
Detik berlalu membawa kenangan pilu yang tak akan usang termakan waktu. Hari berganti memutar waktu tiada henti. Semalaman tadi Triana mengundam kesedihannya dalam isak tangisnya yang tertahan, air matanya tak kunjung menetes sedikitpun seolah mengering saat rasa pedih di hatinya mengacau semangat hidupnya yang terpicu dari asanya kala ia belum mampu menerima nasib barunya yang telah kehilangan sosok panutan dalam hidupnya.
Beruntung Hanson bersedia menemaninya sepanjang malam hingga pagi yang masih sangat buta ini saat ia sudah berada di sebuah pemakaman umum untuk mengantar kepergian sang ibunda tercinta menuju alam berbeda, Hanson masih tetap berada di sampingnya yang bertugas sebagai penawar kepedihannya.
Tidak menunggu waktu lama untuknya menyemayamkan sang ibunda seperti tradisinya lantaran sang ibunda yang sudah tidak memiliki kerabat dekat sama sekali hingga ia berpikir tidak perlu untuk menunggu hari lebih lama lagi.
Air mata itu kian enggan meluncur saat Triana melihat sang adik tiri berjalan mendekatinya, ia malah tersenyum menyapanya seolah melepas rasa rindunya pada sang adik tiri yang telah lama tidak berjumpa.
"Cik.. hiks.. lo harus kuat," sapa Gea di akhiri isak tangisnya di akhir kalimatnya sebagai curahan rasa sedihnya membuat kakaknya membalas dekapannya hingga mengusap punggungnya.
"Hei.. lo ga liat gue tegar gini?" Triana masih menyembunyikan lirihannya di balik senyumannya agar terihat tegar di hadapan orang lain, khususnya ayah kandung kejamnya meski tidak berada di sekitarnya.
"Lo emang hebat hiks.." sahut Gea memuji, ia melepas dekapannya agar dapat menatap wajah kakaknya. Terlihat olehnya senyuman kepedihan tersirat di balik wajah cantik itu membuat rasa kagum atas ketegarannya berseru dari dalam asmanya hingga iapun memberikan senyumannya terhadap sang kakak.
Kehadiran Gea membuat Triana menyadari jika ia masih memiliki seseorang untuk menjadi penyemangat hidupnya, dialah satu-satunya orang yang memiliki hubungan dekat dengannya sejak ia masih remaja.
"Biar lo ga nyesel punya kakak kaya gue,” ucap Triana menyambut senyuman adiknya yang di rasanya senyuman itu adalah pertanda penghiburan untuknya.
“Cik..” Gea menyenggal ucapan penghiburan kakaknya dengan nada manjanya kala rasa malu berhasil menyentuh sanubarinya.
Triana gemas dengan tingkah yang telah di rindukannya itu, ia pun mencurahkannya dengan mengusap air mata yang membasahi wajah cantik adiknya.
Kegiatan dramatis itu terlerai saat sebuah elusan penuh kasih mendarat pada punggung Triana membuat batin sang empunya menghangat seketika. Tanpa berbicara Triana menolehkan wajahnya menuju ke arah belakangnya di mana pemilik tangan itu berdiri di sana.
"Steve,” ujar Triana bernada nyaring kala rasa kejutnya tersulut dari kehadiran kakaknya di sana.
Tidak biasanya sang kaka sudi menampakkan dirinya di hadapannya meski dalam keadaan sedarurat apapun, namun kini ia datang untuk menyaksikan persemayaman terakhir ibu dari adiknya.
Alasan yang membuat Steven ingin menemui adiknya adalah sebuah kasus yang berkaitan dengan kematian ibu adiknya. Diam-diam ia menyelidikinya tanpa menaruh siasat lain di baliknya, ia hanya ingin memberikan bukti bahwa dirinya telah membuka hati untuk menyayangi sang adik yang sempat di bencinya.
"Lo harus usut sampe tuntas kasus kematian dia, meskipun bokap gue pelakunya,” ujar Steven berseru emosi saat terbersit dalam ingatannya perlakuan keji ayahnya terhadap adiknya.
