
Hari mulai gelap, mentari menyusut menyembunyikan sinarnya. Gelap yang baru saja membayang di hari yang dingin itu, angin mencekam menghembus ke dalam ruang rawat inap kelas paling atas rumah sakit ternama di puaat kota Jakarta.
Perdebatan dari sepasang kekasih yang baru saja mendapatkan status hubungannya mengisi suasana tegang sore menuju malam itu.
"Jack aku ga mau pulang bareng kamu." Rajuk Tara memelas membuat kegiatan melipat baju bekasnya tidur semalam terhenti seketika.
Saat ini, jarum infus itu telah enyah dari punggung tangannya.
"Art, kamu ke sini ga bawa mobil kan? Apa salahnya aku anter kamu pulang?" Pegas Jackson bersikeras, merajuk dengan menggenggam sebelah pergelangan tangan kekasihnya.
Tara kehabisan akalnya, tidak mendapati alasan sedikitpun untuk mencegah kekasihnya mengetahui kediamannya kini. "Pokoknya aku mau pulang sendiri!" Protesnya memaksa hingga ia mempertegasnya dengan menepis tangan yang menggenggam erat pergelangan tangannya.
"Kamu mau bikin aku khawatir apa?" Balas Jackson tak acuh mengabaikan wajah kekasihnya yang memberengut sebal di hadapannya membuat Hanson si cerdik yang terlatih memiliki sipat curiga yang pekat segera menepis suasana itu.
"Jack, lo harus nyambut tamu dari Taiwan kan?" Tutur Hanson di balas Tara dengan seringai penuh maknanya mendapat alasannya untuk menolak keras permintaan kekasihnya.
"Bukan urusan gue, lo aja yang nyambut sana." Jackson mulai jengah, ia bersungut sebal mengusir adiknya secara tidak langsung dengan meraih pergelangan tangan kekasihnya kembali yang telah usai menata busananya ke dalam tas kertasnya.
Hanson kewalahan hingga menghepas napas kasarnya, harus bagaimana menghadapi kakak keras kepalanya ini? Dan, "dia tamu undangan lo Jack, biar gue yang nganter dia." Tunjuknya dengan dagunya menuju arah wanita yang kini berada dalam dekapan kekasihnya.
"Ogah! Lo aja yang nyambut tamu sana!" Putus Jackson teguh hati. Tak acuh ia mengabaikan peringatan dari adiknya. Lantas ia meraih tas penampung busana kekasihnya itu, berharap permintaannya terkabulkan meski secara paksaan.
"Jack stop!" Bentak Tara namun untuk merajuk hingga mendekap tubuh kekasihnya. "Aku ga mau kerjaan kamu keganggu gara-gara ngurusin aku." Lantas mendongkak menyorot manik mata kekasihnya yang lagi dan lagi menghela napas frustasinya.
"Art Tara jangan__"
"Aku lebih seneng kalau kamu nyambut tamu." Kilah Tara memotong ucapan kekasihnya secepat kilat. "Jangan bikin aku jadi benalu Jack please." Ucapnya untuk usaha terakhirnya di iringi dengan kedua tangannya saling menakup di depan dadanya.
Jackson berpasrah diri setelah menatap wajah yang tersimpul ibarat kucing manis itu membuat batinnya sulit menolak keinginannya. "Oke nyonya Jordan, aku ngalah buat kali ini." Ucapnya melenguh lantaran sang hati masih berat terasa untuk melepas kekasihnya begitu saja.
Akhirnya Tara serta Hanson menyeringai lega tanpa mau tau wajah pria yang sudah melenguh di sekitarnya.
Enggan menyita banyak waktu yang di rasanya terlalu berharga, Tara segera menyeret tangan kekasihnya tak lantas mengayunkan kakinya membawa tubuh pria itu menuju tempat di mana kendaraannya berbaris rapih.
__ADS_1
Sesampainya di tempat tujuannya, Jackson berpamit, mengungkap katanya di iringi kecupan pada kening kekasihnya. Seusainya ia segera meraih kendaraan roda empatnya, melajukannya membawa kekecewaan dalam batinnya.
Sedang Tara tak acuh melambaikan tangannya mengiringi kepergian Jackson yang sudah melajukan kendaraan roda empatnya meninggalkannya.
"Hans makasih udah bantu bujuk Jackson." Ujar Tara di akhiri senyum manisnya yang mendapat balasan tanpa pelantara dari senyuman menawan pria yang kini telah mengayunkan kakinya, membukakan pintu BMW i8 abunya untuk wanita pujaan adik serta kakaknya.
"Ke apartement Laseason kan?" Balas Hanson membuat Tara terperangah dalam kejutan hebatnya.
