Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 180


__ADS_3

Bayang semu hadir menghujam ke dalam ingatan, menerjang batas kerancuan yang terpicu dari rasa cemburu. Ungkapan Tara saat lalu masih terngiang di dalam angan Jackson.


Sorot mata menatap kosong susunan rapi dari lembar kertas di atas meja. Tak ada hasrat untuk menilik isi di balik kertas-kertas tersebut, ia hanya terus mengulang-ulang ingatan saat pertemuan dengan Tara terjadi.


Kelvin yang selalu setia menemani saat Jackson melakukan tugasnya, hanya mampu menperhatikan dari kejauhan saja. Mengerti akan derita tengah melanda atasannya, Kelvin tidak berniat mengacau konsentrasi Jackson sedikit pun. Namun, tak jua ia melakukan hal yang sama. Di atas sofa yang terletak di tengah ruang kebangsaan itu, ia pun berusaha keras mencari alasan agar mampu menghibur hati atasan.


Tok ... tok ... tok ...


Suara ketukan pintu mencabik lamunan Jackson, bahkan ia melenguh pilu ketika melihat siapa yang telah bertamu.


"Ada info baru?" tanya Jackson menyapa tamu itu yang sudah duduk besebrangan dengannya.


"Soal anak yang mirip itu, dia anaknya Nyonya Tara." Damar menyahut tegas, disertai senyum kemenangan tersirat di balik wajahnya. Mengira jika kabar yang di sampaikan akan membuat atasannya bahagia. Namun, seringai tersebut dibalas decakan.


"WHAT?!" Rasa terkejut justru bukan bersumber dari Jackson, melainkan Kelvin yang sedari tadi menyimak perbincangan. Ia tidak pernah mendengar kenyataan semenarik perbincangan mereka. Kakinya segera melangkah menghampiri kedua pria itu. "Anaknya Tara?"


"Gue udah tau itu." Lenguhan begitu keras menusuk indra pendengaran Damar, membuatnya tidak enak hati jika saja Jackson akan memotong upah yang di dapatkan.


"Anak angkatnya kali, tau sendiri dia di deketin banyak bocah." Kelvin masih menyangkal, tidak menerima kabar berita itu dengan lapang dada. Bukan ia memiliki ketertarikan kepada Tara, akan tetapi ia sudah dapat menerka jika dengan kenyataan itu, sahabatnya akan mendapat kekecewaan hebat.


"Gue pastiin dia anak kandungnya!" Damar menyahut tegas, setegas tatapan menyorot wajah Kelvin.


"Itu benar." Jackson angkat bicara, membuat Kelvin menyambut dengan anggukan.


Hening datang membaur suasana, ketika Jackson kembali merenungkan rasa kecewa. Ia belum mendapat pencerahan, agar dapat mengambil hati wanita pujaan hatinya. Seandainya tidak ada ekor di belakang wanita itu, maka ia tidak akan kesulitan seperti sekarang ini. Kali ini, yang ia inginkan hanyalah untuk dapat membujuk pria yang memiliki wajah serupa dengannya itu.


Rasa cemburu kembali menyembur di dalam asa, membuat hatinya menjadi buta. Mengingat seorang pria telah disebutkan Tara sebagai ayah dari anaknya, membuat risalah yang begitu mudah untuk di hadapi, kini terasa menyulitkan. Seandainya ia mencerna dengan perhitungan dari usia sang anak, mungkin ia akan lebih mengetahui siapa anak dan siapa pria yang tengah dicemburuinya kini.


"Jadi ... cowo itu benar ada." Nada lemah mengikuti lontaran setiap baris kata dari mulut Jackson, pertanda ucapan tersebut hanya tertuju untuk dirinya saja.


Namun, kedua pria di sana mendengar dengan jelas, membuat Damar tak kuasa menahan rasa penasaran.


"Cowo apaan sih?" tanya Damar.


"Si Tara bilang tuh anak mirip sama bapaknya, maksudnya mirip gue juga kan?" Jackson menyahut sebal, menyangkal jika wajah tampannya tidak hanya di miliki dirinya.


"Pasaran juga muka lo, Jack." Kelvin mencibir disertai gelak tawa riang di akhir kalimat.


Lantas, tidak ingin olokan itu berlangsung lama, bungkusan rokok melayang dari tangan Jackson, mendarat di balik dada Kelvin.


"Lo tau di mana dia tinggal, Dam?" tanya Jackson kepada Damar setelah tawa cibiran itu tak lagi terdengar.


