Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 133


__ADS_3

Mendung tak lagi membayang di atap bumi sore itu, awan putih berhamburan membentang menutup langit yang terlihat separuhnya membiru berhias pelangi setelah turunnya hujan deras saat itu.


Suasana romantis tercipta selepas pertengkaran layaknya keadaan cuaca pada hari itu.


Di dalam apartement sederhana yang menjadi kediaman Triana saat ini, sang pemilik tempat tengah menyibukkan dirinya atas perintah Hanson untuk segera meninggalkan kediaman itu.


Keping demi keping busana miliknya telah di tatanya ke dalam sebuah koper yang sudah tersedia di hadapannya untuk bekal bawaannya saat ia tinggal di rumah seorang Pengacara khusus sebuah perusahaan bernama PT. ZhanaZ Group.


"Jangan bilang kalo kamu yang maksa dia buat cepet-cepet beresin urusan tunangan kamu itu," ucap Triana setelah mendapat kabar kisah Fiona yang telah memutuskan hubungannya dengan Hanson siang tadi.


"Sumpah dia yang mau." Nada bicara Hanson yang meyakinkan membuat Triana mempercayainya hingga memaparkan senyuman leganya.


Lantas Hanson membantu Triana melipat satu persatu pakaian wanita itu mencoba berusaha agar kegiatan wanita itu cepat usai di lakukannya.


"Kok bisa?" tanya Triana.


"Dia udah dapet yang baru," ujar Hanson tak acuh mengutarakan kejujurannya dalam nada yang meledek.


Triana kembali memaparkan senyum manisnya yang terlihat Hanson begitu mengagumkan di matanya.


Sejenak Hanson menghentikan kegiatan tangannya, ia meresapi tatapan kagumnya pada wajah jelita itu hingga nembuat empunya bergerak kikuk dalam wajahnya yang merona.


"Cepet juga dia move on," sahut Triana.


"Pasti cepetlah, orang niatnya juga jelek awalnya," balas Hanson di iringi senyum sinisnya mengingat perlakuan dirinya terhadap mantan tunangannya. "Lo tau siapa targetnya sekarang?"


"Bukan urusan aku!" Triana mendengus di akhir kalimatnya, ia mengira pria yang telah berdiri di hadapannya mengucap katanya hanya untuk alibi pada dirinya semata.


"Si Jack!"


Kini mata Triana membelalak lekat menerima kejutan dari ucapan lawan bicaranya. "Tau dari mana kamu?" Kejutannya terlampiaskan pada resleting kopernya yang di tutupnya dengan kasarnya.


"Si Jack kakak aku Tri, apa kamu lupa?" sahut Hanson berseru gemas hingga ia merunduk untuk mempermudah tangannya menyentil manja kening Triana.


"Kalo gitu ceritanya aku nyerah, saingan aku orang hebat begitu." Triana melenguh pasrah saat ia berusaha bangkit berdiri di tempat dengan gaya malasnya.


Hanson mendongkak di sela tawa kecilnya membalas keputus asaan yang terpampang dari wajah wanita yang berdiri di hadapannya.


"Hebat apanya, hebat jahatin orang?" Hanson pun bangkit berdiri lantas mengayunkan kakinya menuju sofa ruang tamu yang tersedia.


Tanpa kata, Triana melangkahkan kakinya namun berbeda tujuan dengan Hanson di mana ia menuju tempat minuman dingin tersedia di sana.

__ADS_1


Setelah berhasil berdiri di hadapan tempat itu, ia pun meraih dua botol minuman juice instan dari dalam sana lantas kembali melangkahkan kakinya menuju tempat di mana Hanson kini tengah duduk santai di atas sofa yang terletak di ruang tamu itu di temani sepuntung rokok yang menyala di sela jepitan dua jari tangan kanannya.


"Bentaran ya aku lurusin pinggang dulu," pinta Triana seraya menyerahkan satu botol minuman itu pada Hanson lantas mendaratkan bokongnya tepat di samping kiri pria itu.


"Santai lah, lagian udah mau hujan pasti ribet."


"Tunggu hujan turun dulu kalo gitu."


"Kalo redanya malem gimana, ga apa-apa aku lama di sini?" rajuk Hanson di sertai alisnya yang terangkat seraya menatap wajah anggun itu dengan tatapan harapannya.


Alasan yang begitu tidak dapat di terima akal sehatnya saat cahaya mentari menelusup masuk jendela kaca yang terdapat di sana.


Sesungguhnya Hanson mengharap berlama-lama dengan wanita yang kini telah menjadi incaran hatinya, namun mengingat jika wanita itu akan tinggal bersamanya di dalam atap yang sama, ia pun mengurungkan niatnya untuk berlama di dalam rumah sederhana yang kini menjadi pijakan kakinya.


Sedang Triana menatap kejam wajah tampan di sampingnya, ia tidak terima dengan pertanyaan saat lalu. "Basa-basinya busuk tau ga?" ujarnya di iringi kerucutan bibirnya pada akhir kalimatnya.


Hanson tertawa kecil seraya menyodokkan rokoknya ke atas asbak lantas menepuk lembut kerucutan bibir itu. "Oke ga pake basa-basi busuk lagi, aku seneng bisa bareng kamu terus, apa lagi kalo sampe 24 jam."


"Kamu pikir aku satpam apa?" protes Triana bersungut-sungut di iringi delikan matanya yang memutar tajam.


