
Senja meremang, cahaya mentari mulai memudar. Tara sudah menyelesaikan pelajaran di tempatnya mencari ilmu selama dua jam setelah bekerja di tempat suaminya.
Baru saja ia membuka kunci kendaraan roda empatnya, kehadiran seseorang tengah mengejutkannya.
Pria itu menghampiri Tara yang masih berdiri di depan Merci C class merah miliknya.
"Bener ternyata itu kamu." Tutur Jackson untuk sapaannya.
"Jack. Kamu ngapain di sini?" Tara tersenyum kikuk di akhir kalimatnya, sungguh suatu musibah jika ia harus bertemu dengan pria itu di tempat yang sangat tidak di inginkannya.
"Abis ketemu seseorang, ga taunya liat kamu jalan." Jelas Jackson, ia mengayunkan kakinya selangkah ke depannya agar merekat jaraknya dengan wanita yang sudah belingsatan di aana. "Kamu kuliah di sini?"
"Hmm." Tara tersipu, kembali memaparkan rasa kagumnya pada pria yang berada di hadapannya. Sesungguhnya ia mengagumi paras itu lantaran serupa dengan seseorang belahan jiwanya. "Jack maaf, aku harus pergi."
"Aku tau pasti cowo kamu nunggu kan?" Sindir Jackson yang membuat Tara terperangah mendapat kejutannya kembali.
Apa maksud dari ucapan pertanyaan yang di rasanya menyindir itu. Tara membatin dalam runtukannya. Takut-tahut jika pria itu mengetahui hubungannya dengan suaminya. Kali ini, ia berusaha keras untuk selalu menepati perjanjiannya yang di rasanya memang iapun enggan membuat kecewa suaminya yang telah menembus dinding hatinya.
"Et. Se-sejak kapan aku punya cowo?" Gagu Tara berpura.
"Buktinya kamu masih nolak aku terus." Jackson mulai memancingnya dengan leluconnya.
"Jack kamu jangan keterlaluan deh, aku cuma pengen jadi temen deket kamu aja." Rupanya Tara melupakan tugasnya dari suaminya lantaran kebiasaannya yang selalu menolak pria yang kini memicingkan matanya untuk menatapnya.
Jackson menatap harap yang melekat menuju wajah Tara. "TTM?"
__ADS_1
Tara terperangah, membelalakan bola matanya, akhirnya ia teringat tugas dari suaminya. "Terserah kamu ah." Ia menunduk menyembunyikan rasa malunya.
Jackson mengucek puncak kepala Tara melepas rasa gemasnya terhadap wanita itu. "Oke, sabtu nanti Queena nunggu kamu di tempat biasa."
"Oke." Tara memaparkan senyuman manisnya yang selalu mampu menggoda hati pria yang berdiri di hadapannya.
"Kamu suka sama anak aku?" Jackson memusatkan pandangan dari ujung matanya yang di rasanya ada pasang mata nun jauh di sana yang tengah memperhatikan kegiatannya.
"Aku emang suka sama anak-anak, ga cuma sama anak kamu aja." Kembali ia tersenyum, namun kali ini Jackson tidak melihatnya lantaran pandangannya masih berpusat pada pergerakan di balik dinding ruang itu.
"Art." Kini ia menengokkan pandangannya ke bawahnya di mana nomor dari kendaraan merci merah itu bertengger di sana.
"Kenapa?"
Dari mana Tara mendapatkan kendaraan mewah itu, mengapa Tara mengemban pendidikan di tempat ini, darimana Tara mendapat uang untuk semua itu, siapa orang yang telah membuntutinya?
"Jack." Sapa Tara di sertai menjepit hidung Jackson dengan dua jari tangan kanannya membuat sang empunya tersadar dari lamunannya.
"Sakit tau!" Runtuk Jackson menepis tangan Tara dengan lembutnya.
"Oke sorry, abisnya kamu malah ngelamun ga jelas."
"Jelas kok, aku lamunin kamu." Jackson kembali menatap kendaraan itu membuat Tara mengikuti arah pandangnya.
Tara faham dengan tatapan itu yang memendam kejanggalannya dalam alisnya yang mengernyit. "Di kasih pinjem sama temen aku." Tara tertawa kikuk seraya menepuk-nepuk kendaraan itu. "Bagus kan?"
__ADS_1
"Kok bisa flat nya kaya nama kamu?"
Sejenak Tara membisu mencari alasannya. "Nama temen aku Triana, kebetulan banget kan? Kaya punya aku sendiri." Dan ia tertawa gagu di akhir kalimatnya.
Jackson menatap lekat mata Tara mencari kebenaran di sana. "Hebat bener tuh orang mau pinjemin mobil semahal ini."
"Lah dia orang kaya, mobil gini mah ga seberapa buat dia di banding nyawa aku yang ampir hilang gara-gara dia." Inilah kelebihan Tara yang akan mampu bersandiwara tanpa ada setitik dosa yang akan mudah di tebak lawannya.
Jackson menghembuskan nafas leganya, di sertai senyuman kemenangannya. "Kamu jelasin ini semua sama aku, apa kamu udah terima aku?" Jackson masih berusaha untuk mendapat jawabannya.
"Ah kamu berisik tau ga, cemen banget sih kaya anak SMA." Sindir Tara yang sesungguhnya ia hanya mencari alasan semata.
Jackson gemas hingga mencubit sebelah pipi setengah cubby itu. "Oke oke kamu emang paling dewasa." Ia melepaskan cubitan itu tanpa pelantara. "Sabtu jangan lupa di tempat biasa." Lantas mengusap pipi itu membantu empunya menghapus jejak cubitannya.
"Siap."
Jackson tersenyum kembali meraih kemenangannya. "Sampe ketemu sabtu." Lalu ia pergi meninggalkan Tara masih dalam janggalannya.
Sedang Tara sendiri kembali melanjutkan kegiatannya, memasuki kendaraannya sebagai pengemudi untuk melajukannya menggapai tujuan selanjutnya.
•
•
•
__ADS_1
Tbc