
Hari dari awal minggu telah tiba, awan kelam yang menyelimuti ibu kota Jakarta pagi itu seolah menyambut perasaan Tara yang akan menghadapi situasi sulit mulai detik itu. Pagi yang masih buta sebelum mentari terbit dari ufuk timur, Tara sudah mengguyur tubuhnya.
Persiapan utamanya adalah mengenakan pakaian tempur untuknya mengunjungi sebuah tempat di mana ia akan mendapat penghasilan tambahan dari upayanya sendiri.
Setelah beberapa menit ia tengah bersiap diri, ia segera melanjutkan persiapannya untuk memenuhi kebutuhan suaminya.
Hidangan santapan pagi tengah tersaji di atas meja makan, namun ia belum kunjung mendapati kehadiran suaminya. Segera ia menuju ruang tidurnya namun masih tidak nampak suaminya di sana.
Suara pekikan teriakan sang suami rupanya menelusup indra pendengarannya dari dalam ruang tempat membersihkan dirinya.
"Artttttt, handuk gue lo bawa ke mana?" Teriak Sammuel memekik di dalam sana namun terdengar samar oleh sang istri yang berada menjauh darinya.
"Ada kok di sana." Balas Tara melengking tak kalah memekkik dari suaminya.
"Kalo ada gue ga mungkin teriak."
Enggan berdebat, Tara segera meraih handuk dari dalam tempatnya. Setelahnya ia segera melangkahkan kakinya membuka pintu ruang membersihkan diri itu, nampak samg suami berdiri tegak di balik pintu itu.
Kelopak mata Tara terbuka lebar kala melihat tubuh suaminya yang masih terdapat tetesan air di sana, bahkan tidak terbalut satu helai benangpun.
Sammuel membeku hingga membiarkan istrinya berlama-lama menatap tubuh berbentuknya.
Dada bidang serta perut berkotak enamnya adalah tujuan mata Tara saat ini, setelah merasa puas ia mengalihkannya pada wajah suaminya yang nampak lebih sensual dengan rambut berantakan di dampingi tetesan air masih tersisa di sana, membuat jantungnya loncat kegirangan hingga napasnya seakan tersenggal dalam tenggorokannya.
Sammuel memaparkan senyum iblisnya tat kala sang istri menyudutkan pandangannya pada bibir tipisnya.
"Udah kenyang?" Goda Sammuel memecah pandangan sang istrinseketika kala ia menarik paksa handuk dari tangan istrinya.
Tara tersadar hingga mengerjapkan matanya. Seusainya ia memutar tubuhnya membelakangi suaminya. Namun Sammuel berhasil meraih tangannya setelah mengaitkan handuk pada pinggangnya. Di seretnya tangan itu hingga tubuh itu larut dalam dekapannya.
Kini sepasang mata itu saling menatap, memaparkan kekaguman pada setiap masing-masingnya.
"Mau ke mana lo?" Ungkap Sammuel menatap mata sang istri dengan sorotan aura sensualnya membuat wajah jelita itu merona seketika.
"Ngambilin baju kamu." Sahut Tara malu-malu menyembunyikan rona merah pda pipinya dengan menundukan wajahnya enggan terintimidasi oleh tatapan suaminya.
__ADS_1
"Art, bantu gue tenangin dia dulu." Pintanya tertuju pada sesuatu di bawah sana.
"Sam aku ga mau terlambat di hari pertama kerja." Tolak Tara melirih membuat Sammuel tersenyum miris.
"Lo hebat Art, bikin masa depan gue ancur." Ucap Sammuel berpasrah diri mengingkari keinginan sang hati yang tersulut begitu membara dari gairahnya yang berseru.
Mendengar pernyataan sang suami membuat Tara mengingat sesuatu untuk tidak memiliki keturunan dari pria yang kini menatapnya penuh picingan namun membuat hatinya melirih.
Bukan ia tidak menginginkannya, melainkan ia enggan jika status dirinya seperti ini yang akan mempersulit keadaannya di kemudian hari.
