
Kini Jackson mengecup kening Tara seraya mengusap puncak kepalanya. Seusainya ia menyorot lekat mata wanita yang masih menahan amarah di sampingnya, membuat wanita tertegun di sana, bukan meresapi tatapan Jackson melainkan ia melirih. Andai suaminya yang berlaku demikian, mungkin kebahagiaan tiada terkira akan di raihnya.
****
Air payau mulai mendesak dari sudut mata indahnya hingga meneteskannya di ujung sana. "Wo Xiang Ni." Ucapan kerinduan dalam bahasa Mandarin yang di pelajarinya kini terucap pada orang yang salah. Masih dalam keadaan saling menatap ia berucap, namun tatapannya kosong menelusup bayangan wajah suaminya di dalamnya.
"She shui?" (Siapakah?) Janggal Jackson dalam picingan matanya seolah memancing umpan agar masuk perangkapnya.
"Ni__" (Kamu) Ia tersadar hingga menepis pandangannya. "Ni nu er." (Anakmu)
Jackson tersenyum lega, kembali ia mengelus puncak kepala wanita itu. "Mau ketemu dia?"
Tara mengangguk ragu, pasalnya bukan itu yang di maksudkan hatinya.
Keadaan ini membuat jiwa jaksa pengintai Hanson berkumandang di dalam sana, ia menyikap makna dari instingnya yang tajam.
Tidak mungkin Tara merindukan seorang gadis kecil hingga melirih sedemikian menyakitkan. Mungkinkah 'dia' yang di rindukannya? Tebaknya pekat seolah tidak akan salah sedikitpun.
"Ra, buat pelampiasan." Rayu Hanson mendorong botol Macallan itu ke arah Tara. Mungkin ia mulai memahami kegundahan hati wanita itu yang telah berpisah sekian lamanya dengan 'dia' yang di terkanya saat lalu.
Jackson segera menepisnya dalam tatapan nyalangnya menuju wajah adiknya. "Lo gila Hans? Mau ngeracun cewe gue apa?"
Tara menoleh ke arah Jackson, meresapi wajah khawatir Jackson serta lirihannya. "Aku juga ga mau minum lagi." Pasrahnya.
Jackson melega hingga menjauhkan botol itu dari hadapan wanita yang melirih perih itu. "Itu baru ratuku."
Tara menggelengkan kepalanya. Bukan! Bukan maksudnya ia mencari perhatian dari Jackson. Ia tidak ingin hanyut terlalu dalam dengan kerinduannya, saat inipun ia sudah kesulitan mengontrol kesadarannya. Ia takut tidak sadar akan perkataannya yang akan berceloteh tentang hubungannya dengan suaminya kepada Jackson.
Hingga saat itu, mereka mulai memperbincangkan hal lainnya di luar kegiatan romantisnya.
Bermenit kemudian, setelah mereka usai memperbincangkan pekerjaannya. Diam-diam tangan Tara menyelinap meraih botol Macallan yang berdiri gagah di bawah kaki pria yang duduk di sampingnya.
Tanpa menunggu ada yang mencegahnya, ia segera meneguk isinya. Di tengah kegiatannya, botol itu terampas keras oleh tangan seorang pria.
"Lo gila Jack, kenapa ga larang dia?" Jengah Maxson yang sudah berhasil duduk di samping Tara.
__ADS_1
Benar, mengapa Jackson hanya menganga melihat tingkah mengejutkan tanpa aba-aba kekasihnya itu. "Udah di larang dari tadi kali."
Sementara itu, kini Tara yang menganga ketika melihat seorang wanita yang berdiri di samping Maxson. "Jasmeen! Ngapain kamu ke sini? Terus anak a_ ahem" Tara berdehem keras menyenggal ucapannya. "A-anak kamu__"
"Dia aman, tenang aja." Sahut Maxson membuat Tara melega.
Akhirnya Jasmeen berhasil mendaratkan bokongnya di samping mantan kekasihnya yang telah kembali padanya sebulan yang lalu. "Anak ini masih aja kuat minum?" Ucapnya yang di balas tatapan janggal oleh Hanson serta Jackson.
"Gue udah balikan sama dia." Seolah tau tatapan janggal itu, Maxson segera menjawabnya.