Kalimat itu membuat seluruh insan yang berada di sekitarnya terheran-heran. Tidak ada angin dan juga hujan, ucapan itu terlontar dengan lantangnya. Tidak biasanya pria berhati keras itu sudi mengulurkan tangannya untuk membantu seseorang.
"Semua dendam ga usah di bales sama dendam lagi." Triana menepisnya penuh rayuan, ia enggan jika sang kakak melakukan hal di luar dugaan yang akan memutuskan tali persaudaraannya.
Hanson yang masih setia berdiri di samping kekasihnya, dengan mudahnya merangkul pundak sang kekasih untuk menyerukan rasa kagumnya. Sikap itulah yang membuatnya memiliki ketertarikan lebih terhadap wanita itu.
"Gue yakin hidup lo bakal lebih baik." Steven melirik ke arah tangan yang berada di atas pundak itu membuat hawa emosinya terhempas seketika. Ia ternyenyum penuh rasa lega setelah menerka-nerka jika pria yang berdiri di hadapannya adalah keberuntungan yang akan datang kepada adiknya.
"Triana." Suara Jackson yang berkumandang dari arah belakang Hanson serta Triana, membuat perbincangan tiga insan di sana terlerai sesaat.
Mereka mencari asal suara tersebut dengan pandangannya. Triana tersenyum riang kala pasang matanya menatap wajah tampan yang telah memaparkan senyum penghiburannya kepadanya.
"Kamu dateng juga Jack?" sambut Triana di sertai senyuman lebarnya di akhir kalimatnya.
"Lo anggap gue sebr*ngsek apa sih?" balas Jackson dengan ledekan gemasnya hingga mengelus puncak kepala itu penuh semangat membuat rasa cemburu Hanson merangkak dari dalam sana.
Hanson mengetahui jika wanita yang telah terpilih untuk menjadi istrinya kelak itu telah menyukai kakak keduanya, hanya saja ia tidak mampu mencari tau seberapa besar rasa suka yang tercurah itu.
"Lebih br*ngsek dari yang lo bilang,” sahut Triana bersenda gurau.
Sesungguhnya ia telah mencari penegar untuk batinnya. Rasa dilema akan kehidupan yang akan di laluinya setelah ini masih membayang kelam dalam ingatannya, namun ia enggan memperlihatkannya kepada siapapun termasuk sang kekasih hati.
Renungan Triana di tengah kerumunan tiga orang pria yang kini sedang bersahut kalimat itu tercabik tanpa pelantara saat seorang pria datang menghampirinya.
"Triana, turut berduka cita," sapa Maxson penuh curahan rasa haru yang turut merasa prihatin pada wanita yang mendapatkan tragedi naas dalam hidupnya itu.
Saat ia berdiri tepat di hadapan Triana, tangannya terulur lembut untuk mengusap tempurung otak Triana membuat empunya tertegun di tempat. Triana merasakan hawa tak asing dari usapan itu. Rasa rindu akan perlakuan hangat telah menyelimuti angannya kala ia merasa jika sentuhan itu serupa dengan sentuhan dari ayahnya.
Dahulu kala saat ia masih belia, sang ayah tidak sepenuhnya membencinya. Ia masih mengingat kala itu, saat di mana ia masih mendapatkan kasih sayang serta perlakuan manja dari ayahnya.
Kini rasa itu telah sirna sepenuhnya saat sang ayah telah mengubah sikap terhadapnya dengan alasan harta kekayaan yang akan di tujunya tanpa menguntungkan bagi dirinya.
“Di mana papa kamu Steve?” tanya Triana di sertai tatapan kosongnya pada wajah kakaknya.
Steven membatu kaku, ia tidak dapat memberikan jawaban tepat pada adiknya mengingat sang ayah mengatakan jika dirinya enggan menghadiri persemayaman mantan istrinya.
Triana faham dengan bungkamnya mulut itu, ia hanya menganggukan kepalanya menyertai rasa kecewanya.
