
Tara maju selangkah hingga jarak tubuhnya merekat dengan tubuh suaminya mempermudah tindakannya untuk menghibur emosi yang masih terpapar dari wajah suaminya. "Sampe sekarang!" Sahutnya berteguh diri.
"So?" Sammuel memicingkan kedua matanya menunggu kepastian jawabannya yang membuat rasa penasarannya kian bergejolak.
**
Tara mempertegas rajukannya dengan mengalungkan kedua tangannya pada leher suaminya. "Aku mau ngelakuin itu sama kamu karna__" Ia menjinjit, mengecup sekilas bibir suaminya sebelum mengucap jawabannya membuat sang suami kian emosi merasa kesabarannya teruji. "I love you." Ucapan cinta dalam bahasa asing itu berhasil meluncur dari bibir mungilnya menembus batas kejutan sang suami yang membelalakan kelopak matanya.
"Art!" Kejut Sammuel melepas kedua tangan istrinya yang mengalung pada lehernya itu. "Lo tau gue ga bisa bales perasaan lo itu?" Ungkapnya cemas jika istrinya tidak akan mampu melakukan tugas darinya.
"Tau!” Balas Tara tegas setegas keinginan sang hati. “Tapi kamu ga berhak larang aku buat jatuh cinta sama kamu kan?" Sahut Tara tertunduk kaku di sana, untuk kali pertamanya ia mengungkap kata cinta kepada seorang pria membuat rasa takut akan penolakan meluap dari dalam asanya.
Sammuel menatap miris wajah istrinya, namun sebuah senyuman tertahan dari bibirnya. Sesungguhnya, batinnya melompat kegirangan mendapat pengakuan itu. 'I love you too' keinginannya adalah mengucap kata itu. Namun tetap saja, ia berkeras hati pada tujuan awalnya menikahi sang istri.
"Sorry Sam, aku udah ga tau diri." Ujar Tara menganggap bungkaman mulut suaminya atas ungkapan penolakan yang terlihat dari paparan hawa kejutnya dari wajah tampannya. Ia memutar tubuhnya melangkahkan kakinya membawa kekecewaannya hingga menepi pada ruang tempatnya membersihkan dirinya.
Sedang Sammuel masih termenung di sana, meresapi perasaannya yang tidak menentu. Ia masih menyangkal hatinya untuk mencurahkan kasihnya pada wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu.
Pantaskah ia membalas cinta kasih dari wanita itu? Jikapun ia harus membalas cinta itu, semua itu terlambat sudah. Sang kakak tengah menjalin hubungan special dengan istrinya.
Sudahlah Sammuel memutuskan mencari jawaban tepatnya di atas balkon yang terletak di luar ruang tidurnya itu.
Detik berlalu, jam memutar waktu hingga Tara menyelesaikan ritual mandinya, ia tidak melihat sosok suaminya di dalam ruang tidurnya hingga ia bergegas mencari keberadaannya di luar ruangan.
Langkahnya memburu membawa kerancuan hatinya, rasa cemas mulai menyulut angannya jika saja suaminya pergi tanpa pamit lagi seperti saat-saat lalu.
Kerancuannya sirna kala melihat sang suami berdiri membelakanginya di atas balkon ruang tidurnya.
__ADS_1
"Sam." Panggil Tara di sela langkah kakinya membuat Sammuel memutar tubuhnya menatap istrinya yang berjalan semakin mendekatinya.
"Lo ga salah Art, yang salah nasib lo." Akhirnya ia mengungkap apa yang telah menjadi renungannya selala 30 menit ke belakang itu.
Tara terkekeh membalasnya masih dalam kakinya yang mengayun menghampiri sosok yang terlihat gagah di hadapannya dengan sebuah rokok bertengger di sela jepitan dua jari tangan kanannya. "Kamu juga ga salah, kamu pasti tau kalau aku bakal suka sama kamu." Balasnya melega hingga mengumbar tatapan imutnya pada pria yang telah berdiri bersampingan dengannya.
"Jelas lah siapa yang ga tertarik sama cowo ganteng kaya gue?" Sahut Sammuel penuh percaya diri. Sesungguhnya, ia mengungkapnya hanya untuk menghibur kerancuan batinnya saja. Namun bukan hanya batinnya yang melega, sang istripun di sampingnya menyambutnya dengan senyum indahnya.
"Syarat ke 5 aku__"
"Lo bebas mau suka sama gue atau engga juga. Lo bener, gue ga berhak larang itu." Potong Sammuel secepat tangannya mengucek gemas puncak kepala istrinya. Ia sudah dapat menerka kelanjutan ucapan istrinya yang akan menyerahkan hatinya melalui perjanjian pernikahannya.
