
Malam mencekam, ribuan bintang bersembunyi di balik awan. Angin dingin berembus mematikan, menyapu permukaan kulit tubuh Triana yang hanya mengenakan busana minim bahan. Pohon-pohon rindang di tepi lantai berbalut marmer bergoyang, turut mengolok Triana yang terdiam kedinginan.
Hanson sengaja mengerjainya, ia menyela kegiatan menekan tombol akses pintu masuk kediaman Jackson itu. Tawa cibiran terlontar begitu tajam, tak ayal tatapan ledek menyertainya.
“Mau pake sweater aku?” Kedua tangan Hanson bergerak, membuka busana atas yang ia kenakan. Namun, seketika terhenti saat tatapan murka menyoroti wajah tampannya.
“Bukain pintunya aja cepetan!” balas Triana berseru keji, pekikan suara jengah terlontar tanpa bisa di cegah.
“Baik nyonya,” ujar Hanson kian mencibir, membuat wanita yang berdiri di sampingnya mendengus kesal.
Tanpa kata kembali terucap dari mulut sepasang insan itu, Hanson bergegas menekan tombol akses masuk dari pintu yang berada di hadapannya. Seusai pintu ruang terbuka, Triana bergegas masuk ke dalam ruang. Hanson terkekeh melihat tingkah menggemaskan itu, lantas membuntuti langkah kekasihnya.
Tanpa ada sambutan dari tuan rumah, Hanson menuntun langkah Triana hingga menepi di dalam ruang keluarga.
Baru saja mereka menumpukan tubuh di atas sofa yang tersedia, suara langkah kaki di balik tangga membuat mereka mengarahkan pandangan terhadapnya.
“Ngapain kalian ke sini?” ujar Jackson berseru manis, pertanda ungkapannya hanya untuk gurauan semata.
“Ada yang merengek pengen ketemu lo,” balas Hanson untuk Jackson, akan tetapi tatapannya menyudut ke arah Triana.
“Gila kamu Hans.” Triana menimpali di balik wajahnya yang tertunduk. Nada bicara lemah mewakili rasa malunya.
“Emang benar kan?” Hanson mengabaikan isyarat yang tercipta dari tindakan kaku di sampingnya, ia bertutur kian menggoda sang kekasih.
Tatapan murka tersirat dari Triana, akan tetapi berbalas colekan pada dagunya. Amarah tak lagi dapat di pendam, Triana menepis kasar tangan itu dengan segera.
Jackson tiba menghadap mereka. Ia menggelengkan kepala, melihat tingkah kekanakan dari sepasang insan yang duduk di samping sofa penumpu tubuhnya.
“Ngidam emangnya dia?” Dagu Jackson bergerak, menunjuk ke arah Triana.
“Ngidam apaan, di sentuh aja belum,” ucap Hanson mengungkap kejujuran. Namun, berbuah cubitan keras pada pinggangnya.
Ringisan terpampang dari wajah Hanson, akan tetapi hanya untuk balasan semata.
Getaran ponsel dari dalam kantung celana Hanson melerai aksi pertengkaran itu. Tanpa menunggu waktu, Hanson meraih benda itu lalu menjawab panggilannya.
“Lo di mana?” Suara Sammuel di balik ponsel itu di sambut Hanson dengan dengusan kasar. Ia menerka jika Sammuel akan menyita waktunya dengan perintah mengenai pekerjaan.
“Di rumah si Jack.”
“Tunggu di sana, gue ke sana sekarang!” Tidak ingin mendapat penolakan, Sammuel mengakhiri panggilan tanpa berpamitan.
Perbincangan yang tidak terdengar dari lawan bicaranya itu, di sambut Jackson dengan tatapan heran.
“Si Fiona?” tanya Jackson menerka-nerka.
“Si Sam, dia mau ke sini. Kayanya ada masalah deh,” jawab Hanson.
“Palingan masalah bininya.” Napas Jackson berembus lantang, menyerukan rasa cemburu yang tak mampu ditahannya.
“Kalau masalah bininya pasti nyari lo, bukan nyari gue,” sahut Hanson nyaring, akan tetapi berbalas embusan napas lega di sana, membuatnya keberatan jika tidak mengoloknya dengan tatapan.
Jackson melerai tatapan itu, ia mengarahkan pandangan menuju wajah Triana. “Tri, lo beneran mau ketemu gue?”
Triana kesulitan membalas pertanyaan itu, sehingga ia hanya diam membisu. Ajakan yang tercurah hanya untuk pancingan semata, ia tidak mengira Hanson akan mengabulkannya.
