
Tara mengabaikan ucapan itu, dengan tergesa merampas batang rokok yang berada dalam jepitan bibir suaminya, lantas di hisapnya dengan rakusnya membuat Jackson menyiratkan senyum lirihannya.
Jackson tidak mengira jika kekasihnya berani menghisap batang rokok yang telah mendapat bekas bibir adiknya di sana.
"Gila kamu mom! Minum kaya gitu," seru Gea memekik tidak percaya seraya menatap kejut ke arah Tara.
"Dia udah biasa kali minum kaya onta gitu, tiga gelas mah ga ada apa-apa nya," sambung Triana.
Sementara Hanson menggelengkan kepalanya lantas menatap wajah Triana. "Pantes sikap kamu mirip sama dia, kamu di ajarin dia ya?" Bisiknya tepat pada telinga Triana berbalas anggukan pekat dari sang empunya meski tatapan Triana menuju arah sahabatnya, namun anggukan itu tertuju menyahut pertanyaan Hanson.
"Udah kamu mending minum ini aja." Jackson meraih botol Tequila itu dan menyodorkannya kepada Tara tanpa peduli tatapan kejam dari adik ke duanya.
"Boleh juga." Dengan datarnya Tarapun meraihnya.
"Sinting lo!" tepis Sammuel bersungut dendam penuh emosi pada kakak keduanya, lantas merebut botol itu dari tangan kakaknya.
"Eh Sam biarin aja kasih, dia kuat kok." Pancing Jackson memulai aksinya.
Sesungguhnya, batin Jackson meringis melihat kepedulian adik keduanya terhadap kekasihnya yang masih di cintainya hingga kini. Maka dari itu, ia sengaja menyiratkan senyumnya hanya untuk menepis rasa kecewanya semata.
Sedang Tara berusaha merebut kembali botol itu dari tangan suaminya. "Sam sekali ini aja!" ujarnya merajuk dengan nada lantangnya.
"Ga bisa!" putus Sammuel berteguh hati hingga ia semakin menjauhkan botol itu dari tangan istrinya.
"Sam please." Kembali Tara merajuk dengan nada manjanya.
Sesungguhnya, Sammuel gemas melihat tingkah itu yang akan mampu membuat sikap keras kepalanya melembut. Namun,
"ART TARA!" Tanpa perasaan Sammuel membentak istrinya membuat sang istri mendelik sebal menyembunyikan rasa takutnya.
"Sam kasih aja napa?" ujar Jackson kian memancing.
"Jack lo gila mau ngasih minum gituan sama cewe lo?" Sammuel masih emosi, ia menaruh botol itu di belakang tubuh kakaknya dengan gaya kasarnya.
"Kamu sebaiknya berhenti mengacau rencanaku," ucap Jackson dengan bahasa yang berasal dari negara ibunya agar Tara tidak memahami perbincangannya.
"Apa yang akan kamu lakukan padanya?" Sammuel pun membalas dengan bahasa yang serupa.
"Gue mau ngapain dia suka-suka gue, dia cewe gue ga usah ngomong sama lo juga kan?" ucap Jackson. Kini bahasa itu kembali pada bahasa sebiasanya yang mereka gunakan.
Sammuel kian geram dengan ungkapan itu hingga rahangnya mengeras sempurna bahkan napasnya tersenggal menahan detakan jantungnya yang berdegup kencang.
Emosi telah menjadi darinya, tanpa di sadarinya ia bangkit berdiri lantas mengulurkan tangannya untuk meraih kerah kemeja yang di kenakan kakak pertamanya.
Di genggamnya dengan eratnya kerah itu, meluapkan emosinya di sana dengan tatapan keji menuju wajah kakaknya.
Bugh!
Pukulan keras yang di pacu emosinya itu berhasil mendarat pada rahang kakaknya membuat sang istri segera bangkit untuk melerainya.
Namun sayang sungguh sayang, Hanson berhasil meraih tubuh ramping itu dalam dekapannya hingga sang empunya tidak mampu bergerak barang sedikitpun.
"Hans lepas!" protes Tara memekik nyaring seraya berontak tegas meski tidak membuahkan hasil sedikitpun lantaran tenaga Hanson tidak dapat di imbanginya.
"Kenapa lo?" Jackson tersenyum penuh kemenangan seraya menatap sinis wajah adik keduanya.
