Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 112


__ADS_3

Senja membayang menghiasi langit di atas pusat perbelanjaan bergengsi sore itu. Tara sudah berada di dalam restaurant China yang terdapat di dalam bangunan pusat perbelanjaan tersebut.


Jackson mendampinginya, duduk santai di samping kekasihnya yang telah asik melakukan kegiatan menyantap makanannya.


Kini Jackson menggelengkan kepalanya, melihat wanita di sampingnya yang sudah rakus melahap santapannya. "Kamu doyan apa lapar?" Cibirnya penuh ledekan membuat wanita di sampingnya menatapnya penuh ledekan.


"Kesurupan." Balas Tara menyahut ledek. Sesungguhnya, kebiasaan anehnya telah terlihat oleh kekasihnya di mana ia menggundah, maka ia akan melampiaskannya pada selera makannya yang meluap.


Jackson terkekeh gemas menyikapi balasan ucapan kekasihnya, lantas ia mencubit manja pipi setengah cubby itu. "Mau nambah apa lagi?" Tawarnya berbalas gelengan kepala dari sang kekasih.


"Kamu udah kenyang Jack?" Sahut Tara malu-malu kala menatap wajah tampan yang mengheran di sampingnya itu. Ia baru menyadari jika dirinya telah menghabiskan tiga menu santapannya.


"Aku makan ga rakus kaya kamu." Balas Jackson dalam gurauan namun membuat wanita di sampingnya berdecak ringan.


"Pantesan kamu kurus, orang kurang gizi." Seru Tara tidak mau kalah dengan tatapan ledekan yang masih berlangsung di sampinya itu.


"Cukup liat kamu aja aku udah kenyang sayang." Ungkap Jackson menghibur wajah jelita yang telah menatapnya penuh emosi lantaran menanggapi ucapannya itu.


"Enak aja, kamu mau makan aku apa?" Umat Tara malu-malu. Selalu saja pria di sampingnya membuat batinnya kalang kabut menerima rayuan gombal itu hingga membuat wajahnya merona seketika.


Jackson hanya terkekeh menyikapinya setelah memusatkan ujung matanya pada pandangan 15 meternya.


Di sana, di sudut ruangan ia melihat sang ayah tengah berbincang dengan seorang pria remaja yang nampak serupa wajahnya dengannya. Ia yakin sang ayah telah berulah, ia tidak mengira jika anak itu adalah anaknya, ia melupakan kejadian 12 tahun silam.


Yang tersirat dalam pikirannya jika sang ayah kembali mengkhianati istrinya. Hal itu terbukti dari Celia yang memiliki anak berwajah serupa dengan adik ke duanya.


Lantas, ia hanya mengabaikan itu, tanpa mau menerjang kegiatan ayahnya yang telah tertawa dengan pria remaja itu. Ia hanya mau meresapi kencannya yang jarang sekali mendapatkan waktu untuk itu.


"Jack." Seru Tara menyahut, memecah lamunan sang kekasih yang kini telah menatapnya dalam senyum menawannya.


"Udah beres makannya?" Tanya Jackson penuh kelembutan, namun sesungguhnya ia ingin sekali mengakhiri kegiatan makannya sebelum sang kekasih melihat kelakuan ayahnya.


"Udah." Jawab Tara penuh kejujuran kala ia menghapus sisa makan di bibirnya. "Mau jalan sekarang?" Tanyanya berbalas hanya dengan anggukan pekat dari pria di sampingnya.


Namun rupanya, Jackson melega di sana. Iapun mengharap jika dirinya segera membawa sang kekasih menjauh dari tempat di mana sang ayah masih bersenda gurau dengan pria remaja yang begitu serupa dengannya.


Tanpa kata kembali terucap, merekapun segera meninggalkan waktu setempat.


Percayalah, entah karna masih merancu atau terlalu meresapi kegundahannya, Tara tidak melihat keadaan anaknya di sana. Jika saja ia menyadarinya, maka dengan mudah ia akan mengumpat pada anaknya.