Damar mengangguk tajam, ketika jawaban telah ia persiapkan. Di hari ia menguntit Erick, tidak sengaja ia melihat pertemuan ibu dengan anak itu. Dua pasang mata yang mengintip kejadian di dalam sekolah menengah itu, salah satunya adalah miliknya. Mendapat perhatian lebih pada kejadian itu, ia melalaikan tugas hanya demi menguntit mereka hingga kembali menuju kediamannya.

__ADS_1


"Dia tinggal sama Nyonya Wind, sekolahnya di pusat kota, tempat bos sekolah dulu." Damar menyahut penuh percaya diri, di sambut seringai picik dari hadapannya.


Jackson mengukir senyum frustasi, mendengar sepenggal penjelasan itu. Namun, ia dapat menyibak suatu makna di baliknya. Maxson mengetahui sesuatu tanpa memberitahukan kepadanya. Hingga pada akhirnya, ia memutuskan untuk mengikuti jalan permainannya saja, tanpa ingin mengorek ataupun bertanya kepada kakaknya itu.


"Mau lanjut penyidikannya bos?" tanya Damar memecah lamunan atasannya.


Jackson menggeleng dalam keraguan. Pasalnya, rasa takut akan cemburu itu kembali menghampiri. Namun, kepuasan akan jawaban dari tingkah laku yang di lakukan ayahnya, belum ia dapatkan sedikitpun.


"Lo berhenti aja selidiki bokap gue soal itu!" Titah Jackson berseru tegas, agar sang penerima titah mendengarnya dengan jelas.


Sesungguhnya, Jackson tidak ingin mengetahui keadaan ayah dari anak itu. Ia tidak merasa yakin untuk menahan diri jika bertemu dengan pria itu.


"Lo takut sakit hati, Jack?" Ungkap pikiran dalam bungkaman mulut Jackson, sudah dapat di terka Kelvin dengan mudahnya.


"Mungkin ...." Lenguhan kembali menusuk indra pendengaran dua pria di sana, membuat dua pria itu saling mendaratkan tatapan heran. "Gue rasa, gue ga mau menerima kekalahan."


Mereka turut merasakan apa yang di derita Jackson, akan tetapi tangan tak sampai untuk dapat lebih memberikan uluran.


"Bangke juga, gue punya saingan berat." Jackson melenguh frustasi, mengira anak itu akan menghambat segala urusan.


"Bukan saingan, tapi tugas lo yang berat, harus rayu dulu tuh bocah biar izinin lo rebut emaknya." Kelvin kian mengolok, membuatnya mendapat tatapan murka dari sorot mata atasannya.


Tatap dendam itu berhenti seketika, berganti seringai picik memendam siasat. Sudut bibir Jackson terangkat puas setelah mendapat sebuah rencana tanpa di sengaja terbesit dalam angan.


"Bagus lah, gue bisa pake tuh bocah buat jadi senjata," seru Jackson mengungkap pikiran. Tanpa ingin membuang waktu, ia bangkit berdiri untuk segera melakukan apa yang menjadi rencananya.


Tiada lagi terdengar suara dari Jackson, hanya senyuman terukir di balik wajah. Sudah enggan ia mengucap kata, sehingga ia meninggalkan ruang tanpa mengucap pamit kepada insan yang berada di sana.


***********


Dewi keberuntungan berpihak kepada Jackson, perjalanan untuk menempuh tempat menuntut ilmu yang menjadi penepian tujuannya tidak sama sekali mendapat hambatan.


Kini ia telah berdiri di dalam sebuah ruang khusus kepala sekolah, ia terdiam kaku ketika menghadap seorang pria tua setelah mendapat sambutan dari penjaga di sana.


"Kamu masih ingat dengan sekolah lamamu, Jack." Pria tua itu menyapa dengan nada lembut, akan tetapi berbalas tawa lelucon dari lawan bicaranya.


"Aku mau cari orang di sini, om."


"Siapakah dia?"


"Murid kelas sembilan, namanya Alev Sihan Danendra," jawab Jackson tanpa basa-basi, ketika batin sudah tak kuasa menahan pertemuan itu.


"Rupanya kamu mengincar anak itu juga." Rudi tersenyum memberi kekaguman pada sosok Alev yang berada dalam bayangan.

