
Denting waktu memekik langit senja, menandakan hari telah melewati suasana petang. Pesonanya mulai berubah gelap, mengisi kekosongan ruang yang hanya berpenghuni dirinya.
Bangunan mewah bernama Apartement Laseason menjadi sasaran untuk dirinya tinggal malam ini, Tata telah memutuskan akan bermalam di sana, setelah memikirkan jika kediaman suaminya berjarak dekat dengan rumah Jackson.
Ia masih berusaha menghindari kehadiran pria itu, setelah mengalami kejadian romantis bersamanya di dalam ruang kebangsaan sang suami. Saat yang telah berlalu membuat rasa bersalah terhadap sang suami menggerogoti pikirannya. Sehingga ia terlupa akan risalah Triana yang sudah menanti akan sebuah keputusan.
Hati memang tidak dapat di dustai, ia mengakui jika Jackson masih menjadi pria yang di idamkan sang hati. Namun, rasa cinta dan kasih hanya dapat tercurah kepada sang suami. Meskipun tidak ada harap lebih untuk mendapat balasan.
Di atas tempat tidur ia termenung, memikirkan jalan keluar untuk risalah sang sahabat. Nampaknya ia kesulitan, setelah dua jam berlalu keputusan tak kunjung didapatkan kala isi pikirannya masih penuh dengan bayangan kejadian romantis itu.
Lelah yang menjadikannya pasrah, membuat batinnya meronta untuk mengatakan kepada sang suami. Namun, setelah berpikir untuk kesekian kalinya, ia mengurungkan niat itu, karena tidak seharusnya Sammuel mengetahui kecurigaan terhadap Hanson.
Di tengah lamunan yang tak kunjung menepi, terdengar suara dari alat panggilan jarak jauh miliknya. Benda itu berdering nyaring pertanda seseorang telah memanggilnya. Tanpa banyak berpikir, ia meraih benda yang tergeletak di atas nakas sebelah tempat tidur itu. Kemudian mejawab panggilannya, tidak lupa melihat sebuah nama yang tertulis di balik benda itu.
"Ya Hans?" sapanya setelah panggilan terhubung.
"Si Triana sama kamu ga?" balas Hanson berucap cemas. Terdengar jelas dari nada bicaranya oleh tara di sebrang sana.
"Tadi siang sih abis dari sini, tapi_" Tara memenggal ucapannya mengingat kasus yang kini menimpa Hanson. Ia mengira bahwa Triana telah memberitahukan kepada sang target kecurigaannya.
"Ya udah kalau ga ada di sana."
"Mungkin sama Fiona," ujar Tara membuat dengusan kasar terdengar di balik alat media itu.
"Ya udah aku cari ke sana dulu." Tanpa berpamitan Hanson menutup panggilannya sepihak.
Setelah panggilan terputus, Tara mengulang perbincangan di dalam batinnya yang telah menyebutkan nama seseorang di sana.
Sudut bibirnya terangkat manis, menyiratkan seringai penuh rasa lega. Ia melupakan jika dirinya masih memiliki seorang sahabat berjabatan Jaksa, yang akan mampu membantu menyelesaikan kasus Triana.
Tanpa menunggu waktu yang akan terbuang sia-sia, ia segera menekan tombol panggilan pada alat media untuk memanggil Fiona.
"Fi ... gue butuh bantuan lo!" Tanpa berbasa-basi, Tara mengungkap tujuannya setelah panggilan terhubung dengan lawan bicaranya.
"Bantuan apa?"
"Soal mantan tunangan lo, gue mau_" ucapan Tara tersenggal kala lawan bicaranya memotong dengan sengaja.
"Mau nanya sipat buruknya buat ngasih tau sama sahabat lo?" Fiona tertawa kecil penuh cibiran yang terdengar Tara begitu licik.
"Bukan! Dengerin dulu bisa ga sih?" Tara mengumpat kesal, mengabaikan tebakannya bahwa hati Fiona telah memanas di sana.
