
Suara dentuman musik mengalun nyaring di dalam ruang remang cahaya itu, mengiringi gerakan para insan di dalamnya yang tengah menyambut hari kelam pelepas penatnya. Setelah bekerja dan melakukan aktivitas seharian yang terasa monoton, memuakkan dan membuat stres, hal semacam ini menjadi pelipur pikiran.
Sammuel sudah berada di tengah kerumunan insan yang berada di dalamnya. Niat awalnya ia ingin menemui wanita penghibur incaran kakak keduanya. Nicky, pria itu mengekornya dari arah belakang tanpa mengatakan sepatah kata sama sekali, seolah dia hanyalah seorang bodyguard yang bertugas untuk mengawal majikannya –Yaitu Sammuel sendiri. Sammuel juga tampak tak sedang ingin berbicara dengan Nicky.
Dengan ekspresi yang agak mulai tak sabar, Sammuel masih setia menunggu sesuatu yang tak pasti. Namun, setelah satu jam lamanya ia duduk di atas kursi yang terdapat di depan bar, ia tidak kunjung menemukan batang hidung sang wanita yang seharusnya telah muncul di hadapannya, hingga seorang pria menghampirinya.
"Sam, lo nyari si Jack?" sapa Andre, ia sudah mengetahui maksud Sammuel yang biasanya mencari orang itu ke sana. Kini ia berhasil mendaratkan bokongnya di samping Sammuel, mengabaikan keberadaan Nicky yang ada di sana, pria itu juga sama sekali tak ikut duduk dan tak ada minat untuk mengucapkan kalimat apa-apa, ia hanya memandang sekilas pada Andre dan menyibukkan diri dengan hal lain setelahnya.
Sammuel mengangguk ragu sebagai jawaban dari pertanyaan itu, tangannya menyodorkan bungkusan rokok kepada lawan bicaranya sebagai tanda penyambutan sapaannya, tentu saja tawaran itu langsung disambut Andre dengan meraihnya.
"Dia cuti sebulan,” sahut Andre dengan santainya ia menyulut rokoknya ketika sang lawan bicara menyahutnya dengan anggukan ringannya.
"Lo tau alasan dia cuti?" tanya Sammuel penuh curiga jika saja rahasia sang kakak diketahui pria yang kini menggeleng di samping kanannya.
"Ga pernah ngomong tuh." Andre menyahut santai, ucapannya membuat Sammuel merasa lega di sana. Masalah akan muncul dan itu akan menyusahkannya jika rahasia-rahasia dirinya maupun saudaranya sampai terkuak dan tersebar.
"Baguslah."
Sesungguhnya Sammuel hanya bersandiwara saja mempertanyakan keadaan kakaknya itu lantaran gengsi untuk mengungkap tujuan sesungguhnya. “Kayaknya percuma juga gue dateng!” Sammuel berseru kepada sahabatnya dengan tatapannya sebagai penegas tujuannya. Lantas ia bangkit berdiri berniat ingin meninggalkan waktu setempat. Namun, Nicky menggeleng pertanda menahan gerakan sahabatnya dengan bahasa tubuhnya.
"Ga percuma kalo lo mau gabung bareng anak-anak," ajak Andre dalam peribahasanya membuat gerakan tubuh pria di samping kirinya terhenti seketika, membatalkan diri yang berniat meninggalkan tempat itu, rasanya dia agak tertarik dengan perkataan pria itu.
"Gabung di mana?" Kembali Sammuel mendaratkan bokongnya di atas kursi sebelumnya seolah menyambut ucapan Andre.
"Di room karaoke lah," jawab Andre yang santai, tetapi perkataannya berhasil membuat Sammuel mempertimbangkan. Sammuel merasa ia akan lebih ceria jika menunggu bersama rekan prianya. "Ada siapa aja?" ujarnya memastikan jika dirinya tidak akan menjadi orang asing. Karena jika itu yang akan terjadi, ia lebih sudi menghabiskan waktu sendirian saja. Toh, di sana pun ia akan terabaikan dan merasakan ketidaknyamanan.
"Anak-anak club si Jack semua, sih. Tapi lo ga usah canggung, semuanya kenal sama lo juga kok,” sahut Andre seolah tahu apa yang sedang Sammuel pikirkan, ia menenangkan dengan menepuk pundak pria di sampingnya membuat sang pria merasa jika ajakannya adalah sebuah paksaan.
"Ya siapa aja, bangke?" Sammuel geram tatkala ia tidak mendapat jawaban yang pasti. Orang yang mengenalnya jelas tak terhitung jumlahnya. Meski bukan selebriti, tapi dia orang yang berpengaruh, tentu saja akan banyak orang yang mengenalnya.
