
Setelah mereka tiba di dalam ruang khusus wanita, Celia segera mengusapkan air jernih dari tangannya pada celana yang bernoda itu.
"Mami maaf aku lupa bilang kalau aku mantan cewe ga bener." Ungkap Tara melirih di sela kegiatan membantu mertuanya mengusapkan air pada busana bernoda mertuanya.
"Memangnya aku peduli sama itu? Aku lebih peduli sama omongan kakak ipar kamu tadi." Tebas Celia yang tak lain melirihkan nadanya seperti menantunya saat lalu.
Melega memang Tara kini, namun wajah khawatirnya masih terpampang setelah menyibak makna bahwa Jackson adalah sungguh kakak iparnya. Kini bukan hanya sekedar tebakan saja, namun semuanya sudah begitu jelas.
Inikah alasan suaminya selalu menolak keintimannya yang enggan mengecewakan kakak kandungnya? Tara bergumam dalam batinnya yang membuat wajahnya tertunduk dalam lirihannya.
"Tara, kamu mikirin apa?" Celia yang menyadari Tara berlama membisu ia segera menepisnya dengan menepuk lengan menantunya.
"Mikirin anak mami." Jawabnya menatap wajah Celia dengan tatapan penghiburannya.
"Jackson? Dia memang cerdas pasti tau kalau tadi aku bohongin dia." Akhirnya Celia berhasil membersihkan seluruh noda dari celananya meski masih membekas di sana seperti noda dustanya yang masih membekas dalam asmanya.
Tara menghembuskan napas kasarnya mewakili lirihannya. Ia mengetahui jika ucapan dusta mertuanya dapat dengan mudah di sibak pria cerdas itu. Maka dari itu selama perbincangan ia hanya tertunduk tanpa bersuara.
“Bukan soal itu." Tara mengatur napasnya untuk mengungkap sesuatu yang di rasanya akan membuahkan kejutan bagi mertuanya. "Mungkin mami harus tau ini." Kini ia kembali menunduk menyertai penyesalannya. "Aku emang istri Sammuel, tapi aku juga pacar Jackson."
Celia tercengang, membelalakan bola matanya menyertai rasa herannya. "Kamu selingkuh dari Sammuel?"
Tara menggeleng ragu dalam wajahnya yang masih tertunduk. "Sammuel nikahin aku cuma pengen aku kerja di ZhanaZ, biar aku bisa terima cinta Jackson, sekalian aku jadi penghibur Hanson yang baru di tinggal pergi sama cewenya." Penjabaran alasanya masih di sertai lirihannya. Melega sudah ia, namun tetap saja hatinya meronta. Enggan memberikan penjelasan sesungguhnya kepada mertuanya yang akan menjatuhkan martabatnya sebagai wanita.
__ADS_1
Celia masih mendapat kejutannya dengan membelalakkan bola matanya membuat bibirnya kelu hingga membisu tanpa kata.
"Kalau mami ngerasa aku perusak semua anak tiri mami, aku bisa pergi sekarang juga." Tara menundukan wajahnya menyembunyikan air payau yang berhasil menetes dari sudut mata indahnya.
Celia beranjak, berdiri menghadap menantunya, di raihnya bahu Tara hingga membawanya dalam rangkulannya. "Aku yakin kamu punya alasan sendiri, begitu juga dengan Sammuel." Celia melepas dagunya dari pundak Tara namun tidak melepas kedua tangannya yang menggenggam kedua lengan Tara. "Bilang padaku, siapa yang kamu cintai?" Pandangannya menyorot tajam mata menantunya, mencari jawaban kesungguhan di sana.
Tara membalas tatapan mertuanya itu di sertai lirihannya. "Aku ga yakin, tapi aku rasa buat sekarang Sammuel yang aku mau."
Celia melega, ia melepas genggamannya pada lengan menantunya, lantas ia mengusap air mata yang membasahi pipi menantunya. "Sebaiknya aku ga anggap kamu menantuku, tapi bener-bener anggap kamu sahabatku, biar aku keluar dari kisah asmara rumit kalian."
Tara menyiratkan senyuman manisnya meski matanya masih menyembab. "Maafin aku mih." Sesalnya telah berani mempersulit wanita yang telah mencurahkan kasihnya kepadanya.
Celia tersenyum seraya menggeleng menyikapi permintaan maaf itu. "Kamu ga salah Tara.” Tuturnya membuat Tara mengangguk faham, memang bukan sepenuhnya ia yang salah. “Udah yuk, Queena pasti nunggu. Jangan lupa aku sahabatmu. Jadi jangan panggil aku mami lagi."
Lantas kembali tersenyum yang mendapat balasan dari Celia dengan senyuman ciri khasnya.
Merekapun kembali menuju pada tempat semula.
Dalam perjalanannya menggapai tujuan awalnya, pemandangan indah bagi Tara nampak di hadapannya. Jackson tengah mendekap tubuh anaknya yang tertidur pulas dalam pangkuannya.
Tara membatin membayang kisah anaknya yang tidak pernah mendapat sambutan kehangatan seperti apa yang di lihatnya saat ini. Sesal kian menusuk hatinya jika anaknya telah terdampar dari hati sang ayah akibat keinginannya.
Inilah yang selalu menjadi harapan Tara, memiliki keluarga kecil dalam status hubungan yang normal layaknya manusia biasa menjalani kehidupannya.
__ADS_1
Namun harapan yang mudah bagi orang lain itu sungguh sukar di dapatinya hingga sedikit demi sedikit kekecewaan mengikis harapannya. Jika saja ia tidak memiliki sang belahan jiwa, mungkin hidupnya sudah berakhir sedari dulu kala.
"Mi ehmmmm." Tara menyenggal ucapannya dengan deheman kecilnya. “Cel kayanya kita harus pulang, kasian Queena kalau tidur kaya gitu udahnya suka ngeluh sakit leher." Ucapnya setelah berhasil menumpukan tubuhnya di atas kursi semula membuat Jackson menggeleng di sana.
"Enak banget kamu ngomong, ga mikirin aku apa? Susah tau nyetir bawa anak tidur kaya gini." Tolak Jackson menatap harapan bantuan pada Tara. Seharusnya bukan bantuan, melainkan harapan agar ia dapat dengan mudah membawa wanita itu satu ruang dalam kendaraannya.
"Ya udah Tara kamu bawa Queena, kamu bareng Jackson aja." Celia mengibas-ngibaskan tangannya mempertegas titahnya. "Besok kamu ke Taiwan kan Jack? Sekarang mending ke rumahku aja biar sekalian titip Queena di sana, jadi aku ga usah jemput lagi besok." Tuturnya membuat Jackson tersenyum penuh kemenangan kala melihat wajah wanita pujaan hatinya yang terlihat berpasrah diri.
"Oh ia soal itu, baby sitternya lagi minta cuti seminggu, jadi tugas baby sitter aku serahin sama kamu dulu." Sambung Jackson menyeleneh membuat Celia terkekeh.
"Duh anak ini, durhaka kamu ya bikin ibu tiri kamu jadi pembantu." Ledek Celia di sela tawa kecilnya.
Tara tertawa kecil melihat perlakuan mertuanya. Namun tangannya kini meraih Queeba dari pangkuan Jackson.
Akhirnya merekapun bergegas meninggalkan tempat yang telah membuat batin kedua wanita cantik itu khawatir.
•
•
•
Tbc
__ADS_1