"Iya iya bos," sahut Fiona berseru sebal membalas tekanan nada suara lawan bicaranya.
__ADS_1
"Si Hans di tuduh bunuh nyokapnya si Triana, gue ga percaya sih, tapi bukti semua jelas banget."
"Hah?" Fiona terkejut hingga nada bicaranya memekik telinga lawan bicaranya. "Ga mungkin, pasti cuma tuduhan, gue hafal bener si Hans kaya gimana. Seburuk-buruknya dia ga mungkin sampai bunuh orang!"
Tara mendengus sebelum menyahut ucapan itu, ia pun tidak pernah berpikir, jika pria yang menjadi objek perbincangannya memiliki sikap buruk sedemikian rupa.
"Makanya itu Fi, gue butuh lo selidiki kasusnya. Gue ga mungkin kan ngomong sama laki gue atau si Jack?" ucap Tara penuh penekanan agar Fiona sudi membantunya.
Sesungguhnya, tanpa harus memaksakan hatinya Fiona akan dengan senang hati membantu, apa lagi berurusan dengan pria yang begitu dicintainya.
"Oke gue bisa bantu lo, tapi lo harus kasih bukti-bukti itu sama gue."
"Bukti ada di tangan gue, lo bisa ambil ke Apartement Laseason kan?"
"Oke gue ke sana sekarang!" Keputusan akan persetujuan mengakhiri perbincangan mereka.
Rasa sedikit lega telah berpadu dalam angannya. Sehingga ia kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang tersedia. Rasa gundah kembali menusuk jiwanya, di saat ia mengingat kembali kesalahan diri pada sang suami.
Harus bagaimanakah ia mempertanggung jawabkan kesalahan yang tidak akan bisa di tebus dengan hanya kata maaf saja. Gumaman dalam gerutu batin menghujam setiap detik tanpa bisa terlepas dari pikirannya.
Hingga beberapa jam berlalu, bayangan atas renungan itu berakhir kala suara bel berbunyi menghiasi pendengarannya. Tidak perlu ia menebak siapa yang akan berkunjung ke sana, jika dirinya memiliki janji pertemuan dengan Fiona.
Benar saja, setelah ia membuka pintu masuk itu, Fiona telah berdiri manis disertai senyuman sebagai sapaan.
Setelah mereka mendapat posisi nyamannya, Tara menyerahkan sebuah amplop berwarna kuning di mana kertas bergambar terdapat di dalam sana.
Fiona yang sudah tidak sabar ingin melihat bukti itu semenjak di perjalanan menuju tempat sang sahabat saat lalu, ia pun meraihnya dengan tergesa.
Dibukalah amplop itu tak luput mengambil isinya, hingga meniliknya dengan sorotan mata yang begitu tajam. Helaan napas rancu dari Fiona terdengar begitu memilukan oleh Tara, sehingga membuatnya beranjak dari sana.
Tara sengaja memberikan waktu kepada Fiona untuk mencerna kasus dari bukti yang hanya terdapat di dalam kertas bergambar serta alat penyimpan rekaman kegiatan saja.
Tara beranjak meninggalkan Fiona seorang diri, ia berjalan menuju tempat di mana jamuan untuk tamunya tersedia.
Sementara Fiona masih berusat pandangan serta pikiran pada lembaran kertas yang berada dalam genggaman tangan. Setelah itu ia melihat rekaman kejadian melalui alat media yang tersedia.
Tepat saat Tara kembali dengan membawakan kaleng minuman instant untuknya, Fiona telah mendapat sedikit jawaban untuk itu.
"Lo percaya ga sama bukti-bukti ini?" tanya Fiona di sela kegiatan tangannya meraih jamuan yang tersodor dari tangan sang tuan rumah.
Tara melenguh dalam gelengan kepalanya, bahkan ia mendengus menutupi keluhan batin yang sesungguhnya setengah mempercayai akan hal itu.
