Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 194


__ADS_3

Raut kemenangan tergambar di balik wajah, menggapai rasa heran seorang pria yang sedang berjalan menghampirinya. Setelah mendapat pesan singkat hanya satu kalimat dari sang anak, Jackson bergegas menarik diri dari atas kursi kebesaran.


"Dia ngabarin, Jack?" tanya Kelvin ketika berdiri di balik meja kebangsaan pemilik ruang.


"Anak gue." Kemudian, ia melangkahkan kaki sesegera mungkin. Tanpa menoleh sedikit pun pada pria yang mengikuti arah langkahnya.


"Jack, seminar-"


"Lo atur dulu, gue harus urus anak gue dulu." Di sela langkah kaki yang tidak terhenti, Jackson memenggal ucap lawan bicara. Ia sudah tidak ingin menahannya lagi, sehingga lekas pergi meninggalkan ruang kebesaran itu.


Setelah tiba di tempat kendaraan roda empat berbaris rapih, Jackson bergegas meraih miliknya. Tak lantas melajukan dengan kecepatan penuh, agar segera menggapai tujuan.


Padatnya lalu lintas membuat rasa frustasi bergejolak dari dalam jiwa Jackson, apa lagi saat lampu lalu lintas berwarna merah. Tak henti-hentinya ia melenguh, mencurahkan kegusaran hati pada pengendali kendaraan yang di pukulnya berkali-kali.


Hingga pada akhirnya, di kala lampu jalanan berubah warna. Pertanda kendaraan yang di tumpangi Jackson sudah dapat melaju kembali, maka ia segera menekan pelaju kendaraan tersebut.


Barisan paling depan membawa keberuntungan baginya, tiada penghalang di hadapan sehingga tanpa keraguan ia menggunakan laju dengan batas maximal.


Namun ....


Ckitttt ... Brak!


Kendaraan mewah berwarna merah milik seorang presiden direktur itu mendapat hantaman keras. Dari arah samping, sebuah mini bus menerobos rambu lalu lintas, sehingga membuahkan kecelakaan di tengah jalanan luas.


Jakson terkapar di dalam sana, tubuhnya terkunci jepitan awak kendaraan yang telah hancur itu. Namun, kesadaran belum sepenuhnya sirna, manakala tidak mendapat benturan pada kepala.


Seketika kegaduhan menarik perhatian para pengendara, mereka lekas memberikan bantuan dengan cara yang berbeda. Sementara korban terkapar tiada berdaya, meski mata masih terbuka akan tetapi tubuh kehilangan kekuatan raga.


Bukan rasa sakit dari luka-luka pada tubuhnya yang menjadi bahan renungan, melainkan lintasan bayangan akan tujuan berputar di dalam ingatan. Jackson cemas jika musibah itu akan merenggut nyawanya, sehingga tiada yang akan menemukan keberadaan anak serta wanita pujaan. Mengingat ia tidak memberi tahukan kepada siapapun di mana mereka berada kini.


Ia memanjatkan do’a yang di yakini sebagai keinginan terakhirnya. Yakni, mempertemukan kedua belahan jiwa dengan sanak saudara.


*****


Kesunyian mengisi suasana duka di dalam bangunan rumah sakit ternama di pusat kota, hanya isak tangis Celia memandu situasi tegang di sana. Sudah hampir setengah hari ia duduk pada kursi yang terdapat di luar ruang oprasi, akan tetapi hasil akhir belum di dapati.


Bara penyesalan membakar amarah Sammuel, ia tidak mengira ulah sepele darinya akan berbuah musibah menakjubkan. Terlambat sudah untuknya mengubah keadaan, sehingga hanya hantaman dari kepalan tangan pada dinding di samping menjadi pelampiasan emosi.


Hanson meratap pedih, melihat tangan pria yang berdiri di sampingnya telah berlumuran darah. Namun, tidak sedikit pun ia ingin menghadang aksi pemukulan itu, ia yakin jika apa yang di lakukan Sammuel dapat membantu meredakan rasa frustasi.


Hal serupa di rasakan Erick, akan tetapi lain darinya jika diri hanya mampu melenguh saja. Ia lebih mengkhawatirkan keadaan sang istri, yang tak kunjung menghentikan tangisan sejak mendapat kabar duka itu tiga belas jam yang lalu.

__ADS_1


Puing-puing do’a terpanjat dari ke empat insan pengisi ruang, memohon bantuan dari yang maha kuasa agar Jackson di berikan kehidupan lebih lama.


Perlahan harapan surut, setelah satu jam berlalu masih tiada jawaban tiba. Sammuel berserah diri, mengucap sumpah di dalam benak. Ia berikrar akan menukar segala kebahagiaan diri dengan keselamatan kakaknya, begitupun wanita yang di cintai akan ia relakan jika itu menjadi bahan penyemangat sang kakak agar bangkit kembali.


Di tengah renungan akan pikiran buruk, kehadiran Maxson melerai suasana tegang. Sambutan di berikan terlebih dahulu oleh Sammuel, ia menghampiri pria yang masih melangkahkan kaki di hadapannya.


