Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 27


__ADS_3

Untuk menghentikan cumbuan ganas itu, Tara menggigit bibir bawah Sammuel namun tidak terlalu keras seperti dahulu kala yang membuahkan darah menetes dari sana. Kini gigitan itu tidak membekas, namun berhasil membuat Sammuel melepas cumbuannya.


Sammuel melepas genggaman tangannya yang menyegel pergelangan tangan wanita itu, kembali ia meracik minumannya meski jantungnya berdenyut tidak karuan.


Tara membeku merasakan kekhawatiran pada wajah pria di sampingnya yang terlihatnya sudah memerah, ia mengira Sammuel tengah menahan emosinya atas amarah yang tersulut karena ulahnya.


Trak!


Sammuel mengarahkan gelas itu pada Tara, tak lama benda itu terabaikan karena langsung disambut oleh tangan wanita itu, lantas meneguknya kembali dalam sekali tegukan.


Trak!


Kembali Sammuel mengarahkan gelasnya pada wanita yang masih menatapnya lekat-lekat. Namun kini, sang wanita menepisnya dengan cara mendorong benda itu, ini seperti serangan beruntun yang mendesak Tara untuk segera runtuh.


"Stop! Aku ngaku aku kalah," tolak Tara keras. Enggan mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan yang mana itu akan membuatnya tidak mampu tuk mengontrol sikapnya, ia menepisnya dengan ucapannya, membuat pria itu terkekeh dalam tatapan ledekannya menuju wajah belingsatannya.


"Ga percaya, terakhir aja lo minum lebih dari 3 gelas ga kenapa-napa," tutur Sammuel memaksa hingga ia kembali menyodorkan gelas itu pada wanitanya. "Cepetan keburu ga enak." Jelas itu adalah pemaksaan yang benar-benar tak menerima penolakan.


“Penindas,” umpatnya, tentu itu tak disampaikan melalui ucapan. Dengan terpaksa, Tara meraihnya lantas meneguknya hingga tak bersisa. Seusainya, Sammuel merebut paksa gelas itu lantas kembali meracik minuman itu.


"Sam, udah, aku jawab sekarang oke!" Tara merajuk lirih hingga kedua tangannya menggenggam lengan Sammuel. Memelas dan meminta pria itu untuk berhenti mencekokinya dengan minuman racikan itu.


"Ga! Gue bukan orang yang suka ingkar janji," tepis Sammuel yang berteguh hati tidak akan mengabaikan permintaan yang telah terucap itu. Seolah ini merupakan pembalasan dendam pada seseorang yang sudah membuat dirinya menjadi seperti ini, tentu saja itu hanya kiasan semata.


Tara pasrah, kembali ia menumpukan dagunya pada bahu sang pria. "Ajarin aku, biar lain kali aku yang racikin buat kamu." Entah ini adalah pengalihan agar Sammuel berhenti, atau memang wanita itu yang tertarik untuk membuat minuman seperti itu, yang jelas Sammuel berhenti sejenak akibat perkataan itu.


Sammuel menatap sekilas wajah yang masih tertanam di atas bahunya, menyiratkan tawa kecil ledekannya, lantas kembali pada kegiatannya. "Lo yakin masih mau ketemu gue lain kali?" ujarnya penuh godaan, mempertegas tebakannya jika wanita itu sudah menerima tawarannya.


Tara mengaku kalah, ia malu hingga mencubit pinggang Sammuel yang membuat empunya meringis pelan.


Trak! Suara entakan itu di sambut Tara dengan meraih gelas yang disodorkan Sammuel, lagi dan lagi ia meneguknya dalam sekali tegukan.


Trak! Ke lima kalinya Sammuel menyodorkan gelas itu yang langsung diraih Tara bahkan meneguknya hingga habis tak bersisa. Inilah Tara yang biasanya, seseorang yang mampu mengonsumsi banyak alkohol.


Usai sudah, Sammuel menyandarkan punggungnya pada penyandar sofa, diraihnya sebelah tangan Tara agar larut dalam dekapan sebelah tangannya. "Baru kali ini gue dikerjain cewek," ucapnya dengan melenguh, lantas mengembuskan napasnya, seolah telah melega setelah bekerja dengan kerasnya.


