Asmara Jajar Genjang

Asmara Jajar Genjang
AJG 200


__ADS_3

Ruang keluarga di samping anak tangga menuju ke kamar utama, menjadi bulanan pijakan kaki Tara setiap malam. Bukan tanpa alasan ia selalu mengunjungi tempat tersebut, melainkan rasa rindu selalu menghantam jiwa. Maka, ia melepasnya pada bingkai foto yang terpajang di balik dinding penyekat ruang.


Sedikit pun ia tidak memahami perasaannya kini, ia hanya mengira jika si jabang bayi menginginkan ayahnya tetap berada di sisi. Namun, harapan untuk dapat bersanding dengan pria itu kandas begitu saja, mengingat anak sulungnya telah berusaha keras mempersatukan hati dengan ayahnya.


Puing-puing duka perlahan menggerogoti angan, rasa rindu pun sudah tak tertahankan. Batin pedih terasa menggerogoti jiwa, seolah ribuan sembilu datang menyayat hati.


Saat mata mengunci arah pandang pada wajah dalam gambar itu, tiada apa pun yang dapat mengganggunya. Maka, langkah kaki di atas anak tangga tidak terdengar sedikit pun olehnya.


Sementara Tara fokus terhadap renungan dalam tatapan kosong, Jackson di sana mencari cara untuk menepis pemandangan yang selalu dilihat setiap malam itu. Tanpa mengganggu sang wanita, Jackson melangkah pergi meninggalkan Tara seorang.


Rupa-rupanya ia menemui sosok pria dalam bingkai foto itu, membawa langkah kaki hingga menepi di dalam kediaman Sammuel. Tiada sambutan dari objek bernyawa, yang ia lihat hanyalah selembar kertas tergeletak di atas meja ruang tamu kedua.


Ukiran kalimat di balik kertas berhasil menarik perhatian, ia pun meraih kemudian membacanya. Sesaat ia terkejut melihat pernyataan kesehatan seseorang pemilik nama Triana Alma Kayona, sehingga membawa tubuh untuk menemui wanita itu.


Ketika tiba di hadapan pintu setengah terbuka, pemandangan tragis menyambut kehadiran. Sejenak ia menahan diri di sana, menyaksikan pertikaian agar dapat mengetahui penyebabnya.


Plak! Suara tamparan tangan jenjang pada wajah sang wanita, membuatnya tidak ingin berdiam diri saja. Bergegaslah ia melangkahkan kaki.


Setelah berada di hadapan sepasang insan di dalam ruang itu ....


Tiada ingin Jackson mengucap kata, ia menyingkirkan tubuh sang adik dari hadapan wanita yang sedang menjerit histeris.


"Hei ... Tri, sadarlah." Jackson menggantikan adiknya, membawa tubuh Triana dalam dekapan sebelah tangan, sisa tangan yang senggang ia gunakan untuk menghapus air mata.


Usaha tidak membuahkan hasil, manakala jeritan kian menggelegar dunia. Batas kepedihan mencapai puncak, Triana melampiaskan pada tangisan yang kian meledak.


Mengerti akan sesuatu, Jackson mendongkak menatap nyalang wajah pria yang berdiri di sampingnya. Ia mengira luapan air mata itu berasal dari ulah keji adiknya.


Meskipun mulut tidak berucap, akan tetapi Sammuel mampu menyibak gelagat murka itu. Sebelum situasi bertambah ricuh, Sammuel bergegas meninggalkan dua insan di dalam ruang.


"Ini yang bikin kamu jadi begini?" Jackson mengacungkan sebelah tangan, memperlihatkan selembar kertas dalam genggaman.


Lekaslah Triana merebut benda itu dari tangan Jackson, kemudian mata sembabnya melihat kalimat tertulis di sana.


"Dari mana kamu dapatkan ini?" tanya Triana.


"Ga usah tau itu, yang harus kamu tau ... kamu harus bisa menghadapinya."


Triana menggelengkan kepala, menyangkal ucapan yang dirasa hanya sebagai penghiburan semata.


"Kalau kamu jadi aku, apa kamu ga akan merasa sakit?" Seringai miris tergambar sebagai sindiran, Triana mengumbar emosi di balik lengkungan bibirnya.

__ADS_1


"Pasti sakit, tapi ... aku ga akan kalah oleh takdir."


Nada rayuan berseru dalam ketegasan, membuat Triana melepas paksa kedua tangan yang melingkar pada pinggangnya. Kembali ... sebuah gunting menjadi sasaran tangan, akan tetapi kali ini mengacung dihadapan dada lawan bicara.


"Kalian belum pernah merasakannya, pasti akan mudah berkata begitu," kata Triana seolah menanggapi diri paling tersiksa di dunia.


Jackson melerai aksi ancaman itu dengan menepis tangan di balik dadanya, kemudian menarik tungkak kepala Triana, lalu memberi sebuah cumbuan terhadapnya. Meskipun tanpa perasaan, Jackson memberi kelembutan pada setiap gerakan lidah. Rencana improvisasi itu berhasil membuat senjata tajam terjatuh tanpa paksaan, maka keberhasilan telah diraih Jackson.


Tiada hal lain yang dipikirkan Jackson, yang ia inginkan hanyalah menghentikan aksi mengerikan itu. Sejenak ia melupakan status diri, bahkan mengesampingkan perasaan terhadap calon istrinya.


Beberapa saat kemudian, Triana melepas kegiatan pembawa kenikmatan itu. Ia baru menyadari jika diri telah membuat dua pria dilanda kehampaan. Terlepas dari beban pikiran, Triana membawa tubuh ke atas tempat tidur. Sebelum memejamkan mata ia berkata ....


