Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 90


__ADS_3

Sammuel sudah menapakkan kakinya di dalam perusahaannya, dalam langkah gagahnya yang selalu memancarkan aura dingin nan wibawanya ia mengedarkan pandangannya ke samping kirinya di mana tempat receptionist berada.


Matanya memicing kala melihat dua orang receptionist berdiri menyambutnya di sana, namun ia tidak melihat istrinya berada di sana.


Nicky yang selalu membuntuti langkah atasannya, ia faham betul dengan pergerakan Sammuel yang sejenak menghentikan langkahnya di hadapan kedua pekerja penyambut tamu itu.


Nicky merekatkan jarak pada atasannya, lantas ia mendekatkan bibirnya pada telinga atasannya, sebelah tangannya mengulur menutup bibirnya. "Bini lo pindah bagian." Tutur Nicky berbisik.


"Ke mana?" Janggal Sammuel memekik tidak percaya.


"Jadi sekertaris GM." Kembali Nicky menyahut dengan bisikan lembutnya.


"Sejak kapan?"


"Hari ini, tapi udah dapet pelatihan selama dua bulan ke belakang."


"Siapa yang udah mindahin dia?" Tanya Sammuel dalam angannya yang menjanggal pekat atas siasat pemindahan jabatan itu.


"Bapak Presdir."


Sammuel tercengang, tidak menerima keputusan dari orang yang di katakan asisstantnya saat tadi.


Seolah melega setelah mendapat jawaban. Kaki Sammuel kembali mengayun yang masih di buntuti Nicky di belakangnya.


Langkahnya menepi pada elevator khususnya, setelah memasuki elevator itu, ia menekan tombol bertuliskan angka 30 yang tersedia di sana.


Tibalah Sammuel di hadapan pintu ruang President Direktur, tanpa mengetuk pintu, dengan datarnya ia membuka pintunya lantas memasuki ruang itu yang berakhir mendaratkan bokongnya di samping kakaknya yang duduk pada sofa di tengah ruang itu.


Jacksonpun tidak menyambutnya, ia tidak mengalihkan arah pandangnya yang berpusat terhadap layar alat medianya.


Begitupun dengan Kelvin yang duduk di samping Jackson, perhatiannya tidak teralihkan pada tamu atasannya.


"Lo ga ngomong soal sekertaris buat gue?" Sambut Sammuel dengan runtuk keluhannya.


"Yakin lo terima dia kalo gue ngomong duluan?" Balas Jackson meski matanya masih tidak beralih sedikitpun.


"Lo tau sendiri gue anti punya sekertaris, lo malah maksa gue." Sammuel menyela kalimatnya untuk menahan amarahnya yang sudah merangkak di dalam jiwanya. "Ga takut tuh cewe gue apa-apain?"

__ADS_1


Jackson terkekeh seraya melepas pandangannya pada wajah adiknya. "Kalau dianya mau lo apa-apain sih gue ga masalah." Balasnya tak acuh dengan meraih bungkusan rokok yang teegeletak di atas meja. "Jess, bikinin kopi buat dia." Perintahnya menatap Jesslyn yang duduk di tempatnya biasa melakukan pekerjaannya.


"Lo jangan nyesel kalo gue berhasil apa-apain tuh cewe." Telunjuk jenjang Sammuel mengacung pada wajah Jackson mempertegas ancamannya, namun rupanya kakaknya membalasnya dengan tawa kecilnya.


"Gue pikir lo ke sini mau bilang makasih sama gue." Balasnya penuh sindiran membuat sang adik menatapnya penuh dendam.


"Makasih punggung lo bolong, lo yang maksa cewe lo buat jadi sekertaris gue masa gue yang harus bilang makasih?" Sewotnya bersungut-sungut tidak terima.


"Bukan buat itu kadal, gawean lo tiga bulan kemaren gue yang handle semua." Jawab Jackaon di balas senyuman simpul oleh adiknya yang sudah berhasil merebut bungkusan rokok miliknya.


"Gue tau itu." Ucap Sammuel tersendat kala ia menyulut batang rokoknya. "Buat itu gue sudi bilang makasih."


Jackson menepuk pundak adiknya, menyebar ledekannya dari gerakannya. "Lo kelamaan di sana Sam."


"Tau sendiri nenek tua itu pasti maksa gue tinggal lama." Ujarnya melepas rasa kesalnya dengan nada sebalnya membuat Jackson kembali terkekeh, ia fahan untuk itu.


"Lo ke makam nyokap ga?"