__ADS_1
Sementara di sampingnya, Raymond mengepalkan tangannya bahkan mengeratkan rahangnya mengingat kelakuan bejat ayahnya terhadap Triana serta ibunya dahulu kala yang membuat emosinya merangkak untuk kali ini.
“Beneran deh itu orang udah ga punya hati,” ujar Raymond penuh emosi berbalas tatapan lekat pada wajahnya dari seluruh insan yang berada di sekitarnya.
“Mungkin sibuk.” Triana menimpal, kembali ia memikirkan tali persaudaraan yang akan terlepas jika saja seluruh kakak dan adiknya menyimpan dendam terhadap ayahnya.
Tak acuh Raymond mengabaikan alasan basi itu, yang terbersit dalam ingatannya hanyalah bayangan ayahnya yang sudah ingin sekali di terkamnya.
"Tri, gue dukung lo kalo lo mau usut kasusnya sampe tuntas," imbuh Raymond penuh keteguhan hati hingga nada bicaranya yang tegas di terima dengan tawa sinis dari kakaknya.
"Mending beritanya jangan nyebar dulu biar pelakunya ga gampang ngilangin barang bukti,” ujar Steven berbalas anggukan pekat dari Hanson serta Raymond.
"Lo bener juga Steve, serahin kasus itu sama gue." Kembali Raymond berucap dalam nada jengahnya kala emosi itu belum dapat enyah darinya.
"Kalian ga usah khawatir, gue bisa urus semua,” seru Hanson menginterupsi membuat seluruh insan menatap ke arahnya.
Mereka melupakan jika calon menantu dari pria yang menjadi bahan gunjingan mereka itu akan mampu mengatasi permasalahannya sendiri.
Sementara pihak lain menatap Hanson dengan tatapan misterinya, Triana sendiri melirikkan wajah Hanson penuh tekanan batin. Ia menyiratkan harapan belaka di baliknya yang tidak di yakininya ia akan melibatkan pria baik hati itu.
Hanson membalas tatapan itu dengan tatapan lirihannya membuat Triana mengalihkan pandangannya tanpa jeda bahkan menggelengkan kepalanya kala atmosfer dingin dari tatapan itu berhasil menusuk benaknya.
Menyadari jika ia sudah tidak ingin membebani pria di sampingnya, ia memberanikan diri menatap wajah tampan itu di sertai siratan senyuman manis dari bibirnya.
Senyumannya kini tertahan kala suara langkah kaki yang memburu menusuk indra pendengarannya. Segera ia melihat ke arah di mana suara itu berasal. Dari arah 5 meternya ia melihat Tara berjalan tergesa di buntuti suaminya di belakangnya membuat batinnya merasa lega tiada terkira.
Di luar kendalinya, ia pun berlari menghampiri sahabatnya hingga saat mereka saling bertemu, mereka mengulurkan tangannya untuk saling mendekap erat.
Dari sinilah, tangisan harunya mulai membludak, membasahi kemeja hitam sahabatnya.
"Tri lo cewe kuat oke." Tara mengelus pundak Triana yang di balas empunya oleh sebuah anggukan dalam isak tangisnya yang masih membludak. "Gue udah jadi cewe hebat sekarang, gue pasti bantu lo sampe titik darah penghabisan. Lo masih punya gue, gue pasti selalu ada buat lo."
Ucapan Tara yang di sertai dekapannya yang kian mengerat membuat isak tangis itu semakin histeris tanpa terkendali bahkan tanpa menghiraukan para insan yang berada di sekitarnya.
Tak satupun orang mengacau kegiatan mereka, para insan itu hanya membiarkan tangisan itu reda dengan sendirinya. Begitupun dengan Hanson yang mengabaikannya, ia merasa jika rasa haru itu akan sedikit lega jika terlampiaskan pada sebuah tangisan.
"Gue tau, jangan patah semangat, semua manusia udah punya bagiannya masing-masing, begitu juga beliau, hidup mati udah ada di tangan-Nya." Tara kian mendekap erat tubuh ramping sahabatnya seolah mencurahkan kesungguhan atas ucapannya yang tak ingin di senggal sedikitpun.
