Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 134


__ADS_3

Angin berhembus sepoi-sepoi menyapu tubuh para insan yang tengah duduk pada kursi yang terdapat di sebuah kantin perusahaan raksasa milik seorang bernama Zhavia Zhana itu.


Rupanya Jackson mengajak dua adiknya untuk melakukan santapan siangnya pada tempat tersebut.


Suasana canggung mulai melanda kala mereka meresapi posisi duduk mereka di mana Jackson berdampingan dengan Tara di sampingnya, Sammuel dengan Triana di sebelahnya, sisanya Hanson bersampingan dengan Fiona.


Ceritakan saja tanda cinta hasil lukisan bibir Sammuel yang tersirat pada leher Tara tidak pernah terlihat Jackson lantaran Tara menutupnya dengan baju atasnya yang berkerah panjang, namun rupanya Jackson yang memiliki tinggi lebih 20cm dari Tara, ia dapat melihatnya dengan ujung matanya.


Entah apa yang merasukinya, Jackson sendiri yang tersenyum manis meresapi keadaan canggung itu.


Seraya menunggu santapan terhidang, mereka memulai aksi dalam perbincangannya.


"Tri, lo gawe di ZhanaZ apa cuma lagi berkunjung doang?" tanya Tara seraya menatap wajah Triana bermaksud ucapannya untuk orang tersebut.


"Gawe, jadi asisstant khusus pengacara,” balas Triana.


Tara memaparkan senyum riangnya menanggapi pernyataan sahabatnya. "Baru tau gue, seneng banget bisa sering ketemu sama lo."


"Makasih tuh sama cowo lo." Triana menunjuk Jackson dengan dagunya.


Tarapun mendaratkan tatapannya pada wajah Jackson seraya tersenyum manis, sementara Jackson membalasnya dengan merangkulkan tangannya pada pinggang kekasihnya yang membuat arah tangannya berada tepat di samping kanan Sammuel lantaran Sammuel duduk di samping kiri istrinya.


Sammuel melirik tangan yang menyentuh pinggangnya itu, mengira istrinya yang memberi isyarat.


"Apaan sih lo, ngelus-ngelus pinggang gue?" protes Sammuel bernada pekikan kala melihat tangan jenjang kakaknya yang mendarat pada pinggangnya


"Sorry ga sengaja, niatnya mau meluk cewe gue doang kok." Jackson menyerengeh tanpa doaa yang membuat Sammuel menatapnya penuh geram.


Sedang Tara menggelengkan kepalanya menyikapi tingkah adik kakak itu, sementara yang lainnya tidak terlalu memperdulikannya saat merekapun sibuk dengan perbincangannya masing-masing.


Perbincangan terlerai kala sang pelayan menghidangkan santapan yang telah mereka pesan sebelumnya.


Jackson yang pertama meraih piring santapan Tara berniat menyuapinya hanya untuk menggoda adik keduanya agar dirinya mampu melihat rasa cemburu dari itu.


"Sayang, kuliah nanti aku yang nganter ya, sekalian aku ada urusan di sana." Jackson sengaja mengungkap sapaan sayangnya tak lantas mulai sibuk menyuapi kekasihnya.


Tara menatap lirih wajah Jackson, ingin sekali ia menimpal ucapan itu yang di yakininya akan membuat suaminya murka, namun meski demikian ia tetap menerima suapan itu.


"Jangan nolak, kamu ga kangen apa kemaren udah ninggalin aku?" potong Jackson seolah tau apa yang di pikirkan kekasihnya itu.


Api cemburu mulai menyulut hati Sammuel, ia menepisnya dengan meresapi kegiatan makannya. Wajahnya tertunduk kaku menyembunyikan pipinya yang di yakininya telah memerah.


Hanson yang melihat itu, ia mulai mencuri pandang dengan ujung matanya untuk mencari makna dari apa yang di lakukan adik serta kakaknya itu.


"Pulangnya aku sama ade kamu gitu?" ucap Tara.


Setelahnya ia kembali menerima suapan dari kekasihnya membuat api cemburu suaminya kian merangkak di dalam sana.


