Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 125


__ADS_3

Hari libur seharusnya menjadi hari yang menyenangkan bagi Jackson, namun kini membuat harinya begitu menyedihkan, pasalnya Fiona masih melekat di sekitarnya.


Ruang tempat memasak adalah tempat pijakan kaki mereka di siang yang begitu mendung itu, Fiona sengaja menyibukkan diri dengan mempersiapkan santapan siang untuk dirinya serta pemilik rumah.


Sementara Jackson berdiri berpangku tangan di sekitar Fiona yang tengah bergelut dengan peralatan dapur tanpa membantu sedikitpun.


"Lo yakin ga mau keluar?" tanya Jackson memastikan setelah beberapa kali sebelumnya ia mengajaknya.


Jackson khawatir dengan keadaan wanita itu yang terlihat murung sejak pagi tadi, ia tak ingin wanita itu menangis di hadapannya.


Jackson membenci tangisan wanita yang akan membuat gengsinya terjatuh tanpa bisa di cegahnya.


Sesungguhnya Fiona memikirkan nasib sahabatnya yang terlihat lebih mengenaskan di bandingkan dirinya saat malam tadi setelah dua saudara kandung bertengkar di dalam sebuah club malam itu.


Hari ini, mulai dari mentari terbit dari ufuk timur ia telah mencoba memanggil sahabatnya melalui panggilan sellulernya namun tidak ada sekalipun tersambung dengannya.


Maka dari itu, rasa cemas kian meluas dari angannya hingga membuat konsentrasinya buyar begitu saja.


"Lo kalo mau keluar ya keluar aja, gue lagi males!" ujar Fiona berseru ketus kala ia mulai memasukan minyak goreng pada wajan yang telah bertengger di atas kompor menyala.


"Biasanya juga lo shopping, atau arisan kan kalo hari minggu gini?" sahut Jackson merajuk.


Percayalah, hingga kini Jackson masih berusaha keras ingin menghibur hati wanita yang sedang bersedih itu.


"Itu kan lo yang nyuruh dodol, kapan gue suka kaya begituan?" Fiona geram hingga nada bicara itu kian memekik membuat Jackson mendengus lelah.


Memang benar adanya, segala sesuatu yang di lakukan Fiona dahulu kala atas perintahnya untuk mencoba menggait hati seorang pria yang di cintai wanita itu selama tiga tahun ke belakang ini.


"Gue nyuruh lo ngikutin acara begituan biar lo bisa nyari klient, tapi mana hasilnya?" sahut Jackson berbalas tatapan sebap dari wanita yang berdiri di hadapan kompor itu.


"Sorry gue ga sepinter cewe lo, bisa jalan di mall aja udah untung buat cewe setengah jantan kaya gue gini," ujar Fiona mulai sewot.


"Makanya gue sengaja nyuruh lo kaya gitu biar lo bisa anggunan dikit, si Hans kan demennya sama cewe anggun kaya si Tara," sahut Jackson terabaikan kala suatu tragedi terjadi di sekitar Fiona.

__ADS_1


Pyakkk.. pyakkkk..


Sang minyak berhamburan keluar wajan dari percikan air yang bersentuhan dengan minyak panas membuat kepanikan tumbuh dari angan sepasang insan di sekitarnya.


"Kyaaaaa!!!" Fiona mengulurkan tangannya menutup wajahnya tanpa menghindarkan tubuhnya yang masih berdiri di tempat.


Sontak Jackson terkejut, lantas ia menghampiri Fiona dengan tergesa. Namun belum ia meraih tubuh ramping itu, cipratan minyak telah berhenti mengamuk.


Fiona melepas tangannya dari wajahnya, ia menatap wajah Jackson yang memaparkan aura cemasnya. "Lo khawatirin gue?" Ledeknya di sela tawa gelinya.


"Cih ogah, gue cuma pengen liat tuh ayam lagi ngapain sampe bikin minyak gorengnya nyiprat-nyiprat ga karuan gitu," Celoteh Jackson berdalih kikuk membuat Fiona terkekeh geli.


Jackson menatap lekat wajah Fiona bahkan meresapinya di sana hingga tanpa terasa ia mengulurkan tangannya mengelus pipi setengah gembul itu di sambut Fiona dengan senyum penuh kemenangan.