"Hei, satpam cuma kerja delapan jam." Hanson menarik wajah itu agar menghadap kepadanya. "Yang aku mau, kamu jadi cewe aku."


Sejenak Triana tertegun lantaran mendapat kejutan dari ungkapan hati yang terdengarnya tidak tulus itu, bukan maksud hatinya untuk memaksakan sebuah kesungguhan tertanam dalam ucapan itu, namun ia hanya ingin merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.


"Aku nolak boleh ga?" ucap Triana berdalih miris, namun sebuah senyuman tersirat dari wajahnya.


"Ga boleh!" Dan mulai Hanson berani mengecup bibir itu meski hanya sekilas saja.


Sontak Triana kembali mendapat kejutannya tanpa bisa melakukan perlawanan tat kala sang hati menyetujui tindakan itu.


"Maaf Hans, aku ga mau jadi cewe kamu." Kini Triana yang menyosor mengecup sekilas bibir tipis pria itu. "Aku maunya jadi istri kamu!" ungkapnya memutuskan dalam kesungguhannya yang terlihat dari sorotan matanya pada mata sang pria.


Sengaja Triana melakukannya untuk menyemburkan ketulusannya dari sana, tidak cukup dengan hanya itu saja, ia segera mengalungkan kedua tangannya pada leher pria itu untuk mempertegas keinginannya jika ia enggan mendapat penolakan.


Kini Hanson yang mendapat kejutannya hingga sejenak ia terdiam meresapi bahkan mengulangi ucapan wanita itu di dalam benaknya."Siap laksanakan tuan putri."


Lantas membalas dekapan itu dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang wanita di sampingnya, seusainya ia mengecup berkali-kali seluruh objek yang terdapat pada wajah jelita itu. Mulai dari kening, pipi, hidung hingga berakhir membenamkan bibirnya pada bibir merah jambu itu.


Triana menyambut cumb*an mesra itu dengan senang hati, meresapinya di sana tat kala sang pria telah memulai aksinya memberikan sebuah rasa nikmat dalam kegiatannya.


Kini kedua tangan Triana mendarat pada pipi kiri kanan Hanson, matanya mulai terpejam merasakan lidahnya yang masih bermain di dalam mulut berbau cigarette kekasihnya.

__ADS_1


Hingga bermenit Triana baru tersadar atas tingkah pria itu yang hanya berdiam pasrah meski kedua tangannya mengalung pada pinggangnya.


Lantas dengan tergesa ia melepas kegiatannya tak ayal mendorong paksa tubuh Hanson agar menjauh darinya.


"Udah puas?" Hanson tersenyum seraya menatap kagum wajah wanita yang kini telah resmi menjadi kekasihnya.


"Belum!" balas Triana berseru lantang kala ia kesulitan membalas tatapan itu.


Percayalah, rasa malu yang nenyeruak dari kalbunya membuatnya berlagak tidak enak hati menerima tingkah kekasihnya itu.


Sementara Hanson mengulurkan tangannya, menghapus sisa cumbuannya pada bibir kekasihnya, kini ia membawa tangan kekasihnya agar ibu jarinya terbenam di atas bibirnya, dan iapun menarik tungkak kepala kekasihnya agar bibirnya menyentuh bibir itu.


Kembali Hanson memberikan pelayanannya pada wanita yang hanya mampu berpasrah diri di sana membuat rasa ragu terhempas begitu saja hingga ia leluasa melakukan kegiatannya.


Tidak mampu menahannya, Triana melepas ibu jari pria itu dari bibirnya, kini kedua tangannya kembali mengalung pada leher Hanson. Dengan gerakannya yang lihai, Hanson membawa Triana dalam pangkuannya, mengalungkan kaki Triana pada pinggangnya.


Cumbuan itu berlanjut dalam posisi yang akan membuat keduanya semakin menikmatinya, namun hanya sebatas cumbuan saja mereka melakukannya.


Hingga pada akhirnya, mereka mengakhiri kegiatannya ketika kepuasan telah di dapati dari keduanya.


Triana tertunduk kaku, pikirannya melayang pada risalah hatinya membuat pria yang masih memberikan tumpangan kakinya untuk menumpu tubuhnya itu mencari makna dari tingkahnya.


Hanya membutuhkan waktu dua menit saja, Hanson telah mendapatkan jawabannya. “Masih mikirin papa kamu?”


Triana membisu, namun anggukan kepalanya mewakili atas jawabannya.


“Kalo kamu percaya sama aku, kamu ga akan khawatir gini,” seru Hanson merajuk hingga memberikan telapak tangannya untuk mengelus puncak kepala yang kini terbenam pada ceruk lehernya.


“Bukan aku ga percaya sama kamu Hans, tapi aku ga percaya sama diri aku sendiri.” Triana membatin lirih membuat Hanson menghela napas dalamnya.


“Aku ga akan banyak ngomong, mending kamu lihat aja nanti buktinya gimana.” Kembali Hanson merajuk masih di sertai elusan pada puncak kepala itu.


“Semoga semuanya berjalan lancar sesuai keinginan kita.”


“Itu pasti!” putus Hanson berseru tegas tat kala sang hati meyakini jika dirinya akan melakukan segala usaha untuk wanita yang kini di kasihinya.


Triana memberikan persetujuannya dengan hanya anggukan kepalanya membuat sang kekasih mengecup tepi keningnya sebagai tanda luapan kasih sayang tulusnya serta rasa terimakasihnya atas penerimaan dirinya di dalam hati wanita itu.



__ADS_1



Tbc


__ADS_2