
Angin berhembus lantang menyambut senja dalam paparan awan kelam mengawali petang yang terasa dingin mencekam menelusup masuk ke dalam sebuah rumah milik seorang pengusaha Entertaint di pusat kota itu.
Tara berjalan di dalam lorong yang terdapat pada sebuah bangunan mewah berdesign kerajaan dubai itu. Langkahnya mengayun berat seberat bobot dua koper yang berada dalam tentengan tangannya mengiringi sang hati yang telah memaksakan diri menyetujui permintaan sang pujaan hati.
Sambutan senyum ceria dari gadis cilik yang telah berlari menghampirinya, membuat langkah itu malah terhenti. Ia segera merengkuh di hadapan si gadis cilik itu tanpa menghiraukan dua wanita yang berada di belakangnya.
"Holeee. Mommy tidul lagi cama daddy." Sambut Queena melentangkan tangannya ke atasnya mengiringi rasa bahagianya yang tiada terkira mengetahui sang ibu angkat akan tinggal bersamanya.
"Queen, mommy ga akan tidur sama daddy. Queen harus pilih mau tidur sama mommy atau sama daddy oke?" Bujuk Tara di lengkapi usapan pada puncak kepala si gadis cilik dengan lembutnya membuat seorang wanita cantik yang berdiri di belakangnya tersenyum penuh keceriaan.
"Sama mommy sama mami." Sahut Queena menatap harap wajah Tara yang telah membawa tubuhnya dalam pangkuannya.
"Ga bisa!" Potong Celia menebas keinginan si buah hati. "Queen tidur sama mommy aja." Imbuhnya menggemas melihat wajah imut itu yang telah memberengut membuatnya tidak tahan untuk tidak mencubit pipi cubbynya.
"Sama cucu sendiri galak banget." Cibir Tara menyahut ucapan mertuanya seraya bangkit berdiri di hadapan wanita yang telah tertawa kecil itu.
"Kalau aku tidur tiap hari sama kalian, bisa bikin papi mertua kamu manyun." Ucap Celia tak acuh membuat menantunya terkekeh geli yang terabaikan olehnya kala ia menatap seorang pekerja rumah tangga yang sudah berdiri tegap di belakangnya. "May, bawa koper nona ke kamar nona kecil. Beresin sekalian ke lemari." Titahnya berteguh diri setelah mempersiapkan keperluan tempat untuk menantunya pagi tadi.
"Baik nya." Sang pembantupun bergegas meraih kedua koper milik atasan barunya tak lantas melakukan tugasnya dengan meninggalkan mereka.
"Jadi aku sekamar sama Queena?" Tanya Tara menerka-nerka ucapan mertuanya yang telah berjalan beriringan dengannya.
Celia menyeringai penuh ledekan dalam sorotan mata penuh cibiran ke sampinya di mana sang menantu berada di sana. "Apa kamu maunya sama Jackson? Atau sama Sammuel?" Imbuhnya membuat menantunya bergerak kikuk.
"Aihhh mih, kok tau aku mau sama Sammuel?"
Celia terkekeh, di sela kakinya yang masih mengayun. "Aku rasa suamimu akan menyesal udah mengabaikan menantuku ini."
"Udah pasti, lihat aja aku akan bikin dia nyesel lebih dari apapun!" Ucap Tara berambisi, menyiratkan senyum manisnya menyertai semangat jiwa yang berkobar di dalam angannya.
Celia kembali terkekeh menanggapi ungkapan penuh kesungguhan itu. "Oh ya, untuk kuliah kamu, mami udah bantu urus."
"Baguslah kalau masih ada yang peduli." Balas Tara tak acuh meledek mertuanya yang telah di anggapnya sebagai kakak kandungnya itu.
"Kamu udah mulai sama keras kepalanya sama suamiku." Batin Celia menghela lega jika wanita yang masih berjalan beriringan dengannya sudah mampu mengubah hidupnya.
"Biar bisa ngimbangi anak tirimu."
Celia hanya tersenyum membalasnya hingga suasana hening sejenak mengambil alih.
Hingga pada akhirnya, Celia menyeringai setelah isi kepalanya kalang kabut mencari kesempatan emasnya.
“Mungpung masih sore, gimana kalau kita ajak Queena ke taman bermain?" Pinta Celia penuh pancingan berharap sang menantu masuk ke dalam jebakannya.
"Kuin mau ke taman belmain mommy." Rengek Queena merajuk dengan mencium pipi wanita yang masih membawa tubuhnya dalam pangkuannya membuat wanita itu tersenyum gemas tak lantas mengangguk antusias.
"Oke sayang kita pergi." Balas Tara yang tidak akan mampu menolak keinginan gadis cilik itu.
Queena tersenyum penuh riang, begitupun dengan Celia yang tersenyum penuh kemenangan.
Tidak ada yang di katakan mereka kala Tara menyerahkan si gadis cilik kepada wanita yang berdiri di sampingnya.
