Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 195


__ADS_3

Tugu ketenangan runtuh bersamaan dengan punahnya harapan, rasa khawatir menjalar menelusuri setiap urat nadi wanita yang kini memburu langkah kaki menuju ruang rawat inap. Bingkai kepedihan terpampang di sela isak tangis tiada henti, menyentuh kegelisahan manakala pikiran buruk membayang dalam ingatan.


Kepanikan itu membuat Hanson kewalahan mengejar langkah pendeknya, akan tetapi tidak sedikit pun ia mencegah. Saat ketika tubuh memasuki ruang, ia memahami jika Tara ingin segera meninjau keadaan kakaknya. Terlihat dari gelagat wanita itu yang tak menyapa penghuni ruang.


Isak tangis kian menggema ketika diri telah tiba di hadapan tubuh pria yang terbaring tak berdaya di sana, menyemburkan jeritan batin setelah terpendam selama menempuh perjalanan saat lalu.


“Jack.” Tara mengguncang tubuh itu, seolah membangunkan sang empunya dari mimpi buruk. “Kenapa bisa begini, Jack?”


Pekikan nada bicara menembus rasa iba Celia, membuat diri segera menghampiri menantunya di sana.


“Tara ... tenanglah, mami yakin dia akan baik-baik aja,” ucap penenang terlontar disertai elusan pada punggung itu tidak sama sekali menghentikan aksi Tara. Maka, Celia menarik pandangan menuju arah Sammuel yang duduk pada sofa berjarak dua meter darinya.


Sammuel mengangguk membalas tatap isyarat itu, kemudian membawa tubuh menggantikan posisi Celia di samping sang istri. Hendaklak wajah tertunduk kaku, meresapi keadaan istrinya hingga turut merasakan apa yang di alami.


Tangannya terulur, melepas elusan pada puncak kepala yang tersandar di atas ranjang. Tentu, membubuhkan cinta kasih di balik kelembutan. Namun, tiada membuat tangisan itu terhenti, malah kian menggelegar menembus dinding syurga.


Ke lima insan yang berada di sana memahami arti dari pemandangan memilukan itu, sehingga mereka bergegas meninggalkan ruang tanpa mengucap pamit terlebih dahulu.


“Art.” Setelah melihat keadaan mendukung, Sammuel menarik wajah sang istri agar menatapnya. “Sorry, semua gara-gara gue.”


Tara menyahut hanya dengan gelengan kepala, sebab isak tangis menyendat kalimat yang ingin di ucapkan.


“Asal lo tau, gue lakuin itu biar lo terima dia.” Sammuel kembali mengungkap isi hati, setelah mendapat kesempatan dari bungkamnya mulut sang istri.


Hening ....


Sepertinya kali ini Tara sungguh-sungguh ingin membungkam diri, ketika batin meresapi perkataan seolah menolak cinta kasihnya itu.


Bungkamnya mulut itu, membuat Sammuel tak gentar menyerukan isi hati setelah sekian lama terpendam di dalam angan.


“Lo berhak bahagia, lo berhak ngerasain apa itu yang namanya cinta. Itu semua bisa lo dapat dari dia.” Sammuel berpasrah diri, mengingat ikrar yang telah ia ucap beberapa saat lalu. Biar ia mengorbankan hati, asalkan sang istri tidak membencinya. “Gue rela lo sama dia, asal lo jangan larang gue buat tetap sayang sama lo.”


Putus sudah harapan untuk dapat menggapai hati sang suami, selain isak tangis menyerukan kepedihan, Tara hanya mampu menggelengkan kepala. Sesungguhnya, ia pun telah menerima nasib diri, jika di haruskan memilih Jackson sebagai pendamping hidup sejati.


“Buat terakhir kalinya ....” Sammuel menjeda kalimat, saat tangan membawa tungkak kepala sang istri ke dalam dadanya. “Maaf.”


Biarlah ....


Batin Sammuel membiarkan karma menerpa kehidupan, dengan merelakan wanita pujaan menjadi milik kakaknya. Seperti apa yang di ucapkan, ia memberi dekapan erat pada tubuh itu. Seolah tidak ingin ada yang mencegah, pelukan itu tidak dilepaskan sama sekali. Meyakini jika apa yang dilakukan untuk terakhir kalinya.


“Sam, kamu tetap menang karena udah pernah dapatkan hati aku.” Tara menarik wajah dari balik dada suaminya, ia menatap pasang mata yang telah bergenang air payau.


Sudut bibir Sammuel tertarik miris, menutupi duka dengan usapan pada puncak kepala sang istri. Kemudian ia menyingkap anak rambut yang menghalangi dahi itu, setelahnya ia mendaratkan kecupan di sana.