"Maaf Sam ini hari pertama aku kerja, kamu jangan bikin aku malu." Seru Tara memaksa membuat penyesalan sang suami merangkak begitu saja.
Sammuel mengumpat dalam benaknya mengingat ia enggan mengakui status hubungannya dengan istrinya.
Seandainya tidak demikian, maka akan dengan mudah ia mengatakan kepada seluruh pekerjanyanya bahwa siapa sebenarnya Art Tara Biancasandra hingga tidak akan ada yang berani mengusiknya.
"Aku udah siapin sarapan di meja makan." Seru Tara memecah lamunan suaminya tanpa pelantara.
"Sarapan bareng, sekarang baru jam 7 kan?" Pinta Sammuel cemas jika selera makan sang istri sirna begitu saja akibat suasana tegangnya saat ini.
"Gue tau jalan pintas, tinggal ikutin gue dari belakang." Sahut Sammuel membuat senyum sang istri berseru lega.
"Tapi kamu jangan bareng datengnya." Pinta Tara membuat sang suami menyeringai kesal.
"Harusnya gue yang ngomong gitu oon."
"Oh ia sorry."
"Udah bawel sana, lo tunggu gue di meja makan, gue pake baju dulu." Sewot Sammuel lantas melangkahkan kakinya tanpa ragu.
Begitupun dengan Tara, ia berlalu dari hadapan suaminya, melangkahkan kakinya hingga menepi di dalam ruang tempatnya menyantap sarapannya. Ia mengambil posisinya seperti sedia kala, mendaratkan bokongnya di atas kursi itu.
Lama menunggu, Tara menyuapi dirinya terlebih dahulu dengan santapan yang telah terhidang itu. Tepat saat ia menghabiskan seluruh santapannya, Sammuel datang menghampirinya yang langsung duduk di sebrangnya.
Sammuel menatap piring kosong di hadapannya lantas menyeringai menatap istrinya. "Gaya lo mau pergi ga sarapan dulu, sekarang lo malah ninggalin gue sarapan."
__ADS_1
"Kamunya yang lama, dari pada waktu abis ga karuan ya mending aku sarapan duluan." Tebas Tara. Ia meraih gelas teh nya lalu menyeruput isinya.
Pluk! Sammuel melempar sebuah benda ke atas meja di hadapan Tara. "Mobil lo, sesuai janji."
Tara meraih benda itu seraya mendelik. "Kamu ngomongin janji mulu ih."
Sammuel terkekeh lantas menggulung spagetinya dengan garpu yang sudah ada di genggamannya. "Merci merah flat B 2 TR."
"Oke thanks, aku boleh pergi duluan kan?" Tak acuh Tara bangkit dari duduknya melupakan wejangan suaminya.
"Lo kan mau buntutin gue lewat jalan pintas." Sejenak ia mendongkak menatap heran wajah istrinya. "Kalo pergi duluan bukan buntutin namanya."
Tara mendengus seraya memutar bola matanya lantas kembali duduk pada tempat semula.
Sedang Sammuel terkekeh melihat tingkah istrinya lantas melanjutkan sarapannya hingga santapan habis tak tersisa suasana hening melanda.
"Lo ga ngerokok?" Tanya Sammuel menyeruput kopinya dengan rokok menyala sudah ada pada jepitan jarinya membuat istrinya menatapnya penuh gelisah.
"Sesuai janji aku, berhenti kalo udah kerja." Balas Tara yang masih meruntuk dalam asanya melihat tingkah tak acuh suaminya.
Sammuel tersenyum menanggapi sikap istrinya yang sudah sedikit berubah. "Baru kali ini lo bisa nepatin janji."
"Berisik ah, bisa ga kamu ngerokoknya di mobil aja? Sayang waktu tau."
"Iya iya nyonya." Sammuelpun memadamkan bara api itu di atas asbak.
Lantas ia bangkit dan melangkahkan kakinya di buntuti oleh istrinya di belakangnya.
•
•
•
Tbc
__ADS_1