
Suasana tegang telah berbaur di sekitar tiga insan yang telah berdiri di balik pintu ruang yang terdapat di dalam bangunan perusahaan pencahar langit di pusat kota Jakarta sore itu.
"Sam, buka sam!" Tara menggedor keras pintu masuk ruang yang terdapat di lantai 60 perusahaan milik keluarga suaminya itu. "Jack kamu bisa kan dobrak pintunya?" Ia menatap wajah Jackson yang masih berdiri tak acuh di sampingnya.
Jackson menghela napas kasarnya, marah terhadap kelakuan adiknya yang di rasanya terlalu kekanak-kanakan itu. "Ga bisa, kunci pintunya di designd dari baja, dia udah ganti paswordnya."
Tara melenguh pasrah, tidak tau apa yang harus di lakukannya untuk mencegah suaminya agar tidak berbuat hal yang mengerikan.
Sementara Nicky menatap ke arah Jackson yang sudah melipatkan kedua tangannya di dadanya.
"Kayanya dia bener-bener mau ngurung diri di sana," seru Nicky.
Tara melunglai, ia merengkuh berlutut di atas lantai berbalut marmer beige itu, kedua tangannya meremas keras rambut hitam terurainya, air matanya mengalir membanjiri wajah cantiknya.
Nicky cemas dengan keadaan wanita itu hingga membuatnya mengulurkan tangannya, meraih tubuh istri atasannya itu, di usapnya punggungnya membuat air mata wanita itu semakin deras mengalir.
Sedang Jackson masih berdiri di tempat dengan kedua tangan merogoh saku kiri kanannya, ia mengepalkan kedua tangannya di dalam sana untuk menyambut ucapannya kini.
"Sam, bini lo pingsan!" pekik Jackson tertuju untuk adiknya di dalam sana namun membuat tangisan kekasihnya terhenti seketika.
Tara menyadari ucapan itu tertuju untuk dirinya bahkan ia menyibak makna bahwa sang kekasih telah mengetahui jika dirinya adalah seorang istri dari pria yang mengurung diri di dalam sana.
Begitupun dengan Nicky, ia mendongkak menatap kejut dalam janggalannya mendengar ucapan atasan keduanya, ia bertanya-tanya tentang waktu sejak kapan kah pria yang berdiri di hadapannya mengetahui status hubungan itu.
Namun janggalan dari kedua insan yang masih bersimpuh di hadapan pintu ruang rahasia itu terpecah seketika kala pintu tersebut terbuka hanya separuhnya.
Krietttt..
Suara pintu itu membuat Tara, Nicky serta Jackson mengarahkan pandangannya pada pintu itu.
Dari dalam sana, Sammuel menarik paksa tangan kakaknya ke dalamnya lantas kembali menutup pintu itu dengan tergesa tak lantas menguncinya dengan rapatnya.
Setelah di dalam ruang, Sammuel kembali mendaratkan tubuhnya pada tempat semula di mana sebuah sofa tersedia di sana dan ia kembali meraih botol XO yang sebelumnya menjadi teman gundahnya, lantas meneguk isinya hingga setengahnya mengalir ke dalam tenggorokannya.
Kini ia menunduk menyembunyikan kepalanya yang di rasanya berat untuk terangkat membuat Jackson segera melangkah menghampirinya.
Jackson menggelengkan kepalanya tepat saat berdiri di hadapan adik ke duanya itu. "Cowo brengs*k kaya lo bisa juga frustasi kaya gini, Lo nelen obat yang di laci meja kerja gue?" Lantas ia mendaratkan tubuhnya tepat di samping kanan adiknya.
__ADS_1
Sammuel hanya menggeleng masih dalam wajahnya yang tertunduk untuk membalas ucapan kakaknya, sesungguhnya ingin sekali ia mengucapkan banyak kalimat, namun minuman beralkohol yang telah masuk ke dalam tubuhnya membuat kesadarannya hilang separuhnya bahkan bibirnya terasa sulit untuk terbuka.
Jackson tersenyum sarkas mengingat ucapan Nicky tentang obat itu yang ternyata telah mengelabuinya hanya agar ia sudi melepas kegiatannya untuk membujuk adiknya. "Baguslah, ada yang khawatir di luar sana tuh."
Sammuel menyiratkan senyumnya seraya melirik kakaknya meski matanya sudah tinggal separuhnya terbuka lantaran pengaruh minuman alkohol yang di teguknya sebelumnya, namun ia masih dapat mengontrol emosinya.
"Kenapa cuma gue yang lo seret ke sini?" imbuh Jackson tat kala sang adik masih bungkam di sana.
Masih tidak mendengar suara adiknya, ia meraih botol yang berada pada genggaman adiknya, lantas menuang isinya pada gelas yang tersedia bekas Sammuel di sana.
Sammuel menarik dalam napas rancunya sebelum melontarkan kalimatnya lantaran rasa ragu masih menyelimuti angannya.
