Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 116


__ADS_3

Hari terasa gersang menyengat, langit biru membentang tanpa awan. Padatnya lalu lintas di hari menuju sore itu membuat Tara serta Sammuel berperang tatapan.


Di dalam kendaraan roda empat mewah milik General Manager PT.ZhanaZ Group itu, mereka meresapi suasana tegang satu sama lain.


Tara mulai gundah, ia takut jika padatnya jalanan hari ini akan membuatnya terlambat tiba di tempatnya menuntut ilmu. Kerancuannya terpampang dari tubuhnya yang bergerak cemas hingga membuat tatapannya kosong menuju arah wajah suaminya.


Sammuel sadar dengan kerancuan yang terpampang dari wajah istrinya hingga ia meluapkan emosinya pada klakson kendaraannya yang di tekannya dengan kasarnya.


"Sam!" seru Tara memekik lantang. Tangannya mengulur menggenggam sebelah tangan suaminya yang masih berusaha menekan klakson kendaraannya. "Buat apa sih kamu klaksonin? Udah tau macet."


"Lampu udah ijo malah diem aja tuh mobil di depan. Tidur kali tuh sopirnya," balas Sammuel geram hingga ia berkata di iringi nada ketusnya. Seharusnya ia memaki dirinya sendiri yang telah keliru memilih jalanan padat itu sebelumnya.


"Sabar kenapa sih?" Tara protes hanya untuk menenangkan emosi si keras kepala yang kini menatapnya dengan senyuman menawannya.


"Lo yang udah cemas gitu, gue malah ga mau liat lo kaya gitu oneng," ujar Sammuel menimpal tidak mau kalah.


Tara terpaku mendapat pernyataan itu, ia menyibak suatu makna jika suaminya diam-diam memperhatikannya hingga sejenak hening mengisi suasana di sana.


"Sam, si Jack nyuruh aku megang tender premium," ujar Tara berseru mengalihkan bahan perbincangan.


"Lo terima?" sahut Sammuel memekik heran di iringi tatapan sekilas pada wajah istrinya yang sudah mengangguk di sana membuat rasa cemas kembali merangkak dari dalam jiwanya.


Sammuel enggan jika sang istri kembali mendapat kesibukannya yang di yakininya akan membuat pusat perhatian sang istri berpaling darinya. Bukan hanya itu, ia masih enggan jika sang istri mendapat penghasilan lebih dari hasil keringatnya sendiri.


Alasan tepatnya, rupanya ia tidak menginginkan sang istri meninggalkannya jika saja sang istri sudah tidak lagi membutuhkan bantuan materi darinya.


"Belom aku jawab, sesuai janji aku minta izin dulu sama kamu." Tara menyiratkan senyuman sindiran meski tidak terlihat suaminya namun mendapat balasan dari sang suami yang memaparkan seringai penuh maknanya.


"Kalo lo sanggup lo terima aja," sahut Sammuel berpasrah diri mengalah demi mendapatkan kemenangannya.


"Ga tau juga kalo aku sekarang ngurus tender ultranium, tapi dia bilang mau bantu aku," seru Tara merajuk hingga menatap wajah sang suami dengan sorotan harapannya.


Sammuel sadar dengan tatapan harapan yang tertangkap ujung matanya, bukan enggan ia melirik wajah sang istri kala jalanan telah kembali lancar hingga ia hanya mampu berpusat pandangan ke arah depannya.

__ADS_1


"Lo nolak tawaran bantuan gue katanya mau liat kemampuan lo sampe mana? Kalo gini caranya berarti itu cuma alesan lo doang dong?" ujar Sammuel menyindir namun sebelah tangannya berhasil mengulur memberikan usapan sekilas pada puncak kepala istrinya.


"Yah yah sorry! Nanti aku liat prospeknya dulu deh!" balas Tara bersungut kesal pada dirinya sendiri yang lagi sulit menolak perlakuan hangat sang suami hingga tanpa tau keinginannya sendiri ia menyetujui keputusan sang suami tanpa berpikir lebih.


"Art_" seru Sammuel ragu-ragu mengatakannya hingga ia menyenggal sejenak kalimatnya membuat sang istri menatapnya penuh picingan.


"Hmm?"