Bungkaman mulut itu disambut Hanson dengan tawa cibiran. Sudah dapat di pastikan jika sang kekasih menaruh siasat di baliknya.
“Kamu cuma mau bikin aku cemburu kan?” seru Hanson mengutarakan terkaannya.
“Enak aja, aku cuma mau nanyain soal Tara sama dia.” Tanpa terpikirkan alasan sebelumnya, secepat kilat Triana menyahut, menyembunyikan rona wajah dari Hanson dengan menatap ke arah Jackson.
“Ngapain nanya sama gue, kenapa ga lo tanyain sama lakinya?” ujar Jackson berprotes tidak terima. Ia mengira ucapan itu hanyalah sindiran semata.
“Justru aku ga mau suaminya tau,” sahut Triana berbalas tatapan janggal dari dua pria yang berada di sekitarnya.
Tiada kata terucap daei mulut kedua pria, Triana menepis rasa canggung dengan ungkapan selanjutnya.
__ADS_1
“Aku kecewa sama kamu Jack–"
“Sorry gue udah nolak cinta lo.” Jackson memotong kalimat yang belum usai terucap itu, sudah dapat di pastikan jika sang wanita bertekad diri untuk merayunya.
Triana mendelik kesal, sindiran keras itu berhasil menerobos batas kesabarannya. Namun, demi tidak menjatuhkan harga diri, ia mencari bahan perbincangan lainnya.
"Bukan soal nolak aku, tapi kamu udah lepasin Tara yang dulunya cinta banget sama kamu, malah dia ngorbanin perasaan dia demi keluarganya,” ucap Triana.
“Gue tau itu, tapi ga ada pilihan lain.” Jackson melenguh rapuh.
Terngiang ucapan wanita yang menjadi objek perbincangannya saat lalu, jika wanita itu lebih memilih dirinya. Namun, takdir memaksanya untuk mengalah. Lantas, tiada yang bisa di perbuatnya selama wanita pujaannya mendapat kebahagiaan meskipun dari yang lain.
Perbincangan terlerai ketika seorang wanita paruh baya datang menghampiri, memberikan permintaan Jackson sebelum sepasang insan itu datang bertamu.
Puluhan kaleng bir tersusun rapi di atas meja, di sambut Triana serta Hanson dengan tatapan mengejutkan.
“Jack lo s*nting?” ujar Hanson di sertai lentingan nada bicaranya.
“Temenin gue minum dulu lah, gue lagi stress sama bokap lo.” Jackson melenguh frustasi, mengingat sang ayah tiada habisnya memberikan beban pikiran kepadanya.
Persoalan kali ini, begitu menarik perhatian. Pasalnya, sang diri terlibat di baliknya. Jejak demi jejak jawaban kian menghampiri. Wajah serupa yang sempat terlihatnya saat lalu, rupanya berkaitan dengan ayahnya. Namun belum dapat di pastikan, sebelum keputusan dari seseorang didapatkannya. Ia terlebih dahulu menerka-nerka, jika pria remaja itu hasil hubungan gelap sang ayah dengan seorang wanita.
“Kenapa lagi dia?” tanya Hanson begitu penasaran, sehingga picingan mata terukir di balik wajahnya.
“Gue ga bisa ngomong dulu–" sahut Jackson sengaja dipenggal, ketika sepasang matanya melirik ke arah Triana.
Hanson paham dengan isyarat mata itu, sang kakak tidak ingin perbincangannya diketahui Triana. Sementara Triana berpura-pura tidak mendengarkan, ia tertunduk menatap ke arah tas slempang yang mendarat di atas pahanya.
Rasa penasaran menggugah jiwa Triana, akan tetapi ia tidak dapat mengungkapnya. Hanya tebakan demi tebakan terungkap di dalam batin.
“Lo lupa kalau gue jaksa? Gue bisa cari tau sendiri,” ucap Hanson melerai perbincangan, tawa kecil terlontar di akhir kalimatnya.
“Udah lah, gue yang selidiki dulu.” Jackson menentang penuh penekanan, agar sang jaksa tidak berkeras hati ingin mencampuri urusannya.
“Baiklah bapak Presdir.” Hanson menyahut dengan cibiran, tatkala ucapannya untuk mengalihkan bahan perbincangan saja.
“Tri, Hans, ngapain kalian di sini?” Ketika jarak kian mengikis, Tara menyapa dengan kata tanya.
“La–lagi, lagi p–pengen ke sini aja,” jawab Triana terbata-bata, ia berusaha sekuat tenaga menyembunyikan tujuan sesungguhnya. Senyuman kaku tersirat di balik wajah, membuahkan picingan mata dari wanita yang sudah duduk pada tempat yang tersedia.