Ketika mereka memasuki sebuah toko penjual pakaian branded, Tara menemukan sosok sang ibu mertua di sana yang tengah berdiri di depan kasir.


"Mih." Sapa Tara di sela langkah kakinya yang berjalan hingga menghadap mertuanya.


"Kalian_" Celia melirik sejenak menuju arah anak tirinya. Batinnya menjanggal, apakah menantunya belum dapat meraih hati suaminya hingga kini sang wanita berduaan dengan pria lain. "Pasti lagi nyari gaun buat nanti malem ya?" Ujarnya berkilah, menyembunyikan kejanggalannya.


"Iya, untung banget mami di sini." Sahut Tara melega membuat sang mertua memaparkan senyuman manis sebagai balasannya.


"Untung apaan sih? Dia pasti ngerusak kencan kita." Ujar Jackson menginterupsi, bersahut gurau dalam kekehannya. Sesungguhnya, memang benar adanya. Ia merasa kehadiran sang ibu tiri akan merusak hari indahnya bersama kekasihnya yang entah kapan ia akan mendapatkan kembali hari itu.

__ADS_1


Hari di mana hanya mereka berdua, berjalan bersama tanpa ada risalah di baliknya. Ia melupakan jika hingga saat ini, risalah itu tak kunjung enyah dari dirinya, begitupun dari diri Tara sendiri.


"Tuh kan mih, aku udah mabok dari pagi tau ga?" Seru Tara dengan nada manjanya hingga ia menyandang tangan mertuanya dalam rangkulannya.


"Mabok kenapa?" Sahut Celia membalas ungkapan itu.


"Mabok sama rayuan gombal dia." Balas Tara penuh cibiran hingga ia menunjuk arah di mana sang kekasih berada dengan dagunya membuat sang kekasih menatapnya penuh gemas akan nada manja yang terlontar darinya.


Jackson terkekeh, lain dengan Celia, ia mendapat makna dari ucapan menantunya. Ia menebak jika anak tirinya telah memaksa istri dari anak tiri ke 4 nya untuk berkencan seharian yang sesungguhnya sang menantu sudah ingin mengakhiri kegiatannya itu.


"Jack urusan Tara serahin sama aku, kamu bisa nunggu di tempat baseball kan?" Ujar Celia menawarkan diri membantu sang anak tiri. Namun pada kenyataannya, ia lebih membantu sang menantu agar terlepas dari pertemuan dengan kekasih menantunya itu.


"Bener deh ancur kencannya." Sahut Jackson melenguh. Namun, Meski demikian, ucapannya bernada halus sebagai tanda persetujuan untuk ibu tirinya hingga ia melambaikan tangannya sebagai salam perpisahannya. "Kabarin kalo udah beres."


Tara mengangguk antusias, lantas mereka melanjutkan tujuannya. Atas bantuan Celia, Tara mendapatkan sebuah busana -yang tidak murah harganya- secara gratisan lantaran sang mertua yang memaksanya untuk memberinya.


Berjam kemudian, Jackson sudah mendapat panggilan dari sang kekasih yang telah usai melakukan persiapannya.


Kini ia telah berdiri di hadapan sang kekasih yang telah memberikan senyuman manisnya kepadanya, membuat matanya enggan menepis pandangannya yang memandangi wajah jelita berpoles ringan dengan rambut tertata rapih di hadapannya.


Balutan gaun putih panjang yang hanya bersirat di dadanya menampakkan sedikit belahan dadanya kini menjadi sorotan matanya. Meski gaun itu berlengan panjang, namun kain transparan di bagian lengan itu masih menampakkan kulit putihnya.


Sungguh indah ciptaannya yang tak mampu di tolak matanya, ia bergumam ingin sekali mendapatkan seluruh hati sang wanita itu atas rasa kagum yang selalu ingin terucap oleh mulutnya.


