Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 146


__ADS_3

Kunang-kunang berterbangan menyebar menyinari hari yang telah gelap, mereka menari di hadapan Tara yang telah termenung di atas balkon yang terdapat di dalam kediaman suaminya.


Suara jangkrik bergeming riang menemani renungannya atas kejadian siang tadi yang membuat batinnya teriris perih, ia masih menyesali kepergian si gadis cilik yang telah menjadi belahan jiwanya.


Batinnya meronta ingin sekali mencegah kepergiannya, namun kisah hidup bersama anaknya telah menyadarkan dirinya dari apa yang telah terjadi selama ini.


Lamunan yang begitu panjang itu membuatnya teringat akan keseluruhan kisah hidupnya bersama orang-orang yang di cintainya, waktu dua jam untuk menunggu suaminya yang telah melakukan pekerjaannya ia gunakan sebaik mungkin untuk merenungi seluruh kesalahannya.


Saat bayangan kehidupan tentang anaknya terbersit di dalam ingatannya, ia memejamkan kedua matanya di iringi helaan napas dalamnya, membubuhkan rasa sesal yang terdalam dari jiwanya.


Terpikirkan olehnya jika ia telah berbuat sesat terhadap buah hatinya tanpa menimang resiko setelahnya, ia menerka jika kini sang anak telah menaruh rasa tidak suka terhadap dirinya yanh telah mengabaikannya selama beberapa bulan ini.


Namun semua itu ia lakukan demi melindungi sang buah hati dari mara bahaya yang berakar dari para orang tuanya, dan kini ia memiliki alasan lebih kuat untuk melakukan itu setelah merasakan bahwa selalu ada pasang mata yang mengintai seluruh kegiatannya.


Ia menerka pemilik pasang mata itu adalah seorang yang di utus untuk mencari tau tentang kehidupannya, namun ia belum dapat memastikan siapakah yang menjadi tuan dari mereka.


Sementara di balik itu, Sammuel telah mengayunkan kakinya untuk menghampiri sang istri yang berdiri membelakanginya.


Sammuel tersenyum melihat tubuh ramping yang merengkuh di atas pagar itu, ia memburu langkahnya untuk segera tiba di hadapan istrinya.


Setelah ia menggapai tujuannya, ia segera merangkulkan kedua tangannya pada tubuh istrinya membuat empunya segera memutar tubuhnya tak lantas menatapnya penuh rasa kejut.


"Udah video meetingnya?" tanya Tara berbalas anggukan ringan dari sang suami.


"Hmm." Sammuel hanya berdengung kala tatapannya berpusat pada tubuh istrinya yang hanya mengenakan dress kebesarannya saja membuatnya merasa gemas hingga tanpa aba-aba ia mengcup kening istrinya.


Tara tersenyum riang setelah bibir itu terlepas dari keningnya, ia mengucap kata terimakasihnya dengan tatapan kagum pada wajah suaminya.


"Meeting apaan sih malem-malem gini?" tanya Tara.


"Meeting dari Spanyol, ngurus tender ultranium, terakhir itu gue ga hadir, si b*ngke mantan cowo lo juga ga ngasih tau hasilnya," sahut Sammuel berbalas tawa kecil dari istrinya kala sang istri mendengar sebutannya untuk kakaknya.


"Sekarang di Spanyol berarti jam satu siang ya?"


"Hmm." Sejenak Sammuel memenggal katanya kala ia teringat dengan keadaan istrinya yang hanya mengenakan pakaian tipis di kala hari yang semakin dingin itu. "Lo ga dingin apa diem di sini?"


"Lumayan sih, tapi enak bisa liat pemandangan di depan," sahut Tara di sertai wajahnya yang bergerak ke sampingnya di mana keadaan yang di sebutkannya berada di sana. "Kamu lihat kan pantainya bagus?" Jari telunjuknya melenting ke arah sampingnya seolah menegaskan sang suami untuk menatap apa yang di tunjukkannya.


Dalam diam yang tertahan Sammuel geram namun berbaur dengan rasa gemas yang berlebih mendengar pernyataan itu, hanya tawa kecil yang terlontar untuk menepis rasa gemasnya.


"****, gelap gitu apanya yang keliatan?" tanya Sammuel berseru di antara gemas dan sebal hingga ia melepas dekapannya begitu saja.