Tidak ingin berbasa-basi terlalu lama, Sammuel menjentikkan jari kepada dua pria yang berada di sana. Isyarat itu, terbentuk dari pertanda akan ajakan untuk menjauh dari kedua wanita di sekitarnya.
Jackson mengangguk menanggapi, tak luput bangkit berdiri untuk menyambutnya. Tindakan serupa di lakukan Hanson, tanpa bertutur sapa mereka melangkahkan kaki menjauhi dua wanita yang menatapnya penuh rasa heran.
Ruang resmi yang tersembunyi di lantai tiga menjadi pilihan sang tuan rumah, tanpa bertanya ia mengetahui jika perbincangan mengandung rahasia.
Tepat ketika pintu ruang terkunci rapat, setelah mereka masuk di dalam ruangan, Sammuel mengungkap tujuan yang sudah tidak dapat di pendam terlalu lama.
“Hans, lo ada masalah apa sama cewe lo?” tanya Sammuel dikala kakinya masih melangkah menuju sofa yang tersedia.
Sontak membuat langkah kaki dari Hanson terhenti. Ia memutar tubuhnya, menghadap Sammuel yang sebelumnya berjalan di belakangnya. Sejenak hening melanda, ketika Hanson berusaha keras mencari jawaban tepat. Jiwa pengintai menyeruak seketika, terpikirkan olehnya sikap sang kekasih yang nampak berbeda, ia yakin kabar yang akan di sampaikan Sammuel berkaitan dengannya.
“Gue juga ga tau kenapa, yang jelas tingkahnya jadi aneh sejak dua hari lalu,” sahut Hanson menerka-nerka. Lenguhan frustasi terlontar di akhir kalimat, membubuhkan kecewa di baliknya ketika pikiran tak kunjung mendapat jawaban.
Jackson tak acuh mengabaikan keluhan itu, ia melangkah berbeda arah, menghampiri bufet penyimpanan minuman yang terletak di sudut ruangan. Sementara Hanson dan Sammuel telah duduk di atas sofa yang tersedia.
“Eh lo tau masalahnya apa?” tanya Hanson mengingatkan perbincangan yang terlerai saat lalu.
Sammuel mencibir dengan tawa kecilnya, seolah mempermainkan sang kakak, ia menunda jawaban. Tangannya merogoh saku celananya, meraih bungkusan rokok dari dalam sana.
“Si Edwin udah nuduh lo bunuh nyokap cewe lo.” Seusai ia menyulut batang itu, mulutnya baru terbuka.
Ungkapan dengan santai itu disambut Hanson dengan kejutan. Namun, seringai sadis terukir di balik wajahnya, ketika terbersit pikiran buruk terhadap pria yang di sebutkan Sammuel itu.
“Jadi itu yang bikin cewe gue uring-uringan ga jelas.” Seringai tak kunjung enyah darinya hingga berakhir dengan gelengan kepala. Ia tidak mengira jika wanitanya akan dengan mudah terpedaya hasutan belaka.
Di hadapan mereka, Jackson yang telah duduk dengan gagahnya di sana, seketika memaparkan wajah sebalnya.
__ADS_1
“B*ngke lo Sam, gue udah ngumpetin itu dari dia,” ujar Jackson berseru kesal.
Tiada berita yang tidak diketahuinya, Jackson selalu mengintai kegiatan seluruh orang-orang terdekatnya. Sesungguhnya, bukan maksud ia untuk mengorek kehidupan mereka, ia hanya khawatir jika saja sesuatu terjadi kepada mereka.
Tindakan itu, sudah menjadi ukiran dalam ingatan seluruh keluarganya. Sehingga, Sammuel serta Hanson tidak mempertanyakan ataupun membahasnya.
“Jack, lo ngumpetin masalah gede gini dari gue?” Nada bicara memekik nyaring, mewakilkan perasaan jengah melebihi segalanya. Tatapan murka terpampang menyorot wajah Jackson.
Akan tetapi terabaikan dikala Jackson menyibukkan diri dengan menuang minuman ke dalam gelas untuk jamuan kedua adiknya.
“Gue ga mau ganggu waktu lo sama cewe lo, dari pada ngurusin yang engga-engga, mending lo tingkatin usaha.” Jackson mencibir dengan ucapan, berbalas decakan di sana.
Enggan menyahut wajah acuh di hadapannya, Hanson mengalihkan pandangan menuju arah samping di mana Sammuel terduduk. “Lo tau dari mana soal ini, Sam?”
“Raymond,” jawab Sammuel hanya dengan satu kata, akan tetapi berhasil membuat kedua kakaknya menatapnya dalam senyuman.
