
Kelopak mata Tara melepas rekatannya, ia mengerjapkannya berulang kali, memperjernih pandangannya. Lantas mengedarkannya dan berakhir pada arah sampingnya di mana seorang pria tampan nan rupawan duduk gelisah di sana.
Ia menyambutnya dengan senyumannya yang langsung mendapat balasan senyuman penuh pesonanya. Lantas segera ia bangkit di bantu sang pria mengarahkannya, membuatnya meresapi kehangatan sentuhan itu.
**
"Kamu oprasi ga ngomong sama aku, anggap aku ini apa Art?" Ucap sang pria melenguh membuat Tara menepis tangannya yang masih setia berada di atas bahu wanita itu.
"Sorry, aku ga mau ngerepotin kamu." Dengan datarnya Tara nenyahut membuat pria yang duduk di sampingnya menarik napas dalamnya.
Selalu saja wanita ini berkeras hati enggan menerima bantuan dari orang lain. Bahkan enggan mencurahkan lirihan batinnya pada siapapun.
"Aku cowo kamu Art, kalau kamu lupa itu aku ingetin lagi." Ungkapnya penuh harapan agar wanita itu menerima statusnya dengan pancingan ungkapannya.
Tara tersenyum seraya menatap wajah pria yang sudah menopangkan tubuhnya di atas kursi di sampinya itu. "Sorry, aku masih ga anggap gitu."
"Kenapa?" Herannya tidak faham hingga merajuk dengan uluran tangannya, mengusap puncak kepala wanita di sampingnya.
"Jack, kamu bikin aku jadi cewe kamu itu caranya curang." Ledek Tara membuat pria yang masih setia mengelus puncak kepalanya terkekeh gemas.
Perbincangan terlerai oleh kehadiran seorang perawat yang menghampirinya.
"Nona anda harus pindah ke ruang rawat inap." Ucap sopan perawat wanita itu di sambut kedua orang di sana dengan senyumannya.
Tara mengangguk, sedang Jackson bangkit dari duduknya mempermudah sang perawat mengurus pasiennya.
Sang perawatpun melakukan tugasnya hingga setelah usai, mereka menepi pada sebuah ruang kelas atas yang terdapat di lantai ke 2 bangunan itu.
Akhirnya Tara sudah mendapat posisi nyamannya, merebah di atas ranjang pasien yang terdapat di ruang itu, di dampingi Jackson yang masih setia duduk di sampingnya.
Rasa kecewa mulai menelusup batin Tara. Keinginan sang hati rupanya tidak terpenuhi, ia berharap sang suami yang menjemputnya kala kelopak matanya terbuka saat tadi.
"Jack sorry aku haus." Pinta Tara malu-malu hingga sudi mendaratkan telapak tangannya pada punggung tangan Jackson.
Bukan sengaja Jackson melepas sentuhan itu, namun ia akan bergegas bangkit meraih segelas air mineral yang tersedia. Setelah mendapatkannya, iapun menyerahkannya pada wanita yang sudah tersenyum menatapnya. Tarapun meneguk isinya meski hanya setengahnya yang masuk ke dalam tenggorokannya.
__ADS_1
"Udah enakan sekarang?" Tanya Jackson khawatir, ia meraih gelas itu lantas menyimpannya di atas meja yang tersedia.
"Lumayan." Sahut Tara sesingkat mungkin kala kerongkongannya tersedak rasa kecewa yang kembali melesak hingga menghempas udara dari dalam paru-parunya.
"Siapa yang maksa kamu buat lakuin oprasi ini hm?" Jackson tau betul jika sejak dahulu kala Tara enggan melakukan pengobatan pada dirinya itu.
"Mami cantik kamu." Jawab Tara dalam senyuman manisnya membuat pria di sampingnya mengunci tatapan pada bibir tipisnya.
"Ga banget kan aku harus bersaing sama dia?" Balas Jackson menghibur wanita yang di akuinya sebagai kekasihnya meski masih mendapat penolakannya.
Tara terkekeh seraya menepuk manja lengan Jackson memyambut ungkapan penghiburan itu.
"Art Tara." Jackson sejenak menyenggal katanya, menghembuskan napasnya membuat wanitanya menatapnya penuh janggalan.
"Apa?"
"Bisa ga lain kali kamu bilang sama aku masalah kamu?" Sahutnya merancu hingga tatapannya menyebar dalam sorotan hampanya.