Sengaja ia membiarkan kegiatan adik keduanya berlangsung begitu saja tanpa perlawanan sedikitpun darinya hingga genggaman pada kerah kemejanya pun di biarkannya hingga kini.
__ADS_1
Begitupun dengan para insan yang tersisa di sana termasuk Devand yang hanya membiarkan perkelahian itu berlangsung begitu saja di hadapannya.
"Lo tau kalo dia mabok, kerjaan gue berantakan?" Kini telunjuk jenjang Sammuel yang senggang mengacung di depan hidung kakak keduanya.
"Tinggal gue beresin, ada si Nicky juga kan?" balas Jackson di sertai senyuman penuh kemenangan.
"Oke serah lo!" Sammuel menyerah pasrah hingga menghempas kasar genggaman tangannya dari kerah kemeja kakaknya hingga sang kakak terpental ringan ke belakangnya.
Jackson masih belum merasa puas hingga ia tak gentar memancing adiknya sebelum mendapat kepuasannya.
Kini ia meraih botol itu lantas menyerahkannya kepada Tara dengan sengaja mengabaikan tatapan keji adik keduanya.
Tara pun melepaskan tubuhnya dari dekapan Hanson yang langsung mendapat persetujuan empunya untuk melepasnya tanpa pelantara.
Lantas ia mengulurkan tangannya untuk meraih botol Tequila itu dengan penuh semangat membuat sang suami kian geram melihat tingkahnya.
Namun kegiatannya kembali tersenggal lantaran Sammuel kembali meraih kerah pakaian Jackson seperti semula.
Hanson yang menyadari pertikaian itu akan terjadi lagi, ia tidak tinggal diam untuk kembali meraih tubuh Tara dalam dekapan erat kedua tangannya.
Bugh!
Untuk kali ke dua Sammuel mendaratkan pukulan pada rahang kakaknya, namun kini pukulan itu lebih bertenaga di bandingkan dengan sebelumnya hingga secercah darah menetes dari sudut bibirnya.
Devand beranjak untuk segera melerai aksi kedua kakaknya, namun tertahan oleh sang kekasih yang langsung mendekap erat tubuhnya dengan kedua tangannya.
Kini Jackson menatap sinis penuh arti wajah adiknya yang sudah memberikan pukulan kepadanya. "Sam, gue cuma pengen nyobain body dia doang, ga salah kan? Dia bukan perawan ini." Ia memicingkan matanya berharap mangsanya masuk dalam perangkapnya.
Bugh!
Kali ini Fiona serta kakaknya terperangah dalam kejutannya, mereka tidak mengira jika Sammuel akan bertindak melampaui batasnya.
Namun mereka hanya membisu seribu bahasa tanpa sudi mengukurkan tangannya untuk melerai perkelahian itu. Terkecuali,
"Sam STOP!" pekik Tara melerai aksi itu.
Ia kembali berontak sekuat tenaga agar segel pada tubuhnya terlepas dengan sendirinya. Benar saja, kali ini segel itu terlepas dari tubuhnya.
Tanpa terasa air matanya berhasil menetes dari sudut mata indahnya. "Please stop." lirihnya dalam wajahnya yang tertunduk kaku di hadapan suaminya.
Sammuel menatap wajah istrinya yang sudah tertunduk itu dalam rahangnya yang mengerat serta mengepalkan kedua tangannya mewakili emosinya yang tertahan.
Kini tangannya mengulur menyeret tangan istrinya dengan gaya kasarnya.
Tanpa ada yang menyenggalnya, mereka berjalan semakin menjauhi rekannya hingga hilang di balik pintu ruang bising itu.
Seperginya sepasang insan yang tengah di landa kerancuan hati itu, kegiatan para insan sisanya tidak terhenti hingga di sana saja.
Plak!
Kini Hanson mendaratkan tamparan tangan kanannya pada pipi kiri Fiona.
"Puas lo!?" bentak Hanson memekik lantang mengalahkan suara degupan music yang begitu kencang di sana membuat Fiona tertegun penuh kejutan. "Jadi ini maksud lo tadi maksa si Sam buat ke sini? Mau bikin keluarga gue ancur? Mau ngejebak si Tara hah!?" Amarahnya terlampiaskan sudah dengan lentingan suara yang kian nyaring menyayat indra pendengaran Fiona.
Fiona membeku, menapakkan telapak tangannya pada pipi kirinya yang sudah melebam, ia berusaha menahan air matanya agar tidak menetes di hadapan lelaki yang selalu membuatnya hilang kendali itu.