Jackson terkekeh seraya menggelengkan kepalanya. "Finally lo sadar juga Max." Lantas menatap wajah Jasmeen yang sudah belingsatan di sana. "Iket dia Jas, jangan di lepas lagi." Lantas merangkul mesra tubuh Tara.
Maxson menatap rangkulan itu yang membuatnya melega sedemikian rupa. "Lo yang harusnya iket dia." Tunjuknya dengan dagunya ke arah wanita yang sudah tertunduk lemah akibat minuman beralkohol yang di teguknya melebihi batasnya.
Sedang Tara sendiri masih tertegun di sana, entah mengapa kehadiran Maxson membuatnya menggundah akan sesuatu yang selama ini menjadi rahasia akutnya.
"Kapan lo bawa balik anak lo dari Spanyol Max?" Tanya Hanson memecah lamunan Tara hingga menatap wajah Maxson penuh harap.
"Dia ga akan balik ke sini, palingan kalau ke sini liburan doang." Balasnya membuat Hanson menggeleng dalam decakannya.
"Ada gantinya ini." Cetus Maxson membuat Tara memukul keras lengannya.
"Ganti apaan sih?" Tara memekik membuat Jackson serta Hanson bahkan Fiona menjanggal di sana.
"Di sini." Jasmeen menunjuk perutnya yang terlihat ramping itu.
"Kamu hamil?" Tara tersenyum riang menebak tunjukan tangan itu.
"Masih proses." Jawab Maxson yang di balas gelak tawa oleh seluruh penghuni meja itu.
Hanya sesaat, tawa riang itu sirna dari mulut Tara. Kembali ia menggundah kala sang rindu membayang dalam kepalanya.
Saat itu pula, ia kembali meraih botol minuman itu. Kali ini tidak ada yang mencegahnya untuk meneguk isi botol yang hampir habis itu.
"Art udah!" Jackson mulai khawatir hingga kembali merebut botol itu dari tangan kekasihnya. Dengan terpaksa ia memecahkan botol itu agar isinya tumpah meruah. Lebih baik demikian dari pada menanggung kekhawatiran melebih pada kekasihnya.
__ADS_1
"Jackkk." Suara Tara mulai melemah, bergaya ciri khas orang mabuk. "Siniinnn." Lirihnya yang membuat seluruh penghuni menggelengkan kepalanya.
Jackson meraih wajah Tara dengan kedua tangannya. Di tatapnya wajah itu penuh kasih dan sayang. "Udah ya sayang." Rajuknya yang membuat Maxson tersenyum di sana.
Selama ini, Maxson berharap sepasang insan itu segera meresmikan ikatannya agar seorang anak pria tidak selalu membendung rasa rindu kepada ayahnya.
Kembali, Tara mendapat tatapan mata itu yang di rasanya begitu serupa dengan seorang yang di rindukannya di sana.
"I miss__" Kalimatnya tertahan akibat isak tangisnya yang tak bisa di hindarkan.
"Oke oke nanti aku bawa kamu ketemu dia." Rajuk Jackson masih menatap mata yang menyembab itu.
"Siapa dia?" Janggal Maxson pada Jackson.
"Ga tau, katanya Queena." Balasnya seraya menggidikan bahunya, tak lantas melepas wajah itu dari genggaman kedua telapak tangannya.
Maxson melirih, ia mengira Tara merindukan anaknya. Jelas ia menebak ke sana, tidak mungkin baginya untuk merindukan gadis kecil yang bahkan sering bertemu dengannya.
Tara sudah kehilangan kendalinya, tubuhnya melemas, namun ia masih mengingat tempat nyaman untuk menyandarkan tubuhnya. Ia merangkul leher Jackson dengan kedua tangannya, wajahnya terbenam di atas dada Jackson.
Mulutnya masih sibuk meneriakan kata kerinduan, beruntung tidak menyebutkan pada siapa ia memendam rasa rindunya itu.
Keadaan memilukan ini, membuat Maxson mengambil sikap. "Jack, udah ga bener kayanya."
"Gue rasa juga gitu." Dalam satu gerakan, Jackson berhasil membawa Tara dalam pangkuannya. "Gue cabut duluan."
Tanpa ada yang mencegahnya, Jackson mengayunkan kakinya. Membawa Tara yang berada dalam pangkuannya meninggalkan tempat itu.
•
•
•
Tbc
__ADS_1