"Si Adit, si Daniel, sama gue doang,” jawab Andre mengonfirmasikan, Sammuel merasa lega. Sayangnya pria itu bukan lega karena mendengar nama-nama orang yang disebutkan oleh Andre, tapi dikarenakan pasang matanya menangkap sosok yang dia nantikan di antara kerumunan, Sammuel memaparkan seringai iblisnya saat wajahnya tersorot tajam tatapan wanita yang menjadi tujuan kedatangannya kali ini. Apalagi ketika wanita itu mendekat padanya, ke arah mereka.
"Hai, Sam.” Sapa Tara yang telah berdiri di hadapan Sammuel hingga senyuman ciri khasnya terlihat jelas oleh sang pria yang masih menyeringai penuh kemenangan ketika merasakan penantiannya yang selama ini pada akhirnya membuahkan hasil.
__ADS_1
Sammuel menyiratkan senyum lebarnya seolah membalas senyuman wanita yang berdiri di hadapannya, begitu pula dengan Nicky yang tersenyum lega.
Namun Nicky menatap lekat wajah anggun yang baru pertama kali dilihatnya. Ia meresapi tatapannya, membubuhkan rasa kagum terhadap paras cantik yang dilengkapi dengan rambut hitam sepinggang itu, lantas memandang tubuh tingginya yang memiliki lekuk pinggang bak biola. Sungguh membuatnya enggan menepis pandangannya, sungguh pemandangan yang eksotis. Ia akan menganggap ini adalah salah satu pemandangan yang tak boleh matanya lewatkan.
"Mau minum?" tawar Sammuel setengah paksa di kala tangannya menyodorkan gelas bekasnya kepada sang wanita yang telah melepas senyumannya. Seluruh fokus Sammuel teralihkan sepenuhnya pada wanita itu, benar-benar sudah mengabaikan keberadaan dua pria itu.
"Asal gelasnya baru," pinta Tara tanpa tahu malu membuat pria yang duduk di hadapannya terkekeh gemas tak lantas mengabulkan keinginannya dengan memanggil pelayan setempat.
Pergerakan Sammuel yang telah berpaling dari wajah anggun itu membuat pria pekerja pelantun musik di sampingnya mendapat waktunya untuk menilik wajah anggun yang dirasanya begitu menarik perhatiannya.
"Cewek baru lo, bro?" tanya Andre ragu-ragu. Pasalnya, ia melirik tubuh sang wanita yang terbalut pakaian mini yang bahannya itu diterkanya sebagai pekerja penghibur di tempat ini. Sammuel hanya menggeleng menjawabnya di kala ia berpusat diri menuangkan minuman ke dalam gelas yang telah tersedia di hadapannya. Jawaban itu tak memuaskan bagi Andre, lantas dia mengalihkan diri ke arah wanita itu.
"Lo LC di sini kan?" tanya Andre yang masih menatap ke arah wanita yang kini meluncurkan senyuman sebagai sahutan awalnya.
"Yap, Tuan Dj Andre," sahut Tara membuat Andre terkekeh geli. “Masa ga kenal sama aku?” imbuhnya terbengkalai lawan bicaranya kala sebuah tangan menyodor memberikan gelas berisikan Brendy kepadanya.
Tidak menolak bahkan mengoceh, Tara meraih gelas itu tak lantas meneguk isinya dalam sekali tegukan seolah rasa dahaga telah berseru dari tenggorokannya. Nyatanya, ia masih mengingat kejadian satu jam ke belakang bersama seorang pria yang begitu serupa dengan pria di hadapannya yang telah berbincang saling berbisik dengan rekannya.
Sedang Andre segera merekatkan jarak bibirnya pada telinga Sammuel memberi kalimat bisikannya di sana. "Pantes lo ga mau ngakuin dia cewek lo," bisiknya tepat pada telinga Sammuel. "Mana mau lo jadian sama LC di sini."
“Chears,” ajak Tara kepada tiga pria yang menjadi sorotan matanya kala mengedarkan pandangannya dan mendapat sambutan dari tiga pria itu dengan mengacungkan gelas masing-masing.
Dalam sekali tegukan Tara kembali menghabiskan minumannya hingga tak bersisa sedikit pun di dalam gelasnya membuat Sammuel menggelengkan kepalanya. Benar-benar wanita yang telah menjadi pakar dalam hal minum-minum, kemampuan minumnya mungkin bisa dimasukkan ke dalam World Record.
"Bener-bener lo jago minum ya." Sammuel menatap lekat tidak percaya menuju wajah anggun yang telah memerah itu. Bisa dibilang ucapannya adalah pujian.