"Ga!" tolak Jackson pekat hingga berucap dengan tegasnya. "Pulangnya sama aku lagi, aku mau ajak kamu kencan," imbuhnya memperjelas, lantas ia melirik ke arah Sammuel dengan ujung matanya, terlihat olehnya rahang Sammuel mulai mengerat.


Hanya Sammuel yang membeku menatap Jackson yang menyantap makanannya dengan satu sumpit yang sama dengan istrinya, sedang Triana serta Hanson menyiratkan senyum manisnya, lain dengan Fiona yang menatap harap wajah Tara.


"Kencan apaan sih, emangnya kamu anak kecil apa?" protes Tara segera menyenggal ajakan Jackson, namun kembali ia menerima suapan itu.


Jackson tersenyum gemas mendengar nada bicara jengah dari kekasihnya itu di iringi dengan tatapan tajamnya yang menyorot lekat wajah kikuk kekasihnya.


Tara enggan melanjutkan perbincangannya yang di rasanya akan membuahkan petaka untuk hubungannya dengan suaminya, lantas sejenak ia melirik ke arah suaminya yang masih tertunduk kaku di sana.


Helaan napas rancu Tara terdengar begitu memilukan oleh Jackson saat kekasihnya membalas tatapannya.


"Kamu yang janji kemaren mau kencan sama aku,” ujar Jackson.


Kembali Jackson mengulurkan tangannya menuju mulut Tara yang memegang sendok itu untuk menyuapinya.


"Ogah ah!" Tara mulai gelisah hingga menepis suapan dari Jackson dengan paksaannya membuat Hanson yang duduk di sebrangnya melirik ke arah mereka serta Sammuel secara bergantian.


Hingga kini Hanson masih memperhatikan tingkah mereka untuk menyibak suatu makna dari dalamnya membuatnya tidak menyadari jika mantan tunangannya selalu mencuri pandang pada wajahnya.


"Oke kalo gini gimana, kita pergi nyari baju pengantin!" ujar Jackson berseru tegas, ia menaruh sumpit itu di atas piringnya setelah Tara menolak suapannya.

__ADS_1


Brak!


Sammuel menghempas keras sumpitnya ke atas meja hingga membuahkan bunyi nyari dari kepalan tangannya.


"Lo mau kawin Jack?" tanya Sammuel.


"Hmmm, mau nyampe kapan gue keluyuran gini, kasian anak gue juga," jawab Jackson dengan datarnya mengabaikan kelopak mata Sammuel yang membelalak.


Kini Jackson meraih minumannya lantas menyerahkannya pada kekasihnya, rupanya ia masih berusaha membuat adiknya cemburu di sana.


Beruntung sekali Tara menyambutnya dengan meraih gelas itu dengan gaya kasarnya bahkan dengusan sebal terlontar darinya.


"Kapan?" seru Sammuel memancing.


"Bulan depan kayanya,” jawab Jackson.


Masih belum mendapatkan kepuasan hati, Jackson merebut gelas dari tangan kekasihnya lantas menyeruput isi di dalamnya membuat Sammuel kian mengeratkan rahangnya.


Sammuel membeku, membatu, mematung mendengar pernyataan kakaknya, seharusnya ia gembira saat rencana awalnya menikahi Tara untuk hal ini telah mencapai keberhasilan.


Namun kini ia melupakannya begitu saja setelah sang hati tidak dapat berkompromi bahwa dirinya mengakui telah jatuh cinta terhadap istrinya.


Tidak hanya Sammuel, Fionapun mulai terbakar api cemburunya lantaran ingin mendapat perlakuan hangat dari seseorang seperti apa yang di lakukan sahabat serta calon tunangannya itu, namun sekuat tenaga ia menepisnya dengan melanjutkan menyantap makanannya.


Hal itu membuat Hanson tersenyum keji menyertai rasa tidak sukanya terhadap tindakan Fiona.


"Lo harus waspada Jack, kali aja ada cewe yang ngancurin pernikahan lo." Hanson berucap mencibir di sertai tatapan laknat pada wajah Fiona di sampingnya.


