Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 10


__ADS_3

"Jack ciuman cewe lo itu ngeri banget tau." Sammuel melerai Vara serta Hanson yang masih saling bertatapan, mengalihkannya kepadanya, namun berhasil membuat batin Jackson berkedut seolah petir telah menyambar di dalam asanya.


"Ngomong apa sih lo, bangke?!" Jackson bersungut kesal, nadanya agak membentak menandakan betapa tak suka dengan kalimat yang sebelumnya terucap. Ia tahu apa maksud dari ucapan yang dilontarkan adiknya, bahwa sang adik playboynya telah mendapatkan hal itu. Karena rasa cemburu, ia asal berbicara hanya untuk menutupi rasa cemburunya semata.


"Tanya aja tuh ke cewe lo! Kenapa dia nyium gue?" Sammuel berkata tak acuh dengan tawa kecil di akhir kalimatnya, ia mengabaikan raut wajah emosi kakak keduanya. Ucapan yang sebelumnya ia lontarkan jelas membuat wanita di seberangnya menatap dia dengan penuh emosi, ia tahu jika pria itu benar-benar sengaja membahas peristiwa yang beberapa waktu lalu telah terjadi.


Vara enggan sekali jika insiden saat lalu sampai diketahui oleh pria di sampingnya, pria yang telah menatapnya penuh cemburu itu.


“Nyium?” Hanson menerka, ia bahkan sampai mengangkat sebelah alis karena agak jeran dan bingung dengan kakaknya, jika adiknya telah menginterupsi bibir wanita yang kini membelalakan bola matanya. Vara makin merasa emosi setelah melihat betapa tak acuhnya sikap pria itu, ia mengepalkan tangannya di samping tubuhnya seraya mengeratkan rahangnya untuk menahan emosinya.


“Yup nyium gue.” Sammuel membalas dengan santainya, seolah hal itu memang sesuatu yang normal, sepele. Ia benar-benar mengabaikan tatapan sadis wanita itu, wanita yang mengirim tatapan tajam di tengah aktivitasnya meneguk minuman.


"Ngaco lo kadal, dia cewe satu-satunya di sini yang ga mau BO (Booking Out)!" Jackson memekik tidak terima dengan pernyataan saudaranya, ia tak lupa menjabarkan alasannya, hanya untuk menepis raut wajah kesal wanita --yang berada dalam dekapan sebelah tangannya-- itu.


"Nyium doang ga usah BO kali." Sammuel kian meledek. Namun ledekannya dibalas tatapan laknat oleh sang wanita yang tampak makin jengah atas ucapannya.


Tatapan Vara terhenti sejenak, ia agak terlonjak saat Jackson tanpa ia duga menyerahkan gelas berisikan Henessy kepadanya, gelas itu langsung diraihnya dengan kasar, ia sengaja mencari bulanan pelampiasan amarahnya pada apa pun yang dia sentuh.


"Udah gue bilang 'kan lo pasti meriang." Jackson segera mengganti topik dan mengingatkan mereka atas apa yang ia katakan sebelumnya, gelagat mereka sama persis seperti apa yang ia kira. Buktinya, Jackson tahu pasti bahwa mereka memiliki ketertarikan pada wanitanya, rasa yang sialnya membuat rasa cemburunya hampir saja meluap.


Hanson mengangguk membenarkan perkataan kakaknya. "Siapa namanya?" Ia mengangguk ke arah Vara, tentu saja padanya, siapa lagi orang yang ia maksud jika bukan dia.


Baru saja Jackson membuka mulut untuk menjawab pertanyaan itu, Sammuel menyela, mendahuluinya memaparkan jawaban sehingga suaranya tersangkut di tenggoroka.


"Art Tara Biancasandra." Perkataan Sammuel membuat Jackson terperangah karena mendapat kejutan. Ia sama sekali tidak mengira jika adik keduanya mengetahui nama lengkap wanita --yang telah memerah wajahnya disampinya-- itu. Batin Jackson meruntuk hanya sesaat lantaran tatapan wanita itu kini beralih padanya.


Vara sudah tidak mampu menepis rasa canggungnya yang kian menyulut emosinya. Ingin sekali rasanya ia merobek mulut pria --yang duduk berjauhan dengannya-- itu, mencabik-cabiknya hingga mulut itu terbungkam selamanya, mengunci mulut untuk mengatakan sesuatu tentang dirinya lagi.


Hingga pada akhirnya.


Trak!


Vara meletakan gelas yang sudah kehilangan isinya dengan kasar di atas meja kaca. Kemudian ia bangkit berdiri masih di sekitar sana.


"Sorry Jack aku ga bisa temenin kamu sekarang?" ucapnya tegas, tiga pria itu mengarahkan tatapan ke arahnya, ia mulai mengayunkan kakinya tanpa ingin ada yang mencegahnya, ingin segera pergi meninggalkan tempat itu. Apa yang ia lakukan berhasil membuat Sammuel terhentak.