Tara sudah kehilangan kendalinya atas pengaruh minumannya, namun masih mampu mengontrol dirinya, kepalanya menyandar pada dada sang pria hingga tertunduk lemas di atas sana. "Kapan aku ngerjain? Aku cuma ga bisa ngeracik sendiri, makanya ajarin aku," sahutnya yang segera disambut tawa gemas oleh pria yang kini menarik dagu lancipnya dengan sebelah tangannya.


"Sekarang gue yakin lo udah mabok,” kata Sammuel diiringi tawa kecilnya saat melihat wajah yang masih terjepit dagunya oleh tangan jenjangnya kini telah memerah.


"Sembarang!” tepis Tara membela diri. “Aku belum mabok," imbuhnya, membuat sang pria kian menertawainya ketika sang tubuh mulai melunglai.

__ADS_1


"Iya lo ga mabok, cuma pusing, ya kan?" balas Sammuel gemas, hingga tangan yang menjepit dagu lancip itu enggan diempaskannya dari sana.


"Ga pusing juga," sahut Tara tanpa arti saat sang mata yang tinggal separuhnya terbuka meresapi tatapan lekat pria itu.


"So? Janji lo?"


"Janji apaan?" Tara melengos, lantas melepas kepalanya dari dada itu membuat sang pemilik dada menatapnya penuh geram.


"Jawaban lo soal nikah sama gue?" tutur Sammuel penuh harapan jika untuk kali ini ia enggan kembali mendapat penolakan.


"Kamu yakin udah bikin aku mabok?" sahut Tara berkilah, matanya yang tinggal separuhnya terbuka sudah tidak dapat disembunyikannya, itu membuat pria yang masih menjepit dagunya – dengan jemari tangan kanannya— tergelak gemas untuk tidak mengecup bibirnya.


"Jangan ngelak lagi, oneng!" seru Sammuel tegas, sekeras angannya yang sudah ingin mendengar jawaban dari mulut yang kini mengerucut di sampingnya, setelah ia melepas jepitan pada dagunya menggantikannya dengan menepuk gemas keningnya.


"Kamu kan orang yang suka nepatin janji, janji kamu bikin aku mabok dulu baru aku jawab, sekarang lommppp ....”


Sudah telanjur gemas, Sammuel membungkam mulut mungil itu dengan mulutnya. Ia memaksakan memberikan cumbuan yang berkesan gemas di sana.


Namun, Tara mendorong paksa dada Sammuel dengan kedua telapak tangannya agar cumbuannya terlepas. Benar adanya, sang pria melepasnya tanpa perantara.


"Kamu mau maen curang?" pekik Tara tanpa terkendali akibat alkohol sudah menyusuri setiap urat nadinya.


Tara tertawa menyertai kemenangannya yang telah berhasil menggoda pria yang kini menatapnya penuh picingan. "Ya kamu tepatin janji kamu dulu dong."


Sammuel melenguh lantas membawa pipi setengah cubby itu dalam kedua telapak tangannya. Dikecupnya wajah itu berkali-kali tanpa melewatkan objek yang ada di sana, mulai dari kening, mata, hidung, pipi, dagu hingga berakhir pada bibirnya.


"Kamu bisa ga jangan nyosor terus kaya gini?" protes Tara menolak halus, menepis kedua tangan dari wajahnya yang langsung mendapat persetujuannya.


Suasana romantis itu terlerai oleh kehadiran Alina yang memanggil wanita penghibur di sana dengan nada khawatirnya.


"Sorry ganggu, Sir. Vara, ada tamu nyari kamu." Alina melirih membuat Tara bergidik ngeri.


Sesuatu telah terjadi padanya. Ia pun mengingat itu. "Cewek tua?" tanyanya.


Alina mengibaskan tangannya pertanda Tara harus menghadapnya. Tara yang mengerti maksud dari bahasa tubuh wanita itu, ia segera bangkit dan berjalan hingga menghadap wanita berusia tiga puluh sembilan tahun itu.


"Iya cewek tua, dia bilang kamu punya utang sama dia dan jatuh temponya udah lewat," bisik Alina tepat pada telinga Tara.


Tara terperangah hingga membelalakkan kelopak matanya mendengar pernyataan pemimpinnya. Lantas menolehkan arah pandangnya pada pria yang telah menatapnya penuh curiga. "Sorry, Sam. Aku ada urusan dulu." Tanpa menunggu jawaban Sammuel, Tara segera menyeret tangan Alina menuju luar ruangan.