"Jack, aku tau aku cantik." Seru Tara malu-malu kala ia berniat jika ucapannya hanya sebagai lelucon semata membuat sang kekasih tertawa kecil menyikapi wajah kikuknya.


"Ga cuma cantik, tapi sempurna." Puji Jackson sepenuh hati, membuatnya kembali mendapatkan senyuman manis dari wanita kekasihnya.


"Tega ya kamu ga nyuruh anak tiri kamu ganti baju dulu." Tepis Jackson berprotes ledek membuat sang ibu mencubit manja kedua pipinya.


"Itu urusan kamu." Balas Celia tidak mau kalah, namun ia melepas cubitannya tanpa perintah.


Jacksonpun menghapus jejak itu dengan gaya gentlenya. "Ke rumah aku dulu ya, aku mau mandi dulu." Ajaknya beemaksud kepada sang kekasih hingga ia melirik wajah jelita yang telah mengangguk di hadapannya.


"Oke." Putus Tara menyerujuinya, di pertegas dengan merangkul sebelah tangan kekasihnya.


Dan merekapun bergegas menuju tempat masing-masing sesuai yang mereka katakan.



Malam yang berbintang itu menyambut kehadiran Tara di tengah pesta meriah. Untuk pertama kalinya pesta meriah terlaksana atas nama dirinya sebagai sang pemilik pesta.


Tara menyiratkan senyuman sebagai tanda perkenalan kepada seluruh tamu undangannya, masih di temani kekasih tercinta di sampingnya ia kini telah berhasil memperkenalkan diri kepada seluruh tamu undangan.


Namun ada yang menjanggal baginya, sebiasanya Jackson dengan semangat mengumbar hubungannya, kali ini hubungan itu terpendam tanpa terucap sedikitpun pada rekan-rekannya.


Hanya sebatas menjanggal saja, Tara enggan memikirkan lebih. Pasalnya iapun menginginkan hal itu, jika hubungan dengan kekasihnya tidak terumbar pada kaum asing yang kini menghadiri pestanya.


Terakhir kali, ia menyodorkan tangannya pada seorang wanita sebagai pemeran utama dalam filmnya, tatapannya menuju arah samping wanita itu.


"Selamat ya kak Tara." Ucap Maudy penuh pujian seraya memberikan salam pipinya pada sang pemilik pesta.

__ADS_1


"Makasih sayang." Sambut Tara membalas salam itu dengan penuh ketulusan. Namun hanya sesaat, kegiatan itu di akhirinya kala tatapannya menuju arah samping Maudy di mana sang suami berdiri di sana. "Hai Sammuel." Uluran tangan itu di lepaskannya, beralih pada sang suami seolah mengucap salam perkenalannya yang di sambut sang empunya dengan balasan jabatannya.


"Ga panas lo pake baju begitu?" Sahut Sammuel meledek dalam tatapan cibir dari atas kepala sang istri hingga ujung kakinya.


Gaun panjang fress body yang berlengan panjangnya namun memiliki sayatan di bagian dadanya membuat api cemburu Sammuel tersulut di sana.


"Selera aku jelek ya?" Balas Tara meledek, namun tersembunyi emosi di balik senyumannya.


"Sayang." Sahut Jackson melerai situasi perkenalan yang membuahkan emosi itu. Baru kini ucapan mesra itu terlontar dari mulutnya setelah berada 30 menit di dalam ruang itu membuat sang kekasih tersenyum simpul kala tangannya menyodorkan segelas sampanye pada sang kekasih. "Kamu ga haus apa?"


Tanpa bantahan, Tara meraihnya lalu mengangkat gelasnya mengarahkan pada sang kekasih bermaksud mengajak bersulang pada sang kekasih yang turut mengangkat gelasnya. "Buat kencan indah kita sore tadi." Ujarnya membuat Sammuel berdecak sebal bahkan memutar bola matanya lantas merangkul pinggang ramping wanita pemeran utama film iru.


