Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 47


__ADS_3

Tara sudah duduk di atas kursi tempat penyambut tamu yang berada di dalam bangunan perusahaan milik suaminya.


Rok selutut berwarna hitam serta jas berwarna selaras dengan roknya yang menutupi kemeja putihnya menjadi busananya saat ini.


Rupanya Sammuel tengah mempersiapkan seluruh kebutuhan istrinya melalui asisstannya.


Setelah lulus interview, pada detik itu juga Tara sudah di nyatakan sebagai pegawai pelatihan selama tiga bulan ke depan dengan penghasilan setara dengan pekerja pemula lainnya.


Mesik tidak mencapai 10%pun dari pemberian suaminya, namun nyatanya ia tidak menghiraukan penghasilannya lantaran yang di tujunya sesungguhnya untuk mendapatkan berkah dari hasil keringatnya sendiri agar ia tidak bergantung kepada orang lain di kemudian hari.


Pengajaran khusus dari rekan seniornya yang menjadi bahan pembelajarannya saat ini yang di lakukannya. Hingga beberapa jam kemudian seorang kolega dari suaminya datang menghadapnya.


"Selamat siang tuan, ada yang bisa saya bantu?" Dalam keadaan berdiri dengan tangan menakup di depan tubuhnya saling bertautan, Tara menyapa seorang pria muda dengan nada lembutnya. Meski mereka berdiri terhalang meja panjang menjulang.


Sang pria menatap lekat wajah Tara mencari ingatan di dalamnya. "Saya ada janji temu dengan tuan Nate." Jawabnya sopan.


"Bolehkah saya tau nama anda?"


"Raymond Syahputra."


"Baik tunggu sebentar." Pinta Tara.


Tanpa menunggu jawaban lawan bicaranya, Tara bergegas melihat daftar yang tergores di atas buku catatan yang tersedia. "Silahkan tuan ke lantai 59."


Raymondpun berlalu hingga menepi di dalam ruang milik Manager Umum yang menjadi tujuan awalnya. Tanpa ragu ia mendaratkan bokongnya di atas sofa yang terletak di tengah ruangan itu.


Sammuel tidak menyambutnya, ia hanya memusatkan pandangannya pada layar alat medianya yang berada di atas meja kebangsaannya.


"Sam, kalo gue ga salah, receptionis baru itu bekas pegawe The Views ya?" Raymond sedikit memekikkan nada bicaranya lantaran Sammuel berada agak menjauh darinya.


Sammuel teehentak mendengar pernyataan itu, ia mengarahkan pandangan lekatnya pada wajah manis itu. "Lo kenal dia?"


"Cuma tau aja sih." Lengos Raymond dengan santainya menyulut sebatang rokoknya yang sudah di raihnya dari dalam saku celananya. "Lo punya nomor telpon nya ga?"


"Dia udah punya laki." Balas Sammuel ketus membuat lawan bicaranya memahami sesuatu yang terpendam di balik nada itu.


Raymond memaparkan tawa iblisnya dalam siasat busuknya. "Gue tau!” Ungkapnya metakinkan. “Tapi lo harus tau, cewe malem kaya gitu pasti gampang di embat. Liat aja duit pasti bisa bikin dia ninggalin lakinya."


Sammuel geram namun menyembunyikan di balik senyumnya. "Lo balik gih, gue ada meeting bentar lagi."


"Santai aja bro, biasanya juga gue nungguin lo sampe beres." Tolaknya seolah tidak mau tau dengan usiran halus itu. Sesungguhnya ia dapat menebak jika sahabatnya mengincar wanita yang menjadi objek perbincangannya.

__ADS_1


"Saham lo udah di tolak kemaren, sorry gue lupa ngomong." Sammuel geram atas usirannya yang terabaikan, ia mengepalkan tangannya di balik meja kerjanya. "Lo ke sini mau bahas ini kan?"


Raymond beranjak, melangkah hingga menepi di hadapan Sammuel. "Eh kadal, lo gampang banget nolak saham kaya nolak bala."


"Bukan gue yang ngatur, di atas gue masih ada Presdir."


Raymond menghembuskan napas kasarnya menyetujui perkataan sahabatnya. "Oke sorry udah ganggu waktu lo, tapi gue kasih tau tuh cewe tadi, yang jadi lakinya itu abang lo."


Sammuel terkekeh seraya menggelengkan kepalanya, iapun tau tentang itu, malah ia sendiri yang akan membuat mereka bersatu. "Abang gue ya?"