Fiona tersadar dengan tatapan itu hingga ia membalasnya tak kalah kejinya. "Mana mungkin gue ancurin, gue malah seneng."


Senyum binar terpampang dari wajah Fiona mengingat persoalan pernikahan itu tertuju untuk dirinya, namun Hanson memaknainya lain bahwa wanita di sampingnya tersenyum untuk menyembunyikan kepedihannya.


"Yakin, siluman lacur kaya lo bisa nahan?" ucap Hanson kian mencibir sadis.


Geram sudah Fiona mendengarnya hingga ia bangkit berdiri dalam emosinya yang tertahan di balik wajahnya yang memberengut kesal.


"Sorry guys, gue ga mau ancurin kencan kalian, gue cabut!" Lantas Fiona memburu langkahnya setengah berlari.


Tanpa mereka ketahui, Triana pun menyusul langkah mereka, dengan demikian Hanson turut menyusul Triana lantaran cemas dengan langkah sang kekasih yang memburu itu.


"Art!" Sammuel berhasil meraih tangan istrinya hingga sang istri menghentikan langkahnya seketika. "Lo jangan ikut campur_” ucapnya terpenggal kala menatap punggung Jackson yang masih memburu langkahnya mengejar Fiona.


Sammuel menggelengkan kepalanya kala melihat Triana serta Hanson yang berlari mengejar langkah Jackson di depannya, sementara Tara mengarahkan pandangan janggalnya pada wajah suaminya.


"Apa maksud si Jack tadi mau bikin si Fiona mundur?" tanya Tara.


"Kayanya mau bikin gue nyerah juga,” sahut Sammuel di iringi tawa ledeknya untuk dirinya sendiri. “Nyerah ngebiarin lo sama dia."


"Aku ga mau itu Sam!” Secepat cahaya Tara menimpalnya kala air payau telah mendesak mata indahnya.


"Lo suka kan sama dia, kenapa ga mau?"


"Suka?!" Tara melotot keji mengiringi nada bicaranya yang memekik.


"Tadi aja lo terima suapan dia, kenapa ga manjat aja sekalian ke atas ranjangnya?"


Percayalah, Sammuel hanya menggoda istrinya saja, tidak ada maksud lain di baliknya.


Plak!


Rupanya telapak tangan Tara mendarat pada pipi suaminya, memberikan tamparan kerasnya di sana.


"Sinting lo!" pekik Sammuel bersungut dendam lantas mengusap pipinya dengan telapak tangannya.


"Kamu yang sinting, sorry Sam aku udah ga mau ngel*cur lagi, sekalipun sama si Jack."


Dan air mata itu mengalir sudah dari sudut matanya tanpa bisa di cegahnya meski sebelumnya Tara berusaha keras agar bendungannya tidak retak.


"Lo_" Sammuel menatap kelam wajah istrinya, menyatukan perasaan sesal serta kesalnya di dalam kalbunya. "Jujur sama gue, lo maunya gue gimana?"

__ADS_1


"Kamu harusnya tau itu." Tara jengah, ingin sekali ia menghindari suaminya saat ini, hingga pada akhirnya ia pun mulai melangkahkan kakinya tanpa pamit pada suaminya.


Sammuel hanya membiarkan kepergian istrinya kala ia masih berpusat pada pikirannya, rasa sesal telah menggoda istrinya enyah seketika setelah mengingat ucapan sang istri yang telah menyatakan kasih sayangnya terhadapnya saat lalu.


***


Sementara keadaan Jackson, rupanya ia tengah berhasil mengejar langkah Fiona yang berakhir di dalam ruang kebangsaan Hanson.


Kini ia telah berdiri di hadapan meja kerja calon tunangannya dengan tangannya yang menggenggam erat sebelah tangan Fiona.


"Fi, kenapa lo ga jelasin yang sebenernya sama si Hans?" seru Jackson bernada kesal.


Ia geram terhadap Fiona yang selalu menyembunyikan kisah sesungguhnya terhadap adiknya.