"Pasti!" Jawab Sammuel di balas anggukan kagum oleh kakaknya. "Dia nanyain sisa anak-anaknya, katanya dia juga pengen liat anak-anaknya yang lain jenguk dia." Imbuhnya membuat Jackson melenguh dalam helaan napas rancunya.


Perbincangan terjeda kala Jesslyn datang menyerahkan secangkir kopi pada Sammuel.


"Thanks cantik." Ucap Sammuel penuh rayuan dalam tatapan pesonanya menuju wajah istri asistant President Direktur itu.


Jesslyn mengabaikannya, kembali ia pada kegiatannya semula.


"Lo berani rayu dia?" Jackson membalas tingkah adiknya dengan memukul pelan kepala adiknya.


"Dia tau kok gue brengsek." Balas Sammuel tak acuh.


Plak! Kini Kelvin yang mendaratkan pukulan pada kepala Sammuel.


"Bangke lo berani mukul atasan lo?" Umpat Sammuel penuh dendam, namun hanya untuk lelucon semata.


Sesungguhnya, mereka kerap kali melakukan kegiatan saling menyindir itu. Mereka telah bersama selama 10 tahun kebelakang hingga tali persaudaraan begitu rekat di rasakan mereka.


"Peduli setan, lo yang mulai duluan rayu bini gue kadal." Balas Kelvin tak kalah dendamnya namun membuat Sammuel menghapus jejak pada kepalanya dalam kekehannya.

__ADS_1


"Diakah alesan lo ga bisa jadiin cewe lo sekertaris lo?" Tunjuk Sammuel pada wanita yang membuat kepalanya mendapat pukulan, namun ucapannya tertuju kepada kakaknya yang sudah menganggukkan kepalanya di sana.


"Hmm." Jackson berdengung membalasnya lantaran mulutnya sibuk di menghisap rokoknya.


"Suruh aja dia jadi sekertaris gue, lo bisa bikin cewe lo jadi sekertaris lo." Dengan santainya Sammuel berucap bahkan kini menyeruput kopinya.


Plak! Kembali Jackson memukul manja kepala adiknya membuat secercah kopinya tertumpah ke atas lantai. "Gawean gue lebih ribet daripada gawean lo cunguk, dia ga bakal bisa ngejar pelatihannya."


Entah apa yang di pikirkan Sammuel, hatinya menyetujuinya namun perkataannya memutar ceritanya, hingga ia melampiaskannya pada kopinya yang di teguknya hingga habis tak bersisa. "Lo ga ngasih gue waktu buat mikir dulu apa?" Ia tersenyum penuh riang membuat Jackson menjanggal di sana.


Benarkah adiknya menolak tawarannya? Jika terdengar dari ucapannya memang demikian. Lantas apa makna dari senyuman lebar itu? Sudahlah, ia enggan memperpanjangnya. "Dia cewe gue Sam, gue cuma percaya sama lo buat nitipin dia."


Pengakuan Jackson rupanya membuat hati Sammuel mendapat goresan kecil. "Nyesel juga gue bisa di percaya sama lo."


Jackson kembali terkekeh menyikapinya. "Lo, mentang-mentang gawean lo udah gue kelarin malah asik nongkrong di sini ya." Putusnya dalam ledekannya.


Kini Sammuel yang terkekeh lantas menyodokkan rokoknya ke atas asbak yang tersedia seolah menyambut usiran halus kakaknya. "Gue tunggu alesan lo yang bisa bikin gue setuju tuh cewe jadi sekertaris gue." Lantas ia berlalu tanpa pamit dari hadapan kakaknya.


Jackson serta Kelvin hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah aneh dari pria yang kini telah hilang di balik pintu ruang kerjanya.


Jackson enggan memperpanjang tatapannya pada adiknya, kini ia kembali mengarahkan pandangannya pada layar alat medianya.


Namun Kelvin masih menatap pintu yang sidah tertutup rapat itu. "Bener-bener keras kepala tuh anak." Ucapnya kembali menggelengkan kepalanya.


"Gue mau liat sampai kapan dia kuat nahan." Cibir Jackson di sertai seringai bengisnya membayang perlakuan adiknya.


"Gue yakin sebulan lagi juga dia ngomong sama lo."


Jackson menggelengkan kepalanya seraya tersenyum miris. "Lo lebih tau dia dari pada gue kakaknya Vin." Lantas, menepuk bahu sahabatnya.





Tbc

__ADS_1


__ADS_2