Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 71


__ADS_3

Lagu syahdu merdu melantun mengiringi kegiatan romantis malam itu. Tara serta Jackson tengah duduk saling berdampingan di dalam sebuah cafe bonavide yang terletak di pinggir pantai Ancol.


Di sebrangnya, Hanson serta Fionapun duduk saling berdampingan meski wajah Hanson terlihat enggan namun Fiona sangat meresapi waktu pertemuannya.


Satu botol Macallan telah terhidang di sana sebagai pelengkap perbincangan mereka. Di bulan ke 2 Tara di tinggalkan sang suami, ia terpaksa menyetujui ajakan Jackson untuk mengunjungi tempat romantis itu.


"Buat kencan romantis ini." Ajak Jackson mengangkat gelasnya untuk bersulang kepada sepasang insan di depannya.


Fiona serta Tara menyiratkan senyuman palsunya, sedang Hanson berdecak sebal. Meski demikian, mereka menyambut ajakan itu.


Seusainya, Jackson melirik bibir Tara yang terdapat tetesan sisa air minumannya di sana. Tanpa ragu, Jackson mengulurkan tangan kirinya menghapus sisa tetesan air minuman yang melekat pada bibir tipis itu, membuat Tara melirih pedih.


Andai Jackson tau bahwa dirinya hanyalah pelampiasan semata, apa yang akan terjadi padanya? Tara membatin tidak mampu berpikir lebih jika saja apa yang selalu di khawatirkannya itu terjadi.


"Jack, kapan ade lo balik?" Ucap Hanson melerai aksi romantis di hadapannya.


"Mana gue tau?" Ucap Jackson mengangkat bahunya. Membegidig acuh.


"Kali aja dia ngomong sama lo." Sahut Hanson di balas gelengan pekat oleh kakaknya.


"Biasanya dia kalo udah ke Spanyol pasti lebih dari dua bulan." Jelas Fiona menatap wajah Jackson seolah sebuah isyarat tersirat di dalamnya.


"Sok tau lo." Senggal Jackson berusaha menyembunyikan sesuatu dari tatapan Fiona terhadapnya.


"Emang udah dua bulan kan dia pergi?" Tara melirih, tanpa di sadarinya ia berucap kata itu yang akan membuat Jackson serta yang lainnya terheran-heran.


Benar adanya, Jackson menatap heran wajah Tara yang langsung di balas Tara dengan tatapan kakunya. "Kamu tau kapan dia pulang?" Tanya Jackson memastikan rasa curiganya.


"A-aku__ mana aku tau?" Dalih Tara tertawa kikuk setelah menyadari ucapannya. "Aku cuma nunggu dia pulang." Lagi Tara berucap di luar kendalinya membuat Jackson menatap kian janggal padanya. "Kan kalo dia pulang aku dapet kerjaan lebih baik." Sadar dengan tatapan itu, Tara melanjutkan sandiwaranya.


Jackson melega meski bukan karna perkataan Tara. "Katanya ga mau jabatan itu?" Ledeknya seraya mencolek pipi wanita yang telah memerah itu.


"Di pikir-pikir enak juga." Dalih Tara tersenyum melega namun bukan karna colekan itu enyah dari pipinya.


Jackson yang merasa gemas dengan tingkah wanita yang selalu di inginkan hatinya, ia meraih gelasnya, di seruputnya minumannya tanpa menelannya melainkan ia menyalurkan minuman itu pada mulut Tara.

__ADS_1


Kegiatan mereka membuat Fiona tersenyum lebar. Sedang Hanson melirik sinis senyuman Fiona membuat makna yang salah terhadapnya.


"Gue ga cemburu sama mereka." Bisik Hanson tepat di telinga Fiona. "Karna gue sayang sama Tara, gue bisa terima keadaan dia, ga kaya lo yang maksain diri." Kembali ia berbisik.


Fiona membeku menyikapi pernyataan Hanson. Emosi mulai menyeruak dari palung asmanya, sekuat tenaga ia memendamnya dengan menyiratkan senyum manisnya.


Sedang Tara yang terkejut, membelalakan bola matanya namun masih menerima suapan itu. "Jack, aku bisa minum sendiri, kamu jangan bikin orang ngiri deh." Lantas menatap ledek wajah Hanson bermaksud menunjuk objek dalam ucapannya.


Jackson tersenyum membalasnya, lantas meraih botol Macallan itu, di letakannya di hadapan Tara. "Buat ratuku yang jago minum ini."


