
Waktu bergulir, merangkak 3 hari dari sebelumnya mengisi hari-hari Tara yang kian memendam rasa rindunya. Beruntung sang mertua selalu mengisi hari-harinya hingga membuatnya dapat menepis sedikit rasa gundahnya.
Pagi yang cerah di temani hari yang indah di mana mentari mengedarkan sinarnya memberi kehangatan bagi Tara yang sudah melakukan kegiatannya seperti sedia kala.
Kala itu, Hanson yang terlihat sering mengunjungi perusahaan di mana Tara bekerja saat ini, kehadirannya menjadi sebuah santapan Tara yang akan selalu mendapat sambutan dari perlakuan hangat pria itu terhadap dirinya.
Namun sikap Hanson inilah yang membuat Tara mendapat kegundahan batinnya lantaran tatapan Fiona yang selalu menusuk indra penglihatannya.
Kala itu, Hanson yang baru saja memasuki bangunan luas itu, ia menepikan langkahnya di hadapan Tara meski terhalang meja panjang menjulang. Ia meletakan sebuah plastik bening berisikan kudapan pagi di dalamnya ke atas meja itu.
"Menu sarapan kamu hari ini." Hanson tersenyum seraya menaruh plastick itu di atas meja panjang menjulang itu.
Tara mengabaikannya, ia mendaratkan pandangannya pada Fiona yang berdiri di belakang Hanson membuat Hanson mengikuti arah pandangnya.
Tara melihat Fiona kembali memutar bola matanya seraya berdecak ringan. Meski Tara tidak mendengar suara decakan itu, tapi ia mampu melihat pergerakan bibirnya.
"Pak Hanson, saya sudah sarapan." Tolak Tara sarat seraya menggeser bungkusan itu mengarahkan kepada Hanson berniat mengembalikannya secara sopan.
Hanson tau betul setelah melihat arah pandang Tara pada Fiona, ia menyibak makna bahwa Tara merasa tidak enak hati terhadap wanita yang selalu membuatnya emosi itu. "Mitha kamu mau kan?"
Mitha yang hanya berdiri di samping Tara setelah menyambut kedatangan Hanson, ia terhentak dalam kejutan ketika namanya terpanggil. “Sa-saya_ saya juga sudah sarapan pak." Tolaknya takut-takut kala menatap pasang mata pria itu membelalak nyalang.
__ADS_1
Hanson kembali berdecak seraya meraih kasar bungkusan itu. Lantas tanpa berpamit ia melangkahkan kakinya di buntuti Fiona di belakangnya.
Sesampainya dalam ruang kebangsaannya, Hanson menyerahkan bungkusan itu kepada tunangannya. "Buang itu!" Titahnya dalam nada ketusnya.
"Sayang kan kalo di buang? Mending aku makan aja." Ujar Fiona seolah mengabaikan perintah itu seraya meraih bungkusan itu. Ia mengetahuinya jika pria yang selalu di kaguminya telah meluapkan emosinya atas kesalahannya saat lalu.
"BUANG!!!" Teriak Hanson penuh amarah, ia menatap tajam wajah yang terkejut itu dalam aura dingin yang terpancar dari katanya.
Fiona terhentak mendapati aura mencekam dari Hanson yang mampu membuat tubuhnya bergetar hebat. "Kamu kesel karna di tolak kan?" Dalihnya menutupi rasa takutnya.
Hanson geram hingga menjepit keras dagu Fiona hingga menariknya agar merekat dengan wajahnya. "Lo tau kan kenapa gue ngasih perhatian lebih sama dia?" Rahangnya mulai mengeras, melampiaskan pada jepitan jarinya yang kian merekat.
"Tau hah? Yang lo tau kalo gue suka sama dia, tapi lo ga tau kalo si Sam juga punya perasaan yang sama." Hanson kian mengencangkan jepitan jarinya pada dagu Fiona, membuat Fiona meringis menahan sakitnya.
"Hans." Fiona menggenggam tangan jenjang itu yang jarinya masih setia menjepit dagunya untuk menepisnya dari sana.
"Sekali lagi lo bertindak sama dia, kita batalin tunangan kita!" Putus Hanson pekat membuat wanita di hadapannya tidak dapat menerima ucapannya. Tak acuh Hanson mengabaikan tatapan kepedihan wanita itu dengan menghempas keras tangannya dari dagu itu.
Fiona mencoba meredam emosi yang meluap itu dengan ancamannya. "Hanson saham_"
"Masih banyak pemegang saham!!" Hanson sudah kehilangan kendali hingga membentak Fiona dalam langkah majunya membuat Fiona melangkah mundur.
__ADS_1
"Hans a-aku, aku cuma cemburu." Akhirnya Fiona terhentak pada meja kerjanya. Bulir bening mulai menetes dari sudut matanya.
"Ga usah nyari perhatian lah, lo sendiri yang mau bukan? Jangan bikin seolah gue jadi penjahatnya." Protes Hanson menyenggal ucapan wanita itu. Ia melangkahkan kakinya hingga menjauh dari hadapan wanita yang sudah terisak dalam tangisnya.
Fiona tertegun, entah apa lagi yang harus ia lakukan untuk menggapai cinta lelaki keras kepala itu.
Deraian air mata mengiringi kepiluannya, ia masih tidak percaya jika sesulit itu untuk meraih cintanya. Bahwasannya ia telah melakukan segala cara hingga membenci sahabat semasa remajanya lantaran rasa cemburunya.
Ia mengusap dadanya, menarik napasnya yang sudah tersendat dalam kerongkongannya. Seandainya ia menyadarinya, segala cara yang di lakukannya sudah salah sepenuhnya, ia tidak akan berlaku demikian yang akan kian merugikan dirinya.
Bukan begitu caranya untuk meraih cinta seseorang, bukan dengan keegoisannya ataupun rayuan busuknya.
"Apa aku salah jika terlalu mencintainya?" Dan ia menghapus air matanya dalam senyuman mirisnya.
•
•
•
Tbc
__ADS_1