"Ga bisa!" Penggal Tara dalam nada ledekannya hanya untuk menggoda pria yang masih tidak dapat berpusat pada pandangannya.
"Kenapa? Apa Karna kamu masih ga terima aku jadi cowo kamu?"
Jackson menggelengkan kepalanya seraya menyiratkan senyuman andalannya yang di ketahuinya dapat menggugah hati wanita yang masih di perjuangkan sang hatinya. Benar adanya, sejenak Tara meresapi tatapannya pada wajah kekasihnya yang belum di akuinya itu. Namun sesaat iapun menepisnya lantaran enggan sang hati berpaling dari suaminya.
"Kamu tau dari Celia aku di sini?" Tanya Tara melepas kerancuannya, ia takut jika suaminya yang mengatakan pada pria yang masih menatapnya lekat-lekat itu.
"Bukan dari dia, tapi dari si Hans."
"Kok dia bisa tau aku di sini?" Janggalnya yang sesaat lenyap mengingat Hanson selalu mengetahui pergerakan dirinya. Terbukti saat acara lamaran ibunya.
Jackson membisu, pasalnya tidak lain seperti apa yang di pikirkan wanita itu, ia sudah merasakan seseorang selalu membuntuti kegiatan kekasihnya.
Kini ia menyikap bahwa sang adik pertamalah yang melakukan itu, meski tebakannya benar, namun ada yang salah di baliknya bahwa adik keduanyalah yang memiliki rencana itu sebelumnya.
"Jack kok diem?"
__ADS_1
Belum Jackson menjawab pertanyaan Tara, dua orang tengah datang mengunjunginya membuat jawabannya tertahan begitu dalamnya.
"Mami, Hanson." Sapa Tara, pasang matanya menatap bergantian kedua orang yang tengah berjalan menghampirinya. "Jadi dia tau dari kamu mih?" Tanyanya membuat Jackson tersenyum simpul di sana.
"Udah berani panggil dia mami hm? Apa itu artinya kamu ga lupa siapa aku?" Gemas Jackson hingga menyentil manja kening wanitanya. Sesungguhnya, ia ingin menerkam tubuh itu, membawanya dalam dekapan penuh cintanya. Namun apa daya baginya yang masih tidak mendapat sambutan dari wanita itu.
"Apaan sih?" Ingin sejali Tara mengatakan bahwa panggilannya itu untuk suaminya.
"Sukur deh oprasinya lancar." Tak acuh Celia mengabaikan perbincangan yang membuat batinnya turut prihatin pada wanita yang kini telah berada di sampingnya setelah ia mendaratkan bokongnya di tepi ranjang.
"Hmm, kamu ga tanggung jawab mih katanya mau ngurus oprasi aku ini." Ujar Tara penuh ledekan.
"Ada dia ini" Celia menunduk, pasalnya 'dia' yang di maksudnya bukan kedua pria yang berada di sekitarnya. "Oh ya ada kabar bagus buat kamu Ra, naskah kamu ada yang udah di rilis." Kilahnya mengalihkan perbincangannya.
"Bagus deh kalo kepake."
"Tapi yang baru, yang belum tamat." Penggal Celia membuat Tara terkekeh geli.
"Aihhh, ngerjain banget sih." Balasnya di sambut tawa kecil oleh ketiga insan yang berada di sekitarnya.
"Naskah apaan itu?" Janggal Hanson penuh kejutan saat dirinya tersadar dengan perbincangan yang menarik perhatiannya itu.
"Dulu dia ngasih beberapa naskah buat di produksi CC film, semuanya kepakai, cuma, satu per satu di rilisnya." Balas Celia menatap wajah Hanson yang sudah mengerutkan dahinya.
"Kamu bisa bikin naskah juga?" Tanya Hanson menatap wajah Tara penuh kejutan.
"Cuma hobby." Sahut Tara melengos.
"Itulah yang bikin gue kesengsem sama nih cewe imut." Sambung Jackson gemas hingga mengucek anak rambut wanita itu. "Gue mau keluar dulu mungpung ada kalian di sini, bisa kan jagain dia bentar?" Ucapnya tanpa menunggu jawaban ia bangkit berdiri di sela tatapannya yang menyorot tajam wajah adiknya berharap adiknya tidak menolak perintahnya.
Benar adanya, Hanson mengangguk keras menyikapinya, sedang Celia tersenyum kikuk, lain dengan Tara yang menjanggal, takut-takut Jackson akan memanggil suaminya.
•
•
__ADS_1
•
Tbc