Sadar akan hal itu, Triana menghentikan paksa tangisannya, kini dekapan itu terlepas sudah, ia menatap lirih wajah sahabatnya. "Lo kakak gue satu satunya Ra."
"Gue juga bisa jadi kakak lo." Suara Sammuel yang berseru tegas membuat Triana mengalihkan pandangannya kepadanya.
"Gue ga butuh,” balas Triana dengan nada ledeknya.
"Udah jangan nangis lagi." Tara kembali menghapus air mata itu dengan telapak jarinya. "Gue udah berusaha ga nangis biar lo jadi cewe tegar, katanya pengen tegar kaya gue," imbuhnya untuk menghibur diri semata.
Sesungguhnya, rasa pilu juga haru telah menggerogoti jiwanya, jika saja ia tidak melihat kelemahan sang sahabat, iapun akan meluapkan tangisannya lebih histeris dari tangisan sahabatnya.
"Ga bisa hiks, gue masih kalah hiks tegar dari lo." ucap Triana terpenggal-penggal akibat isak tangisnya yang masih tersisa.
"Itu karna lo ga liat nyokap gue kaya gimana, andai nyokap lo kaya nyokap gue, lo pasti ga akan sedih kaya gini,” balas Tara menyahut penuh emosi saat curhatan hati menyertainya.
"Amit-amit hiks gue punya nyokap kaya nyokap loe hiks, punya bokap iblis aja udah cukup hiks,” sahut Triana penuh dendam namun membuat Tara serta Sammuel menahan tawanya agar tidak menyinggung dirinya.
"Kelar ini lo ke rumah gue, gue ga bisa biarin lo sendirian dalam keadaan gini,” ujar Tara merajuk paksa.
"Emang lo punya rumah?"
Tara menyahut ucapan itu dengan melirik ke arah sampingnya di mana suaminya berdiri di sana, ia mengharap sebuah tawaran darinya. "Rumah_"
"Rumah gue!” putus Sammuel.
Tara mengalihkan arah pandangnya menjauhi wajah suaminya untuk menyembunyikan senyumannya, namun naas pandangannya berakhir pada arah di mana Raymond berada yang berdiri memperhatikannya sejak ia datang saat lalu.
Dari sinilah Tara mulai jengah hingga mencoba menepisnya dengan hanya merangkul tubuh Triana ke manapun ia pergi.
********
5 orang sudah kini tersisa di sana, mereka masih berdiri mengelilingi makam itu.
__ADS_1
"Tri, semuanya udah balik, lo balik ke rumah gue ya." ucap Tara merayu penuh waspada seraya merangkul tubuh sahabatnya agar ajakannya tidak di tolak oleh sahabatnya.
"Ga bisa! Lo aja ke rumah gue,” potong Hanson tidak terima jika harus berpisah dengan kekasihnya yang masih berada dalam keadaan memilukan.
"Ga ga ga, gue ogah nginjek rumah lo." Sammuel pun tak kalah dari kakaknya, ia menepis tawaran paksa itu.
"Ya lo ga usah ikut aja kali,” protes Hanson bersungut-sungut hingga menatap wajah adiknya dengan sorotan tajamnya.
"Ga bisa, pokoknya cewe lo aja yang ke rumah gue." Sammuel masih tetap bersikukuh.
"Udah diem kalian, ke rumah gue aja kalo gitu." Jackson pun mulai menginterupsi akibat merasa heran dengan dengan pertikaian mulut kekanak-kanakan.
"Ga Jack, gue ga mau ke rumah lo,” sahut Triana yang bermaksud lain di mana ia enggan bertemu dengan Fiona lantaran rasa cemburunya.
"Lah semua ga mau, ya udah kalian balik aja ke rumah sendiri-sendiri,” ucap Jackson tak acuh memberikan keputusan yang membuat Tara menatap nyalang wajah tampannya.
"Cewe lo butuh di temenin bini gue Hans, lo jangan egois." Sammuel menatap bengis wajah kakak keduanya seolah memberikan paksaan pekat agar keputusannya di terima sang kakak.
"Lah lo juga egois ga mau nginjek rumah gue,” ujar Hanson.