"Hmm, si Hanson. Gue sempet liat mereka kemaren lusa jalan bareng di Cempaka Food."


Sammuel membisu dalam ingatan yang memutar. Benar adanya ia mendapati ingatan itu, dialah yang membuat sang istri berkencan dengan pria yang di sebutkan lawan bicaranya itu.


"Kenapa lo? Naksir juga sama tuh cewe?" Raymond tertawa ledek di akhir kalimatnya.


"Rese lo, kalo gue naksir dia gue yakin lo ga bisa dapetin tuh cewe."


Sudut bibir Raymond terangkat, memaparkan senyuman miringnya. "Oke gue tau sekarang, saingan gue berat makanya lo batalin kontrak kita."


"Eh cunguk kontrak kita di batalin soalnya udah ada saham masuk 3% dari cewe abang gue."


"Gue pikir dulu lah."


Raymond kembali memaparkan senyum miringnya menyertai kemenangannya.


"Oke lo lanjut, gue balik ngurusin dana saham buat lo dulu." Tak acuh ia berlalu dari hadapan Sammuel tanpa menghiraukan Sammuel yang termenung di sana.


Lagi dan lagi hubungan rahasia dengan istrinya menjadi dilemanya hingga membuat penyesalannya tak kunjung berakhir.


Kali ini, penyesalan itu menyulut emosinya ketika mengetahui sahabatnya adalah daun muda peliharaan ibu dari istrinya.


************


Sementara keadaan Tara, ia kembali berdiri tegap lantas memberikan sapaan hormatnya pada seorang pria yang berjalan melewatinya.


Namun, hanya beberapa langkah dari sang pria menjauhi Tara, ia kembali memundurkan arah langkahnya.


"Tara!" Sapa sang pria membuat Tara menyeringai dalam kejutannya.


"Ah i-iya, bapak cari siapa?" Gagu Tara mengharap tidak akan mendapat petaka dari orang yang berhadapan dengannya kini.

__ADS_1


"Aku kerja di sini."


"Oh." Tara tersenyum kikuk saat kesadarannya masih menjauh darinya. Namun, "Hah? Kamu kerja di sini?"


Sang rekan yang berdiri di sampingnya mencolek tangan Tara. Lantas berbisik padanya. "Beliau Supervisor di sini."


Mampus! Umpat Tara dalam batinnya.


"Kam__ maaf bapak itu__"


"Sejak kapan kamu kerja di sini?" Maxson beranjak hingga menyandarkan tubuhnya pada meja menjulang yang menjadi penyekat keadaannya dengan Tara.


"Sejak tadi." Polos Tara tanpa dosa. "Maksudnya sejak hari ini." Lantas tersenyum gagu. "Bukannya bapak kerja di luar negri ya?"


Maxson terkekeh melihat tingkah belingsatan itu. "Ya, dua tahun lalu emang aku kerja di luar. Aku kembali ke sini__ Tunggu, kamu tau itu dari Jasmeen?"


"Dari siapa lagi?" Lengosnya yang membuatnya menepuk kepalanya sendiri. "Iya maksudnya begitu." Kembali ia tersenyum kikuk.


Maxson kembali terkekeh menyikapinya. "Buat Alev, hasil tes DNA__"


"MAX!! Maksudnya bapak, tuan Max__" Ucapnya tersenggal saat mendengar tawa Maxson menggelegar di sana.


"Oke oke, sorry." Sesalnya setelah menghentikan tawanya. “Aku udah tau sekarang kalau dia benar-benar anakmu.”


"MAXSON!!!" Tak kuasa menahan emosinya Tara mengumbar bentakannya membuat rekannya terkejut hebat. Namun lain dengan Maxson seolah tak acuh menanggapinya.


Maxson mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala Tara. "Selamat bergabung."


“Oke tapi tolong inget pesanku.” Lirih Tara membuat permintaannya enggan mendapat penolakan.


“Oke, kamu jangan khawatir, aku bukan tipe orang yang suka ingkar janji.” Balasnya membuat Tara menatapnya penuh emosi. Mengapa setiap pria selalu membahas sebuah pengingkaran janji kepadanya seolah menudongnya yang selalu mengingkari janji.


“Aku harus pergi.” Pamit Maxson di balas anggukan oleh Tara. Lantas ia berlalu dari hadapan wanita itu yang membuat sang wanita melega.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2