Tatapan yang sebiasanya memancarkan kekaguman pada wajah tampan itu, kini memaparkan aura sengitnya.
__ADS_1
"Hans lo gila?" Triana kini meraih tangan Hanson yang telah menyiratkan lukisan merah pada pipi Fiona. "Lo mending balik deh." Dan iapun menyeret kasar tangan Hanson.
Tanpa penolakan, rasa sesal yang telah meluap dari asmanya, membuat Hanson menuruti keinginan wanita yang telah menyeret jauh tubuhnya dari tempat semula.
"Huaaaaaa." Jeritan Fiona itu menyertai tangisannya yang membludak, membuat Jackson kehilangan kendali.
Jackson meraih tubuh wanita yang terisak dalam tangisannya itu, ia menyeretnya dalam dekapan kedua tangannya.
Sedang Fiona menelusupkan wajahnya pada dada Jackson, membiarkan tangisannya terbenam di atasnya.
Daniel yang hanya mampu menyaksikan pertikaian itu, kini ia mengajak Devand serta Gea menjauhi sepasang insan yang sedang berpelukan di sekitarnya.
"Fi, sorry," bisik Jackson tepat pada telinga Fiona.
Dekapan itu semakin di pereratnya, membubuhkan rasa penyesalannya di sana, ia tidak mengira jika adik pertamanya akan mengambil bagian dalam siasatnya.
"Lo jahanam Hans huaaaa." Tangisan itu semakin membludak membasahi kemeja hitam pria yang masih setia merangkul tubuhnya.
"Gue yang salah Fi sorry." Kian erat dekapan itu, kini wajahnya terbenam pada ceruk leher Fiona. "Gue ga tau lo bakal di gaplok si Hans."
Hingga bermenit ke depan, dekapan itu masih berlangsung di sana, mereka saling meluapkan rasa sesalnya terhadap perlakuan masing-masingnya.
Jackson lah yang membatin lirih menyaksikan nasib naas yang menimpa wanita yang masih menangis dalam dekapannya itu.
"Gue udah bilang hiks, lo harus siap-siap hiks!" seru Fiona di sela isakannya yang masih tertinggal.
Jackson menarik wajahnya dari ceruk leher Fiona, ia menatap mata sembab itu seraya menyiratkan senyum lirihannya. "Oke gue siap! Lo mau apa?" Dan tangannya terulur menghapus sisa tetesan air mata pada wajah itu.
Kini Fiona yang mengulurkan tangannya menghapus secercah darah dari sudut bibir Jackson. "Bawa gue ke rumah lo hiks, gue ga mau balik ke apartement gue hiks," pintanya penuh harapan.
"Kalo lo ke rumah gue tar si Hans tambah benci sama lo," protes Jackson menepis enggan hingga melepas dekapan itu dengan mudahnya.
Fiona kini yang meraih tubuh Jackson, membawanya dalam dekapannya, kedua tangannya mengalung pada leher Jackson.
"Udah gue bilang gue nyerah hiks." Ia tersenyum penuh ceria menutupi kepedihannya, meski masih berkata di sela isakannya. "Gue mau lepas status tunangan gue sama dia hiks."
"Lo yakin?" Jackson kembali merangkul tubuh ramping itu, memberikan penyemangatnya di sana.
Fiona membalasnya dengan mengangguk penuh antusias. "Selama lo bisa ngehibur gue."
Secepat kilat Jackson menghempas dekapannya serta menepis tangan Fiona dari lehernya setelah mendengar ungkapan itu. "Gitu caranya gue yang repot oon!" tolaknya keras, berteguh hati jika wanita yang kini menatapnya penuh geram masih akan memperjuangkan keinginan hatinya.
"Lo ga liat tadi gara-gara lo gue di gaplok ade lo?" sahut Fiona memperingatkan membuat Jackson menghembuskan napas kasarnya seraya menundukkan wajahnya.
Ia melupakan salah satu dosanya itu. "Ya udahlah buat nebus kesalahan gue."
Akhirnya Fiona tersenyum ceria mendengar ucapan penerimaan itu meski tidak ada ketulusan terasa oleh batinnya.
Dengan demikian, merekapun bergegas meninggalkan ruang yang telah menyaksikan pertikaian antar sodara sesaat lalu itu.
•
•
•
Tbc
__ADS_1