Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 60


__ADS_3

Petang menjelang, berhias jingga dari warna awan yang tampak cerah hari ini. Tara sudah berada di dalam sebuah pusat perbelanjaan yang terdapat area bermain anak di dalamnya. Atas janji temunya, kini ia tengah mengasuh seorang gadis cilik di dalam area permainan itu.


Seperti biasanya, ia akan membawa Queena bermain di atas komedi putar lantas mencoba segala permainan yang di inginkan si gadis cilik.


Kini ia duduk di atas kursi memperhatikan si gadis kecil yang tengah naik kereta dorong. Di sampingnya, Jackson telah mendaratkan bokongnya di sana seraya menyodorkan sebotol minuman dingin kepada wanita yang terlihat kacau itu.


“Kamu ga cape?" Tanya Jackson memastikan tebakannya jika wajah semberaut itu berasal dari lelahnya mengasuh anaknya.


Tara mengangguk ragu seraya meraih botol itu lantas membuka tutupnya. "Lumayan juga sih." Lalu menyeruput minuman itu perlahan seolah melampiaskan rasa cemasnya dengan minuman yang di seruputnya dengan kasarnya.


"Sorry, aku bikin kamu repot terus." Sesal Jackson dalam dengusan ringannya.


"Ga repot juga." Senggal Tara merasa bersalah. Pasalnya, bukan karna pria yang menatapnya lekat itu kini ia merasa lelah.


Tara memalingkan wajahnya, enggan menatap pancaran mata penuh kagum dari pria di sampingnya itu. Kini matanya mendaratkan pandangannya pada sebuah alat permainan bola basket yang berada di hadapannya membuat Jackson mengikuti arah pandangannya pada pusat pandangan Tara.


"Kamu mau coba ga?" Tawar Jackson menerka-nerka jika wanita itu ingin melakukannya.


"Apa?"


"Main basket." Tunjuk Jackson ke arah tempat itu dengan dagunya.


"Boleh." Sambut Tara seraya menolehkan arah pandangnya pada si gadis cilik yang masih asyik berada di dalam kereta. "Mungpung dia masih anteng." Lantas bangkit dari duduknya penuh semangat.


Jackson tersenyum seraya ikut bangkit lalu merebut botol minuman dari Tara untuk menyimpannya di atas kursi bekasnya menopang tubuhnya.


Tara terlebih dulu melangkahkan kakinya di buntuti Jackson hingga menepi di hadapan alat permainan itu.


"Kita lomba, kalau aku menang kamu harus jadi cewe aku." Ucap Jackson menyeleneh namun batinnya mengungkap kejujurannya. Kesempatan baginya untuk menarik wanita itu dalam genggamannya.


"Kalo aku yang menang?"


"Kamu harus jadi ibu tirinya anak aku."


"Enak aja! Enak di elo ga enak di gue dodol." Gurau Tara lantas tertawa di akhir kalimatnya.


"Oke kalo kamu menang kamu boleh minta apapun dari aku, sekalipun hati aku."


"Ah sinting, ga ada enaknya buat aku." Sewot Tara bersungut sebal hingga mencubit kasar pinggang Jackson yang membuat empunya meringis menahan sakit.


"So, kamu mau apa kalo aku kalah?" Tanya Jackson memastikan.

__ADS_1


Tara menyiratkan senyuman iblisnya pertanda buruk akan terjadi, tidak di ketahui Jackson bahwa olah raga itu adalah salah satu olah raga yang di kuasainya. "Kamu bilang aku boleh minta apapun kan?"


Jackson menyadari senyuman penuh arti itu. Apakah ia salah menawarkannya pada wanita yang masih menyeringai keji itu? "Hmm, tapi yang mampu aku kasih."


"Oke!" Kembali senyuman itu tersirat yang membuat Jackson bergidik ngeri.


Tanpa ragu, Tarapun memulai menggesekan kartu akses permainannya untuk memulai aksinya, begitupun dengan Jackson melakukan hal serupa dengan wanita itu.


Rasa saling ingin mendapatkan kemenangan bagi keduanya begitu terpacu hingga membuat mereka melakukannya penuh semangat dalam percaya dirinya.


Hingga satu babak usai, Jackson rupanya memimpin kemenangannya. "Kamu kalah sweaty." Senyuman melebar itu terlihat Tara begitu menyebalkan.


"Mana ada pertandingan cuma satu babak. Dua babak lagi baru tau hasilnya siapa yang menang." Penggal Tara tidak terima jika dirinya mendapat kekalahan mutlak.


"Oke setuju!" Putus Jackson di balas amggukan oleh wanita yang berdiri pada jarak satu meter darinya itu.


Kembali mereka melakukan aksinya, kini Tara bersungguh ingin meraih kemenangannya untuk mendapatkan sesuatu yang selalu di inginkannya. Yaitu, segera melakukan tugas dari suaminya membawa pria ayah dari anak semata wayangnya untuk segera bergabung di dalam perusahaan itu agar dirinya dapat dengan mudah mendapat simpati dari suaminya.


Namun setelah dua babak usai, Tara mendapati kekecewaannya di mana Jacksonlah sang pemenangnya.


"Aku salah, aku kira aku paling jago maen basket." Tara melirih membuat Jackson mengusap sayang puncak kepalanya.