Fiona yakin jika pria itu telah memiliki rasa sayang terhadap dirinya setelah menilik sorotan mata iba dari sang pria.


Namun Jackson menyadari senyum wanita itu hingga ia mencari jalan untuk menepisnya. "Udah lah lo mending diem deh, di sini ada koki juga ngapain lo repot-repot gitu?" Lantas melepas tangannya dari wajah sang wanita dengan tergesa.


"Biar keliatan kalo gue calon tunangan yang baik,” ujar Fiona di sertai senyumannya.


"Awas aja jangan nyesel." Fiona menutup wajan itu agar sang minyak tidak membuat pria itu mengkhawatirkannya kembali, lantas beranjak mengambil sayuran.


Di cucinya sayuran itu kemudian memotongnya sesuai seleranya. Di tengah kegiatannya, rupanya pisau tajam itu menggores jarinya membuat darahnya menetes dari sana.


Rasa cemas Jackson kembali menyebar hingga tanpa pelantara ia mengulurkan tangannya untuk meraih tangan wanita itu, namun ia menepisnya secepat kilat sebelum tangannya berhasil meraihnya. Terlanjur melakukannya, ia berdalih dengan meraih sayuran itu, di jauhkannya dari tangan Fiona.


"Sinting lo, gimana kalo darahnya netes ke sini?" Tunjuk Jackson dengan dagunya pada sayuran yang berada di dalam genggamannya.


"Aihhh, sayur kotor tinggal cuci lagi kali." Tanpa acuh Fiona meraih tisyu, di hapusnya darah itu dari tangannya tanpa meminta bantuan pada pria yang kini menggelengkan kepalanya.


"Jijik banget gue makannya juga," sahut Jackson kembali berdalih seraya menghempas kasar sayur itu ke atas meja, lantas ia berlalu begitu saja dari hadapan Fiona.


Fiona mengabaikan tubuh pria yang telah hilang dari hadapannya, ia kini mencuci bersih tangannya yang mendapat goresan luka dari pisau saat lalu.

__ADS_1


Lantas ia kembali melanjutkan kegiatan masak-memasaknya tanpa gangguan dari pria yang telah hilang selama sepuluh menit ke belakang itu.


Tepat saat ia mengangkat ayam yang sedang di goreng dari atas wajan, Jackson kembali yang langsung meraih serta menghempas piring dari genggaman Fiona ke atas meja, lantas menyeret tangan Fiona tanpa kata.


Di ulurkannya tangan itu pada keran air di mana air mengalir di sana, di cucinya dengan bersihnya, seusainya ia meraih cairan antiseptic yang telah di ambilnya sebelumnya untuk di oleskan pada luka di jari telunjuk Fiona.


"Jangan urus dulu makanannya kalo luka lo belom di balut." Jackson berprotes kejam namun di sambut senyuman oleh Fiona kala ia membalutkan plester pada jari itu.


"Segitu jijiknya lo sama darah?"


Percikan kagum mulai terbersit dari angan Fiona hingga ia sudi menatap lekat wajah Jackson yang masih sibuk membalut lukanya.


Hawa cinta kasih menyembur dari dalam asmanya kala ia menilik wajah tampan yang tertunduk menatap jemarinya.


"Lebih jijik liat lo!" ujar Jackson dalam gurauan berbalas tawa kecil dari wanita yg berdiri di hadapannya.


"Jangan makan ludah sendiri aja." Hingga kini Fiona masih menahan tatapannya di sana.


Jackson membalas tatapan itu dengan tatapan bengisnya membuat Fiona memalingkan arah pandangannya. "Serah lo dah, ngebacot aja sampe puas." Namun kini tatapan itu menyemburkan rasa kagum dari dalamnya setelah menilik tajam wajah polos itu.


Kini kedua pasang mata itu saling menatap, meresapinya di sana. Fiona membiarkan tatapan itu berlama meniliknya, ia berpura menatap kosong arah depannya.


Berdetik kemudian, Jacksonpun tersadar hingga menghempas kasar tangan itu dari genggamannya. "Anter gue ngajak jalan anak gue ke mall abis ini."


"Siap!" jawab Fiona penuh semangat.


Lantas, mereka melanjutkan kisah kehidupan mereka sedemikian adanya.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2