
"Mau ngehindarin gue?" tanya Sammuel dengan nada datarnya. Tanpa acuh ia mengabaikan wajah kedua wanita yang masih terkejut menatapnya itu.
Tidak ada sambutan dari sapaan kedua wanita itu, mereka hanya menatap Sammuel tanpa mengucap satu patah katapun. Menanggapi keterkejutan yang begitu kasat mata itu, Sammuel duduk pada kursi yang bersebelahan dengan Tara.
“Demi cowo yang namanya Alev?” tanya Sammuel memancing dan berakhir dengan senyum mirisnya.
Sejak saat ia mendengar nama itu terucap dari mulut istrinya dalam igauan saat tertidur itu, Sammuel telah melakukan tindakan pengintaian. Namun, sudah beberapa hari berlalu ia masih belum mendapat jawaban pastinya.
“A–alev, ka–kamu tau dari mana nama itu?” sahut Tara terbata-bata, sukmanya menembus pikiran buruk, jika ia merasa Sammuel telah mengetahui jati diri anaknya.
“Apa perlu gue jawab?” Nada dingin yang memendam emosi itu berseru begitu tegasnya, membuat batin Tara kian menciut untuk menimpalinya.
Bahkan, wajah Tara tertunduk kaku di sana, menyembunyikan peluh kecil di atas permukaan dahinya. Kejutan demi kejutan telah datang menghadap dalam sekejap. Untuk kali ini, ia begitu kesulitan menghadapinya.
Sammuel sadar akan gerakan kaku yang mematung itu, ia menerka kecurigaan atas perselingkuhan istrinya telah terjadi. Penjelasan hanya terlihat dari lunturan rona wajah memerah istrinya, hal tersebut semakin meyakinkan hati.
Amarah mulai membuncah di dalam sukma Sammuel, akan tetapi ia menahannya sekuat tenaga agar tidak meluap tanpa di sengaja. Kendati demikian, hawa nafsu itu masih dapat terlihat Jasmeen dari tatapan benci Sammuel terhadap istrinya.
Sebelah tangan Sammuel mengepal di atas meja mengalihkan perhatian Jasmeen padanya. Jasmeen tidak ingin kepalan tangan itu mendarat pada tubuh Tara, sehingga ia melerainya dengan senyuman penenang.
“Makanya kamu jaga dia Sam, kalau ga mau dia berpaling,” ucap Jasmeen menyela ucapan Sammuel di sertai memberikan tepukan ringan pada tangan yang mengepal itu.
Napas Sammuel berembus kencang, mewakili rasa lega lantaran ucapan Jasmeen berhasil meredam amarahnya. Tangan itu pun melepas kepalannya, menggantikannya dengan merangkul pundak istrinya.
Tara memberanikan diri mengangkat wajahnya, menatap wajah sang suami yang tak kalah merah darinya. Tatapan penuh duka terpancar dari wajahnya, membuat rasa iba tumbuh dari dalam asma Sammuel.
Gengsi yang begitu tinggi seketika akan terjatuh dengan mudahnya setelah menatap ratapan yang terpancar dari wajah istrinya, Sammuel melerainya dengan tatapan sadis pada wajah itu.
“Keterlaluan!” Sammuel menarik diri dari atas kursi yang di tumpanginya, ia bangkit kemudian melangkahkan kakinya tanpa berpamitan terlebih dahulu. Ia sudah tidak mampu menahan amarah, hingga pada akhirnya ia lebih memilih meninggalkannya saja.
Sebelum Sammuel keluar dari ruang itu, seorang pria yang telah menjadi buruan kecurigaan Tara saat lalu pun turut bangkit dari duduknya. Si pria membuntuti langkah Sammuel di belakangnya.
Tara masih duduk berhadapan dengan dinding kaca, dengan mudahnya ia melihat pergerakan itu dari baliknya. Ketegangan yang sempat menghujam angan kini terhempas begitu saja, berganti dengan seringai penuh kemenangan yang didapatkannya.