"Pengertian juga kamu." Balas Tara melengos dari rasa kejutnya. Ia tidak mengira sang suami dapat dengan mudahnya menerka isi hatinya.
"Syarat ke 5 lo, lo bisa simpen buat yang lebih penting." Tegas Sammuel setegas matanya menyorot wajah istrinya yang sudah menyandarkan tubuhnya pada pagar balkon membuatnya kesulitan untuk meraih pinggang berlekuk biola itu.
Kini, tanpa pelantara Sammuel berhasil meraih pinggang itu yang di balas seringai oleh istrinya.
Sesungguhnya, Tara mengingat sesuatu yang membuat seringai itu terlontar dari wajahnya. "Sam." Panggilnya ragu-ragu ketika melihat wajah suaminya menatapnya dalam sahutannya. "Boleh ga buat syarat ke 5 aku minta bonus tambahan?" Sesungguhnya Tara mengatakannya hanya untuk leluconnya semata. Namun rupanya Sammuel masih menyimpan dendam dengan itu.
"Duit yang gue kasih kurang emang?" Sammuel berusaha menahan emosinya, puntung rokok yang masih menyala itu di genggamnya hingga memadamkan baranya di atas permukaan kulit telapak tangannya.
"Ga kurang sih, cuma_ aku ada keperluan lain." Sahut Tara masih dalam keraguan hatinya kala melihat siuaminya melempar puntung rokoknya dengan kasarnya seolah ingin menghempas tubuhnya ibarat puntung rokok itu.
"Keperluan apa yang bikin lo minta duit sampe ngerengek gitu?" Sammuel tidak percaya jika ada wanita anggun yang sebaik istrinya. Ia telah menerka sebelumnya jika istrinya akan memberikan hasil kerja kerasnya untuk ibunya yang akan menikahi sahabatnya.
"Aku pengen beli rumah sama mobil buat di Bandung__" Pinta Tara tidak enak hati hingga ia menyenggal kalimatnya untuk mengatur detak jantungnya yang berdenyut kencang merasakan ketakutan akan suaminya memakinya atas permintaannya yang di rasanya begitu kurang ajar itu.
__ADS_1
"Mulai lo ya bertingkah!" Sammuel kian emosi setelah salah menerka permintaan istrinya hingga ia mengeratkan rahangnya bahkan melepas rangkulan pada pinggang istrinya.
"Kamu tau mama aku suka berondong kan?" Paksa Tara dalam rajukan sesatnya hingga memekikkan nada bicaranya melepas rasa kesal pada ibunya nun jauh di sana.
"Hmmm." Sammuel melenguh dalam anggukan kerasnya. "Terus lo mau ngasih duit sama berondong itu gitu?" Tanyanya memastikan jika tebakannya tidak salah sama sekali. Namun,
"Ogah amit aku ngasih uang buat berondong, mending aku buang tuh uang."
"Lah terus buat apaan tuh rumah sama mobil?" Sammuel kian menjanggal dengan jawaban istrinya, hingga emosinya itu sulit mereda membuatnya berkata dalam nada ketus yang memancarkan aura kelamnya.
Tara merancu, merasakan aura dingin itu terpancar kembali dari nada bicara suaminya. "Adik aku yang bungsu tinggal sama mama aku, aku ga mau kalo mereka udah nikah yang jadi korbannya nanti adik aku." Sahutnya penuh waspada hingga jemari tangannya terprovokasi bermain di sana melerai rasa takutnya di iringi nada manja yang rupanya berhasil membuat suaminya memaparkan wajah leganya.
"Apa hubungannya?" Tanya Sammuel hanya untuk alasan mencari bahan pelampiasan rasa gemasnya pada istrinya yang telah memaparkan wajah imutnya membuat batinnya meronta ingin mencurahkan cintanya kepadanya.
"Calon ayah tiri aku itu masih muda banget, lebih muda dari aku, sedangkan adik bungsu aku lagi mekar-mekarnya, aku takut orang itu malah jatuh cinta sama adik aku."
Sirna sudah emosi Sammuel dengan penjelasan yang begitu masuk akal itu. "Terus nanti ade lo tinggal sendiri gitu?" Tanyanya memastikan. "Bukannya sama aja malah jadi bahaya kalau dia tinggal sendirian?"
"Ada adik aku yang pertama sama suaminya." Sahutnya bersungguh hati mengharap suaminya tidak mempertanyakannya lagi hingga mencapai persetujuannya dengan memaparkan tatapan manisnya membuat Sammuel menghempas napas kasarnya.
Jiwa Sammuel kesulitan menyambut tatapan itu hingga tanpa pamit ia mengayunkan kakinya menuju ruang tidurnya di sekitar sana membuat sang istri membuntutinya hingga menepikan tubuhnya yang duduk di tepi kasur empuknya.
•
•
•
__ADS_1
Tbc