Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 86


__ADS_3

Dalam langkahnya menuju elevator, ia di kejutkan dengan sebuah tindakan yang menyeret pergelangan tangannya dari arah belakangnya hingga  melirikan pandangannya pada pemilik tangan itu.


****


"Sam!" Pekiknya penuh kejutan, namun sudut bibirnya terangkat menyiratkan senyuman cerianya.


"Di anter siapa tadi?" Tanya Sammuel tegas berhias dengan merangkul pundak istrinya membuat sang istri kain tersenyum riang mendapat perlakuan itu.


"Hanson." Balasnya singkat yang tercekat senyuman itu enggan enyah darinya.


"Dia tau juga lo tinggal di sini." Sammuel mengangguk faham hingga ia merogohkan tangan senggangnya ke dalam saku celananya menyembunyikan kepalannya, menahan emosinya pada diri sendiri yang telah mengabaikan jiwa pengintai kakak ketiganya.


"Ga usah takut, dia pikir aku ga kasih tau tinggal di sini karna takut kakak kamu sering dateng ke sini." Jelas Tara seolah mengetahui kerancuan hati sang suami, namun tidak melegakan bagi Sammuel.


"Ribet juga urusannya, dia tau kalo gue punya kamar di sini." Perkataannya terhenti kala ia menekan tombol pada samping elevator itu. "Gue denger si Jack minta izin bokap gue buat lo tinggal di rumah bokap gue." Imbuhnya di sela langkahnya memasuki ruang yang hanya dapat menumpu bobot 2000 kilo gram itu tak lantas membawa tubuh istrinya membuntuti langkahnya


"Hah?!! Kejut Tara hingga menepuk lembut keningnya. "Bisa gila aku."


"Kenapa? Bukannya bagus? Jadi lo bisa tidur bareng sama dia tiap hari." Pancing Sammuel mengumbar emosinya yang kian tersulut atas ucapannya sendiri hingga ia mendorong tubuh istrinya, menyudutkannya pada dinding ruang itu. Matanya kini menyorot lekat wajah istrinya yang telah melirih.


"Kamu sinting Sam." Tara memberanikan diri membalas tatapan kelam yang di rasanya tidak terlalu menakutkan itu. "Aku emang pelacur, tapi aku ngelacur cuma sama kamu aja." Balasnya tak kalah emosinya dengan meluapkannya pada nada bicaranya.


Deg! Sammuel membeku hingga menepiskan arah pandangnya ke samping bawahnya. Benarkah Tara belum tersentuh sedikitpun oleh sang kakak? Batinnya bergumam ingin mendapat jawaban, namun tertahan dalam-dalam lantaran gengsi menyumbat angannya.

__ADS_1


Diamnya Sammuel membarikan kesempatan bagi Tara, ia mendorong dada suaminya dengan kedua telapak tangannya hingga tubuh suaminya menjauh darinya.


"Kenapa lo ga mau jual diri lo sama dia? Kali aja dia bayar lo lebih banyak." Sammuel kian memancing dengan picingan matanya, kedua tangannya kini melesupus ke dalam saku celananya, menyembunyikan kepalan tangannya.


"Sorry Sam, aku pelacur terhormat. Ga akan mau di jamah kalau ga punya status resmi." Tepis Tara namun membuat suaminya kian emosi atas pengakuan status hina yang terucap dari mulut mungil itu hingga ia mengayunkan kakinya selangkah maju ke depannya membuat istrinya sontak melangkah mundur ke belakangnya.


"Jadi lo mau ngelakuin itu sama gue cuma karna gue suami resmi lo?" Tanyanya memastikan tebakannya jika kata cinta dari istrinya hanya kepalsuan belaka.


Kembali Tara mendapat tatapan iblis itu hingga membuat tubuhnya bergetar tanpa pelantara diniringi jantungnya yang berdegup tanpa arah namun bukan karna takut, melainkan ia merasakan hatinya bergejolak ingin meraih wajah itu dengan bibirnya.


"Iya kan?" Imbuh Sammuel mengulang ucapannya saat mulut itu terbungkam rapat.


"Kamu maunya aku jawab apa?"


"Mau jawaban jujur? Apa kamu siap?" Tara menggoda, menyiratkan tawa kecilnya menyembunyikan lirihan asmanya dalam kerancuannya. Rasa takut akan cibiran tertutur dari mulut suaminya jika ia mengatakan kesungguhannya yang di rasanya akan membuahkan paksaan bagi hati suaminya.


"Gue ga suka yang palsu, kalaupun jujur lebih menyakitkan." Sahut Sammuel kian merekatkan jarak wajahnya pada wajah istrinya membuat sang istri tertegun di sana.


Sesungguhnya Tara mengharap lebih dari apa yang di lakukan suaminya saat ini. Batinnya telah bergejolak menyerukan hasratnya untuk mendekap tubuh yang lebih tinggi darinya itu. Asanya melompat ingin memberikan sentuhan pada wajah tampan yang telah menepis jarak dengan wajahnya itu.


Namun naas, pintu elevator itu terbuka membuat suasana tegang terlerai. Tara melega saat merasa sang elevator mampu menghindarkan wajah tampan yang telah membuat rona wajahnya begitu kasat mata, namun Sammuel kian emosi pada sang elevator yang telah mengacaunya untuk mendapat jawaban itu.


Kesempatan Tara meraih waktunya untuk memikirkan sebuah jawaban yang pantas ia berikan untuk suaminya. Hingga pada akhirnya, segera Tara melangkahkan kakinya meninggalkan elevator itu di buntuti sang suami di belakangnya.

__ADS_1


Tara segera menekan tombol yang tersirat pada dinding pintu ruang miliknya untuk membuka aksesnya.


"Ga mau jawab?" Sammuel masih penasaran hingga ia kembali membawa tubuh istrinya dalam lentangan tangannya meski istrinya kini berdiri membelakanginya.


"Bentar deh, aku jadi ga konsen teken tombolnya." Dalih Tara membuat suaminya melepaskan lentangan tangannya.


Pintupun terbuka, kembali Tara melangkahkan kakinya, namun kini lebih memburu dari sebelumnya agar lekas menuju ke dalam ruang itu. Sedang Sammuel yang berada di belakangnya ia bertugas menutup pintu itu sebelum menyusul langkah pendek istrinya.


Kini mereka tengah mendarat di dalam ruang tidurnya. Tara berjalan menuju nakas di samping kasur itu, ia menyimpan tas selempangnya di sana. Ia termenung mengingat tas penampung busananya tertinggal di tangan Jackson.


"Art Taraaaa." Panggil Sammuel penuh emosi dengan lentingan nada bicaranya membuat istrinya bergegas menatapnya yang berdiri di sekitarnya memaparkan aura kelam dalam kedua tangannya yang merogoh saku celananya.


"Mau gue nunggu sampe kapan?" Nada bicara Sammuel sudah berubah menjadi ketus. Baru kali ini ia merasa di permainkan oleh seorang wanita membuat sang istri mengangguk faham dengan emosi yang terpapar itu.


Tara maju selangkah hingga jarak tubuhnya merekat dengan tubuh suaminya mempermudah tindakannya untuk menghibur emosi yang masih terpapar dari wajah suaminya. "Sampe sekarang!" Sahutnya berteguh diri.


"So?" Sammuel memicingkan kedua matanya menunggu kepastian jawabannya yang membuat rasa penasarannya kian bergejolak.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2