"Soal potasium gue tau ceritanya, dia beli barang itu dari rumah sakit milik temennya. Tapi itu suruhan orang buat ngehukum mati pengedar narkoba." Fiona menjabarkan alasannya di sambut seringai faham oleh Tara yang telah duduk pada sofa yang terletak bersampingan dengan sofa penumpu tubuhnya.
__ADS_1
"Udah gue tebak, gue juga ngejanggal. Masa tanpa dosa dia beli obat begituan, pake surat izin pula." Tara melepas kerancuan setelah mempercayai ucapan serta pemikiran yang sempat terbersit dalam ingatan.
Fiona mengangguk faham membalas ucapan itu, akan tetapi batinnya bergemuruh emosi, tatkala ia tidak menerima jika nama baik pria yang sangat di cintainya tercoreng dengan mudah.
Hawa panas menelusup tubuhnya hingga ia membuka tuxedo atasnya, kemudian menaruhnya pada penyandar sofa di belakangnya.
"Si Triana dia sarjana hukum juga tapi masih aja ****," ujar Fiona seolah mencibir yang terlihat oleh Tara dari senyuman sinisnya.
"Kalau orang lagi stress begonya keluar." Tara sengaja menghibur jiwa yang terbakar api cemburu itu. Bukan hanya tebakannya saja jika hati Fiona telah memanas, akan tetapi wajah yang merona serta tegukan pada minuman yang di lakukannya telah membuktikan rasa itu.
"Gimana kalau gini aja, mending lo ga usah jelasin dulu masalah potasium sama si Tri sementara gue selidiki bodyguardnya. Kalau gue udah dapet semua bukti kan enak ngomongnya juga," ujar Fiona memberikan jalan keluar yang di rasa Tara begitu sempurna, hingga ia menyeringai penuh makna.
Teringat akan rencana Triana saat lalu yang mengatakan akan memberi balasan bagi Hanson, semangat Tara kian berkobar untuk mengabulkan permintaan Triana itu.
"Boleh juga, moga aja lama dapat buktinya!" ujar Tara penuh ketegasan yang terpicu dari emosi untuk segera melakukan tindakan menggelikan terhadap mantan tunangan sang sahabat.
Namun, Fiona sama sekali tidak mengetahui rencana itu, ia pun membalas ucapan sahabatnya dengan pelototan mata yang begitu tegas.
"Lo gila apa? Orang biasanya pengen urusannya cepet kelar, lo malah pengen lama!" cibir Fiona di sertai nada jengkelnya berbalas senyuman licik penuh ledekan dari Tara.
"Udahlah lo cukup selidiki aja." Tara kembali tersenyum, akan tetapi senyuman itu kini terlihat manis oleh lawan bicaranya. "Gue andelin lo buat masalah ini Fi!" imbuhnya menyertakan keputusan pekat yang tidak ingin di tolak sedikitpun.
"Tenang aja, gue Jaksa yang bisa di andelin kok," sahut Fiona tak acuh mengabaikan wajah penuh dusta yang tersimpan siasat busuk dari Tara.
Telolet.. telolet..
Suara samar alat media pertanda khusus dari seseorang itu, seketika menyenggal perbincangan tegang ini.
Tara selalu menanti suara itu terdengar olehnya, tanpa menghiraukan tawa sahabatnya, ia segera melangkahkan kaki untuk mengambil benda yang masih terletak di atas nakas. Lebih tepatnya terdapat di ruang tidurnya.
Setelah mendapatkannya, ia pun menjawab panggilan itu seraya kakinya kembali melangkah untuk menghampiri Fiona.
Paras yang telah dirindukan olehnya selama dua puluh sembilan jam itu tersenyum di balik layar alat medianya. Ia pun segera menyambutnya dengan keceriaan yang tergambar jelas dari lengkungan bibir itu.
Wajah itu selalu menjadi penenang batin yang haus akan kasih sayang, meskipun ada wajah lain yang nampak serupa dengannya. Namun tiada seorangpun mampu menggantikan dirinya menjadi belahan jiwa jauh dari lubuk hati yang terdalam.
•
•
•
Tbc
__ADS_1