
Udara pagi berhamburan menyejukan raga sepasang insan yang tengah di landa asmara, Tara dan Sammuel menikmati segarnya udara yang membaur di sekitar mereka yang kini sedang saling beradu tatapan penuh kasih.
Di atas kursi yang tersedia di ruang makan mereka menumpukan tubuhnya secara besebrangan. Bagi mereka santapan pagi yang mereka lakukan adalah rutinitas yang tidak pernah tertinggal sekalipun.
Di hari libur ini Tara telah mendapat janji dari sang suami yang akan mengantarkannya menuju kota kelahiran ibunya, mereka pun segera bersiap diri sebelum mentari meninggalkan sinarnya.
"Gue ga lihat si Jack, ke mana dia?" tanya Sammuel tepat saat roti santapannya habis tergigit olehnya.
"Mana aku tau!" sahut Tara berucap ketus kala rasa sebal menggerogoti angannya.
Emosi Tara berseru tanpa kendala lantaran sang suami memecah suasana romantisnya saat ia belum berpuas diri menatap wajah tampan yang selalu menjadi sasaran tatapannya dari mulai ia terbangun dari tidurnya hingga alam mimpi kembali menjemputnya.
"Udah balik gitu?" Seolah mengabaikan wajah yang mengkerut istrinya, Sammuel sengaja memancing amarah sang istri yang membuatnya selalu merasa gemas.
"Mungkin." Tara sudah enggan menyambut perbincangannya hingga dengan sengaja ia meneguk teh yang tersedia untuknya hingga habis tak bersisa.
Sementara Sammuel bersusah payah menahan bibirnya agar tidak memaparkan senyumannya kala rasa gemas itu kian bergejolak di dalam angannya, sesungguhnya ia ingin menerkam sang istri jika saja tidak mengingat akan waktu yang telah mengharuskannya segera bergegas diri untuk pergi.
"Udah sarapannya?" tanya Sammuel berbalas anggukan pekat dari istrinya.
Tanpa melontarkan suaranya, Tara beranjak dari tempat duduknya hingga melangkahkan kakinya untuk menuju tempat di mana kendaraan roda empat berbaris rapih di sana, begitupun dengan Sammuel yang membuntuti langkah kaki istrinya.
Setibanya mereka di tempat tujuan mereka, sebuah kejutan menghampiri Tara hingga membuat kelopak matanya terbuka selebar-lebarnya kala melihat Jackson yang sudah berdiri gagah di samping kendaraannya.
"Di sini kamu ternyata, kirain udah pulang." Tara menyindir di iringi senyum ledeknya.
Jackson membalas senyuman itu dengan senyuman penuh pesonanya membuat rasa kagum Tara menuntunnya untuk menatap lekat senyuman itu.
"Ngapain lo nongkrong di sana?" tanya Sammuel geram hingga menatap kejam wajah kakaknya.
Jackson tertawa kecil menyikapinya. "Mau ganggu kencan kalian."
"Jangan bilang lo mau ikut ke Bandung," tepis Sammuel menerka dengan pasti membuat batinnya bergumam tidak percaya jika pria itu akan benar-benar mengganggunya.
Jackson berdengung menyahutnya membuat Sammuel mengabaikannya, ia segera menekan tombol pada remote kendaraannya untuk akses membuka kuncinya.
"Emang mau ikut," ledek Jackson menyahut ucapan Sammuel.
Tara berdecak seraya memutar bola matanya mewakili rasa jengahnya, ia enggan jika pria itu menguntit kegiatannya bersama keluarganya saat nanti.
Tanpa ingin melontarkan tolakannya, ia membuka pintu mobil bagian penumpang milik suaminya dengan kasarnya, lantas ia masuk ke dalamnya dengan gaya yang begitu kasar.
Sammuel pun mengambil posisinya sebagai pengemudi, sedang Jackson masuk ke dalam kendaraan roda empat miliknya.
Keadaan kendaraan yang hanya dapat menampung dua orang itu membuat Jackson terpaksa berpisah dengan kekasihnya.
Kendaraanpun melaju menerobos padatnya lalu lintas di akhir pekan itu. Hingga berjam-jam kemudian mereka tengah tiba di dalam sebuah rumah yang telah di berikan Sammuel untuk istrinya.
Ckittttt..
Suara dari rem kedua mobil mewah itupun berkumandang di dalam area parkir itu, kini mereka tengah berdiri masih di ruang bawah tanah itu.
