
Kini Tara tengah berada pada jok penumpang kendaraan roda empat milik Jackson, di mana Jackson mengendalikan stir di samping kanannya.
Masih bersama si gadis cilik dalam pangkuannya, Tara kembali menggumamkan lirihannya dalam dilema antara harus memilih tugasnya atau menyetujui keinginan hatinya.
Padatnya jalanan dengan berbagai kendaraan yang membuat jalanan yang di lalui mereka mengalami kemacetan, tak lantas membuat Jackson meresapi keadaan Tara yang termenung sejak ia masuk ke dalam kendaraan roda empatnya.
"Art, kamu udah ga kerja di The Views lagi ya?" Tanya Jackson mengucapnya hanya untuk mencari bahan pembicaraannya saja. Namun nampaknya Tara memaknainya dengan maksud lain.
“Masih mau mojokin aku sama status hina aku ya? Pake ngomong di depan mami kamu segala." Protes Tara beraungut bahkan mengerucutkan bibirnya membuat pria yang duduk di samping kanannya menatapnya penuh gemas.
"Aihhh cewe imut ini, di mananya aku mojokin?" Jackson mencubit pipi Tara sejenak lantas mengusapnya membantu Tara menghapus jejak itu.
"Maaf tuan Dj, aku sekarang jadi receptionist di ZhanaZ group." Jelas Tara di sambut kejutan oleh Jackson.
Jackson terhentak hingga menatap lekat wajah Tara, pasalnya ia belum pernah melihat Tara di sana.
Tarapun membalas tatapan heran Jackson dengan tatapan janggalnya. “Kenapa? Ga pernah liat aku di sana ya?" Seolah tau isi hati Jackson, ia mengungkapnya segera.
Jackson menghembuskan napas kasarnya mengetahui jika wanita itu mampu mencerna isi hati orang lain. "Iya kenapa itu?"
"Karna aku kerja cuma sampe jam 1 aja. Dan apa cuma itu yang bikin kamu penasaran? Kenapa ga nanya aku tau dari mana soal kamu kerja di sana?" Cetus Tara membuat Jackson kian menggundam.
Cerdasnya Jackson dalam menimpal atau menyambut perbincangan tidak di sadari Tara. Hingga, "ya jelas lah pasti cewe itu yang ngasih tau." Ia tersenyum kikuk di akhir kalimatnya.
Tara kembali melega, pasalnya hal itulah yang di gumamkannya sejak memasuki kendaraan itu, pasalnya ia takut jika Jackson mengetahui hubungannya dengan suaminya. Jika Jackson memiliki pemikiran demikian, maka hidupnya sedikit terselamatkan.
Keheningan kembali melanda kala jalanan telah kembali lancar tanpa hambatan hingga mereka menepi pada sebuah kediaman mewah milik Celia.
Baru saja Tara menapakkan kakinya pada balik pintu masuk kediaman mertuanya, Celia meraih tubuh Queena dari tangan Tara lalu menyerahkannya kepada Jackson. Lantas ia menyeret tangan menantunya menuju ruang tempat mempersiapkan jamuannya.
Meski heran, Tara mengikuti keinginan mertuanya. Berjalan beriringan dalam seretan lembut tangan mertuanya.
"Kenapa ini mih?" Janggal Tara kala tiba di ruang tujuannya seraya mengedarkan pandangannya pada setiap sudut ruangan.
"Celia." Protes Celia penuh penekanan.
__ADS_1
"Ah iya Celia. Ga apa-apa lah manggil mami, toh Jackson udah ketemuan sama kita."
"Kalau begitu berarti kamu ngasih harapan sama dia." Penggalnya membuat Tara membisu seraya menghembuskan napas kasarnya.
Benar apa yang di katakan mertuanya. Tidak mungkin ia menghindari pria itu agar tidak memberikan harapannya, namun bagaimana dengan tugas dari suaminya? Apa yang harus di lakukannya? Isi kepalanya mulai penuh dengan risalah itu seakan ingin mengoyak tempurungnya.
Celia mulai meragu setelah mengetahui bahwa Tara tengah jengah dengan perbincangannya. “Ya udah sana kamu bikinin teh, tuh teh nya di atas nakas, air panasnya di kulkas sana." Hiburnya menunjuk dengan dagunya setiap objek yang berada dalam kalimatnya. "Bikin dua cangkir ya."
Tarapun mengikuti pandangan Celia untuk memahami tugasnya nanti. "Siapa tamunya, siapa yang punya rumahnya?" Runtuknya dalam tawa kecilnya seraya menggelengkan kepalanya.