"Udahlah percuma di jelasin juga ga akan ngerubah keadaan,” sahut Fiona membuat Jackson melepas genggaman tangannya.


Jackson mengangguk faham, benar apa yang di katakan Fiona jika adik pertamanya tidak akan mudah percaya hanya dengan kejujuran yang akan di ungkapkannya.


Tidak lagi mendengar suara Jackson, Fiona melangkahkan kakinya hingga mendaratkan tubuhnya pada kursi kerjanya.


"Lo nyaman apa kena bully terus?" Jackson berdiri menghadap wanita itu dengan tubuh bersandar pada meja di hadapan sang wanita.


Fiona mendelik tidak terima, ucapan Jackson membuatnya menggelengkan kepalanya. “Siapa yang mau di bully?”


Jackson hanya tertawa kecil penuh pesona membalasnya, lantas menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


"Biarin lah, biar dia puas, sekalian buat nebus dosa gue juga." Fiona merancu, ucapannya bertolak dengan hatinya.


Lantas ia berpura meraih berkas yang berserakan di atas meja kerjanya untuk menepis kepedihannya.


"Gue baru sadar kalo selama ini rencana lo itu sinting, gue juga kalo jadi si Hans pasti jijik sama diri gue sendiri,” imbuh Fiona.


"Fiona.." Jackson merunduk, merekatkan jarak wajahnya pada wajah Fiona.


"Semua udah terlanjur Jack, gue udah mutusin dia, saham juga udah mau lo tarik." Fiona mendongkak, menatap mata yang memancarkan aura kelam itu.


Jackson tertunduk kaku hingga wajahnya tidak terlihat Fiona untuk menyembunyikan pejaman kedua matanya. "Oke gue jujur soal saham, gue sengaja tarik saham lo dari dia biar gue bisa masukin saham buat dia atas nama cewe dia yang baru." Kini kedua matanya terbuka, kedua tangannyapun melunglai tak lagi melipat di dadanya. "Dan buat saham lo apa salahnya masuk buat gue calon su_ tunangan lo?"


"Kalo gitu ceritanya sih gue setuju, cuma gue tadinya pengen ninggalin tanda terimakasih aja sama dia." Akhirnya Fiona tersenyum penuh riang.


"Sinting lo." Jackson gemas hingga menepuk manja kening wanita itu. "Gue tanya sekali lagi sama lo, lo yakin mau tunangan sama gue, gue ga cinta sama lo, ga takut apa kejadian sama si Hans keulang sama gue?"


Fiona melenguh dalam helaan napas panjangnya, lantas menghapus jejak pada keningnya membuat rasa gemas terbersit dari dalam asma Jackson.


"Selama gue ga ngikutin rencana sinting lo pasti gue berhasil narik lo,” sahut Fiona.


"Emang gue becak apa, pake di tarik segala." Jackson menghibur dalam tawa kecilnya di akhir kalimatnya.


"Ya udah lo balik sana, urusin saham gue kalo gitu."


"Berani lo ya ngusir gue?"


"Berani lah."


"Lo mending cari waktu jelasin sama si Hans soal kelakuan lo dulu, gue ga mau calon tunangan gue di cap jelek sama sodara gue!” ujar Jackson menjabarkan alasannya yang terpendam selama ini.


Sesungguhnya batin Jackson tidak terima jika ia harus mengungkapnya yang akan menjatuhkan harga dirinya bahkan akan memberikan harapan terhadap wanita yang tidak di cintainya sama sekali itu.


Hingga pada akhirnya Jackson mengakhiri perbincangannya dengan mulai beranjak dari hadapan wanita yang mengangguk di sana.


Sampai di sini, perbincangan mereka rupanya menjadi lirihan seseorang yang menguping di balik pintu masuk itu.


Setelah puas mendengarnya, Hanson mengayunkan langkahnya dalam penyesalannya sebelum kakak keduanya melihat kehadirannya di sana. S


Sedang Triana hanya mampu membiarkan lirihan itu menjadi pemicu kesadaran diri dari sang empunya.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2