"Kalian tunggu di sini, aku mau ngurus kerjaan dulu sama ade aku," pinta Tara sebagai perintah kepada kedua pria yang berdiri di hadapannya.
"Ga! Gue ikut!" tukas Jackson menolak titah itu dengan tegasnya.
"Jack_" ucap Tara terpenggal oleh kalimat yang melantun dari mulut suaminya.
"Dia ga punya perjanjian sama lo sayang." Sammuel menatap ledek wajah istrinya membuat istrinya tertegun di sana. "Gue juga udah ganti perjanjiannya."
"Maksud kamu, kalian mau ikut aku ketemuan sama ade aku gitu?" Tara menatap lirih wajah suaminya seolah melarangnya untuk mengikutinya, namun Jackson lah yang membalas tatapannya.
Sementara Sammuel menatap Jackson yang membuat Tara mengikuti arah tatapannya dan melihat Jackson mengangguk di sana. Tara terpaksa berpasrah diri, hanya mampu menghembuskan napas kasarnya sebagai penepis rasa gelisahnya.
Sesungguhnya ia merasa lega akan hal yang di sebutkan suaminya yang berarti bahwa sang suami sudah berbesar hati akan menampakkan diri di hadapan keluarganya.
Tanpa bicara Tara pun kembali memasukkan tubuhnya ke dalam mobil mewah milik suaminya, begitupun dengan Sammuel serta Jackson yang mengambil posisinya seperti sebelumnya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mereka melajukan kendaraannya, menerobos kepadatan lalu lintas di hari yang telah menuju siang itu. Akhirnya mereka tiba di dalam sebuah mall terbesar yang terletak di pusat kota kembang itu.
Sungguh keadaan mereka membuat para insan yang memandangnya akan merasakan kejanggalannya.
Bagaimana tidak, jika Tara berjalan dengan rangkulan dari tangan kiri Jackson pada pundaknya yang berada di samping kanannya, sementara Sammuel berjalan di samping kirinya menggandeng tangan kirinya tak ayal menyatukan jari-jari tangannya.
Namun Tara hanya berdiam diri setelah mengingat jika ia menolaknya maka kedua pria itu tidak akan kunjung memenuhi perpintaannya, maka dari itu ia hanya mencoba menbiarkannya saja.
Kala itu, Tara menatap tajam ke arah sebuah toko pakaian di samping kanannya. Ia melihat seorang pria dewasa berparas manis tengah menggandeng seorang anak lelaki berusia 11 tahun, meski terhalang kaca penyekat ruang, namun ia masih mampu mengenali anak lelaki yang menjadi buruan tatapannya itu.
Jackson yang menyadari akan tatapan lekat tanpa berpaling dari wanita itu, ia pun mengarahkan tatapannya mengikuti pandangan sang wanita.
Makna lain terbersit dalam ingatan Jackson yang membuat senyumnya terpapar tanpa bisa di cegahnya.
"Kamu mau beli tas?" tanya Jackson kepada Tara.
"Ogah banget beli tas di tempat mewah begini, mending duitnya aku pake beramal," senggal Tara berseru nyaring namun tatapannya belum berpaling sedikitpun menuju bocah pria yang masih berdiri di hadapan kasir di sana.
"Lah terus liat ke sana sampe segitunya buat apa?" Jackson menutup mata Tara dengan telapak tangannya yang senggang membuat Tara mendelik kesal.
Tara jelas menyesali akhir dari pelepas rindunya yang di lakukan Jackson dengan sengaja itu, sudah enam bulan lamanya ia tidak pernah kunjung menjumpai anak itu.
"Aku liat anak_ maksudnya bapaknya anak_" ujar Tara terbata-bata seraya mengalihkan pandangannya sebelum lehernya cidera karna terkilir.
"Bapaknya anak siapa?" Sammuel menggodanya di iringi tawa kecilnya tanpa acuh mengabaikan ucapan kikuk istrinya, jika saja ia mencurigainya maka sesuatu yang tersembunyi akan terungkap dengan mudahnya.
Tara mengabaikan pertanyaan suaminya tat kala menghentikan langkahnya membuat kedua pria yang mengapitnya mengikutinya.
Dari arah dua meternya, seorang gadis cilik berusia dua tahun berlari menghampirinya seraya menengadahkan kedua tangannya membuatnya melepas jari-jari tangannya dari tautan jemari tangan suaminya.