Setelah wanita itu mengambil alih si gadis cilik, Tara segera melangkahkan kakinya menuju kamar tidurnya untuk bersiap diri mengganti busananya, lantas seusainya merekapun bergegas menuju tempat yang di sebutkan Celia sebelumnya.
__ADS_1
Ternyata Celia menaruh siasatnya di dalam benaknya, ia membawa Tara menuju pusat perbelanjaan. Memang di sana terdapat area bermain anak-anak, namun Tara tidak sedikitpun mendapat kesempatan mengasuh sang buah hati bersamanya lantaran Celia membawa kedua palayan si gadis cilik untuk mengurusnya.
Sedang Tara kini tengah merengkuhkan tubuhnya, kedua tangannya menyentuh lutunya kala berdiri di luar ruang toko busana branded itu meresapi rasa lelahnya yang telah mengelilingi pusat perbelanjaan luas itu selama dua jam kebelakang.
"Udah cape?" Tanya Celia ketika berjalan dari pintu keluar ruang itu tak ayal melihat sang menantu melenguh di sana.
"Celiaaaa, kamu hebat bikin aku muak." Gurau Tara dengan ucapan sarkastisnya, namun di balas kekehan gemas oleh sang mertua yang mengetahui perkataan itu hanyalah guarauan semata.
"Oke sorry, kapan lagi aku bisa ajak kamu ke sini. Lumayan kan kamu bisa pake kartu metal suamimu." Balas Celia melengos, namun membuat sang menantu mengingat sesuatu.
"Kapan aku punya kartu itu?"
"Ya nanti aku akan minta ganti sama dia bekas uang yang kamu pakai beli barang-barang ini." Sahut Celia mengangkat kedua tangannya yang penuh dengan beberapa barisan tas penopang barang beliannya.
"Kamu mau aku terlihat jelek di matanya?" Gundam Tara menerka suaminya akan memakinya jika lagi dan lagi ia meminta sesuatu kepadanya setelah meminta uang untuk membeli rumah serta kendaraan roda empat untuk kedua adiknya.
"Ga akan, percaya padaku." Lengos Celia yang mulai melangkahkan kakinya setelah tas penopang barangnya di ambil alih oleh sang menantu tercinta.
Tara mulai merancu, enggan dirinya terlihat buruk di mata suaminya. "Mih aku tau sipat dia, dan cuma aku yang tau sebab akibat dari perbuatan aku sama dia." Putusnya melirih, menatap rajuk arah sampingnya di mana mertuanya telah menghentikan langkahnya membuatnya mengikutinya.
"Jack kamu di sini juga?" Sapa Celia mengheran kala melihat anak tirinya berdiri gagah di hadapannya membawa anaknya dalam pangkuannya membuat Tara sontak melirikkan wajahnya ke depannya.
"Kamu udah ngajak dia keluyuran?" Tunjuk Jackson dengan dagunya menuju wajah kekasihnya yang sudah tersenyum di sana.
"Biar hidupnya berwarna dikit." Balas Celia melengos membuat sang menantu mendengus dalam leluconnya.
"Iya tapi warnanya item pekat." Balas Tara di sambut tawa kecil oleh pria yang mengambil alih barisan tas penopang barang mertuanya dari tangannya. "Dia bilang mau ke taman bermain. Nyatanya malah ke sini." Imbuhnya meruntuk bahkan bibirnya mulai mengerucut. Namun tetap saja ia meraih si gadis cilik hingga berada dalam pangkuannya.
Celia menyeleneh menggelengkan kepalanya. Pemandangan di hadapannya sesaat tadi membuatnya merasakan hawa lain seolah ia tengah melihat pasangan suami istri yang baru saja menjalin rumah tangganya. "Ya memang taman bermain, tapi taman bermainku, ga salah kan?" Ucapnya membuat bibir menantunya kian mengerucut.
"Daddy, Kuin mau es kim."
"Es kim es kim mulu, makan sayur biar pinter kaya mommy." Sewot Jackson mencubit manja pipi anaknya yang berada dalam pangkuan kekasihnya yang kini telah tersenyum ceria di hadapannya.
Sesungguhnya, batin Tara bergejolak mendapat perlakuan hangat dari pujian pria yang di akuinya sebagai kekasihnya itu, melupakan sejenak hatinya kepada suaminya. Begitulah sipatnya yang mudah goyah ketika semuanya berhubungan dengan seorang bocah. "Jack kasih dia aja apa susahnya sih?" Paksanya di balas gelengan ledek oleh kekasihnya.
"Kamu mau anakku ancur apa?" Protes Jackson hanya untuk gurauan semata pada wanita yang telah menjadi buruan tangan kanannya yang telah berhasil merangkul pundaknya.
"Bapaknya aja udah ancur." Balas Tara tidak mau kalah membuat Celia melepas tawa riangnya.
Akhirnya merekapun menjelajah pusat perbelanjaan itu mencari tempat yang tepat untuknya menyantap makan malamnya.
***
30 menit sudah Tara duduk di samping kekasihnya, namun tak nampak ia melihat pria yang masih bersibuk diri dengan alat medianya itu menyantap makanan yang terhidang di hadapannya.