Bagaimana pria yang masih setia menggenggam gagang pintu kendaraannya itu mengetahui di mana kediamannya?
"Hans aku__"
"Ayo keburu gelap." Paksa Hanson menarik lembut tangan Tara agar wanita itu lekas masuk ke dalam kendaraannya. "Aku ga akan anter kamu sampe ke atas kok." Jelasnya membuat angan Tara kembali berkedut mendapat kejutannya.
Dia tau bahwa apartement itu milik Sammuel, lantas apakah iapun mengetahui status hubungannya? Tara membatin, bergerutu dalam benaknya yang membuatnya terdiam sejenak.
"Tara, jangan nolak kebaikan orang."
Hening. Kala Tara membungkam rapat mulutnya, ia masih tidak mendapat jawaban kerancuan batinnya hingga memperpanjang lamunannya.
Akhirnya Tara melega mendengar ucapan yang di anggapnya sebagai jawaban itu. "Oke." Sahutnya di sela tersenyum penuh penegasan. "Janji ga masuk ke atas ya!" Imbuhnya meyakinkan pria yang telah terkekeh gemas di hadapannya.
"Iya iya aku janji." Lengos Hanson namun bersungguh-sungguh tidak akan melakukannya. "Ya udah kalo gitu, tangan aku udah mulai cape megang pintu." Imbuhnya membuat Tara menahan katanya untuk melepas tawanya, lantas ia beranjak masuk ke dalam kendaraan yang telah terbuka pintunya oleh pria itu.
Setelah Tara duduk nyaman di sana, Hansonpun menutup pintu itu lantas mengambil posisinya pada jok pengemudi di samping kanan Tara.
BMW i8 abu mengkilat itupun melaju mencahar jalanan kota Jakarta yang tidak terlalu padat itu.
Kala sang kendaraan memasuki jalan berbayar, Hanson menepis keheningan dengan perbincangannya.
"Kamu kaget ya? kalau aku tau rumah kamu?" Tutur Hanson di balas serengehan kikuk oleh wanita itu.
"Lumayan."
__ADS_1
Hanson terkekeh namun tidak mengalihkan arah pandangnya yang berpusat pada jalanan di hadapannya. "Aku ga tau kapan tepatnya kamu pindah ke sana, yang aku tau kamu tinggal di sana setelah keluar dari The Views." Ujarnya menjawab tanpa pertanyaan terlontar sebelumnya.
"Kamu tau dari siapa?" Tanya Tara kian cemas jika saja pria yang mengendalikan kendaraan roda empat yang tumpanginya menelusuri kehidupan pribadinya. Masih saja ia berkeras hati ingin menjaga wejangan dalam perjanjian pernikahannya agar tidak terbongkar pada siapapun demi meraih hati sang suami.
"Soal aku tau dari siapa itu ga penting, yang jelas aku tau alesan kamu ga mau cowo kamu ke sana." Sahut Hanson berhasil membuat wanita di sampingnya terperosok dalam kejutannya.
"Apa itu?" Tara mulai menggundah. Tidak mungkin jika suaminya mengatakan status hubungannya? Batinnya menyenggal keras.
Hanson menatap sekilas ke arah di mana Tara duduk di sana hingga menyiratkan tawa kecilnya melirik wajah yang menyiratkan harapan jawabannya. "Harusnya kamu yang lebih tau kan?"
"Tapi aku mau tau tebakan kamu juga." Pancingnya menatap lirih arah samping kanannya yang menampakan wajah pria itu masih tertawa meledeknya.
"Kamu ga mau dia sering dateng ke sana kan?"
"Kamu tau itu rupanya?" Tara melega kini ia dapat merebahkan punggungnya pada penyandar jok itu.
"Hmm, tau juga kalau kamu mau jalan sama dia karna anaknya."
Perasaan lega semakin leluasa menyeruak dalam benaknya hingga Tara menyiratkan senyum simpulnya.
Hening kembali mengisi suasana ruang yang hanya tersedia untuk dua orang itu. Hingga pada akhirnya menepi di dalam area bawah tanah tempat di mana kendaraan pemilik ruang di Apartement Laseason itu akan berjajar rapih di sana.
Seperti janji yang terikrar sebelumnya, Hanson hanya membiarkan wanita itu berjalan sendiri menuju kediamannya.
Sepeninggalan Hanson, Tara melangkah dalam renungannya, mengingat kembali risalah yang di dapat dari sang hati atas penerimaan cinta yang sesungguhnya enggan di sambutnya itu.
Dalam langkahnya menuju elevator, ia di kejutkan dengan sebuah tindakan yang menyeret pergelangan tangannya dari arah belakangnya hingga melirikan pandangannya pada pemilik tangan itu.
•
•
•
__ADS_1
Tbc