"Lo udah siapin hotelnya?" Ujar Sammuel tidak mau kalah dengan adegan romantis di hadapannya hingga ia mengarahkan pandangannya pada Maudy bermaksud ucapannya tertuju pada wanita itu.


"Udah dong sayang." Sambut Maudy dalam senyuman kemenangannya seraya menatap kagum wajah Sammuel. "Lo udah kebelet?" Imbuhnya tak acuh mengabaikan wajang sepasang insan di sekitarnya yang telah memendam emosinya.


Batin Tara meringis, lagi dan lagi ia tidak mampu mengalahkan rasa cemburunya hingga rasa sesal itu memicu emosinya. Ia menyesali telah memancing cemburu sang suami dengan kegiatannya bersama sang kekasih hati. Kini, ia hanya mampu menundukkan wajahnya untuk memendam rasa sesalnya hingga sang kekasih mencibir dalam tawa kecilnya tidak di sadarinya sedikitpun.


Sedang Sammuel tersenyum menyambut kemenangannya atas sikap kaku sang istri di depannya. Enggan memperumit keadaan, ia lantas membawa Maudy melangkahkan kakinya masih dalam dekapan pada pinggangnya.


Seperginya Sammuel, Hanson serta Fiona menghampiri mereka.


"Jack, Tara." Seru Fiona menyapa dengan mengulurkan tangannya pada sahabat kecilnya yang mendapat sambutan antusias dari jabatan serta salam pipinya.


"Lo sexy banget pake baju gini." Ujar Tara bersahut ledek menatap tubuh sang sahabat yang terbalut busana terbukanya.


"Jelas sexy lah bajunya aja kurang bahan gini." Sahut Hanson menginterupsi dengan nada jengahnya membuat Tara mencubit pinggangnya. "Lebih cantik ipar aku ini." Imbuhnya membuat cubitan itu kian mengeras.


Jackson terkekeh seraya menggelengkan kepalanya menyikapi kelakuan kedua insan di hadapannya. "Lo jangan coba-coba rebutan dia sama gue bangke." Ancamnya dalam gurauan, namun bertegas hati dengan telunjuk jenjangnya yang mengacung ke hadapan adik pertamanya.


"Tapi beneran kok lo cantik." Puji Fiona penuh rasa kagum yang baru pertama kalinya melihat sang sahabat mengenakan polesan tipis pada wajahnya.


"Jelas, siapa dulu mertuanya." Akhirnya Celia menginterupsi yang baru saja datang menghampiri mereka membuat kedua pasang insan itu menatapnya dengan senyuman. "Sammuel ke mana?" Imbuhnya bertanya kala pasang matanya tidak melihat keberadaan sang anak tiri ke empatnya di sekitarnya.


"Ada urusan lain." Seru Hanson mewakili memberikan jawabannya. "Si bungsu ga ikut?"


"Tuh, lagi di ajarin bisnis." Celia menunjuk dengan dagunya arah anaknya yang tengah berbincang dengan para rekan bisnisnya di sambut anggukan serta tatapan pada anak semata wayangnya dari kedua pasang insan di sekitarnya.


Perbincangan seputar bisnispun berlangsung dalam keadaan seorang wanita yang menggundah lantaran memperhatikan gerak-gerik suaminya yang tengah bermesraan dengan wanita lain di hadapannya.


Seolah sengaja, Sammuel selalu menyosor tubuh Maudy dengan tangan nakalnya, namun hanya sebatas rangkulan yang di lakukannya.


Dari sinilah Tara menyikapi bahwa suaminya tengah memberikan balasan terhadap dirinya atas kecemburuannya.


Hingga acara pesta berakhir, Tara hanya dapat memusatkan pandangannya menuju arah suaminya tanpa ada yang mencegahnya.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2