Sedang Celia serta dirinya sudah melakukan penutupan untuk santapan terakhirnya.
Ia melengus, terpaksa meraih sumpit milik kekasihnya, memberikan sesuap demi sesuap santapan itu pada mulut kekasihnya. "Bisa ga makan dulu? Jangan ngurus kerjaan di sini." Protesnya di sela kegiatannya yang tak terhenti sama sekali.
"Ga bisa di tunda." Singkat Jackson menyahut tegas, setegas sorotan matanya yang berpusat pandangan pada layar alat medianya tanpa mengalihkannya sedikitpun.
Tara menggeleng keras, namun masih saja ia tetap menyuapi kekasihnya membuat Celia -yang duduk di sebrangnya bersama Queena dalam pangkuannya- melipat bibirnya untuk menahan tawanya.
__ADS_1
"Sepenting apa sih kerjaannya?" Tanya Tara terheran sendiri membuat sang kekasih hati mengalihkan arah pandangnya menuju wajah cantiknya.
"Sepenting kehadiran kamu di dalam hati aku." Ungkap Jackson penuh percaya diri dalam keteguhan sang hati di iringi senyuman menawannya hingga mempertegasnya dengan mengelus puncak kepala kekasihnya.
"Jack!" Sahut Tara memekik hingga tanpa di sadarinya ia menghempas tangan itu dari puncak kepalanya. "Makan sendiri aja sana." Lantas menghempas sumpit itu dengan kasarnya mewakili emosinya yang tersulut atas tindakan kekasihnya saat lalu. Ia meruntuk enggan kegiatan itu terlihat oleh mertuanya yang kini telah menatapnya penuh picingan.
Jackson hanya mengabaikan penolakan itu, ia menatap lekat wajah cantik itu yang mendapat balasan dari sang empunya dengan tatapan janggalannya.
Tara memandang wajah tampan itu yang biasanya terlihat santai, kini memaparkan kesungguhannya, membuatnya memalingkan arah pandangnya menyembunyikan rona wajahnya.
Kala arah pandangnya menuju wajah Celia, ia terperangah melihat wajah cantik itu yang sudah tercengang hebat dalam mulutnya yang setengah terbuka membuat Jackson serta Tara mengalihkan arah pandangnya ke belakangnya, mengikuti arah pandang Celia.
Tak lain dengan Celia, Tarapun terperangah dalam kejutannya. Sosok itu, sosok pria remaja yang tengah berjalan memunggunginya, ia tau betul siapa itu.
Dia! Alev Sihan Danendra, anak semata wayangnya.
Tara mulai merancu, ia takut mertuanya melihat wajah anak itu. Dan, sesaat tenggorokannya terpenggal ucapan mertuanya.
"Dia, mirip banget sama kamu Jack." Ujar Celia melentingkan telunjuknya ke arah depannya di mana pria remaja yang masih berjalan tidak jauh darinya berada.
"Masa sih? Ada gitu yang nyaingin wajah aku?" Lengos Jackson membuat Tara melega, namun membuat Celia menggeram.
"Mami serius Jack, coba kamu kejar." Titah Celia memaksa membuat Tara kehilangan akal sehatnya.
"Kamu pergi aku tonjok!" Ancam Tara yang mendapat kekehan dari Jackson.
"Kalo aku ga pergi?"
"Ya udah bagus."
Jackson bangkit berdiri seolah mengabaikan peringatan kekasihnya, membuat Tara kian merancu.
"Jack!" Tepis Tara di sertai tangannya yang meraih pergelangan tangan kekasinya.
"Mending pergi kan dari pada ga pergi ga dapet hadiah." Ucap Jackson tak acuh hanya untuk lelucon semata namun membuat kekasihnya berpikir keras yang terpampang dari wajah seriusnya.
"Oke aku suapin kamu lagi kalau kamu ga pergi." Jawab Tara asal memberikan alasannya setelah berpikir keras tidak dapat mencari alasannya. Biarlah ia melakukan tindakan penyambutnya untuk kali ini saja, baginya yang terpenting Jackson tidak beranjak untuk mengejar anak itu.
"Setuju!" Balas Jackson tersenyum penuh kemenangan. Lantas ia kembali pada tempat semula, duduk dengan santainya di sana. Dan kembali mendapat suapan dari kekasih hatinya.
Sedang Celia masih terpaku di sana, meresapi pandangannya sesaat lalu. Bagaimana bisa ada orang yang begitu mirip jika tidak ada kaitannya sama sekali?
Mungkinkah Jackson telah berbuat sesuatu pada seorang wanita layaknya ayahnya dahulu kala yang melakukan itu terhadap dirinya?
Mungkin benar demikian, terlihat dari sikap Jackson yang tak acuh mengabaikan perkataannya tentang anak itu. Celia menerka jika anak tirinya telah menyembunyikan anak itu dari keluarganya.
Hingga beberapa jam kemudian seusai Jackson melahap seluruh santapannya, merekapun kembali menuju kediaman Celia.
•
•
•
__ADS_1
Tbc