Sedang Sammuel masih terpaku dalam kecurigaan dan keheranan yang meresapi setiap urat kepalanya.

__ADS_1


Setelah Tara berhadapan dengan wanita berusia lima puluh dua tahun itu, wanita yang saat ini tengah didampingi dua pria bertubuh kekar sebagai pengawalnya, ia segera menyiratkan senyuman palsunya.


"Nyonya Gerta, apa yang membawamu kemari?" Tara menyapa hingga menyodorkan tangannya untuk berjabat dengan wanita garang itu.


"Menagih janjimu." Uluran itu tidak dibalasnya dengan uluran lagi melainkan dengan tatapan sinisnya. Tangannya dibiarkan tergantung begitu saja.


Tara menatap dua pria bertubuh tinggi nan kekar yang berada di belakang tubuh Gerta, berharap sesuatu tidak terjadi padanya. "Maaf sekali, Nyonya. Apa bisa saya minta tenggang waktu lagi?" Tangan itu melunglai tanpa ada balasan sebelumnya.


"Sudah cukup saya memberikan waktu untukmu,” ketusnya tegas penuh ancaman.


Tara membeku hingga membisu, isi kepalanya berputar seraya mencari jalan keluar untuk menyelesaikan masalah dengan lintah darat yang berada di hadapannya ini.


"Untuk kali ini saja, bisakah Anda memberi keringanan?" pinta Tara dengan merajuk. Hanya rajukan serta lirihan yang terbersit dalam ingatannya untuk menyelesaikannya saat ini. Berharap usaha yang dilakukannya berhasil. Namun harapannya sia-sia saja tatkala melihat ekspresi pada wajah wanita itu tampak sangat jahat dan lebih buruk dan mengerikan dari sebelumnya. Sepertinya kalimat yang dia lontarkan bukan membuat wanita itu luluh, melainkan makin marah, geram dan emosi.


"Saya sudah bilang ga mau tau. Atau sesuai perjanjian, saya akan menyebar informasi keberadaan kamu pada semua orang yang kamu utangi. Atau mau mereka yang bertindak?" Gerta menunjuk dengan dagunya pada kedua pria yang berada di belakangnya. Wanita itu memberikan pilihan yang tak ada satu pun yang disukai oleh Tara, benar-benar tak memberikan keringanan dan jalan padanya.


Tara kian merancu, wajahnya terdunduk kaku, bahkan napasnya tersendat dalam tenggorokannya hingga membuatnya sulit mengatakan sesuatu. Sepertinya ini akan menjadi akhir dari dirinya, pilihan mana pun akan membuat dirinya amat menderita.


"Bukannya sekarang debt collector punya UU ITE-nya?" Suara berat nan serat milik Sammuel yang terlontar dari arah belakang Tara membuat wanita itu mengangkat wajahnya.


Tara menengokkan wajahnya pada asal suara tersebut, meski ia tahu persis dan merasa tak asing dengan siapa pemilik suara sensual yang memiliki ciri khas dingin itu. "Sam, ngapain kamu ke sini?" tanyanya pada pria itu, tapi kalimatnya diabaikan begitu saja oleh Sammuel, pria itu melangkah dan berjalan santai, seolah tak pernah mendengarkan pertanyaan itu, atau dia merasa jika pertanyaan itu tak cukup penting untuk diberi jawaban.


"Dia sudah melanggar janjinya." Gerta menunjuk Tara dengan dagunya.


Akhirnya langkah Sammuel menepi tepat di samping Tara. Wajahnya merekat pada samping kepala wanita itu membantu bibirnya menuju pada telinga wanita itu. "Lima puluh juta di muka buat nyumpel mulut siluman tua itu,” bisiknya tepat pada telinga wanitanya.


Hening.


Hanya suara lenguhan dari Tara yang mengisi suasana tegang itu. Ia tidak mengira akan menerima persetujuannya dengan cara seperti ini.


Sammuel menarik wajahnya dari telinga itu, ia mulai bersedekap memasang ancang-ancangnya. Kedua tangannya saling menyilang di atas dadanya, pasang matanya menatap wajah yang tertunduk itu.


Hingga Tara mengangkat wajahnya, ia menatap lirih wajah Sammuel seraya membuka mulutnya.


"Aku ga setuju," jawab Tara ragu-ragu membuat Sammuel tersentak dalam kejutannya yang lagi mendapat penolakan kerasnya.




__ADS_1


__ADS_2