Sammuel bungkam, mengumpulkan keberanian untuk segera mengungkap tujuannya. Kini, ia berniat mengelus pipi istrinya dengan tangan kirinya, namun matanya yang tertuju ke arah jalanan membuat tangannya mendarat pada bibir istrinya.


Sejenak Sammuel meresapi sentuhannya kala sang istri hanya terdiam tanpa perlawanan di sana.


"Gue juga mau ngasih tender Villa di Subang." Akhirnya Sammuel berhasil mengungkapnya membuat hatinya melega di sana. Namun,


Tara menepis kasar tangan itu yang di yakininya akan membuat ucapannya tidak jelas terdengar. "Bisa pecah nih otak!" ujarnya bersahut ledek kala sang hati menyetujui permintaan suaminya.


Sammuel menarik tangannya kembali untuk memegang pengendali kendaraannya meski hatinya masih menginginkan untuk menikmati sentuhannya.


"Aku harus ekstra rawat otak ini mah," sahut Tara berseru gembira yang bertolak dengan ucapannya. Lantas ia terkekeh di akhir kalimatnya menyemburkan rasa bahagianya dengan menarik tangan suaminya.


Di kecupnya punggung tangan itu dengan mesranya membuat hati sang empunya bergeming riang di sana.


"So? Lo terima juga tender premiumnya?" ulang Sammuel memastikan. Kembali ia menatap sekilas wajah istrinya yang tengah menatapnya dalam senyuman manisnya.


Gemas sudah Sammuel di buatnya, ingin sekali ia menerkam bibir mungil yang masih tertarik ke atas itu dengan bibirnya. Namun apalah daya, rasa gengsi yang di pertegas dengan keadaannya kini membuatnya mengurungkan niatnya.


"Harus liat dulu prospeknya, yang villa juga."


"Yang villa belom ada prospek, semuanya pengen lo yang atur. Lo tau kan daerah sana? Lo pernah tinggal lama di sana," jabar Sammuel beruntun dengan pertanyaannya.


"Tau sih, tapi tetep aja harus liat kondisinya dulu," balas Tara terabaikan kala sang suami membungkam mulutnya di sana.


Rupanya Sammuel mencari cara agar dapat menyenangkan hati sang istri meski rasa gengsi masih membubuh pada keinginannya, namun baginya kali ini kesempatannya untuk menebus kesalahannya.

__ADS_1


Sammuel melirikkan wajahnya ke samping kirinya di mana sang istri masih menatap janggal wajahnya. "Oke gimana kalo libur nanti kita kencan ke sana?"


Dan kini saat lampu jalanan berwarna merah, dengan bebasnya Sammuel menatap wajah binar itu.


Sementara Tara meresapi rasa bahagianya, ia belum mempercayai jika suami dinginnya mengajaknya untuk berkencan dengannya. Rasa bahagia yang membuncah membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.


Hingga pada akhirnya, kala Sammuel mengusap puncak kepalanya, Tara baru tersadar dari bayangan liarnya.


"Kencan?" ulang Tara di iringi senyuman riangnya.


"Hmm," balas Sammuel berdengung kala angannya meresapi sorotan matanya yang memandang binar bertaburan di balik wajah cantik istrinya.


"Boleh!" jawab Tara antusias.


Sammuel mengulurkan tangan kirinya, meraih tangan kanan istrinya. Di seretnya tangan itu menuju bibirnya lantas ia membenamkan bibirnya di sana.


"Jangan bikin aku makin ga tau diri Sam, nanti aku baper lagi." Meski demikian, Tara membiarkan kegiatan suaminya berlangsung begitu lamanya.


Kebetulan sekali, lampu lalu lintas masih menunjukkan agar kendaraannya terhenti di sana.


Sammuel hanya tersenyum dalam kegiatannya yang tak terlepas untuk membalas perkataan istrinya.


Tepat kala Sammuel melepas bibirnya dari punggung tangan istrinya, rambu lalu lintas menyatakan agar kendaraannya segera melaju.


Dalam diam penuh kejutan yang nyaris membuat Tara sulit menghempas senyuman dari wajahnya, perjalanan kembali di tempuh mereka untuk segera mencapai tujuannya.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2