Kesempatan Tara untuk melampiaskan rasa rindunya terhadap suaminya pada minuman di hadapannya. Ia meraih botol itu, tanpa berkata ia membuka tutupnya lalu meneguk isinya.


Detik kemudian, Tara masih meneguk minuman dari botol itu membuat Jackson merebutnya secara paksa.


"Sweaty! Kamu mau mabok apa?" Cemas Jackson masih memegang botol yang telah hilang sepatuhnya isinya itu.


"Kamu kan yang nawarin?" Ujar Tara seraya mengulurkan tangannya mencoba meraih botol itu kembali, namun pria itu telah  menyembunyikannya di balik tubuhnya meski masih dalam genggamannya.


"Udah stop! Aku nyesel udah godain kamu."


"Jack siniin ihhh nanggung." Runtuknya dengan nada manja yang menggemaskan menurut Jackson.


Jackson kian menjauhkan benda itu dari gapaian Tara. "Cium aku dulu kalo mau." Ungkapnya hanya untuk gurauan semata. Namun,


Tara beranjak tergesa hingga kedua tangannya menumpu keras pada bahu kiri kanan pria yang sudah menatapnya lekat-lekat.


Serangan dadakan di dapati Jackson kala Tara melekatkan bibir tipisnya pada bibir Jackson membuat Jackson terlupa untuk menyambutnya.


Hanya sekilas dari kecupan itu yang di dapati Jackson, namun berhasil membuat jantungnya melompat kegirangan.


Jackson memang terkejut, namun hal itu membuatnya semakin ingin menggoda wanita pujaannya itu. "Kurang."


Cup. Kembali Tara mengecup bibir tipis berwarna merah kehitaman itu.


"Kurang."

__ADS_1


Cup. Kini kecupan itu tertahan dengan tangan Jackson yang senggang. Jackson menepikan botol itu di atas lantai agar tangannya mampu menekan tungkak kepala Tara.


Jackson berhasil meresapi rasa kedua belah bibir Tara secara bergantian, mencurahkan rasa cintanya dalam kegiatan cumbuannya. Menikmatinya seolah tiada hari untuk esok mendapatkannya.


Dalam pengaruh alkohol, Tara memejamkan matanya menelusup imajinasi liarnya, menampakkan wajah Sammuel di dalam ingatannya yang tengah lama di rindukannya.


Bodoh bukan? Kala bercumbu dengan Jackson ia melayangkan ingatannya pada wajah suaminya, dahulu kala saat Sammuel belum menjadi suaminya, ia menampakkan wajah Jackson dalam cumbuannya bersama Sammuel.


"Woy! Lo bikin gue meriang Jack." Pekik Hanson berprotes membuat Jackson segera melepas cumbuannya.


Tara menghempas tubuhnya hingga duduk rapi di samping Jackson. "Mana?" Singkatnya, yang sudah tidak mampu berkata panjang lebar ketika napasnya tersendat dalam kerongkongannya.


"Apanya?" Tak lain dengan wanitanya, Jackson mengatur napasnya, membuyarkan bayangan liarnya yang selalu ingin menyentuh seluruh tubuh wanita itu. Menikmatinya seperti saat 12 tahun silam.


"Botolnya bego!" Masih, Tara mengatur napasnya hingga ucapannya terengah di sela menarik puing-puing udara ke dalam paru-parunya. "Kamu udah janji ih."


Jackson mengusap puncak kepala Tara untuk bujukannya. "Pake gelas aja oke?" Lantas ia meraih botol itu dari samping kakinya, menuang isinya ke dalam gelas milik wanita yang tengah mengerucutkan bibirnya membuat Jackson tersenyum gemas menanggapinya.


"Lambung kamu kambuh baru tau rasa." Ancam Jackson, namun tetap saja ia menyerahkan gelas itu kepada Tara.


Dengan kasarnya Tara meraih gelas itu lantas meneguk isinya hingga habis tak bersisa membuat Jackson menggelengkan kepalanya.


"Udah ya sayang please jangan minum lagi." Rajuk Jackson seraya merebut gelas dari genggaman Tara secepat mungkin, takut-takut wanita itu kembali meminta gelasnya di isi kembali.


Tara membisu, namun bibirnya kian mengerucut, bahkan wajahnya memberengut menahan amarah.


Kini Jackson mengecup kening Tara seraya mengusap puncak kepalanya. Seusainya ia menyorot lekat mata wanita yang masih menahan amarah di sampingnya, membuat wanita tertegun di sana, bukan meresapi tatapan Jackson melainkan ia melirih. Andai suaminya yang berlaku demikian, mungkin kebahagiaan tiada terkira akan di raihnya.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2