"Ya lampunya lah!" Tara sewot hingga nada bicaranya melenting nyaring membuat sang suami kian gemas menanggapinya.


"Lo bilang tadi pantainya oneng." Rasa gemas Sammuel tersalurkan dengan sentilan manja pada kening istrinya.


Tara tidak mampu menimpali ucapan itu hingga mulutnya terbungkam rapat namun kedua pasang matanya mendelik tajam di iringi kerucutan bibirnya yang tersirat begitu lekatnya.


"Yakin lo ga dingin?" tanya Sammuel.


"Dingin sih lumayan."


"Kalo gitu sini gue panasin." Sigapnya tangan Sammuel, setelah berucap ia segera menangkap tubuh istrinya hingga kembali larut dalam dekapannya.


"Jangan di sini," seru Tara menolak dengan nada manjanya.


Sammuel kembali gemas di buatnya, ia tangannya dari tubuh istrinya, namun kembali meraih tubuh itu dalam pangkuannya untuk membawanya menuju ke dalam ruang yang di rasanya lebih berhawa hangat itu.


Setelah tiba di hadapan tempat tidurnya, Sammuel melepas tubuh istrinya dari pangkuannya, ia merebahkan tubuh itu di atas kasur yang tersedia.


Malam yang dingin itu memanas kala sepasang insan melakukan kegiatan yang hanya dapat di lakukan oleh pasangan suami istri.


Usai melakukannya, Sammuel memejamkan matanya untuk menelusup alam mimpinya, meninggalkan istrinya yang kini telah merasa jenuh dengan keadaannya.


Untuk menepis rasa itu, Tara mencari bahan hiburan dari alat medianya. Namun naas, sebuah kabar berita dari sebuah saluran media berhasil menghantam angannya hingga membuat rasa kejut berseru dengan gerakan kelopak matanya yang terbuka lebar.


HOT NEWS


'Bukan hanya dengan pengusaha muda di Villa saja artis populer Maudy Shanaya terciduk, masih ada tiga pria lain yang tertangkap kamera tengah menjalin hubungan erat dengannya.'


Barisan kalimat itulah yang telah di baca Tara dari balik alat medianya yang berhasil membuatnya terheran-heran, ia tidak menyangka jika seorang perempuan lugu berani melakukan tindakan rendahan seperti demikian.


Hanya sesaat, rasa heran itu sirna darinya kala ia kembali melanjutkan bacaannya.


Di balik layar alat media Tara, Maudy telah berceloteh memberikan penjelasan kepada seluruh masyarakat setempat.


"Saya jelaskan di sini jika ke tiga pria itu hanya rekan bisnis," ucapan Maudy yang masih terdengar Tara dari balik alat medianya.


Tara berdecak sebal mendengar alasan klasik yang di yakininya hanya dalih semata, lantas ia kembali melanjutkan menyaksikan kegiatan di sana.


"Bagaimana dengan pengusaha muda yang anda temui di Villa tempo hari, apakah sama hanya rekan bisnis saja?" tanya sang wartawan.


"Bisa di katakan tidak, karna kami memang mengenal baik satu sama lain, bahkan kami memiliki kedekatan khusus," jabar Maudy kini membuat emosi Tara merangkak tanpa bicara.

__ADS_1


"Apakah kalian menjalin hubungan rahasia?" tanya wartawan kembali.


"Untuk hal itu kalian bisa tanyakan sendiri pada yang beraangkutan," sahut Maudy penuh ketegasan namun di iringi senyumannya yang terlihat Tara begitu memilukan.


"Jadi kejadian di Villa itu bukan hanya sekedar sensasi?"


"Benar adanya, kami berbincang di sana, itupun tanpa sengaja kamu bertemu," timpal Maudy kian membuat emosi Tara bergeming nyaring di dalam kalbunya.


Ingin rasanya Tara mencakar wajah wanita itu jika saja ia berhadapan secara langsung, namun kini ia hanya dapat melampiaskan pada hawa wajahnya yang memanas, ia yakin rona itu telah membaur di atas permukaan kulitnya.


Tanpa ingin memberikan beban batin dalam kecemburuan, Tara segera menutup alat medianya tak lantas melemparnya ke atas tempat tidur yang kini menjadi penumpu tubuhnya.