“Gimana, Max?” tanya Sammuel tepat setelah kaki berhenti melangkah di hadapan Maxson.


“Hasil laporan menyatakan ada pesan masuk kasih alamat.” Maxson menyahut penuh semangat, meyakini jika jawaban yang di berikan akan memuaskan hati ke empat insan yang berada di sekitarnya.


Seperti dugaannya, seringai puas terukir di balik wajah tiga pria di sana. Namun tidak dengan Celia yang masih belum dapat menghentikan tangisannya.


“Gue rasa itu alamat anaknya,” ungkap Sammuel menerka dengan pasti.


“Gue juga mikir begitu,” sahut Maxson.


Tidak lagi ingin menyahut ucap kata yang akan membuat waktu terbuang sia-sia, Sammuel bergegas melangkahkan kaki. Namun, dari arah satu meter Hanson memburu langkah untuk menghampiri. Lalu, mencegah kepergian itu dengan meraih pergelangan tangan adiknya.


“Lo yakin bisa bawa dia balik?” tanya Hanson melerai tatapan murka dari pemilik tangan dalam genggaman.


Lenguhan pasrah menusuk indra pendengaran Hanson. Rupa-rupanya Sammuel menerima ucap pencegahan itu. Hendaklah diri memberi ketulusan, membuat tubuh melunglai rapuh.


“Kirim alamatnya sama gue, Max.” Hanson berseru penuh ketegasan, berbalas anggukan dari objek yang terpanggil namanya.


Setelah mendapat apa yang di inginkan, Hanson segera meninggalkan ruang tanpa mengucap pamit terhadap para insan yang berada di dalamnya.


******


Tidak terlalu menyulitkan mencari alamat yang tertera di balik pesan masuk dari sang kakak, kini Hanson telah berdiri di hadapan pintu masuk sebuah villa.


Di tekannya tombol pemanggil penghuni tempat yang tersedia, kemudian melepas napas rancu seolah menenangkan diri sebelum mendapat sambutan dari dalam ruang.


Seketika pintu terbuka, menampakan pria remaja di baliknya. Sambutan ia berikan dengan kerjapan mata. Sosok yang berada di depan mata, nampak begitu serupa dengan kakaknya yang kini terbaring lemah.


“Kamu ... mirip banget sama dia.” Di sela ucap kata yang terucap, Hanson tak henti mengerjapkan matanya.


“Om siapa?”


Sebelum memberikan jawaban, Hanson berusaha menenangkan pikiran akan rasa tidak percaya. Wajah terkejut di hadapan membawa diri pada ingatan silam, di mana menyatakan bahwa wajah sang kakak di miliki orang lain.


Bukti telah terpampang di hadapan, akan tetapi ia belum mampu menerima keadaan. Maka, ia memperpanjang renungan hingga akhirnya tercabik akan kehadiran seseorang.

__ADS_1


“Al, mama bilang jangan terima tamu-“


Suara wanita itu Hanson sangat mengenalnya, dia adalah seseorang yang kini di cari. Kemenangan sudah berada dalam genggaman, membawa lengkungan bibir bersirat pada wajahnya.


Namun, seketika berubah kejutan ketika wanita itu menarik tangan pria di sampingnya dan langsung menutup pintu di sana. Hanson tak tinggal diam, ia menahan pintu itu agar tidak tertutup sedikit pun.


“Hans, jangan paksa aku buat pulang,” ujar Tara setengah merajuk.


Tidak cukup dengan begitu saja, Hanson melepas suara yang di yakini akan membuat wanita itu menghentikan aksinya.


“Dengar aku dulu, buka pintunya.” Pekikan nada bicara Hanson lontarkan, berharap permintaan segera di kabulkan.


Nahas, Tara kian memperkuat dorongan pada pintu itu.


“Jackson kecelakaan.” Hanya dua kata terucap dari mulut Hanson, akan tetapi berhasil membuat pintu itu terbuka lebar.


“Gimana keadaannya.” Tara menyahut penuh rasa cemas, tak ayal genangan air payau turut melengkapi kekhawatiran.


“Buat sekarang masih kritis, aku harap ga terjadi sesuatu.”


Kalimat jawaban itu memberi sejuta makna bagi Tara, ia menerka jika kematian telah menunggu sang korban. Memikirkan hal itu, membuat tubuh melunglai lemah.


Bruk!


Tak kuasa memendam duka, tubuh ramping itu bersimpuh di atas lantai. Jeritan pedih menggema di udara, membuat dua pria turut merengkuh di sana.


Hanson segera meraih tubuh itu dalam pangkuan, sebelum sang empunya kehilangan kesadaran. Bergegaslah ia melangkahkan kaki menuju ke dalam ruang.


Namun ....


“Bawa aku menemuinya.” Permintaan terungkap dalam nada kepedihan, Tara merajuk melalui tatapan ratap.


Sudah menjadi tujuan awal, permintaan itu segera Hanson kabulkan. Membawa tubuh dalam pangkuan menuju di mana kendaraan roda empatnya terparkir.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2