
Pada lantai tiga puluh dalam perusahaan bernama ZhanaZ Group, serangkai perbincangan dari empat pria penghuni ruang telah mengisi suasana tegang di sana.
"Itu ulah lo 'kan? Kenapa keluarga si Tara ga datang ke pesta pernikahannya?" Di atas sofa yang terletak di tengah ruang, Jackson mengumandangkan keluh kesah. Tatapan garang tertuju pada pria yang duduk besebrangan dengannya.
"Perintah Nyonya." Raymond menyahut kesal, mengingat diri telah berada dalam genggaman seorang wanita paruh baya. Sehingga apa yang ia lakukan kini, sepenuhnya untuk menuruti segala keinginan wanita itu.
Jackson mengangguk paham, sebelum kemudian menghempas asap rokok mewakilkan kerancuannya. Sepertinya ia memiliki tugas berat, agar wanita yang di sebut-sebut ibu dari Tara itu jatuh dalam perangkapnya.
"Dia masih dendam sama anaknya, akibat si Tara ga datang ke pernikahan gue sama emaknya." Raymond memberi alasan jelas, berbalas tawa cibir dari dua pria di hadapan.
"Lo ga bisa hadapi satu cewe itu?" tanya Sammuel berbuah decakan keras menelusup indra pendengaran.
"Susah, bukannya lo mau nenek lampir itu masuk jebakan?" Raymond menyahut tegas, mengingatkan jika tindak tanduknya kini berasal dari titah pria yang tertegun di sana.
"Oke ... gue paham itu. Apa bapaknya ga datang juga karna ulah bini lo?" tanya Jackson.
"Jelas Sonia Mareta lah pelakunya." Raymond kian geram, mengapa pria yang biasanya pintar itu kini menjadi seperti orang dungu?
Jackson mengangguk kian memahami situasi, bisa dikatakan jika ayah dari mantan kekasihnya berada dalam kendali wanita iblis itu. Sementara ia memutar isi kepala, mengatur siasat agar mempermudah menjatuhkan musuhnya, Sammuel telah mendapat jawaban hingga kemudian mengutarakan.
"Buat ini ... kayanya cuma si Max yang bisa bantu." Hingga pada akhirnya Sammuel mengucap kata yang membuat dua pria itu menyeringai penuh kemenangan.
"Kalian cepatlah urus kasus si Cakra, gue udah ga sanggup hidup sama nenek lampir itu." Begitu leluasa Raymond megatai mertua Sammuel, karenanya Tara tidak berada di sana.
"Tergantung usaha lo." Jackson menyahut seolah mencibir, pada kenyataannya ia memberikan penyemangat kepada pria yang sedang melenguh di sana.
Jackson pun ingin risalah itu cepat selesai, agar seluruh keluarga mendapat ketenangan batin jika tiada lagi musuh yang mengobrak-abrik jalan kehidupan.
Raymond menyahut dengan menyerahkan sebuah amplop berwarna kuning. Begitu pun Jackson meraih tanpa mengucap sepatah kata.
"Semua bukti yang kalian ga punya ada di sana." Sebilah jemari Raymond melenting, menunjuk objek yang berada dalam kalimatnya.
__ADS_1
Seringai keji terukir di balik wajah Jackson, mendapat kepuasan jua meyakini kemenangan telah menanti. Berbeda dengan Sammuel yang terlihat gelisah di sana, ia tidak ingin sang mertua mendapat kejutan hebat. Maka, lekaslah mulut terbuka, dan mengatakan ...
"Ga bikin mertua gue dalam bahaya kan, Ray?"
Raymond tersenyum miris, menanggapi kekhawatiran yang seharusnya Sammuel tidak melakukan itu.
"Tenang aja ... bini lo punya cara penangkalnya," sahut Raymond berbuah tatapan geram dari hadapan.
"Eh kadal, jangan libatin bini gue." Nada memekik mewakilkan rasa cemas, Sammuel berusaha menghadang aksi yang akan dilakukan Raymond.
"Oke ... oke, gue ga akan libatin pasangan pengantin baru." Sudah lama Jackson ingin mencegah adiknya ini agar tidak turut serta memecahkan suatu risalah. Kali ini, kesempatan itu telah datang. "Lo mending urus bakal anak lo sama bini lo aja, Sam."