"Liat aja kalo sampe ga ngomong," ujarnya bermonolog yang tertuju untuk suaminya yang kini masih tertidur dengan pulasnya membuatnya dapat meresapi tatapan kejinya pada wajah tampan itu.


Drttt.. drttt..


Getaran itu berasal dari alat panggilan jarak jauh milik Sammuel yang tergeletak di atas nakas yang berada di samping kiri Tara di mana tempat itu berada jauh dari jangkauan tangannya lantaran terhalang tubuh suaminya.


Tanpa bicara, Tara yang sudah merasa penasaran dengan sang pemanggil pada suaminya, ia segera mengulurkan tangannya untuk meraih benda itu meski harus bersusah payah lantaran tangannya harus nelewati tubuh suaminya.


"Nggg.." Sammuel melenguh saat merasakan sesuatu bergerak di atas dadanya hingga membuat jiwanya meninggalkan alam mimpinya. "Mau lagi hmm..?"


"Ada telpon nih!" sahut Tara berbunyi sebal untuk membalas ucapan terakhir dari suaminya di sela kegiatan tangannya yang menyerahkan paksa benda itu kepada suaminya.


Setelah Sammuel menggenggam benda itu, ia menghadapkan layarnya pada wajahnya tat kala sebelah matanya terbuka untuk dapat melihat siapa yang telah memanggilnya pada waktu yang tidak seharusnya ini.


Tombol untuk jawabanpun di tekan Sammuel, setelahnya ia melekatkan benda itu pada telinganya.


"Kenapa?" tanya Sammuel kepada seseorang yang berada di balik panggilannya.


"Lo di mana?"


"Di rumah," balas Sammuel berseru datar membuatnya mendengar dengusan keras dari balik sana.


"Di mananya curut, gue udah di rumah lo," balasnya di iringi nada jengahnya membuat Sammuel bangkit tergesa dari rebahannya hingga duduk masih di atas tempat tidrunya.


"Ngapain lo ke sini?" seru Sammuel penuh dengan nada kejutnya.


"Tidur lah, ngapain dateng jam segini kalo bukan buat tidur?"


"Sint*ng lo, oke tunggu gue di bawah!" putus Sammuel sebagai pengakhir perbincangannya.


Tanpa berpikir lebih, Sammuel segera beranjak lantas meraih seluruh pakaiannya yang sudah berserakan tidak karuan di atas lantai itu.


"Mantan cowo lo." Sammuel menyahut kejam membuat bibir sang istri mengerucut sebal.


"Ngapain dia ke sini?" tanya Tara penuh rasa kejut hingga membuatnya turut beranjak dari atas tempat tidur itu.


"Mana gue tau!" sahut Sammuel bersungut kesal lantaran meyakini jika tamu yang datang tanpa di undang itu akan mengacau kegiatannya.


Saat setelah Sammuel berhasil membalut tubuhnya dengan seluruh busananya, tanpa pamin terhadap sang istri ia bergegas meninggalkan ruang itu.


Sementara keadaan Tara yang ingin mengetahui tujuan kedatangan ayah dari anaknya, ia pun bergegas mengganti busananya dengan busana yang kebih pantas di pandang orang.


Tepat saat Sammuel menginjakan kaki pada anak tangga terakhir, ia telah melihat sosok kakaknya yanh sudah duduk dengan santainya di atas sofa yang terdapat di ruang keluarga itu.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Sammuel bergerutu keji yang membaur dengan nada bicaranya yang ketus.


"Ngobatin kesepian," sahut Jackson tak acuh mengabaikan emosi adiknya.


Sammuel menggeleng tidak percaya jika sang kakak berani mengatakan hal itu terhadapnya, ia menyibak suatu makna jika kakaknya ingin mencari hiburan dari istrinya.


"Lo bisa ke rumah bokap lo, di sana lebih rame, ada si Devand juga." Secara tidak langsung Sammuel menolak kedatangan tamunya, meski demikian ia tetap menyambutnya kala tubuhnya berhasil mendarat donatas sofa besampingan dengan kakaknya.


Sedang Tara yang baru saja melangkah di pertengahan anak tangga itu hanya mampu mendengar percakapannya saja, dan melanjutkan langkahnya menuju tempat di mana minuman dingin tersedia di sana.


"Malesin, yang ada gue di ceramahin," ujar Jackson bernada ketus namun menggemaskan bagi Tara.


