Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 167


__ADS_3

Isak tangis selalu terdengar memilukan, akan tetapi tidak dengan kali ini. Hanson berusaha menahan tawa saat merasa jika tangisan itu hanya kepura-puraan saja. Hanson mengerti, Triana berusaha mencari perhatian darinya.


Tubuh Triana meringkuk gelisah di atas tempat tidur yang terletak di dalam kamar Hanson itu, membuat Hanson kian kesulitan untuk tidak menertawainya, merasa jika tubuh itu sudah seperti kepompong yang tebalut selimut tebalnya.


"Tri ... kamu mau jalan-jalan ga?" tawar Hanson penuh waspada setelah merasa Triana selalu ingin menghindari pandangannya dari mulai pagi tadi. Ia mengusap puncak kepala dari tubuh yang meringkuk membelakanginya itu.


"Ga demen!" jawab Triana singkat di sertai nada ketusnya.


Hanson melenguh frustasi, ia sudah kehabisan cara untuk membujuk Triana agar bersikap kembali seperti semula.


"Terus kamu pengennya apa biar ga gini terus?" ucap Hanson di sertai nada melenting nyaring seolah mengungkap rasa jengahnya dengan sengaja.


"Udah bilang pengen ketemu si Jack!" pinta Triana memekik tak kalah nyaring, sehingga terdengar seperti tidak ingin mendapat penolakan.


Hanson mengembuskan napas kasarnya mendengar keinginan yang menyulut api cemburunya. "Yakin kalo lo udah ketemu dia ga gini lagi?" tanyanya seolah memastikan. Nyatanya, ia merajuk setengah hati.


"Ya mana aku tau?" ucap Triana masih dengan nada ketus. Tubuhnya memutar hingga menghadap di mana Hanson berada.


"Aihhhh, segini susahnya bujuk cewe?" Hanson merutuk kian frustasi hingga mengusap kasar wajahnya dengan telapak tangannya. "Ya udah nanti malam kita ke rumah si Jack oke?" putusnya berat hati, lantaran rasa cemburu itu telah memprovokasi sang hati.


"Sekarang ga bisa?"


"Dia masih kerja."


"Ya udah lah terserah kamu!" Triana kesal setengah mati hingga membuat tubuhnya kembali membelakangi Hanson.


"Triana-" Hanson melenguh sebal, akan tetapi ia masih berusaha merayu Triana dengan mendekap erat tubuhnya. "Please, ngomong kalau kamu kesel sama aku, apa itu alesannya?"


"Kamu pikir sendiri lah!" Nada dingin yang kian ketus itu membuat Hanson melirih di sana.


Hanson mendengus, kembali ia mengembuskan napas kasar mewakili rasa frustasinya. "Nanti malem ya ketemu si Jack nya." Lembutnya perlakuan Hanson, sesungguhnya Triana tersenyum di sana. Namun Hanson tidak dapat melihatnya lantaran Triana masih memunggunginya.


Sesungguhnya, perlakuan Triana hanya untuk mengerjainya saja. Seperti apa yang telah ia janjikan kepada Tara, ia ingin membalaskan perlakuan sadis sang tunangan terhadap Fiona saat dahulu kala.


"Dari pada kamu minta ketemu sama mantan kamu itu,” ujar Hanson mengingatkan ucapan Triana saat lalu. Bahwa, Triana mengancam akan menemui Sammuel jika Hanson tidak membawanya menemui Jackson.


“Oke aku setuju!” Triana memberi keputusan tegas. Sebelum pria itu berubah pikiran, ia menyingkap selimut itu dari tubuhnya, membuat tangan yang masih memeluk tadi tersingkir begitu saja.


Ia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Membiarkan Hanson bersama kebingungan atas sikap dinging yang ia berikan.


Setelah beberapa saat, Triana kembali menampakkan diri di hadapan Hanson. Kepala yang terbungkus handuk putih itu, di sambut Hanson dengan tatapan manis. Tubuh semampai yang terbalut pakaian tidurnya saat lalu, mengubah tatapan itu menjadi muram. Picingan mata Hanson di balas decakan sebal oleh Triana.

__ADS_1


“Mau pake baju gitu?” Tatapan Hanson kian memicing mewakili perasaan heran.


Triana membisu seribu bahasa, ia menyahut pertanyaan itu dengan bergegas menghampiri lemari untuk mencari busana yang akan di kenakannya nanti.


Setelah mendapat apa yang di inginkannya, Triana membawanya ke hadapan Hanson. Ia melemparkan beberapa busana itu ke atas tempat tidur di mana Hanson duduk di tepinya.


Picingan mata Hanson kian melekat, bahkan dahinya mengernyit meinsyaratkan kejanggalan dari tindakan itu. Akan tetapi, wajah sebal tersirat untuk membalasnya.


“Pilihin, kira-kira si Jack suka yang mana,” seru Triana.


Hanson mendelik menyikapi ucapan yang membuat rasa cemburu kian bergejolak di dalam asmanya. Akan tetapi, demi melerai nada ketus itu, ia menyahut dengan meraih asal salah satu busana di sana.


“Yang ini kali.” Hanson mengangkat tangannya yang menggenggam pakaian berwarna hitam itu.


“Kamu kali yang pengen aku pake baju itu.” Triana mengumpat sebal tanpa ingin menerima pilihan Hanson.


Gaun berwarna hitam itu, memiliki bentuk yang begitu tertutup. Ia menerka jika Hanson ingin menyembunyikan warna kulit tubuhnya dari pria lain.


“Ya udah kalau gitu jangan nanya aku.” Nada bicara memekik dari Hanson, mewakilkan rasa frustasi yang sudah tidak mampu ia sembunyikan.


