Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 131


__ADS_3

"Lo lupa sama tugas lo, dia curiga tuh." Sammuel bertanya kepada istrinya yang telah berdiri di hadapannya.


Tanah luas tanpa bangunan kini menjadi pijakan kaki mereka, tujuan awal mereka adalah untuk meninjau bahan pekerjaannya di sana.


Saat lalu, kala Tara menerima panggilan jarak jauh dari Jackson, Sammuel memintanya untuk mengeraskan suara alat medianya agar dirinya dapat mendengar percakapan mereka.


"Iya aku lupa, kayanya karna terlalu seneng aku bisa kencan, sampe lupa sama cowo aku," balas Tara menimpal.


Sammuel berdecak sebal mendengar pengakuan istrinya terhadap kakaknya itu, rasa cemburu mulai menyentuh angannya hingga ia menepis perbincangannya dengan melangkahkan kakinya untuk kembali melakukan pekerjaannya.


Ia berjalan menyusuri padang rumput itu untuk menghampiri sang pemilik tanah yang telah berdiri nun jauh di sana.


Sementara Tara, dengan senyuman bahagianya ia membuntuti langkah panjang suaminya, ia yakin jika suaminya telah cemburu terhadap kakaknya sendiri.


Bukan salah dirinya, kala hubungan itu terjalin adalah atas dasar keinginan sang suami yang tertulis di atas kertas bermaterai sebagai perjanjian pernikahannya.


"Sam," panggil Tara mencoba menyenggal langkah suaminya kala ia berjalan bersusah payah di atas tanah basah di tengah hamparan padang rumput itu.


Pagi tadi awan meluncurkan airnya di atas permukaan bumi hingga membuat jalanan serta tempat yang menjadi tujuan sepasang suami istri itu bergenang air sisa hujan saat lalu.


Sammuel menghentikan langkahnya menyahut panggilan istrinya, lantas memutar tubuhnya menghadap sang istri. "Kenapa?"


"Kalo ini udah beres aku mau ke tempat sodara aku, bolehkan?" pinta Tara merajuk manja kala menatap wajah suaminya yang terlihat menjanggal dengan picingan matanya.


"Di mana?"


"Ga jauh sih dari sini, paling se-jam lah perjalanannya, kamu mau ikut?"


"Ogah, lo sendiri yang ga mau bakar surat perjanjiannya," sahut Sammuel mengingatkan sang istri jika sesungguhnya dalam perjanjian itu tertera bahwa dirinya tidak akan menginjakkan kakinya pada kediaman sang istri.


Tanpa di ketahui istrinya, sesungguhnya isi dari perjanjian itu telah berubah sepenuhnya. Andai Tara mengetahuinya, maka sesuatu kebahagiaan akan di dapatkannya.


Namun kini, Tara menghela napas dalamnya mengaku jika dirinya telah kalah oleh suaminya. "Ya udah aku pinjem mobil kamu aja bisa kan?"


Sammuel hanya mengangguk menjawab pertanyaan istrinya di sela bibirnya yang merapat pekat menahan agar senyumnya tidak terlihat istrinya.


"Neng, aden, di depan sana itu batas yang akan di jual." Suara pria paruh baya berpeci itu melerai perbincangan mereka, ia menunjuk dengan gaya sopannya sebuah saung yang terletak 80 meter dari hadapan mereka.


Sammuel serta Tara serempak menatap ke arah tempat yang di tunjukan pria itu, lantas mengarahkan pandangannya untuk saling menatap.


"Oh, lumayan luas juga ya pak." Tara melirik ke arah di mana sebuah saung terdapat nun jauh di sana. "Kalo yang di pinggir jalan besar itu milik bapak juga?"


"Bukan neng, itu punya adik saya, tapi masih saya yang mengurus penjualannya, neng tertarik dengan yang di depan ya?" ujar sang pria di sambut janggalan oleh Sammuel.


Sammuel memicingkan matanya menatap wajah sang istri yang tertegun, ia menerka-nerka jika wajah yang tertunduk itu menyimpan ucapan dalam benaknya.


Rasa penasaranpun bergejolak di dalam asma Sammuel setelah menebak jika sang istri menginginkan sesuatu dari ucapannya saat lalu.


"Kalo dananya cukup sih saya lebih tertarik yang di depan." Tara memijat lembut pinggir keningnya dengan penanya, memprovokasi tubuhnya dalam pikiran penuh siasatnya.