“Untung juga lo punya sobat kaya dia,” ucap Hanson, berakhir dengan tawa kecilnya.
“Makanya lo nyari teman sana, jangan ngurusin kasus mulu,” ungkap Sammuel menyambut gurauan Hanson.
“Buat gue, satu teman cewe aja udah cukup.” Sudut bibir Hanson terangkat manis, menyerukan rasa kagum pada bayangan tentang tunangannya.
Sammuel berdecak ngeri, mendengar ucapan akan tindakan yang begitu menjijikan baginya. Tanpa ia sadari, kali ini ia pun telah terperosok ke dalam lembah cinta sang istri. Sehingga, perlakuan serupa telah di lakukannya tanpa di sengaja.
Sementara Jackson menanggapi dengan anggukan, tidak di pungkiri jika saja ada wanita yang sudi mencintainya dengan setulus hati, ia pun akan melakukan hal serupa. Anggukan terhenti tatkala kedua tangannya mengulur, menyodorkan dua gelas minuman kepada kedua adiknya.
Sambutan manis di dapatkan, ketika Sammuel mengangkat gelasnya untuk mengajak bersulang kepada kedua kakaknya. Seolah merayakan sesuatu, mereka menikmati suasana tegang dengan minuman beralkohol tinggi menjadi pendampingnya.
"Si Rian laporan sama gue, dia dibayar gede sama si Edwin, sayangnya si Rian lebih setia sama gue. Dia di bayar buat bunuh dokter sewaan lo Hans." Jackson angkat bicara setelah berpikir beberapa menit ke belakang, terlanjur Hanson mengetahuinya, terpaksa ia mengalah untuk mengungkap keseluruhannya.
“Maksudnya, si Rian ga bunuh orang itu kan?” tanya Hanson mengungkap kejanggalan.
“Ga! Orang itu ada di apartemen gue sekarang,” sahut Jackson.
Mendengar kepastian jawaban, Hanson tersenyum penuh kemenangan. Jiwa yang gundah seketika berubah menjadi rasa lega menggantikannya. Setelah mengetahui alasan di balik dinginnya sikap sang kekasih.
“B*ngke juga lo Jack, kalau bukan si br*ngsek ini yang ngasih–" ucap Hanson tersendat dalam angan, di saat tatapan dendam dari pria yang di tunjuknya, telah menyorot wajahnya.
"Lo urusin si Triana aja biar cepat jatuh hati sama lo, lihat tuh ade lo bisa cepat ngambil hati bininya." Jackson tersenyum miris di akhir kalimatnya, tak ayal tatapan ratap tersirat menyertai.
Sammuel mengerti akan maksud hati kakaknya, akan tetapi ia tak acuh mengabaikannya. Terlanjur sudah sang hati terjatuh pada wanita pilihan kakaknya, ia tidak akan melangkah mundur untuk mempertahankan.
Tring ... tring ... suara panggilan bergambar dari alat media berukuran empat puluh inci itu bergeming nyaring. Sejenak Jackson membiarkannya, akan tetapi tatapan tajam sebagai isyarat dari kedua adiknya membuatnya terpaksa menjawab panggilan itu.
“Yoi Vin,” sapa Jackson.
“Hasil test DNA udah keluar, dia bukan anak bokap lo.”
“Oke,” sahut Jackson seolah tak acuh mengabaikan pernyataan itu. Nyatanya, dalam benak ia bergumam menyerukan ribuan pertanyaan di sana. Gelas minuman dalam genggaman berputar, menggiring pikiran tajam mencari jawaban.
“Info jelasnya, anak itu namanya Alev.”
Ungkapan Kelvin di balik layar yang terdengar seluruh penghuni ruang, berbuah kejutan bagi seluruhnya.
Sammuel nampak terperangah di bandingkan yang lainnya, nama yang selalu menjadi bulanan rasa cemburu itu terungkap sebagai seorang anak. Namun, jawaban tepat tidak didapati membuat rasa frustasi menggerogoti angannya.
Perasaan sama didapati Jackson, baru hari kemarin ia mendengar nama itu dari percakapan sepasang suami istri yang bersitegang di dalam ruang kebangsaannya. Pikiran buruk terbersit dalam angan, jika saja anak itu hasil hubungan gelap seseorang dengan wanita pujaan hatinya. Seketika Jackson menggeleng tidak percaya, menyadarkan diri dari pikiran buruknya.
Sementara Hanson mencermati kisah selanjutnya, sebelum ia dapat menyimpulkan perbincangan penuh misteri itu.
•
•
•
Tbc
__ADS_1