Tara bungkam, namun kedua bola matanya berputar, mendelik tajam membalas ucapan itu. Kini ia melangkahkan kakinya menuju tempat di mana anak angkatnya berada.


Naas, mereka tidak menemukan anak itu di tempat semula hingga Tara mulai panik bahkan rasa cemas mencambuk perasaannya. Ia berlari sekencang mungkin mengelilingi tempat tersebut mencari keberadaan anak itu.


Jackson yang ikut mencari namun terpisah dengan Tara, ia pun berlari menyusuri setiap sudut ruang itu.


Berjam sudah mereka mengelilingi pusat perbelanjaan luas itu hingga mereka kembali bertemu dalam titik tempat semula membawa kekecewaannya lantaran mereka belum mendapatkan keberadaan anak itu.


Napas mereka masih terkoyak akibat olah raga dadaknnya, mata Tara mulai bergenang air payau yang membuat Jackson mengusap wajahnya penuh frustasi setelah melihat mata melirih itu.


Kembali Tara mengayunkan kakinya. Namun baru selangkah maju, Tara menghentikanya dalam pandangannya yang melega.


Di sana, di depan penjual es krim Tara serta Jackson melihat gadis cilik itu tengah berada dalam pangkuan seorang pria yang memiliki tinggi tubuh 192cm.


Tara serta Jackson kembali melangkahkan kakinya menghampiri anaknya yang masih berada dalam pangkuan pria yang berdiri membelakanginya.


"Queena." Panggil Tara membuat sang pria memutar tubuhnya untuk melihatnya. “Hanson." Sapanya dengan senyum lebar saat melihat siapa pria yang telah memangku gadis cilik itu.


"Mommy." Suara binar yang imut itu membuat Tara tersenyum riang. Queena mengangkat kedua tangannya meminta pangkuan terhadap wanita yang berdiri di samping ayahnya.

__ADS_1


"Kalian asik pacaran sampe lupa sama anak ini?" Ledek Hanson untuk kakaknya yang sudah tersenyum simpul di sana. Segera ia menyerahkan si gadis cilik pada wanita yang sudah mengarahkan kedua tangannya pada gadis cilik itu.


Tarapun mengecup kedua pipi anak itu bergantian, mengucap rasa syukur dengan tindakannya. "Maafin mommy sayang."


"Iya gue lupa kalo gue udah beranak." Ucap Jackson membuat Tara terkekeh sebal.


"Hans kamu ngapain di sini?" Tanya Tara lantas menyiratkan senyum manisnya membuat Jackson menahan tatapannya dalam cemburu hatinya.


"Nganter nyonya shopping." Sungut Hanson berimbuh melengus lirih. Meski ia tidak menyukai wanita yang telah menjadi pasangan tunangannya, namun atas dasar bisnis serta hubungan erat ayahnya dengan calon mertuanya membuatnya harus menuruti segala keinginan wanita itu.


Sedang Jackson di sana menyebar senyuman leganya. Ada sesuatu yang di sembunyikannya dari tingkah adik pertamanya yang sesungguhnya berasal dari titahnya. “Ribet ya lo punya cewe kaya dia? Liat nih cewe gue, dia ga suka shooping makanya ga bikin ribet lakinya." Kagumnya pada wanita di sampingnya terlampiaskan dengan merangkul pinggang wanita itu.


Hanson berdecak seraya mendelik tidak suka jika apa yang di katakan kakaknya memang membuatnya selalu frustasi. "Gue sumpahin lo kalo dia ngidam entar anaknya minta lo joget-joget di tengah mall." Sungutnya menyumpah serapah pria yang terkekeh di hadapannya.


"Aminnn." Ucap antusias Jackson yang membuat Hanson serta Tara terkekeh.


"Sinting lo!" Cibir Hanson dalam gelengan kepalanya.


"Ya aminin dulu lah kalo dia mau punya anak dari gue." Harap Jackson menatap lekat wajah wanita yang melirih di sana.


Tara mendengus, bukan hanya ingin memiliki anak dari pria yang telah melepas dekapan pada pinggangnya itu, namun sudah memilikinya. Enggan mendapat situasi canggung, ia menyeret tangan kiri Jackson untuk melihat alat pengukur waktu yang melingkar di sana. "Sorry Jack aku masih ada urusan lain." Pamitnya menyerahkan si gadis cilik kepada ayahnya.


Jackson menghela napas kasarnya mewakili rasa enggannya untuk berpisah dengan sang pujaan hati. Namun, ia tetap menyambut anaknya dari tangan wanita itu. "Lagi-lagi aku di tinggalin."


"Udahlah anak mama jangan cengeng." Hibur Tara seraya mengusap pipi Jackson membuat sang empunya meresapinya meski hanya sekilas.


"Oke kalo gitu, aku ga bisa anter kan? Kamu bawa mobil kan?" Tanya Jackson di balas anggukan keras oleh Tara.


"Hans, aku duluan." Pamit Tara dalam lambaian tangannya.


Hanson membalasnya dengan melambaikan tangannya tanpa berkata apapun.


Tarapun berlalu begitu saja dari hadapan dua pria yang menatap punggungnya hingga menjauh dari hadapannya.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2