Tara yang masih belum berjalan terlalu menjauh dari keadaan suaminya, ia masih dapat mendengar perbincangan itu.


Sementara Sammuel menggelengkan kepalanya di sela tawa kecilnya menanggapi ucapan kakaknya. "Kalo ga mau di ceramahin, lo harusnya bisa jaga sikap kadal."


"Jaga sikap kata lo?" balas Jackson tidak terima yang membuat senyum sinis terdengar oleh adiknya.


"Hmm," sahut Sammuel dengan hanya dengungan kala mulutnya sibuk menghisap batang rokok yang baru saja berhasil di sulutnya.


"Asal lo tau Sam, gue lakuin semuanya buat nolong orang," dalih Jackson penuh ketegasan kala sang hati mengatakan jika niat awal dari semua yang di lakukannya memang demikian adanya.


"Tapi apa hasilnya, lo malah jadi kaya penjahat Jack."


"Bodo amat apa kata orang, yang penting niat gue emang ke sana." Jackson kewalahan memberikan alasan yang akan selalu mudah di timpali seorang pria jenius itu.


Sejenak hening melanda kala Sammuel menunggu kakaknya kembali berucap, namun yang terdengar hanyalah dengusan demi dengusan pasrah dari kakaknya.

__ADS_1


Rupanya Jackson meresapi apa yang di katakan adiknya, ia baru menyadari jika niat baiknya akan berdampak buruk bagi semuanya.


"Lo ke sini mau nyari hiburan dari bini gue kan?" tanya Sammuel tanpa basa-basi mengutarakan terkaannya meski telah dapat di pastikannya jika itu semua tidak salah sama sekali, dan itulah yang membuatnya tersenyum miris dalam tatapan ledekannya menuju wajah kakaknya yang kembali mendengus di sana.


"Gue belum bisa lupain dia Sam, lo harusnya ngerti dan juga terima itu."


Tidak mudah bagi Jackson untuk merelakan hatinya memberikan rasa tulus dalam penyerahan sang kekasih terhadap adiknya, namun ketidak berdayaan diri membuatnya mengalah demi mendapat kemenangannya.


"Salah lo, kenapa dulu ga langsung bertindak kaya yang gue lakuin."


"Gue masih mikirin resikonya kadal, ga kaya lo asal nyelonong aja!" Jackson geram hingga menatap wajah adiknya dengan tatapan kejinya bahkan sebuah pukulan ringan berhasil mendarat pada tungkak kepala adiknya.


Namun rupanya Sammuel membalasnya dengan senyuman ledeknya membuat sang kakak tidak enak hati di sana.


Perbincangan terlerai kala Tara datang menghampiri mereka yang langsung menyerahkan minuman kemasan pada dua pria yang berada di sana.


Setelah minuman itu tertinggal satu dalam genggamannya, Sammuel menarik tegas tangannya hingga tubuhnya mendarat di atas pangkuan suaminya.


"Jack kamu masih ga rela lepas Queena ya?" tanya Tara berbasa-basi hanya untuk menutupi keadaan canggungnya.


"Kayanya iya," sahut Jackson bertolak dengan hatinya yang mengatakan bahwa ia lebih tidak rela melepas kekasihnya.


"Kamu bisa bujuk mantan kamu ga biar kita masih bisa ketemu sama Queena?" tanya Tara penuh harapan hingga ia menatap wajah Jackson dengan mudahnya saat keadaan tubuhnya menghadap pria itu.


Namun rupanya batin Sammuel terketuk untuk memberikan penghiburan pada wajah gaya bicara yang lirih itu, ia mengecup bibir istrinya tanpa acuh mengabaikan keadaan kakaknya yang berada di sana.


"Sam ihhhh.." Tara malu hingga menelusupkan wajahnya pada ceruk leher suaminya.


"Diem, kita bikin si kadal kepanasan." Sammuel menarik paksa wajah istrinya agar kembali menatapnya.


Jackson tertawa kecil meninggalkan batin pedihnya kala rasa cemburu berhasil mendongkrak asanya. "Soal Queena, kamu masih ketemu dia Art, nanti aku yang ajak."


Mendengar ucapan itu, wajah Tara terangkat semangat tanpa harus di paksakan oleh tangan suaminya. "Beneran?" tanyanya memastikan hingga membuahkan senyuman riang yang membuat dua pria di sekitarnya mendapat hawa leganya.