"Art Tara!” bentak Sammuel, ia memekik di luar kendalinya, benar-benar tanpa sadar ia telah berlaku keras pada wanita yang --diyakininya-- merupakan kekasih hati kakak keduanya. “Lo ga sopan banget ninggalin pelanggan gitu aja!" serunya, ia sengaja ingin meminta wanita itu kembali ke tempat dengan ucapan sadisnya.


Benar saja, Vara menghentikan langkahnya, meski enggan di rasanya kembali bergerumun dengan tiga pria di sana. Saat itu, Sammuel lagi-lagi mendapat tatapan nyalang dari wanita --satu-satunya yang berada di dalam ruangan-- itu.


"Kenapa? Kamu mau bayar yang tadi?" tanya Vara dengan nada kesal, ia bergurau pada kalimat terakhir, namun pasang matanya masih menatap nyalang wajah Sammuel.


Sammuel terkekeh menyikapinya, ia tak mengucap katanya yang dirasanya sudah cukup untuk menggoda wanita itu.


"Tara, apa kamu lupa siapa yang bantu kamu barusan?" tanya Hanson, ia menginterupsi dengan picingan matanya, merajuk dengan gaya dinginnya, hal tersebut membuat wanita itu mengalihkan arah pandangannya kepada dia. "Bisa ga, kamu di sini dulu buat bayar bantuan tadi?" imbuhnya, ia merajuk dengan pemaksaannya yang tersirat nada yang tegas disela ucapannya.


Vara membisu dalam gumaman benaknya, ia memang berhutang pada pria yang telah membantunya saat lalu. Lantas, untuk membalas budinya, ia kembali mendaratkan bokongnya di tengah-tengah antara Jackson dan Hanson, meski sebenarnya emosi masih medongkak dalam angannya. "Oke aku udah di sini, lunas 'kan?" tanyanya ketus, itu membuat Jackson tersenyum mendapati kemenangannya.


Tak ayal ia pun mengharap wanitanya tidak beranjak dari sisinya. Ia segera mengelus puncak kepala itu, mencurahkan rasa gemasnya. "Kamu punya utang sama mereka yang baru kamu kenal, tapi sama aku kamu ga pernah punya utang," gumamnya dengan nada yang pahit dan menyesal, mengingat jika wanita itu masih selalu menolak segala kebaikannya.


"Emang ga pernah, malah kamu yang banyak utang sama aku, Jack!" ketus Vara tersenyum meledek seraya mengempas tangan itu dari atas tempurung otaknya.

__ADS_1


"Utang apaan?!" Jackson memekik, ia agak heran dan bingung karena seningatnya dia tak pernah merasa membebani wanita pujaannya, sesuatu yang akan mengakibatkannya terlepas dari hubungan.


"Anak kamu!" ujar Vara singakat, namun berhasil membuat Sammuel serta Hanson mendapat kejutan, mereka menatap dua insan itu dalam kerutan pada kening.


"Kamu tau anaknya? Kamu cewe dia ya?" tanya Hanson kepada wanita itu untuk memastikan tebakannya.


"Bukan!" Vara menjawab secepat kilat.


"Bukan cewe aku, tapi calon ibu tirinya Queena," sahut Jackson, perkataan yang seenaknya membuat wanita di sampingnya reflek mencubit keras pinggangnya, cubitan yang cukup kuat, sehingga membuat ia meringis menahan sakit.


"Jack, kamu ngomongin itu terus, bikin aku mual tau ga?" Vara memprotes dengan sewotnya, hal itu membuat pria yang tengah asik mengelus pinggangnya menatapnya penuh harapan jika ia segera membalas hatinya.


"Kamu sendiri yang sering ngajak ketemu," balas Jackson berusaha menenangkan emosi wanitanya, emosi yang terpampang dari jelas wajahnya yang mengkerut.


"Bukan karena kamu kali, karena aku anggap anak kamu anak aku juga." Tara membalas, ia menggerutu dan berdalih. Karena apa yang ia pikirkan sama sekali tak sama seperti apa yang ia ucapkan. Yakni, ia mengatakan jika lebih tepatnya karena pria --yang masih mengelus pinggangnya-- itu adalah ayah dari anaknya, anak kandungnya.


"Kamu nyatain cinta?" Jackson menggoda tatkala sebelah tangannya berhasil merangkul pinggang wanita itu.


"Idih amit-amit nyatain cinta, apalagi ke kamu." Vara membalas dengan nada dan ekspresi jijik yang dibuat-buat.