“Dia lebih sayang sama lo, Art.” Sammuel kembali memberi senyuman, tak ayal hanya untuk menghibur diri.


“Apa kamu ga sayang sama aku?”


“Sayang, gue bilang gue sayang sama lo. Tapi, dia lebih. Makanya gue relain lo buat dia.”


Tidak!


Batin Sammuel menyangkal kerelaan itu, yang ia ucapkan hanyalah kepalsuan belaka.

__ADS_1


Jawaban tanpa berpikir itu memberi sedikit kepuasan bagi Tara, membuat belah bibirnya tertutup rapat tanpa ingin menimpali ungkap kejujuran itu.


Sammuel menerka bungkaman mulut itu sebagai tanda persetujuan akan permintaan, maka ia membalas dengan senyum di dalam tangisan.


“Di mana anak lo?” tanya Sammuel berusaha mengalihkan bahan perbincangan.


“Maksudnya?”


“Alev, di mana?” Sammuel menyahut penuh ketegasan, akan tetapi tiada suara menyahut ucapan.


Sammuel memahami arti dari diamnya sang istri, bahwa wanita itu tidak ingin membicarakan hal itu di saat seperti ini.


“Pergilah ... gapai keinginan lo. Demi gue, Jackson, yang terpenting demi anak lo.”


Kalimat akhir yang terucap, menyambar batin Tara hingga membuat bendungan air mata kembali terkoyak. Namun, ia berusaha mencegah agar tidak meluap, setelah mengingat jika ungkap permintaan itu merupakan jalan keluar baginya.


Terlepasnya dekapan pada tubuh Tara, seolah menggiring pelepasan akan cinta dari suaminya. Sammuel mengakhiri kegiatan romantis itu, sebelum diri kembali terhanyut yang akan membuatnya mengurungkan niat.


“Dia lebih butuh lo.” Arah pandang Sammuel tertuju ke arah samping, di mana sang kakak berada di sana.


Pemandangan mengejutkan nampak menyambut tatapan, melihat pasang mata dari sang empunya telah terbuka. Tiada lagi yang ia lakukan, ia bergegas meninggalkan ruang serta penghuni di dalamnya.


Keadaan lain di rasakan Tara, isak tangis duka kini berganti senyum ceria setelah mengetahui yang di tunggu-tunggu telah terlihat di depan mata.


“Aku udah mati apa?” Tatapan heran Jackson tertuju pada wanita yang telah membungkuk di hadapannya.


“Kamu anggap aku setan apa?” Lentingan suara mewakilkan emosi, Tara berdecak sebal di penghujung kalimatnya.


Jackson tersenyum menanggapi tingkah menggemaskan itu, dan berakhir saat pasang mata menilik mata yang sudah menjadi sembab.


Hening seketika membaur suasana, ketika kedua insan itu saling meresapi rasa syukur. Setelah merasa puas, Jackson mengulurkan tangan yang tidak mendapatkan lukanya. Tara pun bergegas meraihnya lalu mengecup punggung tangan itu.


“Bantuin aku bangun monyong, malah nyium-nyium,” ujar Jackson seolah berprotes, pada kenyataannya ia bersorak gembira mendapat perlakuan yang selalu di nantinya.


Sementara Tara membalas dengan tatapan murka, tanpa menyuarakan amarah dengan ucap kata.


Kegiatan terlerai oleh kehadiran lima orang yang sebelumnya menghuni ruang itu, akan tetapi berbeda jumlah ketika seorang perawat turut hadir bersama mereka. Tiada yang mereka lakukan selain menunggu sang perawat menyelesaikan tugasnya. Hingga pada akhirnya, setelah perawat memberitahukan agar pasien menjalani perawatan selama beberapa hari ke depan, Jackson terlebih dahulu menyambut para pengunjung di sana.


“Pih, jangan sampai kabar kecelakaan ini bocor keluar,” ucap Jackson mengarah kepada sang ayah.


“Kenapa?” tutur Erick menyahut heran.


“Aku ga mau ada yang jenguk, bisa-bisa ganggu waktu aku sama ....” ungkap keinginan Jackson lanjutkan dengan tunjukan pada Tara yang berdiri di sampingnya.


“Oke, gue cabut.” Hanson melambaikan tangan sebagai pelengkap ucap pamitnya. Sebelum mendapat jawaban, ia telah melangkahkan kaki untuk meninggalkan ruang.


Tiada lain di lakukan para insan yang tersisa, mereka berlalu dari hadapan sepang insan di sana setelah mengucap pamit terlebih dahulu.