"STOP!" ucap Tara memekik nyaring untuk menghentikan perdebatan itu. Berhasil rupanya membuat seluruh insan terdiam pasrah. "Kalian ini.. bukannya kasih solusi malah berantem. Udah, gue bawa semuanya ke rumah papi, titik! Ga bisa nawar," titahnya sarat dalam tekanan suaranya.
Ocehan beruntun itu di sambut oleh tatapan heran dari seluruh insan yang berada di sekitar tanpa mengeluarkan suara dari masing-masingnya membuat Tara bergerak kikuk hingga menggaruk lehernya yang tidak gatal sama sekali.
"Harusnya sore ini tunangan lo kan Tri, jadi mending kita kumpul di rumah papi." Tara berucap menegaskan agar mereka mau mengikuti perintahnya sekaligus untuk menutupi tingkah canggungnya.
Akhirnya hampir seluruh insan mengangguk antusias menyambut ajakan yang merupakan keputusan itu kecuali Sammuel yang malah mengernyitkan dahinya saat menatap wajah Triana.
"Lo yakin Tri mau tunangan nanti, lo masih berduka," ucap Sammuel membuat Hanson mengeratkan rahangnya demi menahan emosinya.
Hanson tidak terima jika pertunangannya mengalami kemunduran waktu. Bukan ia tidak memperdulikan keadaan duka yang masih menyelimuti hati calonnya, namun ia menerka jika pelaksanaan itu tertunda maka ia akan kesulitan kembali mengatur waktunya pasalnya sang calon masih memiliki keraguan atas penerimaannya.
"Yang udah ga ada ya ga ada aja, biarin dia tenang. Sementara gue yang hidup harus lanjutin semuanya kan?" ujar Triana menepis emosi yang terlihat dari wajah calon suaminya, namun tatapannya melekat menuju wajah Jackson membuat Hanson menggeram namun kini terlihat Tara begitu memilukan.
"Fiona masih di Tangerang kan?" tanya Tara berlangsung menatap Jackson berniat untuk mengalihkan emosi Hanson.
"Mana gue tau!" Tak acuh Jackson mengangkat bahunya seolah tidak mau tau dengan keadaan wanita yang di pertanyakan kekasihnya.
"Lo cowonya tega banget sih Jack." Tara membatin sebal hingga ia menepuk kasar pundak Jackson membuat empunya segera menghapus jejaknya setelah tangan itu tersingkir darinya.
"Dia kayanya udah di perjalanan balik,” sahut Hanson.
Panjang umur, Fiona menampakkan diri di sana dengan langkahnya yang memburu dan ketika berhadapan dengan Triana ia langsung mendekap erat tubuh Triana.
"Sorry Tri, gue ga bisa tinggalin gawean gue,” ujar Fiona penuh penyesalan hingga nada bicaranya terdengar memelas.
"Bukan salah lo juga kok." Triana menyiratkan senyum manisnya membalas penyesalan itu.
"Turut berduka dari keluarga gue juga,” imbuh Fiona yang di balas Triana hanya dengan anggukan dalam senyumannya.
"Fi.. pemakamannya udah beres, lo mau kan sekarang temenin Triana di rumah papi?" pinta Tara membuat Fiona terperangah salah mengartikan.
"Lo emang ga bisa Ra?" balas Fiona menatap lirih wajah Tara bermaksud menolak secara halus.
Tara tersenyum mengetahui Fiona sudah salah mengartikan maksudnya. "Semuanya pergi ke sana kok, ga cuma lo."
"Oh oke kalo gitu gue bisa." Jawab Fiona di sertai anggukan kerasnya.
“Ya udah kita pulang, mau berapa lama lagi di sini?” ajak Hanson penuh paksaan saat dirinya menyeret lembut tangan calon istrinya dalam langkah kakinya.
Tanpa ada suara kembali terdengar dari mulut tiga pasang insan di sana, mereka bergegas meninggalkan tempat pembawa duka itu untuk menuju di mana kendaraan mereka terparkir di sana.
•
•
•
Tbc
__ADS_1