Hanson hanya mampu tertawa kecil saat melihat tingkah dua orang --di sampingnya-- itu. Sedangkan Sammuel, si dingin yang tidak pernah tahu apa itu kata romantis, ia merasa geli melihat tingkah sepasang insan di hadapannya.


Lantas ia segera beranjak, lalu berdiri di hadapan meja penyekat jaraknya dengan wanita itu, kemudian ia menuangkan Hennesy ke dalam gelas milik wanita itu, hingga hampir penuh gelas itu terisi dengan tuangan minumannya, ia tidak luput menghentikan tuangannya.


"Stop!!” Vara berseru menggila, menerka gelas miliknya akan terisi penuh dengan tuangan pria itu. “Gila kamu! Mau bunuh aku apa?!" Lantas ia meraih paksa gelas yang dituang itu seraya menutupnya dengan telapak tangan.


"Lo minta bayaran 'kan? Noh gue kasih bonus." Sammuel berkata datar, ia mengangguk ke arah gelas itu, namun sayangnya ucapan itu hanya dibalas Vara dengan delikannya.


Kini Sammuel kembali pada posisi semula, duduk di atas sofa yang berjauhan dengan mereka. "Kampei!" sambungnya sambil mengangkat gelas yang ia pegang, mengajak bersulang pada rekannya.


Hanson serta Jackson turut mengangkat gelasnya. Lain dengan Vara, ia meraih botol Hennesy itu lalu meneguknya secara langsung dari botol itu, meneguk dengan cepat hingga isinya hilang separuh.


"Ini baru cukup buat bayaran tadi!" seru Vara meledek setelah menghentikan tegukkannya. Ia segera menaruh botol itu dengan kasar, hingga membuahkan bunyi nyaring dari kaca yang bersentuhan. Hal itu membuat Jackson serta Hanson mengerjapkan matanya menyikapi tingkah konyol wanita itu.


Sedangkan Sammuel hanya terkekeh menyikapinya, memang itulah tujuan awalnya --membuat sang wanita kehilangan kesadaran atas pengaruh minuman beralkohol-- agar ia dapat mencari tahu dan mengorek sesuatu tentang pria berwajah garang, sosok pria yang sempat ditemuinya di atas anak tangga saat lalu dari wanita itu.


"Kamu dari tadi ngomongin bayaran, apa si Sam, nyosor bibir kamu hm?" tanya Jackson dengan memancing, ingin memastikan jika tebakannya tentang mereka yang telah bersentuhan bibir itu benar adanya.


"Jack! Kamu ga usah sok romantis deh." Vara menepis tegas, tangannya berhasil menepis keras tangan yang telah berhasil mengusap tetesan air yang tersisa di atas bibirnya. Nada bicaranya mulai melamban bergaya ciri khas orang mabuk, hal itu membuat Sammuel menyeringai penuh kemenangan.


Sedang Jackson mengembuskan napas kasarnya mewakili rasa khawatirnya setelah mendengar nada bicara itu. "Art kamu lupa lambung kamu bermasalah? Minum kayak gitu, besoknya bisa repot."


"Ya kamu ga usah repot-repot kali, aku bisa ngurus sendiri!" Tara memekik menyahut perkataannya, namun gaya bicara melamban masih setia menyertainya.


"Art Tara!" Jackson memekik, melenting membuat wanita di sampingnya terkejut dengan gerakan tubuhnya.


"Jack dia udah mabok kayaknya, ga usah bentak dia deh!" Hanson mengusulkan, menenangkan kekhawatiran kakaknya yang dia rasa, bahwa kecemasan itu berasal dari wanita yang sudah memerah wajahnya.


"Siapa …," sahut Vara terhenti saat tubuhnya bangkit dari duduk, lantas bertolak pinggang menghadap Hanson. " … yang mabok?" imbuhnya, perkataannya dibalas Hanson dengan gelengan kepalanya, sedang Jackson meraih tubuh wanita itu ke dalam rangkulannya.


Lain dengan Sammuel yang asyik sendiri, ia menikmati setiap hisapan pada rokoknya serta tegukan pada minumannya.

__ADS_1


"Art, kamu mending pulang deh!" bujuk Jackson yang sudah begitu mengkhawatirkan keadaan wanitanya. Namun rupanya sang wanita malah mendorong kasar tubuhnya, itu membuat rangkulan terlepas begitu mudah.


“Jack, aku udah bilang jangan sok perhatian, aku ga bisa jadi cewe kamu." Vara berteguh diri meski kesadarannya telah hilang separuhnya. Ia menyenggal katanya menahan tubuhnya yang goyah membuat pria --yang merupakan ayah dari anaknya-- itu segera mengulurkan tangannya. Namun, ia tidak meraihnya setelah mendapat kata penolakan beberapa detik lalu. "Mau berapa ratus kali kamu aku tolak?" imbuhnya menyertai kejujurannya, itu membuat pria yang masih berdiri di sampingnya kembali mengembuskan napas kasarnya, lain dengan Sammuel dan Hanson yang melipat bibirnya untuk menahan tawa, menyikapi ucapan sebagai ledekan untuk kakaknya.