Tara membisu, mengabaikan pernyataan Sammuel dalam tatapannya menuju wajah Nicky yang terlihat asing baginya.
"Lagi?" tawar Sammuel, tapi ucapannya terabaikan tatkala si wanita masih berpusat pandangan pada wajah sahabatnya. Hal ini membuat Sammuel mengalihkan pandangannya pada arah tatapan wanita itu hingga membuatnya sebal lantaran ucapannya terbengkalai. "Nicky, temen gue." sahutnya seolah –mau tak mau mengenalkan Nicky, menjawab tatapan janggal wanita di hadapannya, tak lantas merebut paksa gelas dari tangan wanita itu.
Nicky segera menyodorkan tangannya untuk berjabat yang langsung disambut Tara disertai senyuman manisnya.
"Hai, kak Nicky,” sapa Tara yang hanya mendapat balasan senyuman dari Nicky.
__ADS_1
Nicky kini merekatkan jarak bibirnya pada telinga Sammuel. "Cakep juga bro," bisiknya yang terbalas hanya dengan tawa kecil saja di saat tangannya sibuk menyodorkan gelas – yang telah berisi minuman beralkohol tinggi—pada wanita di hadapannya.
Sejenak Sammuel merenung, mempertanyakan hati kakak keduanya yang telah mendapat jawaban dari ucapan sahabatnya saat lalu. Ia menerka jika sang kakak memiliki ketertarikan pada wanita yang berada di hadapannya karena paras jelita itu.
Tidak! Ia menolak pengakuan yang menyatakan pujian untuk wanita itu. Ia berdalih jika Jackson menginginkan wanita itu atas rasa bersalahnya dahulu kala, karena kejadian naasnya 12 tahun silam.
Sementara keadaan Tara, tanpa ajakan bersulang, ia meneguk kembali minuman itu dalam satu kali tegukan.
"Hebat juga, lo." Kini Andre bertutur dalam tatapan kagumnya yang tertuju pada wanita yang telah mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.
Tara hanya tersenyum kikuk menyikapi ucapan pujian yang terasa ledekan olehnya itu. Percayalah, hingga kini ia masih membayang kejadian bersama pria yang memiliki wajah serupa dengan pria yang berada di hadapannya, Sammuel.
Ia meredakan nyeri yang berasal dari jantungnya bahkan meredakan kepulan asap yang bergerumul dalam kepalanya dengan minuman yang diteguknya.
Sementara keadaan Nicky, ia beranjak lantas menyeret tangan wanita itu agar duduk pada kursi bekas menopang tubuhnya, lalu ia berjalan hingga menepi di samping Andre untuk memberikan kesempatan kepada sahabatnya agar mudah melakukan rencana awalnya.
Sammuel jelas tahu betul maksud dari sahabatnya itu, segera ia mendaratkan pandangannya pada wajah jelita yang sudah duduk manis di samping kirinya. Dan ia sengaja membelakangi Nicky serta Andre di samping kanannya berusaha menutupi kegiatannya dari kedua pria rekannya itu.
"Gue mau nagih jawaban!" seru Sammuel penuh penekanan membuat wanita di sampingnya berdecak penuh kesal.
"Udah aku jawab dari dulu. Ogah!" tolak Tara penuh penekanan kala sang hati masih berteguh diri enggan menerima tawaran yang akan membuat sang ibu murka.
Sammuel menggeleng menyikapinya, lantas merekatkan bibirnya pada telinga wanita yang masih mengerutkan bibirnya di sana untuk mengatakan sesuatu tanpa orang lain mendengarnya.
Sesungguhnya tanpa berbisik pun, suara mereka tidak akan terdengar jelas oleh siapa pun. Di dalam ruang berlampu kelap-kelip itu dengan lantunan musik berdegup kencang, bagaimana bisa suara mereka sampai terdengar dan menyebar?
"Kalo gue ngasih tawaran lain gimana?" tawar Sammuel tanpa ragu membuat sang wanita menatapnya bersusah payah tatkala wajah tampannya masih terbenam di atas bahu wanita itu.
"Apa dulu tawarannya?” tanya Tara penuh pertimbangan.
Sammuel menyahut dengan gerakan tangannya yang menyelipkan rambut hitam terurai wanita itu pada telinganya. Ia enggan mengulang katanya hingga berusaha keras agar wanita itu mendengarnya hanya dalam sekali ucapan. "Marry me,” bisiknya terlontar tegas namun menggoda dengan meniup cuping telinga sang wanita membuat sang empunya menggelinjang tidak karuan.
•
__ADS_1
•
•