Celia mengabaikan perkataan Tara dengan berlalu begitu saja dari hadapan Tara.
Sedang Tara melakukan tugasnya sesuai yang di perintahkan mertuanya.
Mertua, entah untuk lelaki yang mana ia menyebut kata mertua kepada Celia. Jackson ataukah Sammuel. Yang jelas ia masih menganggap Celia adalah mertuanya.
Di tengah kesibukannya, kehadiran Jackson yang membawa anaknya dalam pangkuannya membuat Tara menghentikan kegiatannya sejenak. "Lho Queen udah bangun?"
"Dia ga mau tidur kalau ga kamu yang meluk." Balas Jackson seraya melepas Queena dari pangkuannya di hadapan Tara.
"Mommy lagi bikin apa?" Queena mengacau dengan menarik kaos putih Tara meski harus berjinjit membuat Tara menunduk menatap wajah imutnya.
Queena kembali mengangguk antusias lalu melangkahkan kakinya dan duduk pada kursi yang tersedia di sana.
Sejenak Tara tertegun meresapi keadaannya seolah ia tengah memiliki sebuah keluarga kecil di mana sang anak serta suami berada di sekitarnya mengacau kegiatannya. Namun dalam senyuman penyenggalannya ia mencoba menyadarkan dirinya jika itu tidak akan terjadi.
"Kamu mau teh ga Jack?" Tawar Tara melihat ke arah Jackson yang tengah berdiri di samping meja makan membuatnya menahan tatapannya pada tubuh yang berdiri gagah di sana.
"Aku, kopi aja." Jackson merogoh toples yang berisikan camilan keripik di dalamnya hanya untuk sekedar mengalihkan arah pandangnya yang selalu berimajinasi liar kala melihat wanita di hadapannya.
"Kopinya di mana? Susunya juga?"
"Di belakang teh."
Tara menghentikan kegiatan yang tengah mempersiapkan dua cangkir teh itu, ia melangkahkan kakinya menuju tempat yang di sebutkan Jackson.
__ADS_1
Sayang sungguh sayang, letak kopi serta susu itu jauh dari jangkauan tangannya hingga ia berjinjitpun masih belum dapat meraihnya.
Jackson yang sedari tadi mencuri-curi pandang ke arah Tara, ia menghampiri Tara hingga mengangkat tubuh Tara dari arah belakangnya.
"Apaan sih Jack?" Protes Tara tanpa meronta.
"Ga nyampe kan? Aku bantu kamu biar nyampe."
"Sinting, bukannya ambilin malah ngangkat aku." Meski menepis kegiatan Jackson, Tara mengulurkan tangannya meraih apa yang di tujunya.
Baru toples kopi yang teraih tanpa susunya, Jackson telah menurunkan tubuhnya.
Hal itu membuat tubuh Tara kehilangan keseimbangannya tanpa persiapan. Akhirnya tubuh molek itu tergeletak di atas lantai marmer berwarna beige itu.
Kekhawatiran meluap dari jiwa Jackson, segera ia meraih tubuh Tara hingga larut dalam dekapannya. "Sorry."
Tara membeku meresapi dekapan hangat Jackson pada tubuhnya. Pikirannya kembali melayang pada hasrat dirinya untuk memiliki seorang pria yang berada di hadapannya itu.
Seperti dahulu kala saat ia belum menyandang status pernikahan dengan Sammuel. Jackson selalu hadir mengisi hatinya, memberikan kehangatan-kehangatannya untuk selalu menyambutnya.
Seolah mengetahui hubungannya dengan suaminya. Kini, kehangatan itu berkurang sedikit demi sedikit.
"Mommy cakit?" Queena di bawah sana melerai situasi romantis itu.
Jackson membeku, ingin rasanya menyelipkan anaknya ke dalam saku celananya. Beraninya ia mengacau kegiatan romantis yang sulit di dapatkannya.
Setelah tersadar, Jackson segera melepas dekapannya lalu merengkuh di hadapan anaknya. "Mommy ga apa-apa cantik." Ia mengusap puncak kepala anaknya.
Tanpa bicara lantaran hati masih bergejolak dalam asmara yang tidak di inginkannya, Tara melanjutkan kegiatannya.
Sedang Jackson membawakan susu permintaan anaknya, menyerahkannya pada Tara lantas ia membawa anaknya menjauh dari ruang itu.
•
•
__ADS_1
•
Tbc