Paham sudah ia di buatnya, sehingga menerka sang pria adalah kiriman dari suaminya untuk membuntuti secara diam-diam. Puncak rasa penasarannya berakhir dengan anggukan kepalanya.
Jasmeen yang hanya memperhatikan gerakan tubuh Tara sejak kepergian Sammuel itu, ia menerka-nerka jika Tara telah mendapat alasan untuk di kemukakan terhadap Sammuel.
“Apa yang akan kamu katakan tentang Alev sama suamimu?” tanya Jasmeen.
“Belum tau,” sahut Tara di sertai gelengan kepalanya. Lenguhan yang begitu kasar terngiang di telinga Jasmeen.
Jasmeen hanya memicingkan matanya, menanggapi lenguhan itu.
“Semoga aja dia ga dengar semua pembicaraan kita tari,” ujar Tara penuh harapan, hingga wajahnya menengadah seolah minta pertolongan dari langit.
Baru pertama kalinya Jasmeen merasa gelisah, ia takut jika perbincangannya kali ini akan berbuah pertikaian hebat Tara dengan suaminya. Lantas, ia hanya dapat mengucap harapan agar nasib nahas itu tidak menimpa sahabatnya, tanpa berniat turun tangan untuk membantunya.
Hanya saja, saat ini Jasmeen mencari celah untuk dapat menghibur wajah yang merancu itu.
“Art, Alev ada di mobilku–“ Belum usai Jasmeen mengatakan kalimatnya, Tara terlebih dahulu memotongnya. Rupanya ia berhasil memberikan celah kebahagiaan untuk sahabatnya.
“Beneran?” Senyum keceriaan nampak tersirat di balik wajah cantik Tara, memancarkan pesona bahagia yang begitu kasat mata.
Tiada lagi yang di takutinya setelah pria itu lenyap dari pandangan mata. Tanpa berpikir lebih jauh, Tara bergegas menghampiri tempat di mana kendaraan yang di sebutkan Jasmeen itu berada.
__ADS_1
Langkah kaki yang memburu itu memberikan kesan tidak sabar untuk segera sampai di tempat tujuannya. Hingga pada saat ia tiba di sana, tangannya tergesa-gesa membuka pintu kendaraan bagian belakang itu.
“Mama,” sapa Alev memekik riang tatkala melihat sosok ibunya yang membungkuk untuk menampakkan diri kepadanya.
Rindu yang menggebu setelah lama terbelenggu, menjadikan Alev kehilangan kesabaran untuk segera merangkul tubuh ibunya. Namun, saat ia beranjak dari sana, Tara menahan tubuhnya dengan sebelah tangannya.
“Jangan keluar dari sini.” Tara memerintah tegas, berbalas anggukan paham dari Alev.
Mendapat persetujuan dari gerakan Alev yang kembali duduk pada tempat semula, Tara memasukkan tubuhnya ke dalam kendaraan itu di mana tempat tersedia di samping Alev.
Mereka melepas rindu di sana setelah Tara mendapat posisi nyamannya. Mereka saling merangkul, mencurahkan kerinduan yang begitu mendalam. Rasa Haru memburu, menembus sukma hingga membedah bendungan air mata Tara. Tanpa bisa di cegahnya, air payau itu menetes membasahi pipinya.
“Aku kira, Mama udah lupa sama aku.” Tidak ingin sang ibu kian berduka, Alev berusaha menahan rasa harunya, menutupi dengan senyuman mempesona. Bahkan tangannya mengulur, mengusap tetesan air mata pada pipi ibunya.
Perlakuan Alev itu, di sambut Tara dengan senyuman kagum. Tidak di sangkanya, jika sang anak telah beranjak dewasa. Sikap lembut yang berkharisma itu, membuat pujian bergeming di dalam asmanya.
“Mana bisa sayang.” Di sela isak tangisnya yang tertahan, Tara mengakhiri ucapan dengan kecupan pada puncak kepala anaknya.
Alev tertegun meresapi kehangatan dari tindakan itu, dekapan pada tubuh ibunya kian mengerat, mencurahkan berjuta rasa bahagia di baliknya.