Sedangkan Vara mendaratkan pandangannya pada Hanson, lantas ia duduk kembali pada posisi semula. “Hei kamu yang udah nolong aku, nama kamu Hanson ya?" Telunjuk lentiknya mengacung di hadapan dada Hanson, suatu perbuatan yang langsung disambut pemiliknya dengan mengangguk ringan menjawab pertanyaan itu. “Bilangin sama temen kamu itu, eh siapa namanya?" Kini telunjuk itu mengacung pada arah pria yang duduk berjauhan dengannya.


"Sam?" sahut Sammuel dengan memekik, membuat bibir kedua kakaknya terbungkam rapat.


Mendapat jawabannya, Vara segera mengarahkan pandangannya pada Hanson serta Jackson bergantian. "Hanson, Jackson, bilangin sama temen kalian si Samson itu biar ngubah sikap angkuhnya, jadi baik dikit bisa 'kan?" Telunjuk itu masih mengacung pada arah Sammuel, namun kali ini bergerak-gerak membuat Jackson semakin gemas di sana.


Dalam kesadaran yang masih merangkak ingin berseru, Vara masih mengingat kejadiannya bersama Sammuel saat berada di tepi anak tangga beberapa waktu lalu. Ia murka pada tindakan pria yang menurutnya serupa dengan seseorang itu, pria itu tidak membantunya sama sekali, bahkan kini kegiatan itu menjadi bulanan ledekannya.


Di sisi lain, Sammuel tidak marah atas ucapan sarkasme wanita itu, melainkan ia tertawa mendengar panggilan nama untuk dirinya dari mulut mungil itu. "Kapan gue nyakitin elo? Ketemu aja baru tadi." Ia membalas, dengan seringainya membuat sang wanita jengah tidak manpu menimpali ucapan itu.


Tanpa berkata, Vara bangkit dari duduknya, ia melangkahkan kakinya dan menepi di hadapan pria yang telah menatapnya penuh heran.


Wajahnya menunduk melihat Sammuel yang sedang duduk. Tubuhnya merunduk, kedua tangannya menumpu pada kedua lututnya membuat belahan dadanya terlihat jelas oleh pria di hadapannya. "Eh kamu kalau ga baik sama cewek, emangnya kamu  mau kawin sama bencong apa?" serunya sebal, namun ucapannya membuat kedua pria yang berada di belakang pandangannya tertawa gemas.


Sammuel bersikeras menepis pandangannya, pemandangan itu sudah membuatnya menelan ludah kasarnya. "Lah itu, bencong aja demen sama gue, masa lo bilang gue jahat?"


"Karena aku bukan bencong."


"Terus lo apa?"


"Aku banci."


Kini, Hanson mengeraskan tawanya sampai terbahak, sesuatu yang baru terlihat kembali oleh saudaranya setelah 5 bulan hilang ditelan bumi, membuat wanita itu melepas tubuhnya dari hadapan Sammuel untuk menatap wajah yang masih menyiratkan tawanya di sana.


Sammuel melega untuk dua hal. Pertama, ia lega untuk tubuh yang sudah berhasil menarik perhatian matanya tersingkir dari hadapannya. Kedua ia lega mendengar tawa itu terlontar dari kakak ketiganya yang sudah sekian lamanya gelisah.


Sedangkan Jackson melangkahkan kakinya, ia segera meraih tubuh wanitanya dalam pangkuannya, kemudian mengembalikan tubuh itu pada posisi semula.


"Jack, bisa ga kasih dia minum lagi? Lucu dia," ketus Hanson, ia acuh tak acuh seolah tidak mempedulikan kekhawatiran kakaknya.


Sedangkan Sammuel masih menyiratkan senyumannya karena mendapati tawa kakak ketiganya yang sudah kembali itu.


Lain dengan Jackson, ia menatap laknat wajah Hanson dalam dengusan kerasnya. "Bangke lo! Mau bikin cewek gue masuk UGD apa?"


"Gue berani tanggung jawab kalau sampe dia masuk UGD."


"Sinting lo ah!" Jackson kesal, kekesalannya membuat ia menepuk keras kepala adiknya.


"BERISIK TAU!" bentak Vara, ia menginterupsi dengan pekikannya membuat ketiga pria itu menggelengkan kepalanya menyikapi perlakuan konyolnya.


Akhirnya malam panjang yang terasa singkat itu berlalu, berakhir dengan kecerian atas suasana yang terbentuk dari kelakuan wanita satu-satunya di dalam ruang itu, wanita yang sudah di luar batas kesadarannya.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2