"Maaf."


Kata tulus itu melintas ke dalam indra pendengaran Jackson, akan tetapi ia tidak menanggapi. Wajah tertunduk kaku, katup mata tertutup begitu rapat.


'What are you doing, Jack?' Jackson bertanya pada dirinya sendiri, setelah menyadari bahwa ia telah mengkhianati perasaannya.


Di sela renungan akan beban pikiran, terbesit bayangan silam. Jackson mengingat seluruh rencana yang telah terlaksana, ternyata membuahkan petaka bagi para pelakunya. Apa yang diperbuat seluruh adik serta pasangannya, berawal dari siasatnya. Seperti apa yang terlihatnya kini, tindak tanduk Triana memperjelas keadaan sesungguhnya. Ia menerka jika setiap malam kericuhan akan terjadi di dalam kediaman adiknya itu.


Menyesal?


Sudah terlambat untuk mengucap kata itu, yang seharusnya dilakukan kini segera menebus segala dosa.


Setelah merasa jika tidur sang wanita sudah pulas, ia beranjak dari dalam ruang. Tiada melihat Sammuel di ruang tamu, kaki melangkah menyusuri setiap ruang di sana. Hingga mengingat satu ruang yang terlewatkan, ia pun segera mengarahkan langkah menuju tempat tersebut.


Ceklek ....


Tangan kanan membuka gaitan pintu berwarna coklat ke emasan itu, begitu mengejutkan pandangan ketika melihat isi ruang dalam kekacauan.


Hiasan ruang berserakan di atas lantai, serpihan kaca bertaburan mengelilingi sofa yang terbalik di sana. Jackson memastikan jika semua terjadi akibat adiknya melampiaskan emosi terhadap benda seisi ruang.


Ia kembali mengayunkan kaki, menekan satu tombol agar ruang mendapat cahaya. Kemudian melangkah menghampiri Sammuel, dan merunduk di sampingnya mengikis jarak hidung dengan tubuh sang adik. "Lo ga minum, 'kan?"


Sammuel menyambut sapa dalam ucap pertanyaan itu, ia mengangkat wajah agar pasang mata dapat melihat arah pria yang sudah kembali berdiri tegak di sampingnya.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Sammuel berseru sadis, terdengar dari nada bicara memekik.


Jackson terdiam membisu, meyakini jika ia menimpali maka emosi itu akan semakin menggelegar.


"Udah kelar ngurusin obsesi lo?" kata Sammuel lagi, ia merasa kesempatan datang menghampiri untuknya melepas curahan hati.

__ADS_1


"Obsesi?"


"Udah lihat kasil karya dari rencana-rencana s*nting lo? Apa lo pernah mikirin mereka yang jadi korban?" Sammuel menyahut penuh misteri, membuat lawan bicara mengernyitkan dahi.


Jackson tidak memahami makna dari emosi yang meluap pada kata-kata pedas itu, sehingga membuat belah bibir tidak ingin sedikit pun terbuka. Ia menunggu ungkap kata selanjutnya, berharap jawaban ia dapatkan dari sana.


Seperti yang diinginkan, Sammuel membuka mulut. Ia berkata ketika amarah sudah berada pada puncaknya.


"Akibat keegoisan lo yang cuma mikirin obsesi buat dapatin bini gue, dia yang benar cinta sama lo harus kehilangan harapan. Akibat lo terlalu ingin terlihat pintar, gue sama bini gue terpaksa saling menjauh."


Deg! Jantung Jackson berdenyut nyeri, menanggapi curahan hati yang tidak pernah terpikirkan olehnya.


Benar ....


Jackson membernarkan ucapan itu, hanya saja ia tidak ingin menyadarinya.


Setelah beberapa menit meratap dalam renungan, Jackson menyadari jika keinginan untuk membawa Tara ke pelaminan hanyalah obsesi semata. Jika saja wanita itu tidak terhubung dengan sang musuh, mungkin ... ia tidak akan pernah ingin mengejar cintanya.


"Sorry." Jackson melenguh setelah berkata, mengungkap kesungguhan di sela kata terucap.


"Cih, kata maaf ga cukup buat tebus kesalahan lo, terlanjur banyak hati yang jadi korban."


Jackson pun telah menyadari jika sang adik yang kini berdiri di hadapan memiliki pemikiran lebih dewasa darinya, hal itu terlihat dari sikap yang mampu menahan duka selama terpisah dengan sang istri.


Bugh! Sammuel menghantam rahang sang kakak dengan pukulan dari kepalan tangannya.


"Thanks, udah bikin gue terpaksa nyakitin bini gue sejak gue nikah sama dia." Lantas, mengakhiri pertemuan dengan langkah kaki menjauh dari hadapan sang kakak.


Tinggal lah Jackson seorang, meresapi seluruh kalimat yang terucap dari mulut adiknya saat lalu. Ia mengulang setiap kata itu di dalam benak, berakhir setelah mendapat pemahaman.


Ternyata sikap lembut dan pengertian darinya hanyalah untuk menutupi keegoisannya saja, jika memang benar ia memiliki sikap itu maka ia akan merelakan Tara sejak awal mendapat penolakan.


Namun, ia bersikeras pada keinginan hati, tidak merasa puas jika belum menyandang wanita itu sebagai istri.


Ini adalah kesalahan terbesar, karena mengundang butiran duka menghantam orang-orang yang terlibat. Kali ini, ia pastikan untuk tidak lagi memaksakan kehendak hati. Ia berniat akan menerima segala keputusan yang diinginkan sang pujaan hati.




__ADS_1


Tbc


__ADS_2