Baru saja kesempatan langka itu datang kepadanya, getaran dari ponsel Tara menyanggah kegiatan mereka. Alev turut merasakan getaran itu, ia melepaskan dekapannya agar dapat menatap wajah sang ibu untuk menganggukkan kepala, pertanda memberikan persetujuan untuk ibunya menjawab panggilan itu.
Dengan amat terpaksa Tara meraih benda itu dari dalam kantung celananya. Melihat nama suaminya tertulis di baliknya sebagai pemanggil, dengan sigapnya ia menjentikkan telunjuknya pada mulutnya di sela tatapannya menuju wajah Alev. Bermaksud jika Alev tidak diperkenankan mengeluarkan suara sedikit pun.
Alev pun mengangguk membalas isyarat itu.
“Ya Sam,” ucap Tara ketika panggilan terhubung.
“Gawean lo masih banyak, udah cukup keluyurannya!” Bentakan nada bicara Sammuel berbuah dengusan keras dari lawan bicaranya.
“Kalau udah ngasih keputusan siapa yang mau lo hindari sama cowo yang namanya Alev itu, cepet balik!”
Teg! Jantung Tara berdenyut nyeri, mendapat kejutan dari ucapan sang suami.
Pikirannya kalang kabut, mengira mata-mata itu masih menguntitnya. Lantas, ia melirik ke arah luar jendela. Mengedarkan pandangannya mencari jawaban, mungkin saja yang di pikirkannya itu benar terjadi.
Tiada yang janggal di sekitarnya, rasa heran mulai menyentuh angan. Dari manakah Sammuel mengetahui jika ia menemui seseorang secara diam-diam?
Bungkamnya mulut Tara, berbuah pemutusan panggilan dari suaminya itu. Berakhirnya panggilan itu, berakhir pula rasa rindu pada anaknya, berganti menjadi rasa gundah gulana.
Wajah kaku tertunduk meresapi sebuah lamunan, kemudian Alev menyambutnya dengan elusan pada pipi.
“Mama masih sibuk?” tanya Alev dibalas senyum kikuk oleh ibunya.
“Sepertinya iya.” Kembali Tara tersenyum, hanya untuk menyembunyikan kerancuan semata agar tidak membuat anaknya menderita.
“Kembalilah.” Alev berpasrah diri, menerima keadaan ibunya kini. Tiada yang salah dengan apa yang terjadi, hanya waktu yang tidak mendukungnya untuk mereka berlama-lama melepas rasa rindunya.
Nada ucapan lirih itu berbalas pujian dari tatapan mata Tara pada anaknya. Sikap dewasa dari Alev, menjadikannya tidak diharuskan memilih.
“Mama kembali, kalau ada waktu, Mama pasti hubungi kamu lagi.” Salam perpisahan dari Tara, di bumbui penyesalan atas terlerainya pertemuan itu. Ia mengusap puncak kepala anaknya di sela tatapannya yang tidak teralih sedikit pun menuju wajah Alev.
Meskipun ada yang serupa dengan wajah itu jika hanya untuk sekedar melepas rindu pada wajahnya saja, ia bisa menumpahkannya kepada Jackson. Namun, perbedaan nampak di baliknya. Hanya dirinya yang dapat merasakan.
Berat hati dirasakannya, membuat tubuh sulit untuk bergerak, bahkan enggan untuk beranjak. Namun, senyuman yang terpampang dari wajah Alev, membuat batinnya memaksakan diri untuk meninggalkan anaknya.
__ADS_1
Selepas Tara hilang dari hadapannya, Alev tertegun layu. Senyuman itu enyah seketika, berganti tatapan duka yang terpancar begitu memilukan. Jasmeen mengetahui jika Tara telah pergi, ia pun datang menghampiri Alev, duduk pada jok yang terletak di barisan depan kendaraan itu.
Tidak berlangsung lama dari itu, Alev berpindah tempat, duduk pada jok yang terletak di samping kiri Jasmeen.