Sammuel gemas melihat tingkah istrinya hingga ia tersenyum menyemburkan rasa kagumnya, jika saja tidak ada pria lain di sekitarnya, ia akan segera mendekap tubuh sang istri dengan eratnya.


"Harganya sama kok neng, karna di sana belum banyak pusat rekreasi, meski di pinggir jalan harganya bisa sebanding dengan tempat ini," tutur Halim menjabarkan penjelasannya.


Tara kembali termenung, pikirannya berputar mencari pertimbangan untuk apa yang akan menjadi pilihannya.


Sementara Sammuel kian menjanggal, ia menatap wajah sang istri penuh pertanyaan hingga tanpa acuh merangkul pundak sang istri di hadapan orang lain.


"Lo mau tanah yang di sana?" tanya Sammuel.

__ADS_1


"Dananya pasti kurang." Tara melirih membuat Sammuel semakin ingin mengetahui maksud hatinya.


"Kan tau harganya sama kan, malah lebih luas di sana."


"Di sana jauh dari gunung Sam, pasti butuh dana lebih buat narik air panas dari gunungnya, lagian rencana aku mau buka food court sama pusat perbelanjaannya juga kalo buka di sana." Tara menjabarkan maksud hatinya dengan lantangnya membuat sang suami membisu menyikapinya.


Sesungguhnya Sammuel pun turut mempertimbangkan apa yang di inginkan sang istri.


Bungkamnya mulut dari masing-masingnya karna mereka sibuk memikirkan apa yang akan mereka lakukan, membuat suasana hening menginterupsi.


Atas situasi yang tercipta, Sammuel mendapat kesempatan emasnya untuk mendekap erat pinggang istrinya dengan sebelah tangannya.


"Pak kita bicarakan lebih lanjutnya di tempat makan aja gimana?" ucap Tara seraya melirik arah Halim bertujuan ucapannya untuk pria itu.


Halim hanya mengangguk sebagai jawabannya seraya tersenyum simpul mendapati kemenangannya.


********


Waktu berlalu, seusai mereka melakukan kegiatan makn siangnya pada tempat makan ala Sunda, Sammuel memenuhi janjinya kepada istrinya, membiarkan istrinya pergi ke tempat di mana saudaranya berada.


Kini Sammuel tengah duduk di luar ruang villa yang menjadi tempat penginapan sementaranya, sudah tiga jam ia menunggu istrinya kembali yang tidak mendapat kepuasannya kala jarum jam terus berputar sementara istrinya tidak nampak jua.


Rasa cemas mulai menggerogoti angannya, ia takut jika sesuatu terjadi kepada istrinya.


Batang demi batang rokok terhisap habis sudah olehnya sebagai pelepas rasa khawatirnya, namun tidak kunjung rasa itu enyah darinya.


Alat panggilan jarak jauh menjadi pusat pandangannya kini, rupanya ia menunggu kabar dari sang istri melalui benda itu.


Tidak ada sahutan sedikitpun akhirnya ia menghubunginya terlebih dahulu meski hatinya menolak melakukan itu lantaran gengsinya yang akan terjatuh begitu saja.


"Lo bilang deket, jam segini belom balik?" ujar Sammuel berseru ketus kala panggilan terhubung dengan sang istri.


Bibir Sammuel terangkat jauh mendengar jawaban yang istri yang nembuat hatinya lega seketika. "Gue jadi emosi sama sodara lo, nyita waktu kencan gue aja."


"Harusnya kamu emosi sama berkas kamu itu, malah nyalahin sodara aku."


"Tetep aja di luar aturan."


"Sinting ah."


Sammuel terkekeh menanggapi ucapan yang begitu menggemaskan menurutnya itu. "Buruan balik!"


"Iya ini aku udah di jalan, bentar lagi juga nyampe kok."


Tidak di ketahui Sammuel, Tara tersenyum riang di sana menerima perlakuan suaminya yang selalu di nantinya itu.


Sementara Sammuel menghela napas dalamnya, menyemburkan rasa lega di sela helaannya hingga tampa berpamit ia memutus panggilannya sepihak.


Tepat kala ia tersenyum mengingat tingkah menggemaskan istrinya dalam renungannya, seorang wanita bertubuh elok datang menghampirinya.


"Sam, beneran itu lo."


Suara wanita itu membuat Sammuel mengarahkan pandangannya padanya tak ayal kelopak matanya terbuka lebar mendapat kejutan untuk sambutan kehadiran wanita itu.