Sammuel memahami titah itu, sehingga ia memaksakan senyuman menyahut kalimat. "Ya udah ...." ia bangkit berdiri, meminta pamit dengan gaya santainya. "Kalau gitu gue mau urus bakal anak gue sama bini gue." Kemudian melangkah pergi, menghindari percakapan yang membuat kepalanya seakan terpecah belah.
Sepeninggalan Sammuel dari dalam ruang, Jackson segera mengungkap sesuatu yang telah tertahan selama tiga puluh menit kebelakang itu.
"Berapa dana yang dihabisin bini lo?" tanya Jackson.
"Ga ada, bini si Sam udah ganti semua," sahut Raymond berbalas anggukan kagum dari lawan bicara.
"Kalau gitu ... kita udah menang," ucap Jackson diakhiri dengan seringai mengerikan.
Tiada kata menyahut ucapan, saat Raymond hanya tersenyum ketakutan. Jackson melentangkan tangan, memanggil Kelvin yang duduk berjauhan dengannya sejak perbincangan dimulai.
"Ya bos." Kelvin menyahut lantang, mengerti akan isyarat tangan sang atasan. Lekaslah ia menghampiri Jackson, dan duduk di samping Raymond.
"Mulai sekarang!" Titah terucap disertai ketegasan nada bicara, begitu juga tatapan lekat menyorot wajah Kelvin yang telah mengangguk. "Gerakin semua orang, pasang mata di rumahnya si Marlin. Kalau udah dapat si Cakra, nih anak langsung seret aja!" Telunjuk jenjangnya mengacung di hadapan wajah Raymond, pertanda menunjuk objek dalam kalimat terakhir.
Raymond terdiam tidak berkutik, melihat ketangkasan pemikiran pria itu. Atmosfer kelam berhasil menjangkau rasa takutnya, menyikapi gelagat tegas yang terpampang di hadapan. Sejenak terbesit perasaan iri terhadapnya, ia ingin memiliki seorang kakak yang begitu peduli terhadap kelangsungan hidupnya. Memang selama ini ia memilikinya, akan tetapi perhatian tidak pernah ia dapatkan darinya.
***
__ADS_1
Ketika langkah menepi di dalam ruang kebangsaan, kerucutan bibir menyambut kehadiran. Sammuel tidak geram sama sekali, malah ia merasa gemas melihat tingkah itu.
"Mamanya Alev ... kenapa manyun?" Tepat setelah berdiri di samping sang istri, Sammuel meredakan wajah mengkerut dengan ucap penghiburan.
"Kasus Cakra melibatkan mama aku, 'kan?" Tara merajuk dengan nada manjanya, tak ayal wajah memelas turut menyertai.
Sammuel kian gemas dibuatnya, sehingga sebelah tangan mengusap bibir yang masih maju ke depan itu. Lalu membawa tubuh sang istri dalam pangkuan, setelahnya ia duduk pada kursi kebangsaan seraya menaruh tubuh itu di atas pahanya.
"Sam, kamu belum jawab pertanyaan aku," ujar Tara berseru penuh amarah.
"Iya, melibatkan mama kamu, tapi ga melibatkan kamu. Jangan mikir aku izinin kamu terlibat."
"Aku harus terlibat, karna aku punya semua bukti. Dan juga aku udah persiapkan semua." Sebaris kalimat terucap beriring ketegasan nada bicara. Tara mengumbar sejuta cara agar suaminya sudi memberikan restu.
"Kamu pikir suamimu ga akan bisa gerak tanpa bantuan kamu?" Sammuel berusaha menyertakan nada lembut di sela ucap kata, agar si sensi tak kembali menjadi emosi. Namun, sepertinya tidak membuahkan hasil, manakala tatapan nyalang menyorot wajah tampannya.
"Buat kali ini aku rasa engga!"
"Art—"
"Sam, aku harus terli—"
"Bisa ga kamu pikirin anak aku sedikit aja?"
Senjata pamungkas berhasil membuat wanita itu terdiam seribu bahasa, bahkan wajah tertunduk seolah mengibarkan berdera putih. Tiada yang salah jika Sammuel menghadang keinginannya, karena cemas jika kasus yang ingin diurusnya akan membuatnya pusing.
Sammuel tersenyum mewakilkan kemenangan, jua ia menghirup panjang udara mewakilkan perasaan leganya. Kini ia mengetahui kelemahan istrinya, yakni bakal anak yang tumbuh di dalam rahim. Jika demikian, ia mengharap sang istri mengandung setiap saat.
•
•
__ADS_1
•
Tbc