Sammuel meruntuk dalam benaknya mewakili emosinya atas tingkah sang istri yang terlihat seperti menolaknya, namun segera emosinya mereda kala Tara menghempas keras tangan Jackson dari pundaknya.
Kini Tara merunduk meraih tubuh mungil itu dalam pangkuannya. "Permen dari mana ini Veve?" tanya Tara seraya merebut sebuah makanan manis itu dari tangan mungil si gadis cilik.
"Buat mommy," ujar si gadis cilik dengan nada imutnya membuat Tara tidak bisa jika tidak mencubit gemas pipi cubbynya.
"Lo punya anak yang hidup juga?" ujar Sammuel bernada ketus kala ia telah memendam emosinya atas kesalah fahaman terhadap istrinya, ia mengira jika si gadis cilik adalah anak yang di sembunyikan istrinya.
Pria yang terlihatnya saat lalu adalah mantan kekasihnya sebelum ia bertemu kembali dengan Jackson tiga tahun silam, atas dukungan sang pria ia dapat membesarkan anaknya dengan tangannya sendiri.
Namun perjalanan dari kisah cintanya berakhir tragis kala sang pria di pergokinya telah berselongkuh dengan puluhan wanita.
"Berisik! Kalian bisa ga_" pekik Tara begitu nyaring, namun terpenggal kala ia melihat adik ipar serta adik kandungnya telah berdiri di hadapannya.
Aldi serta Keyla saling berpandang melihat keadaan di hadapannya, mereka mebatin penuh pertanyaan setelah menilik dua orang pria yang berdiri di samping kiri kanan kakaknya.
Mereka tidak dapat menerka siapakah suami dari kakaknya, namun pertanyaan itu terpendam di dalam lubuk hati mereka masing-masingnya saat sang kakak menatapnya penuh rasa heran.
"Loh Caca ke mana?" tanya Tara saat tidak melihat adik keduanya berada di sekitarnya.
"Ketemuan sama temen-temennya," jawab Keyla bersambut senyuman dari kakaknya, setelahnya ia menatap ke arah Sammuel membuat kakaknya mengikuti arah pandangnya.
"Oh ya kenalin_" ujar Tara terpenggal ucapan suaminya.
"Suaminya Tara, Sammuel." Sammuel mengulurkan tangannya yang langsung di sambut Keyla dengan jabatan tangannya, berlanjut mengulurkannya kepada Aldi.
Setelah uluran tangan itu terlepas, Keyla menatap ke arah Jackson dengan picingan matanya seolah mempertanyakan sesuatu terhadapnya, Jackson yang dapat memahaminya, ia langsung mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan dirinya.
"Pacarnya Tara, Jackson."
Plak..
Tanpa aba-aba Sammuel memukul keras tempurung otak kakaknya hingga membuat jabatan itu terlepas dengan mudahnya.
"Kenapa lo? Salah emang?" ujar Jackson penuh cibiran di sertai senyuman sinisnya.
"Lo udah putus kemaren bukan?" jengah Sammuel di buatnya hingga ia menatap sadis wajah kakaknya.
__ADS_1
"Melatinya aja belom gue terima." Jackson menimpal dengan seringai halus datarnya membuat Sammuel terkekeh geli.
Sementara Tara membahakkan tawanya saat mendengar kata melati dari mulut pria di samping kanannya, membuat Sammuel merasa lega dengan adanya ketenangan serta keceriaan yang terpampamg dari istrinya.
"Udah udah, kita cari tempat makan siang dulu oke, aku laper nih," ujar Tara berseru titah tak lantas menatap bergantian ke arah Sammuel serta Jackson. "Al, Key kalian juga belom makan kan?"
Aldi serta Keyla mengangguk setuju sebagai jawabannya, tanpa banyak bicara Tara segera melangkahkan kakinya di buntuti ke empat insan di belakangnya.
Akhirnya merekapun sudah menjadi penghuni enam kursi yang besebrangan terhalang meja panjang yang terletak di sebuah rumah makan sea food.
Seperti biasanya, Tara akan di apit dua pria di sampingnya serta satu bocah cilik dalam pangkuannya, sementara Aldi serta Keyla duduk besebrangan dengan mereka.
Hidanganpun telah tersedia, dengan lahapnya Tara menyantap makanannya lantaran mendapat suapan dari dua pria di sampingnya, sudah enggan ia menjelaskan hubungannya dengan kedua pria itu pada adiknya hingga ia hanya bisa pasrah menerima perlakuan mereka.