Tiada kata yang mampu terucap dari mulut Jasmeen, hanya tatapan sendu yang menyorot tajam wajah Alev. Tatapan kosong Alev dipahami Jasmeen jika anak itu memendam sejuta penyesalan di baliknya.
Hanya sekilas, Jasmeen mengalihkan tatapannya menuju arah jalanan. Kakinya mulai menginjak pedal gas kendaraan, melajukannya penuh keraguan saat ia berpikir masih ingin mempertemukan Alev dengan ibunya. Kendati demikian, kendaraan melaju meninggalkan tempat itu.
Di tengah perjalanan, lamunan tajam masih membayang dalam angan, membuatnya tidak dapat berpusat pada kegiatan menyetir itu. Kendaraan itu, menabrak mobil mewah yang berbaris di depannya saat lampu lalu lintas berwarna merah.
“Jackson!” Jasmeen mengetahui jika mobil yang di tabraknya milik Jackson. Terlihat dari nomor kendaraan yang nampak tak asing baginya.
“Papa.” Alev menyahut dengan nada lemah dikala ucapannya bermaksud hanya untuk dirinya sendiri.
Seringai halus tersirat di balik wajahnya, menyatakan jika kesempatan telah menghampirinya.
Sementara itu, Jasmeen terkejut tidak karuan ketika melihat Jackson keluar dari kendaraannya. Kaki Jackson melangkah menghampiri kendaraan miliknya, membuat tatapannya mengarah kepada Alev.
“Tunggu di sini Al, jangan sampai keluar!” ucap Jasmeen berseru tegas.
Tanpa menunggu jawaban, ia keluar dari mobilnya, mencegah Jackson tiba di sana agar tidak melihat Alev.
“Jack, maaf.” Jasmeen tersenyum kaku, menyembunyikan kerancuan.
“Kamu ternyata Jas,” balas Jackson dengan senyum menawannya.
“Apa aku harus ganti–“
“Apaan sih?” Jackson memotong ucapan yang di yakininya hanya untuk berbasa-basi semata. “Lagian, ngelamunin apa sih?”
“Ngelamunin Maxson mungkin,” sahut Jasmeen sebagai gurauan dibalas Jackson dengan seringai ledekan.
“Ya udah lanjut, aku masih ada kerjaan.” Jackson memutar tubuhnya, tanpa ingin mendapat sahutan untuk ucapannya. Di tengah kegiatannya, putaran tubuh terhenti ketika sepasang mata menangkap bayangan seorang pria remaja yang duduk di dalam kendaraan milik Jasmeen.
Tatapan Jackson terkunci tanpa bisa beralih sedikit pun. Bayangan samar dari wajah yang menurutnya begitu serupa dengannya itu menjadi pusat pandangan tajamnya.
Tidak lain dengan Jackson, Alev di dalam sana pun membiarkan wajahnya terlihat oleh sang ayah. Bahkan ia memberikan senyuman manis yang membuat Jasmeen bergegas kembali masuk ke dalam kendaraan itu.
Tanpa banyak bicara, di saat mata Jackson masih menilik ke dalam kendaraannya, Jasmeen segera menginjak pedal gas kendaraan itu.
Dewi keberuntungan sepertinya sedang berpihak pada Jackson. Kini, Jasmeen mendapat kendala untuk menyalakan mesin kendaraannya.
Baru kali ini, emosi terbersit dari gerakannya. Jasmeen memukul keras alat pengemudi kendaraan itu.
“Ya ampun.” Mata Jasmeen terbelalak nyalang, melihat Jackson telah berjalan menghampiri kendaraannya.
Gundah dan gelisah yang dirasakan Jasmeen kini membuat otaknya buntu. Ia tidak dapat berpikir dengan cepatnya untuk menghentikan langkah kaki Jackson yang terus mendekat.
Harus bagaimanakah ia melerai langkah kaki itu selain bergegas melajukan kendaraannya. Perlahan dan pasti, Jackson kian mendekati membuat Jasmeen bertingkah tidak karuan. Ia mencoba mengulang kembali menyalakan mesin kendaraan itu.
•
•
•
__ADS_1
Tbc