"Udah tau dapet solusinya, kamu malah menclok di sini Jack, bukannya nyari cewe kamu," ucap Tara memperingati kekasihnya, namun terasa menyindir oleh Jackson.


"Hehe, cewe gue di sini," ujar Jackson di iringi rasa gemasnya hingga melampiaskannya pada rambut wanita di sana yang di usapnya dengan lembutnya, kegiatan itu berbalas tatapan murka dari sepasang insan yang berada di sampingnya.


"Oke kalo gitu kita putus sekarang, kamu bisa pergi!" ujar Tara penuh emosi hingga menepis kasar tangan Jackson dari atas puncak kepalanya.


"Jadiannya aja pake bunga, masa putusnya cuma gitu aja?" balas Jackson meledek halus.


"Besok nyusul kembang melatinya, sekalian kemenyamnya biar kamu bisa nyugih sekalian," sahut Tara masih dengan nada emosinya.


Namun rupanya Jackson serta Sammuel menertawai ucapannya hingga mereka menatap wajahnya penuh rasa gemas, beruntung bagi Sammuel yang dapat dengan mudahnya melampiaskan rasa gemasnya dengan sebuah kecupan pada puncak kepala istrinya, sedang Jackson meratapi nasib naasnya yang yang terpampang nyata di hadapannya dengan hanya menahan rasa pedih di dalam batinnya.


"Sam.. lo udah video meeting sama klient dari Spanyol kan?" tanya Jackson mencoba mengalihkan bahan perbincangan tak ayal untuk menepis kegiatan romantis yang masih berlangsung di sana.


Keberhasilan telah menjadi sencapaian Jackson kala sepasang insan di sana mengarahkan tatapannya pada wajahnya.


"Hasilnya nihil, lo harus urus langsung sama nenek tua itu." Sammuel berseru penuh lenguhan tat kala membayang sikap neneknya yang begitu tegas dan teratur hingga ia kesulitan untuk menbujuknya.


"Lo tenang aja, gue udah urus itu, gue udah bikin proposalnya cuma lupa ga gue bawa ke sini."


Perbincangan awal dari keseriusan yang membahas seputar pekerjaan itu berhasil membuat Tara menguap akan rasa kantuknya yang tidak dapat tertahankan lantaran jenuhnya ia hingga membuatnya enggan menyambut perbincangan itu.


"Ngantuk hmm?" tanya Sammuel penuh kelembutan dari nada bicaranya yang terasa merayu oleh Tara, bahkan tangannya mengulur mengusap puncak kepala istrinya membuat empunya terkujur kaku dalam anggukan kepalanya untuk meresapinya.


Sedang di sana, seorang pria kembali mendapat goresan pada hatinya kala pasang matanya menatap lirih kegiatan yang telah berlangsung di hadapannya.


"Besok aku harus bangun pagi Sam," sahut Tara.


"Oke kalo gitu tidur di sini aja." Sammuel enggan jika istrinya menolak titahnya, ia meraih tungkak kepala istrinya, menelusupkannya di atas dadanya.


Enggan membantah yang akan membuat suaminya marah, Tara pun berpasrah diri memberikan kelapangan dadanya menyambutnya dengan mengalungkan sebelah tangannya pada leher suaminya.


"Besok gue ikut ke Bandung," ujar Sammuel berbalas hanya dengan sebuah anggukan lemas dari istrinya.


Di balik itu, Jackson tertegun rela membiarkan semuanya terjadi begitu saja tanpa ingin menepisnya meski batinnya bergeming murka yang membuat rasa cemburu berlebih mendobrak angannya.


Namun, Jackson tidak mau kalah setelah mengingat ucapan adiknya saat lalu yang memperbolehkannya mendapat ataupun memberikan kasih sayang terhadap wanita yang kini sudah tertidur pulas di atas pangkuan suaminya.


Jackson segera meraih kaki wanita itu yang berada tepat di sampingnya, ia menaruh kedua kaki itu di atas pahanya.


Sungguh Sammuel ingin sekali mememotong tangan kakaknya yang telah menyentuh bagian tubuh istrinya di hadapannya, namun mengingat janjinya ia pun hanya mampu berserah pasrah.


Hingga pada akhirnya perbincangan berlanjut dengan membahas tentang pekerjaan mereka.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2