"Gue_ suami cewe lo!" Akhirnya, Sammuel mengucapnya dengan lantangnya yang membuat rasa lega menyeruak membakar angannya.
"Tau," balas Jackson dengan nada datarnya namun berbalas tatapan kejut yang melekat dari adiknya pada wajahnya.
"Dari mana lo tau?" tanya Sammuel.
"Dari dulu, semua tentang lo, bini lo, kakak gue, semua ade-ade gue, gue tau termasuk si Devand!" sahut Jackson berseru tegas setegas tatapannya pada wajah adiknya yang telah melebarkan kelopak matanya. "Yang gue ga tau isi hati lo." Lega sudah yang ia rasakan kini, namun entah mengapa emosinya tersulut seketika hingga ia meneguk minumannya dalam sekali tegukan, meredakan nyeri pada hatinya.
Sammuel menggelengkan kepalanya seraya menyiratkan senyuman ledeknya menyenggal sikap bodohnya, ia melupakan jika kakak keduanya tidak akan dapat di kelabuinya dengan mudahnya.
"Tapi malah lo yang jatoh!" tebas Jackson berucap tegas.
Jackson merogoh bungkusan rokok dari dalam saku celananya lantas mengambilnya sebatang dan di sulutnya untuk pelengkap perbincangannya yang di rasanya akan membuat emosinya kian membuncah hingga mencari bahan pelampiasan pada batang rokok itu.
"Gue ga yakin kalo gue udah jatoh, gue cuma masuk perangkap gue sendiri aja," ujar Sammuel tak lain memendam emosi di dalamnya mengingat akan hatinya yang telah terjatuh pada rangkulan hati wanita yang telah menjadi istri rahasianya.
Lantas, Sammuel meraih paksa batang rokok dari tangan kakaknya, ia pun ingin mencari pereda sakit pada batinnya.
"Lah senjata makan kadal dong jadinya?" ujar Jackson menghibur sang adik yang bahkan sekaligus menghibur dirinya sendiri.
"Jack." Sammuel menghisap rokoknya lantas menghembuskan asapnya dengan kasarnya mewakili emosinya yang tertahan. "Gue terlalu brengs*k buat dia."
"Ya ubah lah." sahut Jackson melirih pedih mengingat jika kini adalah saatnya ia melepas wanita yang selalu menjadi incaran hatinya.
Kini Jackson kembali menuang minuman itu ke dalam gelas yang tersedia.
__ADS_1
"Entah bisa apa engga," sahut Sammuel.
Plok!
Gelas berisi minuman itu mendarat pada pipi Sammuel, lantas tanpa berkata ia meraihnya dan meneguknya perlahan.
"Dari awal gue udah dukung lo, gue tau dia ga mau sama gue." Kembali Jackson menuang minuman itu namun kini pada gelas yang berbeda. "Gue bisa atur biar dia lepasin gue tanpa harus mikirin tugas dari lo."
Teg!
Sammuel membatu menyikapi ucapan itu, ia meyakini jika kakaknya mengetahui mengenai tugas yang di berikannya terhadap istrinya.
Dengan itu ia menatap lirih wajah kakaknya tak ayal untuk rasa terimakasihnya. "Baru kali ini gue ngerasa punya oppa."
"Oppa oppa pala lu benjol, lo bencong emangnya?" Hibur Jackson terkekeh lantas menyeruput minumannya perlahan.
Sammuel memutar-mutar isi gelasnya, membayang ingatan tentang perasaannya terhadap istrinya. "Gue mau lamar dia bulan depan, gue harap lo udah mutusin dia sebelum itu."
"Oke!" Meski tersenyum, batin Jackson melirih yang hanya di obatinya dengan meneguk habis minumannya. "Lo udah tenang kan sekarang, gue masih ada meeting, gantiin Dirut sial*n ini," ujar Jackson di sela telunjuknya yang melenting di hadapan wajah adiknya.
Sammuel tersenyum lantas kembali menatap lirih wajah kakaknya lalu menyimpan gelas kosongnya ke atas meja. "Lo bisa atur soal si Hans juga?"
"Gampang!" sahut Jackson membuat Sammuel melega di sana.
"Thanks Jack, gue jelasin sama bini gue dulu kalo gitu, lo bisa suruh dia ke sini?"
Jackson mengangguk ragu membalasnya, pasalnya ia merasa terlalu cepat untuknya melepas kepergian wanita pujaannya untuk menyerahkannya kepada adiknya.
Tanpa kata Jackson beranjak melangkahkan kakinya, membawa kekecewaan di dalamnya, menukar kebahagiaannya untuk adiknya.
Lega memang hatinya melega, namun pedih yang terasa lebih menutupi rasa lega nya, biarlah ia mengalah untuk adiknya kali ini, mau bagaimanapun Tara tidak mencintainya yang akan lebih membuat sang wanita bahagia dengan melepasnya.
•
•
•
__ADS_1
Tbc