“Art, di mana dia?” tanya Jackson kepada wanita yang telah duduk di sampingnya.


“Siapa?”


“Anakku.”

__ADS_1


Satu kata jawaban itu, berhasil menembus batas keterkejutan Tara. “Jack, kamu tau—“


“Aku baru tau pas kamu pergi,” ujar Jackson memotong ucapan wanita yang masih melebarkan kelopak mata di sana.


Merasa bersalah atas ucapan, Jackson meraih tubuh ke dalam dekapan. Dengan mudahnya tangan yang tidak mendapat luka itu bertengger di balik pinggang sang wanita, saat Tara hanya membiarkannya saja.


“Maafin aku, Jack.”


Jackson mengangguk sebelum membuka suara. “Kenapa kamu harus pergi, yang salah bukan kamu, ‘kan?”


“Aku ....” Menilik keadaan tidak cukup tepat untuk mengungkap kejujuran, Tara menahan kalimat di dalam angan. Ia bimbang jika harus mengatakannya sekarang ini, di saat keadaan sang pria masih dalam kekacauan.


“Katakan lah.” Jackson mengerti akan wajah yang tertunduk di sana, seolah menyembunyikan sesuatu di baliknya. Maka, ia mempertegas nada bicara, agar Tara sudi mengemukakan maksud hatinya segera.


“Aku hamil anak Sammuel.”


Sesuai keinginan Jackson, Tara mengungkap kabar itu tanpa memikirkan hal lainnya. Begitu pun tatapan kejut ia abaikan


“What?” Pekikan nada bicara mewakili rasa tidak percaya, Jackson menghela napas frustasi sebelum menerima nasib nahas yang membuatnya dilema.


“Itulah yang buat aku bingung.” Sejenak Tara menahan ucap kata, melerai kerancuan dengan embusan napas kasarnya. “Aku ingin melepas Sammuel buat Triana, tapi aku takut kamu ga akan terima anak ini.”


“Hei.” Sebisa mungkin Jackson memaparkan wajah ceria, meski batin meratap dalam kepedihan. “Kamu pikir aku jahanam?”


Hanya anggukan terlontar mewakilkan jawaban, ketika rasa bersalah merangkak dari dalam angan. Tara menebusnya segera, ia mengecup pipi lesung milik pria di sampingnya.


Jackson tersenyum membalas perlakuan itu, sesudahnya ia mengusap perut buncit sang wanita.


“Ayahnya udah tau?” tanya Jackson.


“Jangan!” Tegas dan cepat Tara menyahut, setelah berpikir selama satu minggu untuk tidak mengemukakan keadaan kepada suaminya. “Aku ga mau dia tau dulu, aku akan mengakui anak ini adalah anakmu. Makanya aku minta kita nikah dulu, buat menutupi kecurigaan keluarga kamu.”


Batin Jackson bergeming lirih, mendengar pernyataan yang tak lain membuatnya bimbang. Ia tidak akan tega membiarkan sang adik memiliki nasib serupa dengannya, di mana kehilangan sosok anaknya bahkan tidak mengetahui keberadaan sama sekali. Namun, demi menjaga hati wanita ini, ia terpaksa menganggukan kepala.


“Oke aku setuju, kita akan nikah bulan depan,” ujar Jackson menyahut ucapan saat lalu.


Sejenak tiada kata menyahut, ketika Tara memutar ingatan pada waktu yang di sebutkan Jackson.


“Bukannya itu pernikahan kamu sama Fiona?” tanya Tara mengungkap kejanggalan.


Seringai olokan tersirat di balik wajah tampan, memberi cibiran akan ucap kepolosan itu.


“Dari awal aku yakin kalau yang ada di pelaminan nanti bukan aku atau Fiona, aku kira kamu dan ayahnya dia yang akan ada di sana.” Dagu Jackson bergerak menunjuk perut Tara.


“Apa kamu yakin aku bisa bersanding di pelaminan sama adik kamu?” Tara melirih di sela kalimat yang terucap, membuat pria yang masih setia mendekap tubuhnya segera memberi penghiburan.


“Bersiaplah jadi ratu dua puluh hari lagi.” Senyum kemenangan tergambar menceriakan, berbalas senyuman manis sebagai persetujuan. “Di hutan, jangan lupa undang teman-teman tarzan kamu.”


Imbuhan kata mencipta suasana ceria, gelak tawa mewakilkan perasaan bahagia. Seolah tidak memikirkan hati yang selalu terjaga di sana, Tara melepas kebahagiaan bersama calon suaminya.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2