"Kak soal kostan mau ngomong di sini?" ucap Aldi rau-ragu kala melihat kakak iparnya masih asik meresapi kegiatannya.
"Hmm." Tara hanya mampu berdengung lantaran mulutnya kini menerima suapan udang dari suaminya.
"Kamarnya udah full di isi kak, cuma kalo boleh aku kasih pendapat buat yang di Kota, harusnya harganya di naikin dikit, bedain sama yang lain," sahut Aldi penuh rasa segan saat menjabarkan keinginannya, namum berbalas tatapan tegas dari kakak iparnya.
"Ga bisa! Yang di kota udah jadi daerah macet, kalo harganya di naikin pasti susah lakunya," balas Tara tegas tanpa di iringi tatapannya lantaran kini ia telah berpusat pada suapan si gadis cilik.
"Bukan gitu kak_"
"Aldi, kakak kasih tau, dalam bisnis jangan serakah. Niat kakak bisnis itu awalnya buat nyari untung banyak bukan untung gede." Tara menimpal dengan tegasnya bahkan membuahkan tatapan kelam pada adik iparnya.
Sammuel yang telah mengulurkan tangannya yang berisi udang pada mulut istrinya, segera melepas uluran itu kala batinnya terkejut ngeri melihat nada tegas yang berhasil mendongkrak rasa takutnya.
"Cuma dikit kak, lagian juga itu buat yang di kota aja."
"Al, kamu mau tau alesannya? Kalo buat yang di kota itu rencananya buka buat mahasiswa jadi kalo di naikin dikit pasti susah juga lakunya." Tara sudah terlampau emosi saat titahnya mendapat protesan dari adiknya, jantungnya mulai berdenyut nyeri membuatnya meraih gelas minumannya tak lantas menyeruput isinya untuk menyegarkan otaknya.
Aldi rupanya mengerti dengan maksud Tara hingga ia hanya dapat menganggukkan kepalanya tanpa ingin menimpali kembali ucapan yang bernada keji itu.
Sementara Jackson di sana mengelus puncak kepala Tara mewakili rasa kagumnya, tidak sia-sia selama ini ia mencurahkan kasihnya pada wanita yang begitu cerdas menurutnya meski kasihnya tidak pernah terbalaskan sedikitpun.
Sedang Sammuel menatap wajah istrinya, menyemburkan pujiannya hanya dengan bahasa tunuhnya. Sangat di sayangkan baginya kala ia membantu mengupas udang untuk sang istri hingga ia tidak dapat mengelus puncak kepala itu bahkan kesulitan menepis tangan yang mengelus puncak kepala istrinya.
"Dia adik kandung lo Art?" Sammuel menunjuk Aldi dengan dagunya.
"Dia ipar aku," balas Tara.
"Oh yang tau duluan lo udah kawin sama gue ya?" ujar Sammuel berniat penuh hiburan.
Tara terkekeh mengingat kejadian yang di sebutkan suaminya. "Ya, kamu masih inget juga."
Aldi terhentak mendengar pernyataan Sammuel hingga menyibak suatu makna, benar Sammuel lah suami dari kakak iparnya, lantas apakah benar Jackson adalah kekasih kakak iparnya?
Untuk mendapat jawabannya sudah di luar batas otaknya kala melihat kegiatan romantis dari tiga insan di hadapannya yang masih berlangsung hingga kini.
"Buat rincian akutansinya nanti aku kirim ke E-mail kakak ya," ujar Aldi untuk mencabik renungannya sendiri.
"Uangnya transfer aja ke rekening yang baru kakak kasih kemarin ya Al," sahut Tara.
"Siap kak."
Hening mengambil alih, membaur mengukur suasana canggung di sekitar tat kala dua pria yang memiliki ikatan darah itu saling memberikan tatapan kejinya.
Sammuel geram dengan tingkah kakaknya yang selalu meraih kesempatan untuk dapat menebar pesonanya terhadap istrinya, seperti sekarang ini saat tangan kakaknya menopang di balik pinggang istrinya.
Sesungguhnya Jackson ingin menggoda adiknya saja, namun keberuntungan di dapatkannya saat ia berpuas diri menikmati kegiatannya.
Akhirnya acara santap menyantap makanan itu usai, dan merekapun beranjak dari tempat itu untuk menggapai tujuan selanjutnya.
•
•
__ADS_1
•
Tbc