Buyar sudah kebahagiaannya, berganti rasa cemas yang kian membuatnya frustasi. Ia takut jika wanita yang datang berkunjung tanpa di undang itu akan membuat masalah dengannya.


"Maudy, ngapain lo di sini?" Sammuel beringsut gelisah membuat wanita yang telah duduk pada kursi di sampingnya menyiratkan tawa gelinya.


Maudy heran dengan tingkah itu, tidak biasanya pria dingin itu mendapatkan rasa gelisahnya.

__ADS_1


"Gue ada acara nyambut yayasan di sini, gue nginep di villa sini juga,” sahut Maudy.


"Gitu ya?" Sammuel kian gelisah, pasalnya ia takut istrinya tiba kala ia sedang bersama wanita lain. Jika terjadi hal itu, maka jelas ajan membuat suatu kesalah fahaman bagi istrinya.


"Lo sendiri ngapain di sini?" ucap Maudy di senyum manisnya kala ia menatap kagum wajah pria yang sudah belingsatan di sana.


"Ngurusin kerjaan." Sungguh enggan Sammuel menyambut perbincangannya hingga ia berbicara dengan nada sebalnya.


"Sendirian?" tanya Maudy.


"Berdua sih, cuma__ eh lo ga takut kena cekrek paparazi apa?" ujar Sammuel mengalihkan bahan perbincangan.


Namun rupanya Maudy sengaja menggodanya, ia menyondongkan dadanya untuk memperlihatkan sesuatu yang di yakininya akan membuat kaum adam terkesima menatapnya.


"Lah gue ga ngapa-ngapain ini, cuma ngobrol sama lo doang kok,” sahut Maudy.


"Serah lo lah.” Sammuel berucap seolah berpasrah diri, nyatanya suatu siasat telah terbersit dalam ingatannya .


Kini Sammuel mulai menyiratkan senyuman laknatnya di mana pertanda buruk akan terjadi, rupanya siasatnya kali ini ia ingin membuat sang istri cemburu terhadapnya.


"Lo ga usah takut kali, lo juga ke sini ga sendiri kan?" imbuh Maudy.


"Masalahnya dia lagi pergi."


Kini Maudy lah yang menyiratkan senyuman misteriusnya, tak lain dengan Sammuel iapun mengatur sebuah siasat dalam benaknya. "Kalo gitu gimana kalo kita ngobrolnya di dalem aja?"


"Ogah ah!" tolak Sammuel secepat kilat.


Bukan Sammuel namanya jika tidak dengan mudahnya menerka keinginan batin lawan bicaranya, terlihat dari nada bicara wanita itu yang di buat manja seolah sedang merayu.


Bahkan kini Maudy kian menebar pesonanya dengan menyilangkan kedua kakinya, memberikan kesan manis di dalamnya. Pandangan matanya melekat kagum memancarkan aura penuh pesona di dalamnya.


Namun sangat di sayangkan, Sammuel menepis pandangannya tanpa melirik sedikitpun ke arah wanita yang duduk di sampingnya.


"Jangan nyalahin gue kalo muka lo masuk infotiment,” seru Maudy memancing agar tatapan pria itu menuju dirinya.


"Salah lo lah, ngapain juga nemuin gue?" Kembali Sammuel gelisah kala mengingat pernyataan wanita itu yang di benarkan olehnya.


Sammuel takut jika kali ini ada seorang wartawan yang tengah merekam kegiatannya dengan seorang wanita yang terkenal itu.


Sedang Maudy melirik kegelisahan yang terpampang nyata itu, membuat senyumnya kian melebar. "Lo takut amat, siapa sih yang lo bawa ke sini?"


"Art!" ujar Sammuel di iringi kelopak matanya yang terbuka lebar kala melirik ke arah sampingnya.


Sesuatu yang sangat tidak di inginkannya telah terjadi, ia tidak mengetahui jika sang istri telah tiba di tempatnya kini memijakkan kakinya.


Dari arah dua meternya, sang istri masih mengayunkan langkahnya menuju ke arahnya.


Tepat saat Tara berdiri di hadapan suaminya, ia memberikan sapaan senyumannya terhadap wanita yang kini telah memutar bola matanya.


Maudy geram dengan kehadiran wanita lain di sekitarnya yang akan membuat waktu pertemuan dengan lelaki pujaannya terhempas begitu saja.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2