry aku jatoh," Sahut Tara berdalih lirih.


"Oke kamu urus dulu." Jackson pun memutus panggilannya sepihak.


Sementara Tara menghempas alat medianya ke sampingnya, lantas ia beringsut seraya menepis kepala suaminya yang masih terbenam di atas dadanya itu.


"Sam kamu nyakitin dia terus!" protes Tara bersungut-sungut namun tidak di hiraukan sama sekali oleh suaminya.


Sammuel sudah tidak mampu menahan amarah serta keinginannya untuk segera menyentuh tubuh istrinya, hingga dengan paksaan bahkan dengan gaya kasarnya ia menyambut surga dunianya.


Setengah jam waktupun berlalu menemani pergaulan sepasang insan di sore hari yang nampak mendung itu.

__ADS_1


Kini Sammuel telah melepas lelahnya di atas tubuh istrinya. terbaring di atas tempat tidur itu, menyampingkan tubuhnya agar menghadap istrinya.


"Sam," seru Tara terpenggal kala senyuman menawan suaminya terlihat begitu mempesona olehnya.


"Lo cemburu sama dia?"


"Cemburu!” balas Tara faham dengan siapa yang di sebutkan suaminya. “Ngapain aku cemburu sama dia?" Ia berdalih saat emosi mulai mempengaruhinya akibat perlakuan suaminya, iapun enggan mengakui perasaan sesungguhnya.


Ungkapan itu rupanya membuat emosi Sammuel kian tersulut hingga ia bergerak memunggungi tubuh istrinya. "Oke ga cemburu."


Tara mengabaikan amarah suaminya, malah kini ia membalasnya dengan melakukan hal sama, memunggungi tubuh suaminya di sana.


Namun saat ia bergerak, suatu luka pada bagian tubuhnya membuatnya meringis dengan kerasnya.


“Aww,” ringis Tara membuat suaminya segera menghadapnnya.


“Kenapa?” Sammuel menyeret tubuh istrinya agar menghadapnya, lantas menatap wajah sang istri penuh kekhawatiran.


“Ga usah tau!” balas Tara sebal hingga mendelik tajam.


Sammuel mencari taunya sendiri alasan dari ringisan itu, hingga bermenit kemudian ia pun telah menyibaknya bahwa sang istri mendapat cidera pada bagian tubuhnya akubat perbuatannya saat lalu.


Rasa sesal telah merangkak dari angannya hingga membuatnya menghela napas rancunya, lantas tanpa kata ia mendekap erat tubuh istrinya dengan sebelah tangannya.


Kecupan mesra dalam lirihan itu terpaut pada bibir istrinya. “Puas?”


"Aku yang harusnya nanya gitu!” balas Tara dengan nada sebalnya.


"Puas banget." Dengan datarnya Sammuel menimpal di iringi senyuman tanpa dosanya, lantas ia menyeret tubuh istrinya agar menumpu di atas tubuhnya.


Sammuel bersusah payah meraih bungkusan rokok yang tersimpan di atas nakas itu agar tubuh istrinya masih berada di atas tubuhnya, membuat istrinya menatapnya dalam tawa kecilnya.


Meski demikian ia berhasil meraihnya hingga mengambilnya satu batang lantas menyulutnya.


Kini batang yang menyala itu di arahkan pada mulut istrinya, tanpa kata Tara menghisap batang itu dan menyemburkan asapnya pada wajah tampan suaminya.


"Art!" Bentak Sammuel menepis pandangannya ke sampingnya mencegah asap itu agar tidak menelusup ke dalam matanya.


"Kamu yang nyuruh aku berhenti ngerokok malah sekarang kamu yang ngasih harapan lagi."


"Sama kaya perasaan gue kali ya, udah nyuruh lo berhenti jatoh sama gue malah gue yang ngasih harapan." Sammuel tertawa miris di akhir kalimatnya.


Tara tertegun namun tak lantas menelusupkan wajahnya pada ceruk leher suaminya yang mendapat sambutan elusan pada puncak kepalanya dari suaminya.


"Sorry." Sammuel mengecup puncak kepala itu, lantas menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya dalam gaya helaan leganya.


Enggan memperdalam kegelisahannya, Tara segera menelusup alam mimpinya meninggalkan suaminya yang masih termenung di sana dengan batang rokok menyala menjadi temannya.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2