__ADS_1


Seluruh murid serta para guru mengetahui, seorang anak yang memiliki nama itu adalah anak yang begitu berbakat. Sehingga, tanpa harus mencari data diri terlebih dahulu, Rudi telah mengetahui siapa yang di maksudkan oleh Jackson.


"Baiklah, aku akan mengantarmu." Rudi bangkit berdiri, memimpin langkah di hadapan Jackson.


Namun, baru saja selangkah maju, kaki itu berhenti mengayun. Rudi memutar tubuh menghadap Jackson dengan picingan mata. Tatapan menilik tajam wajah dari pria yang lebih tinggi dua puluh senti meter darinya itu, mencari jawaban akan kejanggalan.


Jackson hanya berdiam diri, membiarkan mata itu menyorot wajahnya tanpa ingin bertanya apapun.


"Selama ini aku bertanya-tanya tentang wajah anak itu, rupanya dia mirip denganmu, pantas saja terasa familiar," tutur Rudi mengungkap kejanggalan.


"Kau udah lupa sama aku om?" Jackson menyeringai, menutupi rasa malu dengan senyum kaku.


Rudi mengabaikan ucapan itu, mata masih menilik tajam wajah di hadapannya. Sebelum mendapat kepuasan, ia tidak ingin menghentikan. Sehingga ia maju satu langkah, merekatkan jarak tubuh dengan keadaan Jackson.


"Kamu ... punya hubungan darah dengannya?" tanya Rudi kembali mengungkap kejanggalan.


"Engga!" Jackson menyahut tegas, mengingat kenyataan itu kembali menyentuh rasa cemburu. Sesungguhnya, ia menginginkan posisi pria itu. Yakni menjadi ayah dari anak wanita yang di cintai, serta menjadi seorang suami bagi wanita yang di sayangi.


Namun, keinginan memutus harapan, setelah mengetahui pria lain telah mendapatkannya terlebih dahulu.


"Jangan menutupinya dariku." Rudi menerka dengan pasti, memutuskan bahwa Alev adalah anak dari mantan murid yang kini berada di hadapannya. "Jika tidak, mengapa ayahmu dan kamu sendiri mencarinya? Bahkan ayahmu memberikan loyalitas begitu banyak kepadanya."


Jackson tercengang mendengar pernyataan itu, rupa-rupanya sang ayah telah menyerobot siasatnya terlebih dahulu. Namun, semua telah terjadi, ia memastikan mulai detik ini kemenangan akan segera dicapai.


"I-itu urusan pribadiku," ungkap Jackson berdalih, tidak ingin rahasianya diketahui siapapun. "Ayolah om, kau akan mengantarku atau engga?"


Tingkah kikuk itu di balas Rudi dengan tawa kecil. Masih sama seperti sebelumnya, Jackson begitu tertutup kepada dirinya. Tanpa mengucap kata kembali, Rudi mengakhiri perbincangan dengan tindakan. Ia kembali melangkahkan kaki membawa Jackson menggapai tujuan dengan tuntunan langkahnya.


Setelah tiba di tempat tujuan, Rudi mengambil tugasnya. Membawakan seorang anak pria untuk di pertemukan kepada mantan muridnya. Sementara Jackson berdiri di luar ruangan, menunggu seseorang yang begitu ingin di temuinya sejak saat pertama ia melihat.


Picingan mata terukir di balik wajah, menilik wajah seorang pria yang telah berjalan kian mendekati. Dalam jarak dua kaki, meski samar terlihat, ia dapat memastikan jika wajah itu begitu serupa dengannya.


Terkaan menjadi kejutan, ketika Alev berdiri menghadapnya. Membuat kelopak mata terbuka lebar, menggiring rasa kejut dari wajah yang mendongkak menatap pria yang lebih tinggi darinya.


Tak lain dengan Jackson, Alev tercengang melihat sosok yang di rindukannya kini berada di depan mata. Rasa tidak percaya bersarang dalam benaknya, sehingga membuat mulut setengah terbuka.


Belum cukup puas memastikan kenyataan, Alev mengerjapkan mata. Semua nampak begitu nyata, membuat senyum riang tergambar begitu jelas. Kebahagiaan telah menghampiri sejak hari kemarin, dua sosok terpenting dalam hidup telah menemuinya. Ia kehilangan kendali atas diri, melupakan wejangan dari sang ibu. Lantas,


"Papa ...." Tanpa di sadari, Alev menyambut kehadiran ayahnya dengan sapaan yang akan membuat ibunya murka.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2