Bibir Triana mengerucut, membungkam tawa atas keberhasilan membuat pria itu melenguh pasrah. Lantas, ia meraih seluruh busana yang terletak di atas tempat tidur itu, menatanya kembali di dalam lemari. Setelahnya ia meraih busana lain dari sana, kemudian bergegas menuju kamar mandi yang tersedia untuk mengganti pakaiannya.


Lima belas menit berlalu, Hanson di kejutkan dengan penampilan wanita yang telah berdiri di hadapannya. Jakunnya bergerak naik turun ketika pasang mata menyorot telik tubuh yang terbalut busana minim bahan itu.


Hanson mengusap rapuh wajah tampannya, menyadarkan diri dari bayangan liarnya pada Tara. Rupanya hingga kini ia masih mengagumi wanita itu, bahkan masih mengharap akan balasan cinta darinya.


“Kurang pendek ga sih?” ujar Triana mencabik lamunan Hanson. Ia mengangkat gaun itu hingga batas pahanya.


“Kamu mau jual diri sama dia, atau apa sih?” Hanson mengumpat kesal, tanpa mempertimbangkan ucapan pedasnya terlebih dahulu.


Tersadar akan ucapan sarkas pemicu tatapan kejam itu, Hanson bangkit dari duduknya seolah ingin melampiaskan amarah pada tindakannya. Ia pun membalas tatapan itu, tidak kalah kejinya. Triana gusar melihat gelagat rusuh itu, sehingga ia bertolak pinggang untuk menepisnya.


“Hans, kamu jangan keterlaluan, aku udah nurutin semua mau kamu, ngakuin kamu sebagai tunangan aku, malah minta hati aku, aku harap kamu jangan ngambil tubuh aku."


Tidak ingin ucapannya di timpali, Triana undur diri dari hadapan pria itu menuju di mana meja rias tersedia.


Emosi kian membara dari dalam asma Hanson, ia mengusap wajahnya seolah melampiaskan amarah di sana. Namun, tiada terkira, terbersit ingatan tentang ucapan yang sempat ia tuturkan kepada Fiona dahulu kala.


Hanson terpaku, meresapi ucapan itu. Setelah mendapat makna yang terukir di dalam sanubarinya, senyum simpul tersirat di balik wajahnya.


Karma telah menanti, kini datang dengan sendirinya tanpa menunggu waktu lama. Terlalu cepat ia mendapat buah dari dosanya, sehingga rasa sesal menyadarkan diri. Seketika emosinya mereda, ungkapan syukur terucap di dalam benaknya. Hingga pada akhirnya, kakinya melangkah hingga menepi di belakang Triana.

__ADS_1


“Si Jack ga suka sama cewe yang dandannya tebal,” seru Hanson di sertai tawa cibiran di akhir kalimatnya. Kedua tangannya melipat di dada, mempertegas olokannya.


Triana murka, ia mendongkak menyerukan amarah pada sorotan mata tajam menuju wajah tampan yang membayang di balik cermin di hadapannya.


“Ga tebal kok, yang penting kelihatan dia cantik." Triana menimpali, tanpa menjeda kegiatannya yang tengah memakaikan bedak pada wajahnya.


"Kamu udah cantik ga dandan juga." Hanson meledek, namun terasa Triana seperti rayuan. Sehingga membuatnya mendelik di sana untuk menyembunyikan kebahagiaannya.


"Itu menurut kamu, bukan menurut si Jack."


Hanson tersenyum simpul menyikapinya setelah mengetahui maksud dari sikap Triana. Bahwa, karma telah menjumpainya. "Kamu kapan siap nikah sama aku?"


"Asal nama aku di hapus dari saham kamu," sahutnya tanpa dosa membuat telinganya mendengar lenguhan keras.


"Lho, apa hubungannya sama saham?"


"Aku udah ga mau kerja di sana."


"Triana, kamu kalau ga kerja mana bisa ketemu aku tiap hari?" sahut Hanson memaksakan sang hati. Rasa sayang yang telah melekat membuatnya enggan berpisah barang sedetik pun dengan kekasihnya.


"Justru itu pengennya aku!" sahut Triana bertegas hati, berbalas dengusan penuh tekanan.


"Oke kamu ga usah kerja lagi aku setuju, tapi soal saham aku ga setuju. Gimana bisa kamu balas dendam sama papa kamu kalau ga punya saham? Kecuali kamu mau nikah cepat-cepat sama aku.” Hanson menjabarkan rayuannya, akan tetapi terasa Triana seperti ancaman di saat telinganya mendengar nada tegas tersirat di sela kalimat itu.


Triana memutar tubuhnya menghadap Hanson masih dalam keadaan duduk. Ia mendongkak menatap kejam menuju wajah Hanson. "Oke aku setuju nikah cepat sama kamu, asal kamu janji jangan sentuh aku dulu sebelum aku siap."


"Busyettt berat banget syaratnya, kalau gitu aku ga mau tarik saham atas nama kamu, soal kerja terserah!" sahut Hanson tidak mau kalah.


"Gitu caranya tetep aja aku harus ngantor ketemu kamu."


"Ya beda lah. Kalau kamu cuma pemegang saham, kamu ga usah tiap hari datang ke kantor. Kalau emang kamu mau punya ruangan bisa di pisah sama ruang aku."


"Setuju!" jawabnya secepat cahaya.


Hanson hanya menggeleng, merasakan sebuah frustasi yang sebelumnya tidak pernah didapati dari seorang wanita. Perlakuan manja Fiona dulu telah melupakan dirinya untuk meraih cinta dengan susah payah.


Pada akhirnya, seusai Triana bersiap diri, mereka bergegas menggapai tujuan yang di inginkan Triana.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2